
Waktu ujian akhir di mulai, tertulis harap tenang pada sepanduk yang tampak membentang di atas gedung SMA Pesona.
"Semoga Gaby kuat." Batin sang Mama mertua, saat menemani sang menantu di SMA Pesona.
Mama mertua bersama Zoe, tampak duduk di ruang khusus wali murid. Ternyata tidak hanya Mama Britney, ada juga wali murid yang lain, tampak telah menunggu sang putra yang sedang mengikuti ujian. Putranya tampak sakit, dan tidak mau melaksakan ujian susulan, akhirnya sang Mama juga ikut ke sekolah, untuk memastikan putranya bisa mengikuti ujian dengan baik.
Mama Britney sewaktu tiba di sekolah, juga langsung menghadap ke ruang kepala sekolah. Untuk meminta ijin menemani putrinya yang tidak enak badan. Untuk saat ini, berbohong lebih baik, dari pada nantinya, sekolahan menjadi kisruh dan akan jadi berita utama.
"Zoe, apa masih lama?" Tanya sang Mama mertua kepada bodyguard Gaby.
"Iya Nyonya, sepertinya masih lama."
"Aku jadi kepikiran, semoga Gaby tidak pingsan."
Dari subuh tadi, Gaby merasa pusing dan mual. Pagi waktu mandi juga muntah-muntah karena tercium bau pembersih lantai.
"Nyonya tidak perlu khawatir. Nona Gaby pasti bisa menyelesaikan ujiannya."
"Kalau seperti ini, aku tidak mengijinkan dia ke sekolah. Ternyata sangat lama sekali."
Zoe tersenyum, lalu berkata "Nona Gaby gadis yang kuat."
"Tetap saja saya kepikiran."
Di ruang kelas dimana Gaby sedang mengerjakan soal ujian. Tampak mual, dan dari tadi sudah menahannya.
"Gaby kenapa? Dari tadi megang perut dan mulutnya." Batin Tata si Tomboy.
Ternyata, di ruang kelas itu juga ada si Cantika dan duduk di sebelah Gaby.
No meja Gaby dan Cantik tampak bersebelahan. Mereka telah mengikuti ujian, namun soal itu sepertinya berbeda.
Cantika yang menoleh ke arah Gaby.
"Dia kenapa?"
Keringat dingin tampak mengalir lembut di area wajah dan leher Gaby. Cantika juga bisa melihat Gaby, yang sangat gelisah dan seakan tidak nyaman saat duduk di kursi.
"Bayiku sayang, kamu yang tenang ya. Bantu Bunda menyelesaikan soal ujian ini."
Gaby yang terus menahan rasa mualnya, sudah lebih dari setengah jam rasa mual itu terjadi. Pusingnya, sudah tidak separah waktu pagi subuh tadi. Hanya merasa mual-mual setelah menyium aroma parfum wanita, yang membuatnya tidak nyaman.
"Duh, parfum siapa sih ini? Dari tadi bikin aku mual."
Tinggal 7 soal yang belum ia jawab, dan Gaby tidak sampai membuka soal itu.
Gaby akhirnya menjawab dengan asal-asalan, dan ia berdiri setelah menyelesaikan soal ujian itu.
"Bu guru, saya mau ijin ke toilet."
"Tidak bisa. Kamu harus selesaikan dulu soal ujian ini."
"Saya sudah menyelesaikannya."
Sang guru mendekat, guru cantik berusia 40 tahun dan ia guru SMA lain yang bertugas memantau para murid yang sedang melaksanakan ujian akhir.
Setelah melihat dan mengecek lembar jawaban yang telah terisi semua. Lantas guru itu memberikan ijin kepada Gaby, untuk meninggalkan ruang kelas ini.
"Silakan ambil alat tulis kamu. Nanti tidak perlu kembali ke kelas ini."
"Baik Bu guru, saya mengerti."
Gaby yang tidak tahan dan ia secepat mungkin ke toilet, yang tidak jauh dari ruang kelas itu.
Ruang kelas di lantai dua dan terjaga ketat oleh pengawas. Baik itu dari guru pihak sekolah sendiri, ada pula sang pengawas dari luar SMA Pesona.
Pak guru tampan juga bertugas di SMA lain, bahkan dari waktu tiba di SMA itu, sudah banyak murid yang menggoda dirinya. Ada pula, yang terang-terangan mengakatan, I Love You Mr. Alvaro.
"Bayiku, sayang."
Setelah memuntahkan semua isi perutnya. Masakan suami pagi saparan tadi, sudah keluar semua. Rasa mual itu telah berkurang setelah muntah.
Terduduk di atas closet dan ia tampak lemas. "Besok aku harus gimana?"
"Mas Al, aku harus gimana?"
Gaby berusaha untuk lebih tenang dan ia keluar dari toilet itu. Berjalan ke arah wastafel dan melihat ke cermin. Wajah yang sudah berubah pucat dan ia mencoba untuk tetap kuat.
Mengusap wajah itu dengan air dari keran mengalir dan kembali menatap ke cermin.
"Aku harus telephone Zoe."
Gaby yang lupa, ponselnya masih berada di tangan sang guru pengawas. Karena, sebelum membagikan soal ujian, guru pengawas di ruang kelasnya meminta semua ponsel para peserta ujian.
"Uh, kenapa aku bisa lupa."
Ia yang hendak kembali ke ruang kelas itu, malah berpapasan dengan Cantika.
"Aroma ini."
Gaby yang kembali mual dan ia putar badan untuk masuk ke dalam toilet lagi.
Hoeek!!
Hoeek!!
Cantika mendengar hal itu, ia yang sedang duduk di coslet tampak bergeming sendiri.
"Dia muntah?"
"Apa dia sakit?"
"Aku lihat dia seperti orang yang lagi sakit."
"Ah, bodo amat. Yang penting, aku sudah menyelesaikan ujian di hari pertama."
Gaby yang tidak mendengar suara Cantika, terduduk di closet duduk itu. Sambil memegang perutnya.
"Bayiku sayang, kamu nggak suka aroma parfum Cantika?"
Seketika, Gaby dan Cantika bersamaan keluar dari dalam toilet. Mereka juga saling menatap dan Cantika tersenyum saja, saat melihat wajah Gaby yang sudah tampak kusut.
"Uu, dua bulan lagi aku akan pergi meninggalkan SMA Pesona. Aku bakalan kangen sama Pak Alvaroku." Cantika yang tidak tahu malu, bergumam dengan suara keras.
Gaby yang tampak bersebelahan di wastafel hanya tersenyum dalam hatinya.
"Aku tidak masalah, lagian Pak Alvaroku juga akan resign dari sekolahan ini. Emh, tapi aku bisa main ke rumahnya. Tidak masalah, mantan murid berkunjung ke rumah gurunya. Sebagai murid yang baik, sepertinya itu memang perlu dilakukan." Betapa senangnya Cantika saat berkata ini dan itu.
Gaby bertanya "Cantika, kamu bilang apa barusan? Pak Alvaro akan resign?"
Cantika berkata "Suara apa ya? Apa disini ada hantu? Hii serem."
Cantika yang berusaha pergi dan Gaby lebih dulu menghadangnya. Gaby yang tampak bersedekap dan Cantika yang melotot saja.
"Apaa??"
"Jawab pertanyaanku."
"Jawab pertanyaan kamu?"
"Apa benar Pak Alvaro akan resign?"
"Emh, jawab nggak ya."
Gaby yang menatapnya tajam, lalu berkata "Jawab saja. Apa susahnya."
"Untuk apa kamu mau tahu. Bukannya kamu tunangannya Pak Alvaroku. Harusnya, kamu lebih tahu dari aku. Apa jangan-jangan, kamu cuma ngarang cerita soal tungangan itu."
Gaby dengan kuat mendorongnya ke belakang sampai pinggang Cantika terbentur wastafel.
"Sakit tahu."
"Jawab aku. Dari mana kamu tahu soal Pak Alvaro yang akan resign?"
"Untuk apa kamu mau tahu urusan Pak Alvaroku."
Gaby semakin kuat menghadangnya dan Cantika sudah tampak terpojok.
"Aku cuma bertanya."
"Iih, kamu nggak ada urusannya soal Pak Alvaro yang akan resign."
Gaby tidak ingin memperkeruh masalah dirinya dengan Cantika. Berkata, "Kamu benar."
Soal dirinya yang ribut dengan Cantika juga sudah selesai, dan hari ini ada ujian. Gaby mengingat akan dirinya yang hamil muda, tidak ingin berantem lagi dengan Cantika.
"Aku bisa tanya sendiri sama Mas Al. Apa yang sebenarnya terjadi."
Gaby melepaskan kerah baju Cantika dan tatapan itu masih sinis.
"Sorry."
Cantika berkata pelan "Cewek gila."
Gaby lalu berkata "Parfum kamu tidak enak baunya. Pak Alvaroku, tidak suka dengan parfum murahan itu."
"Week!" Gaby yang kekanakan sudah terlihat menjulurkan lidah unyunya.
Cantika juga melakukan hal itu, tapi dia juga takut kalau Gaby meladeni dirinya. Gaby lebih ganas bila sudah ribut dan nggak mau kalah bila berhadapan dengan dirinya.
"Uuh, aku jadi takut sama dia. Kakiku baru sembuh gara-gara dia." Ucapnya dengan kemayu.
Satu bulan lalu, Gaby telah meladeninya. Bahkan, kaki Cantika sampai retak dan Gaby mau dikeluarkan dari sekolah. Namun, Alvaro telah menjadikan dirinya sebagai jaminan, agar Gaby bisa menyelesaikan sekolahnya. Setidaknya, sampai ujian akhir selesai.
"Apa gara-gara waktu itu? Kenapa Mas Al nggak cerita sama aku?"
Gaby yang menuju ke ruang kelas, tapi Tata sudah mendekat dan tampak memegang ponsel Gaby.
"Gaby, kamu kenapa?"
"Aku nggak apa-apa. Cuma lagi nggak enak badan."
"Ini HP kamu."
"Makasih Tata."
Mereka jalan berdua menuruni tangga. Mereka sudah menyelesaikan ujian hari pertama. Masih ada 4 hari lagi dan Gaby harus kuat menjalani hari-harinya.
"Mama." Rengeknya.
"Gaby sayang, gimana soalnya, sulit?" Mama mertua yang mendekat dan memeluknya.
"Iya."
Tata tersenyum, lalu berkata "Gaby, aku duluan ya."
Tata hanya mengetahui, kalau sosok yang ada dihadapan Gaby itu Mamanya.
Sedangkan Cantika, sangat geram melihat Gaby yang telah diperhatikan Mama Britney.
Melihat perhatian itu, Cantika tidak senang. "Huft, sok manja."
"Cantik, kamu kenapa?"
"Bukan apa-apa."
"Ayo pulang."