ABYAZ

ABYAZ
Bab. 13. Menerima Gaji Pertama



Seminggu kemudian, seiring berjalannya sang waktu, gadis itu perlahan mulai mengerti. Mencari duit sangat susah sekali. Tidak semudah yang dia bayangkan. Bahkan, bagi seorang yang hidupnya bagaikan putri istana.


"Selamat pagi." Ucapan sapa dan dia tampak menyapa sang bos pemilik butik.


"Pagi."


Sang Bos tampak menghitung uang. Ia merasa aneh saat dihadapan mantan teman SD ini.


"Ini gaji kamu seminggu ini."


"Aku udah dapat gaji?"


"Iya. Itu juga bonus penjualan."


Gadis anggun dengan paras menawan. Begitu cantik dan setiap lekukan dress yang ia kenakan, sangat cocok dengan leluk tubuh sexy yang dia miliki.


Suara, tatapan, cara ia bersikap dan pembawaan diri ketika berjalan. Memang layak disebut model.


Tapi, dia seorang desainer pakaian wanita. Butik ini, khusus menjual busana wanita yang dia rancang sendiri. Dari dress, gaun, syal dan lain sebagainya.


Sebut dia, Maharani. Kulitnya yang putih bersih, mata yang indah dan bibir yang terkesan sensual.


"Kenapa masih disini?"


"Tidak apa-apa."


"Pergilah."


"Baik."


Gadis ini, merasa aneh. Baru seminggu sudah mendapat gaji.


"Ini beneran? Uang hasil kerja kerasku?" Ia menciumi lembaran merah itu.


Betapa hebohnya, saat mencium uangnya.


Walaupun, uang sakunya dalam sehari, lebih wow kalau dihitung dalam seminggu.


"Ini 2 juta, aaaa. Aku dapat gaji." Betapa senangnya.


Gadis yang tak pandai menghitung keuangannya. Apalagi, bila mata meleknya melihat barang istimewa, langsung ingin membelinya.


"Aku harus traktir Arjuna."


Padahal di setiap harinya, Arjuna memberikan 3 juta di dalam tasnya, setiap hari selalu di isi. Entah, Beby memakainya atau tidak. Tapi, Arjuna juga sangat mengerti kebiasaan gadis itu.


Pekerjaannya, hanya menyapa tamu, selamat datang, selamat siang, dan terima kasih sudah mengunjungi butik kami. Ya, seperti itu. Bagi sang bos, itu pekerjaan yang paling rendah untuk seorang tuan putri. Karena dia, dulunya juga menertawakan Cinta Damayaz.


Ada lima pegawai lain dan petugas cleaning service. Mereka bertiga, juga merasa heran. Kenapa, ada pegawai baru dan pekerjaannya terlalu mudah. Meski bos ini, sikapnya sama saat memperlakukan gadis itu. Tapi, para pekerja yang lain jadi merasa iri.


"Emh, gaun malam yang indah." Beby tak jadi mendekat. Ia malah menutup bagian dadanya, seolah dia memikirkan hal dewasa. Tapi, dia tersenyum saat memandanginya.


"Kenapa masih disini? Sana di posisi kamu."


"Siap Bos." Balasnya dan sang pemilik berjalan ke ruang kerjanya.


Ruangan khusus untuk membuat gambar, membentuk pola, menggunting bahan, menjahit, ya kurang lebih seperti itu.


Si gadis yang sekarang ini menyandang nama Beby Ayazma, ia sudah pergi ke sisi pintu. Di tokonya ada 2 pelayan, dan satu kasir dan yang satunya bekerja menjadi asisten sang desainer di ruang kerjanya.


"Eh, aku merasa si Bos beda kasih."


"Kenapa?"


"Kita selalu yang melayani para pembeli dan yang mengurus para pemesan baju. Dia cuma stay di dekat pintu."


"Bener juga."


"Ya udah, kita ke posisi kita."


"Ngapain? Lagian belum ada pembeli yang datang."


"Ya kita berdiri aja, kayak dia yang stay."


"Malas. Capek."


Dia sang pegawai, hanya duduk saat tidak ada pengunjung. Sedangkan Beby dari pagi sampai sore hari, stay dan ia tetap semangat. Tidak merasa kalau itu melelahkan.


"Selamat pagi, selamat datang di Butik Gloria."


Seorang ibu-ibu datang, tampak wow dan penampilan luarnya ini sangat ngejreng penuh warna. Dari warna dress, tas dan sepatu. Beby, sudah mengamatinya penampilannya.



Dua orang pegawai mendekat, dan melayani tamu itu. Beby, beberapa waktu ikut melayani tamu, karena sedang ramai. Dia berhasil menjual beberapa dress. Mungkin karena itulah, sang Bos itu memberikan gaji di minggu pertama dia bekerja.


"Nyonya, mode yang ini sangat cocok dikenakan Nyonya."


"Apa ada ukuran lain?"


"Tidak ada Nyonya."


Satu pegawai lain, membawa satu dress yang sama ngejrengnya, seperti dress yang dikenakannya saat ini "Nyonya, ini sangat cocok untuk Nyonya yang penuh warna."


"Aku mau cari warna hitam."


Mendengar hal itu, pegawai satunya langsung mengambil dress warna hitam.


"Ini dress hitam. Sepertinya, muat dipakai Nyonya."


"Kamu meledek aku?"


Sang pelayan satunya "Nyonya, ini sangat indah. Cocok sekali untuk Nyonya."


"Aku mau ke acara arisan. Itu, terlalu glamour. Nantinya, aku malah norak."


Dua pelayan, sudah memberikan pelayanan dengan penuh perasaan. Membawakan beberapa dress di hadapannya. Nyonya yang sedang duduk di sofa. Hanya menggeleng.


Melihat itu, Beby jadi gemes. Ia berjalan mendekat. Dengan sopan ia membungkuk.


"Nyonya, ada yang bisa saya bantu."


"Kamu juga pelayan butik ini?"


"Iya Nyonya."


"Aku ingin, dress yang sesuai aku. Aku yang berwarna. Sayangnya, aku ingin pergi ke arisan. Tapi, teman-temanku mengingikan dresscode warna hitam."


"Baik Nyonya. Saya mengerti."


Beby berjalan di barisan dress warna hitam. Ada beberapa di gantungan baju. Lalu ada pula di sebuah lemari kaca. Terus, ada juga di manekin.


Bagi dua pelayan itu, dress hanya baju. Semua sama, tapi bagi Beby yang melek fashion, setiap busana memiliki arti dan semua itu perlu diperhatikan.


Beby tersenyum, saat melihat dress yang ada di sebuah gantungan, di antara dress warna hitam. Ada dress warna hitam yang sekiranya cocok untuk si Nyonya.


"Nyonya, ini." Beby tersenyum, dan menenteng dress itu dengan mempesona.


"Itu?"


"Iya Nyonya."


"Baik Nyonya."


Setelah itu ada tamu yang datang lagi, Beby sudah terlanjur melayani si Nyonya ini. Lalu, seorang pelayan lain sudah tampak menyambutnya.


Beby berkata "Nyonya. Bagaimana dengan ini?"


"Bagus juga."


"Tapi, aku butuh yang pas di bodyku. Kalau nanti nggak muat gimana?"


Beby dengan tersenyum, tanpa harus berkata tentang body. Dia langsung berjalan ke gantungan ukuran XL.


"Nyonya. Hitam. Acara arisan. Bahannya lembut. Santai dan tidak formal."


"Apa aku cocok pakai, dress belahan dada begitu?"


"Cocok. Saya yakin."


"Oke."


Sang Bos itu, ternyata keluar dari ruang kerjanya. Hanya bersedekap dan menatap ke arah para pelayan itu.


Dua palayan itu, iri akan keberhasilan Beby saat memberikan pelayanan. Selalu mujur, pikir mereka.


Kalau hanya soal fashion. Beby dari kecilnya, sudah suka memadupadankan setiap busananya. Dari hal pemilihan warna, mode dan gaya busana yang harus dipakai setiap harinya.


Setelah jam istirahat, Beby masih saja di dekat pintu. Ia malah tidak mau duduk seperti yang lainnya.


Dua orang bergantian, untuk makan siang. Sang Bos yang tadi keluar untuk makan siang, ia telah kembali dan membiarkan suasana butiknya sepi. Tampak membalik tulisan, closed saat dia masuk ke butiknya.


"Sana, sholat dulu."


"Baik Bos."


"Jangan lupa makan siang, setengah jam cukup?"


"Cukup Bos."


Beby lantas pergi, sang Bos sang mantan teman SD itu, hanya menggeleng, saat melihat Beby yang benar-benar bekerja.


Beby yang pergi ke ruang istirahat, dan di ruang itu ada televisi. Kedua pegawai telah makan siang, sambil menonton acara televisi.


"Aaaa. Arjuna, aku juga mau ikutan."


"Mana bisa, kita kerja. Nggak ada jam buat audisi."


"Kenapa? jadwal audisi juga hari minggu."


"Emangnya, kamu libur di hari minggu?"


"Nggak. Tapi aku bisa tukeran sama anak baru."


"Apa dia mau?"


Beby yang ingin mengenal dekat mereka, tampak menyapa. "Hai."


"Hai."


"Kamu mau sholat?"


"Iya."


"Mukenanya udah aku taruh di laci."


"Aku juga bawa mukena sendiri."


"Ya udah, sana sholat. Sis, kecilin suara TVnya."


"Iya, iya. Orang tadi cuma ingin lihat Arjuna."


Beby tersenyum, ternyata diantara teman kerjanya, ada yang menyukai Arjuna.


Setelah beberapa menit, dia sholat dan sekarang sudah duduk di meja makan. Ada 4 kursi di ruangan khusus istirahat. Dua teman itu, mulai merapikan bekal makan mereka.


"Silakan, kita udah selesai."


"Iya."


"Ayo kita pergi."


"Nanti dulu, tadi apa aja syarat buat audisinya?"


"Hems, di sosmed juga ada."


"Iih, nanti dulu. Aku penasaran." Ia lantas membuka ponselnya.


"Kalian mau ikut audisi apa?"


"Itu, dating sama Arjuna."


"Owh, acara itu."


"Emangnya, kamu nggak mau ikutan?"


Beby menggeleng.


"Emh, bagus kalau gitu. Nanti kita tukeran jadwal libur ya."


"Boleh. Aku hari minggu juga nggak ada kegiatan."


"Deal ya. Nanti bilang sama Bu Bos."


"Iya. Nanti kita bilang bareng."


Kedua gadis itu, lalu pergi. Beby, yang makan siang bekal buatan Arjuna.


Tadi pagi-pagi, Arjuna udah buatin nasi goreng. Karena, Beby pernah bilang ingin makan bekal seperti teman-temannya.


[Beby, kamu udah sholat?]


[Iya, udah.]


[Jangan lupa makan.]


[Iya, ini aku lagi makan.]


[Gimana? Enak?]


[Sedikit asin.]


[Yah, sayang banget.]


[Tapi enak kok. Kamu, lagi apa?]


Setelah itu, Arjuna tidak lagi merespon. Beby yang kembali makan dan sampai selesai makan. Tidak ada jawaban dari sang Arjuna.