
Satu minggu kemudian, di kantor utama Mahatma Corporation. Gaby yang telah mengantarkan Arjuna ke ruangan Darra.
"Hallo, sayang." Darra yang langsung menatap Arjuna.
"Kakak tolong jagain Arjuna dulu. Aku mau ke kampus."
Darra dengan pancaran mata indahnya, sangat senang ketika dititipin jagoan tampan ini. Suara bayi tampan itu sudah terdengar menggemaskan.
"Aoo, aoo, sayang."
"Kamu nggak betah ya di stroller. Mau tengkurep di sofa. Iya sayang. Ini Mami Darra. Uuu Arjuna sayang. Kamu gemesin benget sih."
Darra yang melepaskan sabuk pengaman dari stroller bayi itu.
Darra dengan gemasnya, lalu menggendong dan tampak menciumi bayi tampan itu.
Melihat ke arah wajah Gaby yang lesu, Darra bertanya "Kamu kenapa? Kayak nggak semangat gitu?"
"Aku malas ke kampus." Gaby akhirnya jadi terduduk di sofa dengan wajah cemberut kesal.
"Memangnya ada apa? Sampai kamu jadi malas ke kampus?" Darra yang masih tampak menggendong si bayi tampan.
"Mas Al cemburu sama senior di kampus. Terus, senior itu selalu saja ngedeketin aku. Ntah kenapa aku merasa memang dia berusaha untuk mendekati aku."
"Emh, masalah perasaan."
"Kak Darra? Aku harus gimana? Mas Al sekarang lagi kesal juga sama aku. Padahal, aku udah ngejelasin sama dia. Kalau aku nggak ada hubungan special sama itu cowok. Tetap saja, Mas Al nggak bisa terima. Apalagi, setiap Mas Al ke kampus. Eh, senior itu juga lagi nimbrung aja sama aku dan Tata. Ya, jadinya salah paham terus."
"Suamimu berarti sayang banget sama kamu."
"Iya. Aku juga cemburu waktu dia ada tugas ke luar kota sama staffnya. Tapi, aku masih mau ngerti. Kalau dia, nggak mau ngertiin aku."
"Mungkin saja, suami kamu punya filing kalau itu cowok memang suka sama kamu."
"Aaaa... Kak Darra, jangan bikin aku makin pusing."
"Cowok kalau sudah cemburu memang begitu. Darren juga begitu, kemarin aku ketemuan sama klien, dia langsung tanya ini itu yang bikin aku gemes."
"Terus, aku harus gimana?"
"Em, anggap saja tidak ada masalah. Lama-lama suamimu juga bisa mengerti dan kamu memang sepertinya, harus jaga jarak sama senior kamu itu."
"Caranya jaga jarak gimana? Dia yang sering, tiba-tiba muncul di hadapan aku. Padahal, dia tahu kalau aku udah punya suami."
"Rumit juga kalau begitu. Kuliah, di kawal. Selesai kuliah langsung pulang."
"Masa aku harus segitunya sih Kak?"
"Lebih baik begitu, dari pada nantinya suamimu sama kamu semakin bermasalah. Itu sepertinya, akan membantu."
"Pangawal??"
"Iya, Nona Gaby."
"Aa... Kakak, aku jadi malu."
"Sana, minta sama Kak Viral."
Untuk pertama kalinya, Gaby mencium pipinya Darra. Ia merasa masalahnya telah terpecahkan dengan baik, berkat sang Kakak sepupu judesnya.
"Ada-ada saja. Arjuna, ayo kita ke taman bermain. Biarkan Pakde Viral yang kerja. Hari ini, Mami Darra akan menemani kamu. Oke."
Ada suster yang mengikuti mereka berdua. Darra lalu mengambil tasnya dan hendak pergi jalan-jalan. Ia juga membiarkan ruang kerjanya berantakan.
Gaby yang telah mendatangi ruang utama di gedung ini.
Kedua pengawal membuka pintu besar ruang itu.
"Silakan Nona."
Viral yang duduk santai dan tampak membelakangi posisi pintu. Viral ternyata sedang bermain game pada ponselnya.
"Ya, gagal lagi."
Gaby mengetuk meja kerjanya, lalu berkata "Mau aku bantuin?"
Mendengar suara adik sepupunya, ia langsung berdiri dan menatap ke arah Gaby. Perlahan senyuman ala Viral sudah terserat di wajah tampannya.
"Boleh. Aku sudah lama tidak bermain game ini. Sudah dua kali aku gagal."
Viral lantas memberikan ponselnya dan mempersilakan Gaby untuk duduk di kursi keagungannya.
"Opps, bentar."
Viral meminta pengawal, memutar kembali kursi itu ke posisi semula.
Setelah itu, "Kalian berdua berjaga di depan. Jangan biarkan siapapun masuk ke ruanganku. Aku sedang ada bisnis penting."
"Siap Bos."
Viral yang selalu dipanggil Bos oleh para pengawalnya, ia tidak mau di panggil Presdir Viral. Kecuali para kolega, klien, pemiliki saham dan para staff di kantor utama ini. Kalau khusus bodyguard, ia tetap ingin dipanggil Bos. Menurutnya, panggilan Bos lebih keren, ketimbang Presdir.
"Siap Bos."
Mereka melaksanakan perintah Bosnya.
Viral yang duduk santai di kursi pijat. Sudah tampak memejamkan mata, Gaby masih mengambil alih ponsel Viral.
Gaby yang duduk santai di kursi agung itu, ia tidak merasa canggung sama sekali. Malahan, kursi ini dianggapnya kursi Kakek. Kursinya para cucu. Itulah perkataan Gaby selama Viral yang menempati posisi itu.
"Kak Viral."
Viral yang terpejam dengan kedua tangannya telah bersedekap.
"Iya."
"Aku butuh pengawal."
"Pengawal?"
"Aku ingin kuliah dengan tenang."
"Emh, aku ingin jadi Nyonya Alvaro."
"Hemms, tumben kamu ingin jadi sosok tua."
Gaby melotot lalu berkata "Bukan Nyonya tua. Tapi, Nyonya Alvaro."
"Nyonya?? Tidak. Kamu masih muda. Aku ingin kamu kembali menjadi Nona Mahatma."
"Boleh juga."
"Apa saja yang kamu butuhkan?"
"Cuma pengawal, sama kartu hitam."
Gaby dengan senyuman penuh misteri. Sudah tampak menawan bak model dari sebuah majalah. Gaby yang merubah penampilannya dan saat ini dia sudah berjalan di halaman kampus, melewati sebuah taman. Bukan hanya satu atau dua pengawal yang Viral tugaskan untuk menjaga Gaby. Melainkan, ada delapan pengawal yang telah mengawalnya.
Semua mata orang di sekitarnya, telah menatap ke arah Gaby. Dua pengawal perempuan berjalan di samping Gaby. Dua pengawal pria yang menawan ada di depan Gaby. Lantas, empat pengawal berbadan kekar. Tampak berjalan di belakang Gaby.
"Ternyata, ini sangat menyenangkan."
Gaby yang merasa batinnya sudah norak. Tapi, dia merasa kalau ini sudah saatnya, untuk dirinya kembali menjadi Nona Mahatma.
"Bukannya dia Gaby?" Elsa yang merasa kalau yang dikawal itu adalah Gaby. Ia langsung memotretnya. Sayangnya, ada pengawal yang melihatnya dan langsung berjalan mendekat.
"Mana ponsel kamu?"
"Eeh." Elsa yang bingung, pria kekar itu langsung meraih ponsel Elsa.
"Aku kembalikan ponsel kamu. Kalau aku melihat kamu memotret Nona kami. Kami tidak akan segan menghancurkan ponsel kamu."
"I-iy-Iya Pak pengawal." Suara Elsa begitu kaku dan jantungnya berdebar kencang. Rasanya sangat tidak karuan, tapi ia bisa melihat sosok yang tadi berhadapan dengannya begitu tampan.
"Emmms, aku sudah terpesona pada pandangan pertama." Elsa, jadi gegana dan masih menatap punggung pengawal itu.
Tata dan Ghani juga sudah melihat Gaby yang berjalan ke arah mereka berdua.
"Berhenti." Ucap Gaby.
Gaby menoleh ke pengawal perempuan sebelah kana. Gaby berkata "Kamu harus berikan ini sama Tata. Itu, mereka yang berdiri di depan aku."
"Baik Nona."
"Ayo jalan."
Gaby lantas berjalan pergi, ke ruang kantor pimpinan kampus. Pengawal juga sudah membawa surat dari Viral untuk pimpinan kampus.
"Nona, memberikan ini untuk anda."
"Saya?"
"Iya."
"Terima kasih."
Pengawal itu pergi dan Tata langsung membuka amplop warna hijau muda.
"Sahabatku. Aku sudah kembali ke Mahatma. Kalau ingin menemuiku, berkunjunglah ke rumah. Atau kalian membuat janji dengan pengawalku."
"Ghani, kita harus gimana? Gaby nggak bisa lagi gabung sama kita."
Tata yang sudah melodrama, tanpa sadar Ghani sudah meraih kepalanya agar bersandar di dadanya.
"Sudah, jangan nangis. Gaby masih teman kita. Lagian, Gaby tidak melupakan kita."
"Benar."
"Yang penting, kita masih bisa kuliah bareng sama dia."
"Iya ya. Coba kalau dia sampai pindah kampus atau keluar negeri, aku pasti akan rindu sama dia."
"Jangan nangis. Kamu jelek kalau nangis begini."
Mendengar hal itu, Tata memukul dada Ghani "Ini juga, apa-apaan. Kamu nyari kesempatan dalam kesempitan."
"Tata, aku ini peduli sama kamu."
"Tahulah."
"Hei, aku beneran peduli sama kamu."
"Iya."
Tata sudah tidak lagi menangis, lalu berkata "Aku nggak bisa lagi barengan sama Gaby. Kamu harus temani aku terus."
"Oke. Aku akan temani kamu terus."
"Nanti, kalau kamu punya pacar gimana?"
"Aku janji, nggak akan pacaran dulu."
"Beneran?"
Ghani mengangguk, Tata kembali bersikap manis. Tata yang juga ingin mendapatkan perhatian dari orang tuanya, ia sampai merubah penampilan dan menjadi lebih lembut dalam bertutur kata. Sayangnya, Ghani malah merasa jadi aneh. Akan perubahan Tata yang sekarang ini.
Elsa yang tidak lupa, untuk mencari dua sahabatnya dan menceritakan tentang Gaby.
"Benarkah?"
"Beneran, tadi dia berjalan menuju kantor pimpinan kampus."
Vika berkata "Cantik, bisa jadi memang benar. Gaby itu ada keluarga Mahatma."
"Terserah dia. Aku sudah tidak peduli."
Beberapa seniornya juga mengetahui hal itu dan Vania jadi merasa gelisah, akan tindakannya kepada Gaby.
"Kalau dia memang seorang Nona. Kenapa dari awal tidak mengatakannya? Apa ini salah satu jebakan?"