
Pagi buta memandangi wajah itu, saat suaminya terlelap dalam kehangatan. Suami yang tampan dan masih terus saja menatap dengan penuh perasaan.
Tidur menyamping dan ia tersenyum, "Aku sudah tidak menangis lagi."
Jari lentik yang menelusuri wajah tampan itu, ia kembali tersenyum "Hidungnya Mas Al, lebih mancung dari aku." Perasaan dirinya berubah kekanakan.
Padahal, besok pagi akan ada ujian akhir di sekolah. Masih waktu dini hari, malah terbangun dan hanya sibuk memandang wajah tampan sang suami.
"Aku heran, jam segini malah terbangun. Aku jadi laper." Gaby merasa perutnya ingin diisi sesuatu.
Dari siang tadi, perutnya terasa mual-mual. Larut malam begini, terbangun dan ingin makan sesuatu.
"Aku ingin makan bubur." Gumamnya dan ia bangkit dari kasurnya.
Berjalan meninggalkan sang suami, ia yang membuka pintu, masih saja menatap ke wajah sang suami.
"Apanya yang buat aku nangis? Apa tatapan Mas Al?" Gaby sendiri masih bingung akan dirinya. Malam juga tidak bisa tidur, setelah suaminya mengelus punggungnya, ia baru bisa terlelap. Sekarang baru jam 1, sudah terbangun dan ia tidak tahu harus mencari bubur dimana.
Berjalan menuruni anak tangga, dan ia menuju ke dapur. Terdengar suara Papa yang melantunkan ayat suci Al-Qur'an di ruang tengah.
"Papa." Gaby yang kagum memandang sosok sang Papa mertua.
Seorang Papa yang telah mengajarkan banyak hal tentang kesahariannya. Ia pernah berdiskusi tentang sopan santun anak muda kepada orang yang lebih tua. Apalagi, tentang budaya jawa. Gaby juga sangat tertarik saat Papa mertua juga pernah menceritakan, soal adat istiadat saat pernikahannya dulu dengan Mama Britney.
"Emh, aku juga ingin memakai kebaya." Batin Gaby saat itu.
Gaby membayangkan dirinya akan memakai kebaya putih dengan bawahan kain batik. Ingin memakai mahkota siger sunda dengan ronceaan bunga melati segar.
Sang Papa yang selesai membaca Al-Qur'an, kemudian menoleh ke arah Gaby, yang dari tadi tampak memandanginya.
"Gaby, kamu sudah bangun."
"Papa, Gaby udah terbangun dari tengah malam tadi. Gaby lagi susah tidur."
"Apa kamu lapar?"
"Papa kok tahu. Kalau Gaby lapar."
Sang Papa mertua tersenyum, karena dulu semasa istrinya hamil muda. Di jam siang tidak ingin makan, giliran tengah malam mencari-cari makanan.
"Mama dulu seperti ini. Papa masih ingat sampai sekarang. Tengah malam Papa membelikan makanan. Untung saja tinggal di kota besar. Penjual makanan masih ada di waktu tengah malam."
"Tapi, Gaby ingin makan bubur. Jam segini tukang bubur belum jualan."
"Bubur?" Sang Papa yang telah beranjak dari sofa, lalu pergi mengambil ponsel di kamarnya.
Papa mertua berjalan pergi dan Gaby yang berjalan menuju dapur. Gaby juga heran dengan keadaan perutnya saat ini.
"Bayiku sayang, kamu ingin makan bubur?" Gaby yang mengelus perutnya dan ia tetap bingung akan dirinya yang seperti ini.
Membuka kulkas, melihat hanya ada buah dan cake. Ia tidak tertarik dan langsung menutupnya.
Papa mertua keluar dan bertanya "Gaby. Kamu mau bubur apa? Bubur ayam? Bubur kacang ijo? Bubur ketan hitam?"
"Papa. Memangnya ada yang jualan di jam segini."
Menoleh ke arah jam dinding, jam 2 dini hari dan perutnya semakin bernyanyi.
"Warkop Bang Barry buka. Ada menu bubur. Itu tadi yang Papa sebutkan."
"Gaby mau bubur kacang ijo dicampur ketan item."
"Itu saja?"
"Iya Papa. Itu saja."
"Susu hangat dicampur sirup juga enak. Kamu mau?"
"Susu hangat?"
"Iya, ada susu, teh, kalau kopi kamu nggak boleh minum."
"Kalau begitu, coba susu sirup yang Papa bilang barusan. Gaby mau coba."
Setelah itu, sang Papa mertua telah memesan menu yang diminta Gaby barusan. Demi sang cucu yang ada di dalam kandungan menantunya, Papa mertua bertindak gercep.
Sang suami berjalan menuruni anak tangga, Gaby yang mendengar suara langkah suami, Gaby langsung bersembunyi, lantas berkata "Mas Al, jangan tatap aku."
"Sayang, kamu dimana?"
"Aku di dapur."
Al yang mengerti lantas duduk di sofa ruang tengah, sang Papa menghampiri, dan berkata pada putranya "Gaby ingin makan bubur."
"Iya, Al akan membelikannya."
"Papa sudah pesan di warkop Bang Barry."
"Papa, terus Al harus gimana?"
"Ya sesuai permintaan Gaby. Jangan menatap Gaby."
"Papa, yang benar saja, sampai kapan Al harus begini?"
Papa memegang bahunya, "Kamu harus sabar. Kamu masih mending cuma digituin. Coba kalau di usir dari ranjang. Bisa-bisa kamu jadi meriang."
Papa lantas mendekati Gaby, berkata "Papa sudah pesan. Papa mau tunggu di depan. Kamu duduk saja di ruang makan."
"Baik Papa."
Gaby masih mematung di ruang dapur dan ia tampak raut wajah kekanakan. Entah, kenapa perasaannya begitu takut dan runtuh, seketika melihat tatapan mata Al yang begitu adanya.
Setelah mendengar suara pintu tertutup, Gaby beralih ke ruang makan. Duduk di kursi dan tidak menghadap ke arah Al yang tampak bersandar di sofa.
"Tapi tadi kita tidur seranjang."
"Aku hanya bisa melihat punggung kamu."
"Aku tadi." Gaby yang tidak ingin melukai perasaan suaminya. Bahwa dirinya telah menulusuri wajah tampan suaminya, saat sang suami terlelap dalam tidurnya.
"Tadi apa?"
"Tadi aku kebangun, aku lapar. Aku kepingin makan bubur."
"Sayang, aku harus gimana?"
"Mas Al coba pakai kacamata warna"
"Pakai kacamata?"
"Ya pokoknya, biar aku nggak takut sama tatapan Mas Al.
"Kamu seriusan?"
"Mas Al mau aku nangis lagi?"
"Oke. Kalau itu yang kamu mau."
"Coba Mas Al mandi, pakai parfum yang aku beliin. Terus tampil menawan dan pakai kacamata."
"Hah??"
"Ayolah."
Sepertinya, hal itu juga pernah dilakukan Papa Pras, demi menuruti Mama Britney yang sedang mengandung.
Ada-ada saja keanehan yang terjadi pada sosok bumil yang satu ini. Sang suami akhirnya kembali ke kamarnya. Bisa jadi bersiap dan ingin menuruti keinginan istrinya yang sedang mengidam.
"Eneng-eneng wae." Desis Al saat menaiki anak tangga.
"Mas Al. Aku masih dengar."
"Iya sayang. Demi anak kita."
"Nah, gitu dong."
Kandungannya, baru menginjak 2 bulan. Tapi, sudah meminta yang aneh-aneh.
"Bayiku sayang. Ayah kamu begitu. Apa kamu takut sama ayahmu?" Gaby yang masih seperti anak-anak, dan akan mempunyai anak. Pastinya, nanti akan seperti boneka bayi yang ia mainkan.
"Aku masih bingung, aku sama Mas Al ke vila belum ada 2 bulan. Tapi, kata dokter aku sudah hamil 8 minggu."
Batinnya setelah pulang dari rumah sakit. Kemarin, Bu dokter sudah menjelaskan panjang lebar. Bahkan, Bu dokter sudah menerangkan begini begitu. Tetap saja, Gaby nggak paham soal usia kandungannya.
Sepulang dari dokter, Gaby akhirnya mencari info seputar kehamilan, dari sosial media. Bertanya kepada dokter bukan solusi yang bisa dipahami dirinya. Sosok Gaby yang kekanakan, hanya bisa mengangguk bila dokter menjelaskannya.
Pesanan bubur ala warkop sudah tiba dan tadi sang penjual mengantar sendiri pesanan Papa mertua ini.
"Gaby, ini buburnya sudah datang."
"Papa, Gaby sudah ambil mangkok." Terlihat manja dan sangat senang melihat plastik bungkusan yang dijinjing Papa mertuanya.
Gaby sangat antusias, saat ia menuang bubur itu ke dalam mangkok. Aroma manis dari bubur itu sudah tercium di hidung imutnya.
"Papa mau?"
"Papa tidak terbiasa makan jam segini."
Setelah beberapa saat, Gaby yang tampak duduk di ruang makan dan ia memakan bubur yang diinginkannya.
Papa mertua yang menemani, saat ia makan dan sang suami masih berada di kamarnya. Entah, apa yang dilakukan sang suami untuk memenuhi permintaannya.
Sang Papa mertua lantas melihat ke sekitar ruangan itu, tidak nampak putra tampannya. Padahal, tadi masih duduk bersandar di sofa.
"Gaby, Al kemana?"
"Mas Al ke kamar." Gaby dengan senang dan kembali menatap ke mangkoknya.
"Tumben Al menjauh. Sudah paham ternyata." Batin sang Papa yang tidak tahu menahu akan permintaan sang menantu.
"Sayang, gimana penampilan aku?"
Entah gaya apa yang ditampilkan, sang Papa menatapnya dengan wajah heran.
Gaby langsung tertawa gemas saat melihat tingkah kocak sang suami.
Bak prawagawan yang memamerkan busana. Papa Pras yang tak henti menatapnya juga ikut tertawa.
"Al, kamu mau shuting iklan?"
"Papa, ini demi cucunya Papa."
"Al, Papa dulu juga begitu. Ternyata permintaan Gaby juga sama seperti Mama kamu."
"Gimana Pa? Aku ganteng?"
"Iya. Ganteng. Mirip aktor hollywood."
Al yang biasanya terlihat kaku dan tidak peduli dengan apa yang dikenakan pada postur tubuhnya ini.
Gaya kocaknya yang kriuk garing, tapi Gaby sudah terpesona. Meski, suaminya begitu kaku dan sebenarnya tidak suka berpenampilan seperti ini.
"Sayang, mendingan aku pakai jas."