ABYAZ

ABYAZ
Anak Tampan Sudah Pulang



Pena menari diatas secarik kertas, tugas tulisan tangan harus segera dikumpulkan. Abyaz menulis indah dengan tema cinta pertama. Dia yang duduk dan masih fokus pada tulisan indahnya.


"Bagus nggak sih?!" Gumamnya, sambil mengangkat kertas itu dan menatapnya.


"Aku masih ragu."


Kertas tebal dan bewarna putih tulang, tugas yang lumayan sulit bagi Abyaz.


Abyaz melihat ke arah jam dinding, yang ada di atas white board.


"Udahlah, aku nyerah." Lugasnya.


Abyaz tidak terlalu pandai dalam membuat kata. Tulisan tangannya masih belum rapi. Apalagi untuk menulis indah, masih jauh dari sempurna.


Coretan dari tinta pena itu menjadi sebuah makna. Abyaz sudah mengumpulkan tulisan indahnya.


"Aku cuma ingin jadi penulis. Tapi kenapa rasanya begitu sulit."


Memasang wajah cemberutnya, dan meletakan kepalanya di atas meja. Entah, apa yang ada dipikirkan Abyaz saat ini.


"Aku tidak suka ini." Keluhnya, dan mulai memejamkan matanya.


Jam menunjukan waktu 12.14 WIB. Abyaz mengangkat kepalanya, dan keluar dari ruang kelas itu.


"Aku harus sholat dulu. Otakku biar bisa berfikir." Ucapnya, dan kedua jari telunjukanya, seolah menunjuk-nunjuk kepalanya sendiri.


Berjalan keluar gedung fakultas sastra dan menuju ke Masjid yang cukup jauh dari gedung itu.


Hanya diam, dan masih melihat ke arah ponselnya. Tersenyum manis saat dia melihat layar ponselnya, foto sang pacar yang menjadi tampilan di layar utama.


"Emm, manis sekali." Gumamnya.


Seseorang tampan dengan penampilan jas biru tua buatan desainer ternama. Sudah tampak seperti eksekutif muda, yang akan memimpin sebuah rapat penting di perusahaannya.


Eeh, tapi ini di kampus bukan kantor. Dan dia tersenyum manis, tapi penuh misteri.


"Abyaz."


Sosok tampan itu keluar dari mobil lamborghini aventandor warna hitam.


"Wow!"


"Ganteng bingit!"


"Apa dia anak sultan?"


"Apa anak pemilik kampus?"


"Aku suka"


"Aku penasaran."


Sosok dengan senyuman tipis yang menyeret bibirnya sedikit ke kanan. Masih berkacamata hitam, dikelilingi bodyguard handal yang memakai jas hitam.


Perlahan berjalan, menatap Abyaz dari kejauhan.


Sungguh ada hal yang berbeda, dan semakin menambah senyumannya.


"Gadis bodoh."


Abyaz yang berjalan ke arah Masjid yang ada di kampusnya dan dia tidak menghiraukan apa yang ada di sekitarnya.


Padahal beberapa gadis sudah riuh dengan histeris, yang seolah memuja seseorang tampan itu.


Para gadis lain sibuk memotretnya dan mereka langsung mencari tahu info tentang sosok tampan itu.


"Dia benar-benar tidak melihat aku." Batin pemuda itu.


Berjalan dengan sangat menawan dan senyumanya sangat menggoda.


Dia sudah seperti bos besar, yang berjalan dan dikawal. Kanan, kiri, belakang, para bodyguard yang berjumlah 6 orang itu, mengawalnya dengan rapi.


Sepertinya, memang dia seorang putra mahkota dari sebuah kerajaan, mungkin saja begitu.


"Benar-benar keterlaluan. Dia, tidak tahu aku disini. Gadis bodoh." Batinnya sekali lagi.


Tangan kanannya dengan cepat meraih tangan kiri Abyaz.


Degh!


Seketika Abyaz yang seperti terhentak dan cukup terdiam, karena merasa seperti jantungan.


Saat ini mereka ada di sebuah taman yang tidak jauh dari gedung fakultas sastra. Abyaz yang hendak ke Masjid menjadi terbelenggu, dalam dekapan sosok itu.


Abyaz yang belum memperhatikan dia, karena rasa takutnya, tangannya mulai mendorong kencang dan menghempas cepat, agar orang itu melepaskan dirinya.


"Beraninya, dia memeluk aku." Batin Abyaz dengan rasa yang geram.


Tatapan mata sinis Abyaz, jadi muncul dengan geramnya.


"Apa begitu perlakuanmu?! Setelah 4 tahun tidak bertemu." Ucapnya.


Dan perlahan, tangan kanannya melepas kacamata hitamnya. Senyuman gula tapi penuh misteri.


"Binar...."


"Sudahlah, aku tidak dianggap lagi."


"Ya ampun, ini adikku??" Ekspresi Abyaz sudah mulai berubah.


"Bukan!... Aku bukan adikmu."


Abyaz lalu memeluknya dan Binar hanya diam merasakan pelukan Abyaz.


Binar yang lebih dari sosok Viral telah kembali. Bahkan dengan penampilan yang sangat menawan.


"Aku kangen sama kamu."


"Aku juga kangen sama kamu, gadis bodoh."


Abyaz melepas pelukannya dan dengan kesal menginjak kaki kiri Binar sangat kencang.


Para bodyguard langsung mendekati Abyaz. Binar mengisyarakat dengan tangannya, kalau dia tidak apa-apa.


"Bunuh aku kalau kamu mau." Ucap Binar dengan suara yang menggoda.


"Setelah pergi begitu saja!" Cebik Abyaz dan menatap Binar dengan tajam.


"Aku tahu aku salah, waktu itu aku nggak pamit sama kamu. Tapi kita juga masih bisa telfonan. Walaupun kamu nggak mau aku video call."


Abyaz masih melotot dan berkata "Iya, aku kesal sama kamu."


"Tunggu saja, aku akan bunuh kamu Binar." Ucap Abyaz dan mulai menggulung lengan kaos panjangnya.


Binar dengan gayanya yang selenge'an menatap Abyaz dengan senyuman.


Dan akhinya berlari, Abyaz dengan sangat geram memukulnya.


Binar semakin menggoda Abyaz, dan semakin membuat Abyaz kesal.


"Binar awas!! Aku masih marah sama kamu." Ketusnya dan matanya melotot. Binar semakin menggoda Abyaz.


Abyaz melemparkan tas ranselnya dan mengenai kepala Binar.


Mereka juga menjadi tontonan mahasiswi, yang masih memperhatikan Binar yang tampan.


Mereka mengira, setelah Abyaz putus dari Nakula, ada pengganti lain. Bahkan seperti bos perusahaan, dan sangat tampan. Karena Abyaz suka berakting dengan Nakula, agar tidak ada pria yang menggodanya selama di kampus.


"Ampun, ampun.... Aku salah. Aku menyerah."


Binar tersenyum unyu di depan Abyaz, dan Abyaz mengelus rambutnya.


"Adikku sudah besar. Kamu juga semakin tampan."


Abyaz mulai memandangi Binar dan memang dia merindukan Binar.


Abyaz lebih cenderung dekat dengan Binar, dibanding Viral.


Setiap di Pondok Indah, Binar dan Abyaz begitu dekat. Walaupun usia Binar dua tahun lebih tua dari Abyaz. Tetap saja Binar harus memanggilanya Kakak. Tapi Binar sangat menolak.


"Abyaz, apa kamu masih bodoh?"


"Kamu yang bodoh." Balas Abyaz, mulai menggendong tasnya.


"Buktinya, para gadis histeris saat melihat ketampanan aku."


"Tapi kamu berjalan begitu saja. Bahkan, kamu tidak menoleh kemana-mana."


"Apa kamu takut nyasar?"


Abyaz tersenyum manis dengan tengil.


"Buat apa, aku menoleh kesana kesini. Kalau pria tampan itu, menurutku cuma Mas Damar."


Binar berkacak pinggang dan berkata "Untung saja Eyang cinta sama kamu. Kalau tidak, aku pastikan tidak ada yang mau sama gadis bodoh."


"Terserah mau bilang apa, tapi aku senang. Selama disana, kamu banyak kasih info soal Mas Damar."


Binar melihat senyuman manis Abyaz dan berkata "Aku pikir, kamu selamanya akan menjadi lajang."


"Enak aja, aku masih muda. Aku juga cukup terkenal, aku juga cantik. Pasti ada yang mau sama aku."


"Pangeran Damar aja cinta sama aku."


"Emmh, pangeran??! Eyang Damar pangeran. Abyaz kamu kadang aneh."


Abyaz dengan ekspresi seolah ingin mencabik Binar, "Apanya yang aneh?"


"Pangeran itu seperti aku, yang begini. Di kawal bodyguard, di istana. Bukan di apartemen kelas 3."


Abyaz semakin menatap sinis Binar, sorot mata menyipit tapi tajam, lalu Abyaz berkata "Ems, walaupun kelas 3. Tapi kamu numpang di apartemen dia."


Abyaz menjulurkan lidahnya, dan seolah mengejek Binar.


Binar tersenyum tanpa membalas Abyaz, lalu bertanya "Masih ada kuliah??"


"Iya, masih ada satu mata kuliah. Kenapa?"


"Aku, mau nyulik kamu."


"Kalau mau nunggu, ya nggak apa-apa. Kalau nggak, mending kamu pergi. Nggak enak jadi tontonan mahasiswi."


Binar mengusap rambut atas Abyaz, dan berkata "Ya udah aku pergi, tapi nanti aku jemput kamu."


"Ems, iya. Jam 3 aku udah selesai."


"Oke, jam 3 aku balik kesini."


Abyaz mulai tersenyum, dan bertanya "Kamu sudah bertemu Viral?"


Binar menggeleng dan perlahan pergi begitu saja.


Abyaz merasa masih ada hal aneh dengan Binar dan Viral. Mereka nggak pernah akur. Apalagi setelah tahu Binar dekat dengan Damar, Viral juga tidak suka hal itu.


"Binar. Ternyata dia tidak berubah." Gumam Abyaz lalu pergi.


Binar Jati Lingga, adalah putra angkat Lingga Mahatma dan Vallezia Varrez (Vava).


Sosok tampan berusia 22 tahun. Kemungkinan besar, dia yang akan menjadi penerus Mahatma Corporation selanjutnya. Walaupun, dia bukan putra kandung Lingga Mahatma.


Binar juga sosok yang sangat cerdas. Meskipun, banyak tingkah dan memang sifat aslinya begitu adanya.


Binar dulu di adopsi di usianya sekitar 3 tahun. Vava menyukai dia, dari awal pertemuannya. Vava langsung ada rasa sayang terhadap Binar.


Nama Binar seperti nama perempuan, karena Vava suka nama itu. Makanya, setiap bertemu Abyaz mereka saling meledek nama. Bahkan di hadapan keluarga besar Pondok Indah. Mereka berkata, seperti tertukar nama.


"Gadis bodoh, ternyata pandai dandan juga." Gumamnya dan mulai menelfon Damar.


"Eyang, jangan sampai pacarmu di tikung pria lain."


Binar tidak lama menelfonnya. Karena yang berada di ujung jauh sana, sedang tidur. Menerima panggilan hanya seperti mimpi dan berkata "Iya".


"Eyang, tidur."


Menatap jauh keluar, melihat Viral "Viral. Masku yang tampan. Tapi sayang, aku masih malas ribut. Nanti saja kita bertemu."


Melihatnya hanya dari dalam mobil.


Viral tidak mau dipanggil adik oleh Binar, dia tetap kekeh, minta dipanggil Mas. Karena Binar, takut sama Daddynya, akhirnya menuruti kemauan Viral. Karena Viral sendiri, menganggap dirinya cucu tertua di keluarga Mahatma.


"Mas Viral. Ayo nanti kita balapan. Pasti akan seru. Kalau perlu, Abyaz harus lihat kita berdua." Batin Binar.



Sepenggal cerita di Golden Mansion.


"Mommy,...." Binar dengan lebay memeluk Mommy.


"Emmmh, anak tampan Mommy pulang."


"Mommy, Daddy tega sama Binar."


Vava menoleh ke suaminya dan tampak menatap judes.


"Kenapa melihat aku? Aku sudah bilang, dia pasti pulang sendiri."


"Gimana Binar nggak pulang, Binar nggak bisa pergi kemana-mana."


"Paspor Binar udah di tolak negara lain, mereka bilang Binar mafia. Binar cuma bisa pergi ke Jakarta. Sepertinya itu ulah Daddy Mom. Daddy kejam sama Binar, Mom." Memasang wajah yang penuh derita.


Vava memeluk putra kesayangannya, "Sayangnya Mommy, nanti Mommy yang akan balas penderitaan kamu."


Binar tersenyum dan sang Daddy tampak menggelang.


"Mommynya sudah bertemu anaknya. Pasti aku tidur sendirian." Batin Lingga dan sibuk dengan bukunya.


"Mommy lihat Daddy, dari tadi melototin Binar."


Vava lalu kembali menoleh ke arah suaminya, dan semakin menatap Lingga dengan tatapan judes.


"Sayang, apapun perlakuan Daddy kamu. Mommy tidak akan tinggal diam." Ucap Vava sambil memegang pipi anaknya.


"Aku sibuk baca buku. Siapa yang melototin dia."


Binar lalu memeluk sang Mommy, dan mengedipkan sebelah mata kanannya untuk Daddy, Lingga mengacungkan jempol kanannya.


"Mommy, Binar capek."


Vava mengantarkan putra tampannya ke kamar, saat tangan kanan merangkul Mommynya. Tangannya kirinya yang lewat, melakukan tos sama Daddynya.


Binar memang pandai berakting di depan Mommy.