
Malam tiba dengan suasana asmara yang terasa lega. Binar yang menatap foto dirinya dan semua kenangan ia rasakan kembali.
"Aku akan tetap disini. Sampai aku tidak lagi bernafas."
Melihat ke sekitar ruangan itu, masih tetap sama. Tidak ada yang berubah, bahkan walpaper dinding yang sudah jadul. Tidak tampak diperbaharui.
Saat Binar memiliki istri, dan istrinya ingin sekali merenovasi rumah itu.
"Jangan berani-berani, menyentuh rumah ini. Atau aku akan mengusirmu dengan kasar." Ucap Binar, ketika masa itu dan sekarang Imel sudah jadi mantan istri.
Binar menatap foto dirinya, dan momen manis itu. Papa Pras yang memotret mereka berdua. Mommy Vava yang mengenalkan mereka berdua. Usia balita dan sangat menggemaskan.
"Gadis bodoh, Mommy nyuruh kamu cium aku. Nurut aja."
"Selamanya, kamu akan jadi gadis bodohku."
Binar yang tersenyum sendiri, namun persaan luka itu tetap ada. Meskipun, mendapatkannya sudah tidak mungkin. Namun, cintanya itu telah terjawabkan.
Ting tong
Ting tong
Ting tong
Sudah jam tengah malam, terdengar suara bel pintu berbunyi. Malam ini Binar yang baru kembali, dari rumah kedua orang tuanya. Baru saja duduk di sofa dan memandangi foto dirinya bersama pujaan hatinya. Ada yang tampak datang tanpa di undang.
"Kamu."
Setelah membuka pintu rumahnya.
"Iya, aku susah tidur."
"Presdir ternama dan datang kemari. Karena, susah tidur."
"Aku tidak terima kekalahanku."
"Owh, karena itu."
Binar dengan sengaja memperlihatkan foto masa kecilnya dengan Abyaz. Lalu, Damar memperhatikan foto itu dengan senyuman.
"Aku ingin menyelesaikannya, malam ini juga."
"Disini?"
"Apa kamu ingin menghancurkan kamu di rumah kenanganmu ini?"
Suara yang pelan namun mencabiknya.
"Oke, aku siap. Dimana tempatnya?"
Setelah 30 menit berlalu, di atas ring tinju. Malam-malam, bukannya tidur malah mau adu jotos.
"Aku Damar. Aku tidak akan memberikan kesempatan untukmu."
"Kamu takut, aku merebutnya darimu?"
"Ciih, aku tidak akan segan menghabisimu."
"Silakan." Binar yang memancingnya, dengan kedua tanganya terbuka lebar.
Damar yang siap meninju dengan hentakan kaki, segera meluncurkan serangannya.
Buugh!
Serangan pertama di bagian pipi, sampai bibir Binar sudah terlihat darah.
Binar yang mengusap darah itu, dengan sorot mata dan ia kembali tersenyum.
"Baiklah, ayo kita mulai."
Binar dengan gerakan serang balik yang sangat cepat, Damar bisa menghidari pukulan itu. Lalu kembali saling meninju satu sama lainnya
Bugh
bugh
bugh
Bugh!!
Dasssh!
Jotosan Damar membuat Binar tersungkur, sampai merasa pening.
"Bangunlah." Tatapan nanar Damar, ia juga tampak mengusap hidungnya yang berdarah.
"Damar, kamu tidak tahu semua pengorbananku untuknya."
"Abyaz tidak butuh pengorbananmu."
"Tidak masalah. Yang pasti aku di dalam hatinya dan orang yang pertama." Binar yang bangkit dan ia tersenyum dihadapan Damar.
"Emh, percuma hanya dengan ucapan dan rasa dalam hati. Tapi, setiap hari aku yang telah membelainya dan aku merasakan setiap sentuhannya." Damar merasa memiliki Abyaz seutuhnya.
"Tadi, dia tidak mencintai kamu."
"Binar. Kamu tidak tahu saja. Belakangan ini, Abyaz selalu mengatakan. Kalau dia sangat mencintaiku."
Damar dengan senyuman tengilnya dan seolah meledek Binar. Kedua orang ini tampak kekanakan.
Lalu mereka,
Bugh, baag, buugbugh. Dassh!
Damar akhirnya merasakan tonjokan kesar dan membuatnya pusing. Ia yang bangkit dengan senyuman.
"Aaa, lumayan juga."
Siap untuk saling beradu jotos, duug.
"Abyaz!!" Teriaknya kepada mereka berdua.
Sosok tampan dengan penampilan casual, tampak mengenakan kaos serta membawa jaket sporty di bahunya.
Keduanya yang siap saling meninju, masih menatap Viral, yang datang begitu saja.
"Kalian apa tidak memerlukan wasit?"
"Sial." Batin Damar yang enggan dengan kedatangan Viral.
Viral masuk ke ring tinju, dengan gaya yang begitu adanya, tampak senyuman menyudut ke kanan.
Viral berkata "Hentikan."
Menatap keduanya dan tangan dia berada di tengah-tengah.
"Hentikan!"
Mereka mundur satu langkah.
Viral berkata "Kalian seperti bocah yang berebut mainan. Apa kalian berdua tidak malu dengan usia kalian. Kalau Abyaz dan keluarga kita tahu. Apa kalian berdua bisa menjelaskannya?"
"Viral, kamu tidak usah mengguruiku."
"Viral. Kamu selalu saja datang tanpa aku undang." Binar yang menatapnya.
"Cih,"
"Binar. Aku datang sebagai Kakakmu. Aku selalu mengawasimu. Aku tidak ingin kamu terluka. Makanya aku buru-buru datang kemari."
"Aa, ternyata bantuannya sudah datang."
"Damar, diamlah. Aku menghormatimu karena Abyaz dan kamu bosnya istriku. Aku sangat-sangat menghormati kamu."
"Baik, aku akan diam." Damar seolah telah mengunci mulutnya dan ia mundur selangkah lagi.
"Kenapa mundur? Kamu takut?" Binar dengan senyuman meledek.
"Tidak, aku hanya ingin melihat kedua saudara berdebat."
Binar berkata "Kamu memang suka mencari masalah."
"Bukan aku, kamu dulu yang memulai." Damar dengan senyuman dan ia telah bersandar ring.
Viral menepuk bahu Binar, ia berkata "Binar, yang berlalu sudah lupakan. Kita ini saudara. Ayolah, jangan terpancing omongan Damar."
"Bukan aku yang memulainya, tapi dia."
"Aku?" Damar yang menyela.
Viral berkata "Oke, lanjutkan saja. Aku akan menyaksikan kalian berdua dan aku yang akan menentukan pemenangnya."
Damar berkata "Tidak, aku sudah puas mendapat pukulan Binar."
"Kamu merasa kalah?" Binar tersenyum.
"Binar, kamu tidak tahu bagaimana rasanya menjadi suami yang sangat mencintai istrinya. Bukan sekedar merasakan cinta. Tapi, aku suaminya. Aku yang tahu semuanya tentang istriku. Baik masa lalu dan masa sekarang ini."
"Terus, kenapa kamu mengajak aku kemari? Bukannya, kamu ingin membunuhku?"
"Percuma juga aku membunuhmu. Aku telah merasakannya, kalau kamu tidak seburuk itu. Aku anggap, kita impas."
"Kamu menyerah?" Binar yang telah menantang dan mendekat ke arahnya.
Damar maju dan berkata "Aku tidak menyerah."
Adu jotos kembali. Viral yang terkena pukulan tanpa sengaja, ia akhirnya keluar dari ring tinju itu.
Pengawal Viral datang mendekati Viral, dan melihat luka Viral. Bak anak kecil yang diperhatikan kedua orang tuanya.
"Bos, apa saya boleh melerai mereka?"
"Biarkan saja. Mereka mati, biarkan saja." Jawab Viral dan ia masih saja memegangi pipinya yang terasa nyeri.
"Sialan! Pukulan Damar kenceng juga. Pipiku masih terasa nyeri."
"Bos mau ke dokter?"
"Tidak perlu. Kita nonton mereka saja. Mumpung ada tontonan gratis."
Lalu pengawal itu, tampak bersedekap ia berkata "Cross!!"
Pengawal itu tampak senang, dan ia sepertinya mendukung Damar.
"Apanya yang Cross?"
"Presdir Damar begitu jago. Dia mengerti teknik pukulan tinju."
"Aa, itu karena dia sudah sering latihan."
"Bos kenapa tidak berlatih seperti dia?"
"Buat apa aku menyewa kamu. Kalau aku harus capek-cepek latihan tinju. Percuma aku perawatan kulit, kalau aku harus kena pukulan."
Viral masih mengelus-elus pipinya, ia lalu berteriak "Binar!!"
Binar yang tergelak dan ia dengan pengawalnya langsung masuk ke ring tinju.
Viral meraih tubuh Binar dalam pangkuannya dan sang pengawal mengambilkan air.
"Binar, Binar. Bangunlah."
Damar yang becucuran keringat dan ada darah yang mengalir di bagian wajah kirinya. Tampak berdiri dan pengawal malah memberikan minuman itu kepada Damar.
"Dia tidak apa-apa. Hanya lemes."
"Damar, kamu tega menghajar adikku."
"Bawalah dia ke dokter."
"Apa kamu memukul perutnya??"
"Tidak. Aku tahu dia ada bekas luka di perutnya. Aku cuma sedikit kasih pukulan di wajahnya."
"Separah ini, kamu bilang sedikit?" Viral yang tampak memangku kepala Binar.
"Berisik." Lirih Binar.
"Binar. Aku lega." Ucap Viral dan ia membaringkan Binar.
Keduanya saling menatap, Binar tersenyum kepadanya.
"Syukurlah, kamu tidak mati. Aku bisa mati berdiri kalau kamu sampai mati dihadapanku."
"Iya. Sepertinya, aku harus mati dihadapanmu."
Tangan Binar meraih tangan Viral, dan ia akhirnya bisa bangkit. Viral membantu dia untuk duduk dan pengawal juga memberikan botol minuman kepadanya.
"Aku akan membawamu ke dokter."
"Tidak perlu. Masih dua babak lagi."
"Kamu gila? Sudah seperti ini. Masih saja ingin melawannya."
"Viral. Aku pria sejati. Aku tidak ingin menyerah begitu saja."
"Panggil aku Mas. Mas Viral."
"Iya, Mas Viral. Kamu memang kenakanan."
"Kamu bisa berdiri?"
"Bisa."
Selang beberapa menit, mereka berdua telah siap kembali dan Damar juga sudah merasa pusing. Tapi, dia tetap harus menyelesaikan adu jotos ini.
Akhirnya, pengawal Viral yang menjadi wasit dan melerainya ketika sudah fatal.
Beberapa kali pukulan Binar juga tidak meleset. Damar semakin panas dan rasanya sudah mencapai ubun-ubunnya.
Daaasshh!!!
Setelah beberapa kali saling meninju, akhirnya Binar yang tergelak dan dalam hitungan wasit. Binar tidak terbangun juga. Viral kembali panik, melihat sang adik sepupu yang tidak lagi bergerak.
"Damar kamu menang. Lupakan semua yang telah terjadi."
"Aku tidak mengharapkan kemenangan apapun. Aku hanya merasa ingin saja, bertinju dengannya."