
Hari berganti hari, dan rasa rindu semakin bertambah. Abyaz dalam kesendiriannya dan masih terlihat murung.
Sudah lebih dari 3 hari. Bahkan ini, sudah hari ke 7. Teman hidupnya juga belum kembali ke rumah.
Keluarganya juga sudah kembali ke rumah. Kemarin hari minggu sore Pras, Britney dan Alvaro sudah pulang ke Solo.
Suasana senin pagi, yang sangat tidak menyenangkan. Bahkan, Stella pagi-pagi juga sudah pergi bersama Guru Liu.
"Semua sudah pergi."
"Tidak ada yang peduli sama perasaan aku."
Semua orang tampak menutupi tentang masalah yang terjadi. Guru Liu dan Stella setiap ditanya Abyaz. Hanya mengatakan kalau Damar baik-baik saja.
Pras dan Britney sebenarnya juga ikut mengunjungi Damar, tapi mereka bilangnya mengunjungi rumah Alishba. Memang saat itu, Emran yang datang menjemput Alishba dan Owen. Lalu Britney dan Pras ikut mereka.
Hanya sebentar menemui Damar, yang ada dalam ruangan khusus di kantor penyidik. Damar juga tampak sehat dan mereka kembali ke rumah bersama Giel.
Britney dan Pras juga tidak mengatakan apapun tentang Damar. Tapi, Abyaz juga sempat curiga kepada orang tuanya.
"Sangat membosankan." Cebiknya dan berjalan ke taman belakang rumah.
Berjalan sendirian dan sangat jenuh rasanya. Sudah satu minggu hanya berdiam diri di rumah. Tidak ada kegiatan apapun.
"Apa aku harus jalan-jalan?"
"Lagian, tidak ada yang peduli aku."
"Damar juga sudah ingkar. Bilangnya 3 hari, tapi ini sudah seminggu."
Abyaz yang tidak henti menggerutu, dan masih berjalan melihat bunga-bunga.
Abyaz kembali ke dalam rumah, dan mencari para pelayannya.
"Apa kalian sibuk?"
Para pelayan tampak mendekat, tadi ada yang sedang membersihkan lantai.
"Nyonya, apa yang anda perlukan?"
"Aku hanya ingin jalan-jalan. Apa kalian mau menemani aku?"
"Baik nyonya, kami akan menemani Nyonya." Ucap mereka dengan semangat.
Mereka juga bingung, beberapa hari Abyaz hanya berdiam di kamar dan enggan untuk keluar kamar. Hanya memikirkan sang teman hidupnya.
"Nyonya, saya akan siapkan pakaian untuk Nyonya."
"Saya akan bilang sama pengawal. Agar mengantar kita."
4 pelayan perempuan itu memang yang paling dekat dengan Abyaz.
Apalagi mereka yang mengurus semua kebutuhan pribadi Abyaz. Usia mereka juga masih muda, bahkan ada yang baru lulus SMK.
Dua pelayan perempuan lainnya, sudah berusia 40 tahun dan tugasnya memang di dapur untuk menyiapkan makanan. Mereka juga ahli bidang gizi makanan dan satu koki pria yang sangat handal.
"Nyonya silakan." Ucapnya dengan senyuman.
"Aku mau yang casual aja." Balas Abyaz dengan santai.
Pelayan satunya akhirnya mengambil celana jeans dan atasannya kaos pink, cukup manis.
"Iya, yang ini boleh juga." Ucapnya dan bergegas untuk berganti baju.
Beberapa saat kemudian, dia sudah di depan meja riasnya. Tampak dandanan natural, tapi memperlihatkan kesan dewasa. Semenjak menikah, dia selalu ingin menampilkan dirinya yang sudah dewasa.
"Nyonya sangat cantik."
"Ayo kita berangkat."
Sudah jam 9 pagi. Abyaz ingin pergi ke Dunia Fantasi. Rasanya sangat ingin melepaskan penatnya dan berteriak sekeras mungkin.
Abyaz juga meminta pengawal untuk berpakaian casual. Agar bisa ikut dengannya dan bermain bersamanya. Mereka akan menikmati wahana permainan yang menyenangkan di Dunia Fantasi.
Perjalanan melalui jalan Tol. Hanya memakan waktu sekitar 1 jam 20 menit. Sekitar jam 10.30 WIB, mereka sudah memasuki Dunia Fantasi dan tampak mengantri di wahana yang membuat orang berputar.
"Nyonya,.."
"Aku tidak akan memaksa kalian untuk ikut. Yang jelas, aku mau naik ini."
Para pelayan ada yang bersemangat dan ada juga yang takut pusing. Melihat wahana itu dari jauh sudah membuat kepala pening, apalagi kalau menaiki wahana itu. Dua pengawal handal, juga ikut merasakan keseruan permainan itu.
Disaat Abyaz yang sudah mulai merasakan keseruannya di Dunia Fantasi. Yang ditempat lain, sedang bersiap.
Damar yang menuruni mobil BMW, dengan sangat menawan, menatap pintu utama kantor barunya
"Tuan Damar, sudah waktunya." Ucap Guru Mao yang ada di sebelahnya.
"Ini hanya awal yang baru." Batinnya dan dalam hatinya terdalam dia juga berdo'a, agar mendapatkan jalan yang mudah baginya.
Berpakaian formal dengan kemeja putih bebalut jas hitam. Sangat terlihat kharismanya, dengan tatapan dingin tapi begitu mempesona.
Terlihat barisan staff handal dan para anggota dewan direksi, serta para pemilik saham, telah menyambut Presdir baru mereka dan nama perusahaan itu juga akan diresmikan pada siang ini.
Para pengawal juga tampak berjalan di belakang Damar dan Guru Mao.
Stella dan Guru Liu menatapnya dari kursi tamu undangan. Tampak Viral dan juga Giel yang hadir dalam peresmian itu. Beberapa wartawan dan media juga meliput acara peresmian ini. Bahkan sangat ramai, dan suasana gedung itu juga tampak sangat berbeda dari gedung sebelumnya.
Gedung yang sangat luas dan hanya 9 lantai. Gedung ini sangat berkesan modern dengan fasilitas yang begitu canggih.
Lembaran baru Ji-sung akan di mulai dengan nama baru JS Grup. Akan tetap saja dengan logo lama, hanya saja tidak ingin dikenal dengan nama Ji-sung.
Damar menyamakan nama JS dengan perusahaan miliknya.
Joy Self (JS), yang sekarang sudah dipimpin oleh sahabatnya. Sahabatnya juga ada yang bekerja disana sebagai personalia. Tapi saat ini, dialah yang mempimpin JS Corporation.
Damar hanya membuka lembaran baru JS tanpa ada lagi jejak lama, mungkin ada beberapa orang yang tidak ingin mendukungnya. Tapi sebagian anggota dewan direksi dan pemilik saham sudah setuju dengan pembaharuan ini.
Gedung lama juga sudah disita. Untuk semua staff yang masih tinggal. Akan mulai bekerja di gedung baru ini.
Damar tidak banyak memberikan kata sambutan. Dia banyak berdiam, dan sorot matanya tampak begitu dingin. Tidak seperti biasanya saat dia berada di rumah.
Sekitar setengah jam acara peresmian sudah selesai dan Damar bersama asistennya berjalan ke ruangannya.
Guru Mao tampak setia mendampingi Damar. Stella dan lainnya akhirnya pergi. Mereka belum tahu, apa yang Abyaz lakukan di siang hari ini.
Setelah hampir dua jam di Dunia Fantasi.
"Aku senang."
"Nyonya saya pusing."
Bahkan ada muntah-muntah, setelah menaiki wahana Ontang Anting.
Tapi mereka sangat senang, tidak menyangka mereka menjadi lebih akrab satu sama lainnya.
"Emh, tapi aku masih mau lagi."
"Nyonya kita menyerah." Ucap salah satu pelayan.
"Nyonya yang lain saja. Yang bisa santai." Ucap pengawal juga sudah menyerah.
Abyaz bahkan dua kali mengantri di Ontang Anting.
"Kita semua pusing, kenapa Nyonya terlihat segar sendiri."
"Iya, soalnya aku sudah pusing duluan sama masalahku." Abyaz mulai tertawa, dan pelayan kembali bersemangat setelah melihat Abyaz yang senang.
"Kalau gitu, aku mau ke Biang Lala."
"Apa itu Nyonya?" Tanya salah satu pelayan.
"Yang kayak kincir angin." Jawab salah satu pelayan.
"Nanti kita pusing lagi."
"Emh, tidak akan pusing. Tapi kita sholat dulu, terus makan siang. Baru nanti kita ke Biang Lala." Ucap Abyaz yang tampak bersemangat.
Rasanya sudah lama sekali, Abyaz tidak merasakan keseruan ini. Dulu terakhir ke Dunia Fantasi, waktu dia SMA dan itu juga bersama teman-teman sekolahnya.
Di ruangan kantor, Damar yang masih menandatangai beberapa berkas penting.
Bahkan sudah lebih dari jam 1 siang. Dia belum sholat dan juga belum istirahat sama sekali.
"Tuan Damar, anda harus istirahat."
"Iya Guru Mao."
Damar yang dari pagi sudah disibukan dengan segala urusan yang menyangkut nama Ji-sung Grup. Dia harus bekerja keras menangani semua masalah yang ada dalam Ji-sung Grup, agar bisa merubah imeg buruknya dan menjadi satu nama yang baru, dengan imeg berbeda.
"Apa yang Abyaz lakukan?" Damar selalu bertanya Guru Mao tentang keadaan istrinya.
"Nyonya sedang ada di Dufan."
"Dufan?!!" Rasanya sangat tidak percaya. Istrinya pergi ke Dunia Fantasi.
Damar lalu bangkit dari kursinya dan keluar dari ruangannya.
"Kenapa nggak nungguin aku aja? Aku juga ingin bermain sama kamu." Batinnya yang tidak senang dan tampak cemberut.
Damar melihat ke layar ponselnya dan sambil berjalan dia menghubungi sang istri. Tapi ponselnya tidak aktif dan dia semakin tidak senang.
"Kenapa ponselnya nggak aktif?!"
Berjalan dengan biasa saja. Tapi dia tampak dingin. Saat ada beberapa staff yang menyapanya, Damar tampak tidak menghiraukannya.
"Tuan Damar, silakan sholat dulu. Saya akan menunggu disini."
Di gedung ini, musholanya sangat mewah. Guru Mao yang mengusulkan untuk memberikan fasilitas yang mewah, untuk tempat ibadah Damar dan juga para anggota dewan direksi yang beragama muslim. Mengingat gedung yang lama, tidak ada fasilitas untuk ibadah. Mereka yang beragama muslim, memilih untuk ibadah di ruangan mereka sendiri-sendiri.
"Guru Mao, kenapa masih ada pembedaan seperti ini?"
"Maksud Tuan??"
"Saya mau sholat. Bukan saya ingin diprioritaskan. Mulai besok, ini mushola umum untuk semua staff. Bukan hanya untuk yang para anggota direksi."
"Baik Tuan Damar."
Damar yang tidak senang, masih tampak menggeleng, dan Guru Mao langsung mencatat dalam notenya.
"Kenapa semuanya sama saja." Desisnya dan mulai masuk ke dalam mushola.
"Ya Allah, maafkan hamba." Batinnya dan mulai meredam pikirannya.
Dua hari dia sangat disibukan urusan kantor. Padahal dia sudah dibebaskan di hari ke-5. Tapi dia tidak bisa menemui istrinya, sampai semuanya sudah kembali membaik.
Yang di Dunia Fantasi, masih berlanjut. Bahkan Abyaz sangat senang.
Dia tampak cantik dengan memakai bando karakter kartun dan sudah menaiki Biang Lala.
"Nyonya pantainya sangat cantik." Ucap pelayan dan memotretnya
"Emh iya. Dari atas sini bisa melihat pantai."
Abyaz yang mengingat waktu malam Damar meninggalkan dirinya di pesta, dan akhirnya bertemu di pantai itu.
"Apakah dia merindukan aku?" Batinnya.
Mengingat perkataan Stella yang bilang, kalau Damar juga sangat merindukannya.
"Nyonya sudah capek?" Melihat Abyaz yang sudah tampak duduk.
"Emh belum, tapi aku ingin pulang."
Setelah beberapa jam menikmati permainan dari beberapa wahana, mereka pulang.
Setelah 7 malam mereka tiba di rumah, karena Abyaz tadi ingin ke pantai. Jadi sesaat mereka disana. Ternyata waktu pulang sangat macet dan tiba di rumah sudah malam.
"Kalian, keluarlah."
Para pelayan tampak terkaget saat melihat Tuan mereka yang sudah berada di kamar itu.
"Baik Tuan."
Damar mengangguk dan dua pelayan yang menyiapkan baju serta make-up ritual malam sudah tampak berjalan keluar.
Sudah jam 19.30 WIB.
Abyaz masih berendam dalam bath-up, lilin aromaterapy dengan wangi floral. Sabun mandi dan parfume dengan wangi khas bunga mawar. Rasanya begitu rileks.
Setelah mandi, Abyaz menarik kimono dan bergegas memakainya.
Dia tidak sadar, kalau dari tadi sudah ada yang berdiri, bersandar dinding dan menatapnya.
"Kenapa begitu lama?"
"Heem, dari kapan kamu disini???!!" Abyaz sangat terkaget. Dia mengikat tali itu dengan tangan yang gemetar.
Damar mendekat dan tampak rambut Abyaz yang basah.
"Sudah dari tadi." Balasnya dengan santai mengikat tali kimono itu sangat kencang. Tangan Abyaz terasa lemas, lalu saat dirinya dibawah shower, apa sang suami sudah melihat semuanya.
"Kamu???????!" Suara yang tidak terdengar jelas dan Damar langsung mengangkatnya keluar kamar mandi.
Jantungnya berpacu lebih cepat, bahkan lebih berdebar saat ini, dibanding tadi waktu menaiki roller coaster.
"Aku sangat merindukan teman hidupku."
Abyaz, suamimu sangat meresahkan Othor. Ternyata lebih NAKAL dari Papamu. ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜