ABYAZ

ABYAZ
Lapangan Hijau



Lapangan sepak bola, di samping gedung olah raga. Terlihat, Gaby yang sedang berdiri diantara para pemain bola. Gaby yang tadinya hanya berdiri cantik tanpa bergerak. Karena tatapan Pak Alvaro, dia jadi salah tingkah, akhirnya menggiring bola ke gawang dan goll. Setelah itu, Pak Al menyuruh Gaby untuk menjadi pemain penyerang.


"Huft!" Batinnya kesal.


Tampak keringat membasahi kening Gaby. Gaby yang dulunya tidak pernah mengikuti mata pelajaran olah raga. Waktu di kelas X kelas XI, dia lebih suka mengikuti kegiatan cheerleader. Para guru olah raga juga menyetujui permintaan Gaby. Kalau Gaby, tidak perlu mengikuti mata pelajaran olah raga.


"Padahal aku ingin jadi kiper." Keluhnya, yang dari tadi merengek.


Meski pernah masuk ke tim Cheerleader, dia juga tidak pernah merasa lelah seperti ini. Kakinya begitu nyeri, harus berlari kesana kemari menggiring bola. Karena, dari awal permainan sepak bola itu, mata Pak guru tampan hanya tertuju pada sosok Gaby.


"Hem, capek kan?!" Batin Alvaro dengan senang.


Seolah, ini hanya permulaan untuk murid baru yang bernama Gaby. Karena, semua murid di SMA Pesona, selama Pak Alvaro yang mengajar, dia tidak akan pandang bulu. Selalu serius, dan dia begitu tegas terhadap para muridnya. Entah itu, murid perempuan, maupun murid laki-laki.


Priiitt....!!!


Suara peluit dari wasit berbunyi. Selesai sudah permainan tim putri. Hanya satu jam permainan sepak bola ini, tapi sudah membuat lelah murid baru itu.


Gaby langsung duduk dengan kaki berselonjor di pinggir lapangan hijau. Mengusap keringat yang bercucuran di wajah dan lehernya.


"Aku haus." Gumam Gaby.


Beberapa murid perempuan terlihat duduk tidak jauh dari Gaby, ada pula yang sudah minum air mineral. Ada pula yang masih sibuk menatap guru tampan itu.


Pak Alvaro, yang saat ini berada di tengah lapangan. Sedang mengajari teknik mengoper bola, kepada murid laki-laki yang siap untuk bermain sepak bola.


"Pak Al kejam." Ucap Gaby. Ucapan itu juga terdengar oleh murid yang duduk tidak jauh darinya.


Murid itupun, langsung berbisik kepada teman lainnya.


"Aku nggak mau lagi, ikut pelajarannya Pak Al." Ketus Gaby dengan kesal.


Gaby bangkit dari duduknya, dan berjalan ke arah kantin sekolah. Meski lumayan jauh, namun dia ingin membeli minuman. Rasa dahaga ingin segera terobati. Saat ini tenggorakan Gaby sudah terasa kering.


"Kamu mau kemana?" Tanya seorang murid perempuan yang menghadang.


"Aku mau ke kantin."


Lalu ada yang mendekati mereka berdua "Gaby, kamu mau ke kantin?"


"Yulia, aku haus. Mau beli minuman."


"Emh, kalau cuma mau minum. Itu, ambil aja di ujung. Ada cup dan dispenser."


"Emh, iya." Gaby hanya melihatnya.


Yulia berkata "Selama mata pelajaran Pak Al, kita nggak boleh bolos."


Gaby, binggung dan bertanya "Apakah ke kantin termasuk bolos?"


Gaby, Yulia dan seorang murid lain. Mereka menatap ke arah Pak guru tampan itu. Gaby berkata "Baik, aku paham. Tolong bilangin ke Pak Al. Kalau aku kantin duluan."


Gaby memang nekat, Yulia dan temannya tidak bisa menghalangi Gaby. Meski, mereka sudah mengingatkan Gaby. Tapi, itu dianggap biasa saja bagi seorang Gaby.


Pak Al yang sudah selesai mengajari para murid laki-laki. Dia kembali duduk di pinggir lapangan untuk mengamati para murid yang sedang bermain sepak bola itu.


"Mau kemana?" Tanya Pak Al, sembari memegang map hitam yang berisi daftar kehadiran siswa.


Gaby tidak bisa berkutik, saat sang guru tampan itu duduk tepat di depannya.


"Saya mau ke kantin."


"Kamu haus?"


"Iya Pak."


"Di sebelah sana ada dispenser."


"Pak, saya mau ke kantin."


Pak Al, melihat ke arah jam tangannya. Masih sekitar 20 menit lagi untuk jam istirahat.


"Belum saatnya."


"Maksud Bapak?"


"Ini masih jam belajar saya. Kamu harus patuh."


"Pak, saya haus, saya capek, saya butuh istirahat."


"Semua teman kamu juga seperti kamu."


Bukan Gaby kalau tidak nekat, tanpa banyak kata dan menyela perkataan gurunya. Ia-pun pergi begitu saja.


Pak Al, berucap pelan. "Dia memang susah diatur."


Gaby tetap berjalan pergi meninggalkan lapangan itu. Para teman kelasnya juga menatap ke arahnya, saat ia berjalan melewati sang guru tampannya.


"Owh, dia anak baru itu?" Batin salah satu murid. Sebuah teropong yang mengarah kepada Gaby. Karena, dari tadi sudah menghalangi pandangannya.


Seorang guru, sangat tidak senang bila Pak Alvaro mengajar di lapangan luar. Bukan hanya murid yang selalu ijin ke toilet, namun beberapa Ibu guru muda juga terlena saat mengajar. Entah, kenapa pagi ini Pak Al mengajar di lapangan luar gedung. Biasanya, Pak Al memilih untuk selalu olah raga di dalam gedung. Padahal tidak ada kompetisi, pertandingan ataupun ujian praktek.


"Pagiku cerah." Saat guru cantik memotret Pak Al dari ruang kelasnya.


Gaby yang sudah berada di kantin dan duduk di sebuah bangku. Tidak lama, ada yang mendekatinya.


"Kamu anak baru?" Tanyanya.