ABYAZ

ABYAZ
Bab. 58. Masih Flashback Di Sebinar



"Arjuna."


"Iya sayang?"


"Lepasin bedongku ini."


"Bayiku sudah lelah rupanya?"


"Pengap tahu."


Arjuna yang membantu melepaskan selimut yang tadi melingkup ke seluruh badan Beby.


"Jus apel sudah siap dinikmati."


"Sama saja, yang nyiapin koki kamu." Desisnya kesal, tapi tetap diminum juga.


"Aku raja, mana bisa aku memasak buat kamu."


"Raja hutan?"


"Singa dong."


"Nggak asyik."


Beby beranjak dari tempat tidur dan ini sudah jam 10 pagi. Benar-benar ingin menikmati spa.


"Pijitin aku."


"Aku?"


"Siapa suamiku?"


"Aku."


"Ya udah, pijitin."


"Jangan, nanti aku bisa tergoda."


Beby yang melotot dan Arjuna tetap saja menurutinya. Dirinya sedang mendapat hukuman dan harus bisa meraih hati istrinya.


Pijit-pijit pundak, kepala pundak lutut kaki. Jadi, nyanyi sendiri. Arjuna yang tampak memijit kaki sang istri.


"Emh, lumayan."


"Kenapa, enak?"


"Aku bilang, lumayan."


Arjuna yang susah sekali merayu dan rasanya ada getaran hebat yang telah membuat sesak.


"Sayang, kamu ingin dipijit bagian mana?" Tatapan meong. Beby berubah masam.


"Sudah cukup. Aku mau keluar. Mau main ayunan. Kamu harus bermain denganku."


"Siap Tuan Putri." Arjuna yang tidak merasa terpaksa. Rasanya, ada yang mendesak dan segera ingin memaksa.


"Beby." Gemas dan ingin rasanya cepat menumpahkan apa yang dia rasakan.


Semalam dan pagi tadi, sudah ditolak. Arjuna sudah mati kutu dan pasrah akan keadaannya. Dia sangat tahu, kalau Beby akan susah dirayu. Apalagi, Beby masih marah padanya.


Meskipun lama tak bertemu, dan ia sudah lama menahan diri. Tetap saja, batas sabar itu selalu ada.


"Sayang." Arjuna menatap lembut dan Beby duduk di ayunan tampak biasa saja.


"Ada apa?"


"Kamu tidak merindukan aku?"


"Aku rindu."


"Tapi, aku merasa kamu tidak kangen."


"Aku kangen."


"Terus, aku harus gimana?" Wajah itu sudah tampak kekanakan dan Beby tidak terpengaruh akan hal itu.


Beby beranjak pergi, setelah satu jam bermain ayunan. Dia juga banyak sekali memotret dirinya sendiri dan Arjuna juga merasa kalau dari tadi sudah dicuekin.


Arjuna menarik tangannya, "Apa yang harus aku lakukan?"


"Mana aku tahu. Kamu yang datang kesini menyusulku. Aku juga tidak menyuruh kamu datang."


Beby melepaskan tangan Arjuna dan sangat susah bagi Arjuna. Beby susah untuk digombali. Apalagi, hanya kata cinta. Itu sudah sangat biasa untuknya.


"Sayang, lihat ini." Setelah membuat bentuk hati di atas pasir. Ada inisial tentang mereka berdua.


"Em, lumayan."


Beby lantas pergi dan Arjuna merasa tidak mempan. Dia mengambil bunga yang ada di sekitar tempat itu. Lalu memberikannya kepada Beby.


"Kamu merusak tanaman Nenek." Ketusnya dan Arjuna meletakan kembali ke dalam pot. Meskipun sudah dicabut dan pastinya tidak akan tumbuh lagi.


Beby tampak bersantai di teras rumah. Menikmati deburan ombak.


"Ikan bakar buat kamu."


"Kamu menangkap ikan ini dari mana?"


"Disana, tadi sore waktu kamu mandi."


"Arjuna. Kasian ikan-ikan itu, mereka masih ingin berenang di lautan."


Percuma juga, tidak ada yang berguna. Padahal, sang koki sudah membuat sedemikian rupa, dan Arjuna tinggal berpura-pura memancing lalu membakar ikan itu.


"Pulanglah."


"Kamu mengusir aku?"


"Menyebalkan."


Beby merasa jengkel. Arjuna saja yang tidak peka. Malah bingung sendiri jadinya.


Arjuna terdiam dan sudah berbagai cara ia lakukan. Dari semalam dan ini sudah kembali malam. Semua yang telah dia lakukan, tidak ada guna di mata istrinya.


"Sayang."


"Aku mau tidur."


Beby yang memeluk guling dan Arjuna tidur di sampingnya. Beby masih saja tidak mau menerimanya. Entah, siapa yang kekanakan atau egois. Mereka berdua sama saja. Tidak bisa berfikir lebih dewasa.


Kemudian, hari ke 3 Arjuna. Semua cara telah dia lalukan untuk meraih hati Beby. Arjuna tetap saja melakukan ini itu dan tanpa diperintah oleh istrinya.


"Aku harus bisa meraih hatinya."


"Arjuna, sampai kapan kamu ada dihadapanku? Menyebalkan."


Beby yang telah menikmati sorenya, tampak berenang dan Arjuna tidak menghiraukannya.


Seharian ini, mereka berdua tampak terdiam. Arjuna juga tidak sabaran, bilangnya akan menebus hari-harinya yang telah pergi, tapi hari ini sepertinya sudah menyerah. Istrinya juga, hanya malam itu saja masih bisa dipeluknya. Tapi, semakin hari boro-boro mau cun, Beby selalu mendorong Arjuna dan pernah memalingkan wajah cantiknya saat akan dikecup bibir manisnya.



"Kamu menggoda aku?"


"Apa, Arjuna masih bisa sabar?" Batin Beby yang memang sengaja menggoda suaminya.



Arjuna yang tampak santai dan tidak melepaskan kacamata hitamnya. Berpura-pura tidak melihat ke arah istri cantiknya. Meskipun hasratnya sudah menggebu-gebu dan sepertinya susah untuk diredam.


Beby malah kembali melekukan paras indahnya. Arjuna tetap memalingkan wajahnya. Tidak berani menatap ke arah istrinya.


"Baguslah, dia takut tergoda."



Setelah senja dan Beby menyudahi aktivitasnya itu. Dia yang berjalan masuk ke rumah dan langsung mandi.


Arjuna tidak mengikuti dirinya, dan hanya diam di tempat. Meskipun, mereka suami istri. Arjuna sangat menyalah dirinya sendiri. Dia pikir meninggalkan Beby di rumah akan baik-baik saja. Ternyata hal itu salah.


Arjuna yang sudah berada di kamar duduk di atas tempat tidur. Beby yang keluar dari kamar mandi dan sudah berpakaian rapi.


"Beby."


"Iya."


"Duduklah."


"Baik."


"Aku minta maaf. Aku sudah salah."


"Aku tahu. Aku sudah memaafkan kamu."


Arjuna yang tampak menarik nafas panjang dan susah sekali untuk memberikan penjelasan.


"Aku harusnya membawa kamu pergi bersamaku."


"Benar."


"Aku salah. Aku sudah bersalah. Aku sudah meninggalkan istriku."


Beby yang menahan dirinya, tapi dia ingin meluapkan perasaannya. "Arjuna, awalnya aku pikir. Aku hanya akan menghalangi keputusanmu. Tapi, aku juga..."


Belum sampai berkata, Beby sudah menangis dan Arjuna juga tampak meneteskan air mata. Beby dengan tangisnya yang terasa mengganjal.


"Aku sangat kesulitan. Aku tidak bisa tidur tanpamu. Aku tidak bisa makan, dan susah untuk menelan. Awalnya aku pikir itu akan terbiasa. Tapi, aku sangat kesulitan. Kamu tega ninggalin aku. Kamu pergi tanpa aku. Kamu nggak tanya aku, mau ikut kamu atau tidak. Bahkan, kamu nggak pamit sama aku."


Beby yang menangis tersedu-sedu. Arjuna juga merasakan hati yang sangat terluka dan sangat menyesali keputusan itu.


"Beby, aku minta maaf."


"Aku sudah memaafkan kamu. Tapi, aku sangat kesepian. Aku susah untuk membiasakan diri tanpa kamu."


"Sayang."


Arjuna memeluknya dengan segenap perasaan yang ada dalam hatinya.


Keduanya dalam perasaan mereka masing-masing. Arjuna yang sangat menyesal saat pergi tanpa berpamitan dan tidak meminta pendapat istrinya.


Beby, juga mengerti perasaan Arjuna yang sangat kesulitan saat itu. Bahkan, melihat Arjuna berlutut dihadapan banyak orang. Membuat perasaan Beby jadi tak menentu.


Kedua orang ini, yang menangis dan waktu maghrib telah tiba. Di tempat ini, meski tidak terdengar kumandang adzan maghrib dari Masjid. Tapi, Beby selalu menandai waktu sesuai jam di daerah itu. Tempat yang sangat jauh dari kota tinggalnya. Butuh waktu lama, untuk tiba di negera itu dan akhirnya menyebrangi lautan hingga sampai di Pulau Sebinar.


"Sayang. Aku sangat menyesal."


"Aku tahu." Beby yang memegang wajah Arjuna.


"Sayang, kamu mau memaafkan aku?"


"Aku sudah memaafkan kamu."


"Terima kasih."


Arjuna yang kembali memeluk istrinya dan tidak ingin melepaskannya.


"Kangen."


Arjuna yang membalasnya. "Apalagi aku. Aku juga susah untuk berfikir."


Beby menyeka air mata Arjuna dan tampak tersenyum. Meski kedua matanya sendiri juga masih terlihat sembab.


"Jangan menangis lagi."


"Aku hanya menyesal."


"Iya, kamu harus menyesal. Ayo kita sholat."


"Aku akan jadi Imammu."


Setelah sholat maghrib berjamaah. Arjuna masih terdiam dan tampak air mata yang kembali menetesi pipi.


Beby mencium tangan suaminya, "Jangan menangis lagi."


"Aku hanya berdo'a untuk kita."


Beby beranjak pergi dan menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Sebelumnya, Beby sudah menyiapkan bahan-bahan dan meletakan pada kotak khusus. Tidak ada listrik, tapi kompor gas portable bisa dibawanya.


"Kamu bisa memasak?" Arjuna yang merasa heran melihatnya.


"Tentu saja aku bisa. Aku sudah terbiasa hidup sendirian."


"Sayang."


"Iya, maksud aku memang begitu. Aku bisa melakukan semuanya tanpa kamu."


"Lalu aku, apa sudah tidak terpakai?"


"Terpakai??"


"Iya, sekarang kamu serba bisa. Ini masak juga bisa. Jadi, kamu sudah tidak membutuhkan aku."


"Siapa bilang. Aku tetap membutuhkan kamu."


"Kamu butuh apa dari aku?"


"Emh, butuh apa ya. Aku duit udah bisa cari sendiri. Semuanya, aku bisa lakukan sendiri."


Arjuna menggeleng, "Benar, kamu masih butuh aku."


"Apaan?"


"Memangnya, kamu bisa tanam benih sendirian?"


"Apaan itu, tanam benih?"


"Semacam. Kamu membuat baju. Pasti ada lubang kancing."


"Kancing?"


"Kancing hidup."


"Arjuna!!"


Beby yang tersengat panci dan Arjuna dengan sigap mengobati jari istrinya. Beby yang terkaget akan perkataan sang suami. Tapi, tampak senyuman aneh dari wajah cantiknya.


"Bahasa macam apa itu? Tanam benih? Kancing hidup?" Tatapan Beby yang tidak terima.


Arjuna memegang tangan istrinya dan meniup jari yang menyentuh panci panas itu.


"Sayang, aku suami kamu."


"Aku tahu."


"Kamu istri aku."


"Benar."


"Aku akan menebus hari-hari kita berdua."


Beby yang tersenyum dan Arjuna masih saja menatapnya. Keduanya jadi gemas sendiri. Perasaan yang sama-sama mau, tapi malu-malu meong.


"Kalau soal itu. Aku akan coba pikirkan."


Arjuna nggak sabaran langsung nyosor.