ABYAZ

ABYAZ
Penangkapan Para Orang Hebat



Rombongan dari tim penyidik, tim audit dan kepolisian sudah tiba di kediaman Lee Sung Hoon.


Stella yang tiba disana lebih dulu, hanya memastikan kalau bukti itu benar ada di rumah Kakeknya.


Lee Sung Hoon yang masih duduk di rungannya. Sudah ada yang melaporkan padanya. Kalau polisi sebentar lagi akan menangkapnya. Tapi dia tidak peduli, dan hanya duduk sambil menikmati musik klasik.


Andri Wijaya yang ada di rumah sangat terkejut. Stella dengan senyuman manis dan merasa dirinya menang.


"Cucumu tersayang sudah memulai. Ini baru awal."


"Nona Stella, anda harus ikut kami dalam penyelidikan." Polisi menahan Stella untuk dimintai keterangan.


"Baik Bu Polwan." Jawabnya dengan manis.


Para petugas itu sudah memakai sarung tangan dan menuju gudang penyimpanan anggur.


"Kita menemukannya." Ucap Polisi yang membawa anjing pelacak, dia dengan cepat menemukan brankas uang itu.


Bukan hanya uang, tapi ada sertifikat aset kepemilikannya. Semua akan dijadikan barang bukti.


Sangat banyak nominalnya, satu gudang besar atau hanya sebuah cacatan. Tapi, uang itu memang ada di bawah gudang penyimpanan anggur.


Ada ruang kedap suara yang menjadi tempat penyimpanan aset Lee Sung Hoon.


"Presdir Lee Sung Hoon. Ini surat penangkapan anda. Anda harus kami tahan."


Lee Sung Hoon yang masih berada di ruang kerja Ji-sung. Dia hanya tersenyum dan tidak memberontak.


"Para cucu tidak tahu diri." Batin Lee Sung Hoon yang sudah beranjak dari kursinya.


"Aku bisa jalan sendiri." Balasnya dan dua polisi yang bertugas tidak memborgolnya.


Kepala tim penyidik juga tersenyum dan berjalan disamping Lee Sung Hoon.


Lee Sung Hoon juga dijemput dengan Helikopter. Dia tidak sedih, dan tidak merasa kalah. Dia menatap kantor yang ditinggalkannya.


"Aku akan kembali." Batinnya dan masih menatap gedung itu.


Andri juga akan mengikuti serangkaian pemeriksaan. Karena dia juga yang sering pergi dengan Lee Sung Hoon.


Cecilia yang masih terdiam di kamar, dia tidak tahu apa yang terjadi di luar.


Kediaman itu sangat ramai, bahkan bukan hanya gudang anggur. Tapi ruang kerja yang ada di rumah, serta kamar pribadi Lee Sung Hoon, tidak luput dari penggeledahan.


Stella yang berjalan dengan dua polwan dan mulai masuk ke dalam mobil polisi.


Andri masih berbicara dengan pelayan, agar mereka menjaga Cecilia.


Anggie yang baru tiba di halaman depan rumah juga sangat terkejut. Dia akhirnya juga dibawa ke kantor penyidik untuk dimintai keterangan.


Anggie tampak mengelak dan tidak ingin pergi. Akhirnya dengan cara memborgolnya, dia tidak berkutik.


"Ini pasti ulah anak-anak Melinda." Desisnya dengan tidak senang.


Anggie juga sangat tidak suka dengan Melinda. Apalagi dia juga tahu apa yang diminta Melinda kepada Ayahnya.


Semua yang terlibat dalam kasus ini, akan segera ditahan. Bahkan pihak penyidik dan pihak kepolisian, sudah mengantongi nama-nama orang yang tersangkut kasus penggelapan dana proyek yang sangat besar nominalnya. Ternyata bukan hanya Ji-sung, tapi ada dua nama perusahaan besar yang terlibat di dalamnya.


Satu jam kemudian.


Akhirnya, semua yang terlibat masalah itu, menyudutkan nama Lee Sung Hoon. Yang tadinya mereka sangat percaya dengan Presdir Lee Sung Hoon. Akhirnya mereka menyalahkan nama Lee Sung Hoon.


Bahkan saat di interogasi mereka langsung mengatakan kalau Lee Sung Hoon yang memimpin mereka.


Di rumah Bukit Sentul.


Pras dan Abyaz melihat media yang menyiarkan tentang terkuaknya kasus dana proyek utara yang sempat tidak menemukan titik temu. Akhirnya para tim penyidik dan kepolisian berhasil menangkap pelaku kasus ini.


Uang sebagai bukti juga sudah di dalam mobil box. Sangat banyak, bahkan juga ada dollar dan aset lain yang jadikan sebagai bukti. Tidak hanya satu mobil box bahkan ada 5 mobil box.


"Papa, itu mereka semua dari Ji-sung?" Abyaz yang melihat media yang menyiarkan secara langsung.


"Tidak hanya dari perusahaan Ji-sung, tapi juga ada perusahaan lain yang bergabung."


Abyaz yang tampak tidak senang dan sudah menangis "Papa, gimana Damar?"


Suara tangis Abyaz sudah tersedu-sedu dan Pras memeluk putrinya.


"Damar pasti bisa menghadapi masalah ini. Kamu tidak perlu cemas."


"Tapi gimana kalau sampai Damar juga dipenjara?"


Pras juga bingung, kasus ini bukan seperti kasus penipuan. Tapi ini sangat terencana. Bahkan dana sebesar itu bisa dicairkan dan tersimpan di gudang bawah tanah. Gudang itu juga seperti markas dan kedap suara. Tidak ada yang tahu tempat itu, kecuali Lee Sung Hoon dan Eun Ho.


Eun Ho kecil sudah pernah masuk dalam ruangan itu bersama Kakeknya. Sang Kakek dengan senang mengatakan kalau itu akan jadi markas rahasia mereka.


Eun Ho yang saat itu tidak mengerti hanya diam dan mengangguk. Tidak peduli tentang gudang bawah tanah itu, karena hanya penyimpanan anggur. Yang bawah hanya sebuah ruangan tanpa isiian apapun.


Damar sangat yakin, kalau uang itu ada di ruang bawah tanah. Di bawah gudang penyimpanan anggur.


Damar yang sudah ada dalam ruangan hanya diam dan duduk bersandar. Guru Mao masih menemaninya.


"Apa yang harus aku lakukan?"


"Tuan harus pergi dari sini dan merubah semuanya."


"Apa akan mudah bagiku?"


"Iya Tuan. Semua anggota dewan direksi dan para pemilik saham. Baru saja selesai rapat. Mereka telah melakukan voting."


"Apa hasilnya?"


"Mereka memilih Tuan Damar untuk segera menggantikan Presdir Lee."


Damar dengan senyuman tipis, tapi mengisahkan luka dalam dirinya. Sudah terlanjur jauh melangkah. Dia tidak akan mundur begitu saja.


Damar membisikan sesuatu kepada Guru Mao. Tampak sebuah permintaan untuk dirinya nanti.


"Baik Tuan, saya akan segera mengatur semuanya."


Tidak lama Guru Liu datang dan tampak tersenyum.


"Semua sesuai rencana kita."


"Dimana Kak Stella?".


"Polisi membawanya."


"Kantor polisi?" Damar yang belum tahu kalau sudah yang tersangkut kasus ini. Sudah dibawa ke kantor polisi, termasuk Stella yang harus dimintai keterangan.


"Iya, hanya beberapa pertanyaan."


"Pasti dia sangat bermulut manis."


"Sepertinya begitu."


Damar tidak tahu, sampai kapan dirinya akan ada di ruangan itu. Ruangan yang tidak begitu luas. Tapi ada sofa, jadi nanti malam dia pasti akan tertidur pulas.


"Bagaimana dengan Abyaz?"


"Tidak perlu cemas, saya akan segera pulang."


"Jaga dia."


"Tuan Damar tidak perlu cemas. Pengawal sudah standby disana." Ucap Guru Mao yang tadi sebelum dia ke kantor penyidik sudah menyuruh anggota pengawalnya berjaga di rumah Bukit Sentul.


Guru Liu akhirnya pulang dan Guru Mao masih menemani Damar. Perasaan Guru Mao sangat lega, karena orang yang salah sudah ditangkap.


Di rumah Bukit Sentul.


Sudah sore, bahkan sudah jam 4. Tapi Abyaz masih tengkurep diatas tempat tidur dan dia seperti anak kecil yang bersedih karena jauh dari orang tua.


"Nyonya, silakan mandi." Ucap pelayan yang sudah menyiapkan air hangat dalam bath up, dengan aroma rose yang memikat dan itu aroma kesukaan Abyaz.


"Aku tidak ingin mandi."


"Nyonya. Tuan bilang, kami yang harus menjaga Nyonya selama Tuan tidak di rumah."


"Aku tidak peduli."


"Nyonya, bagaimana nanti saya bilang sama Tuan. Kalau Nyonya hanya diam dan mengurung diri di kamar."


"Aku mau sendiri."


Para pelayan itu akhirnya keluar dan bertemu Pras di ruang tengah.


"Apa Abyaz masih menangis?"


"Iya Pak Pras. Nyonya, bahkan tidak mau mandi. Sudah jam 4, dia juga belum sholat ashar. Katanya dia masih ingin sendiri."


"Ya sudah, kalian kerjakan yang lainnya. Nanti saya yang akan membujuknya."


Setelah tadi melihat berita yang cukup membuatnya resah. Akhirnya Abyaz pergi ke kamarnya dan tidak mau keluar dari kamarnya.


"Damar." Rengeknya dan menangis lagi, dia tidak seperti dulu, saat kehilangan kekasihnya. Malah seperti gadis yang kehilangan teman dekatnya dan tidak bisa menemui temannya.


Tidak lama ada ada yang datang dan memeluknya.


"Sayang."



Maafkan kalau selalu Typo ya.


Ini hanya sebuah cerita, semoga tidak jadi masalah ya 🤗.


Terima kasih buat yang selalu dukung dengan Like, Komentar dan Vote.


Semoga cerita ini akan terus berlanjut dan menjadi Happy Ending 😍😘.