ABYAZ

ABYAZ
Teman Hidup Yang Cemburuan



Malam yang penuh luka dan membuat dia hilang kendali. Damar yang sudah mulai merapikan kopernya dan Abyaz juga sudah berganti baju.


Kedua orang itu sudah bersiap, dan pengawal akan mengantar mereka berangkat ke Bandara.


Sudah jam 1 dini hari, Abyaz sudah tampak lelah. Damar telah membuat teman hidupnya kurang istirahat.


"Dam,..."


"Kamu pasti lelah."


"Iya."


Damar yang menggandeng Abyaz, dan mereka keluar dari kamar. Cukup diam saat seorang Kakek menatap mereka berdua.


Damar dan Abyaz hanya diam saja, saat Lee Sung Hoon menatap mereka berdua.


"Kakek,..." Suara Abyaz dengan wajah tersenyum dan berkata lagi "Kakek, maafkan kita, sudah mengganggu waktu istirahatnya Kakek."


Mengingat para pengawal yang berjaga di rumah juga sangat ramai, setelah tadi Damar pergi begitu saja.


Lee Sung Hoon tidak menghadiri pesta anak pertamanya itu. Dia memilih untuk menyendiri dan tidur.


"Apa aku Kakekmu??"


Abyaz tidak menyerah dan berkata "Iya, anda Kakek kami. Aku istrinya Damar, dan anda Kakeknya Damar."


Damar hanya diam menatap wajah Kakeknya yang semakin senja. Abyaz merasakan tangan teman hidupnya yang bergetar.


"Kalau kamu cucuku, apa kamu akan pergi begitu saja??"


Abyaz menunduk dan merasa bersalah.


"Tidurlah! Sudah malam. Perginya besok saja."


Abyaz menatap ke arah Damar.


"Aku juga belum menyambut kalian berdua. Aku sudah tua, aku tidak ingin nantinya menyesal, bahkan sampai nanti aku tiada."


"Untuk apa aku harus disini???" Damar dengan segala egonya.


"Bocah berandalan, kamu tidak mau menganganggap aku Kakekmu??"


Abyaz menoleh ke arah Damar dan berkata "Dam, kamu harus tenang."


"Tidurlah, kamu harus melihat ke arah istrimu yang lelah. Jangan buat dia lelah, kamu yang mengajaknya kesini, tapi kamu membuat dia terluka."


Lee Sung Hoon lalu pergi dan Abyaz masih melihat ke arah wajah Damar.


Abyaz mulai menyandarkan kepalanya "Dam, aku capek. Gendong aku lagi."


Damar mulai meredam dirinya sendiri, dan mengusap rambut Abyaz yang sudah bersandar di dadanya.


"Kita pulang besok, kamu harus tidur."


Damar mengajak kembali ke kamarnya, dan Abyaz juga tidak enak kalau dia pulang begitu saja. Bahkan dia belum berkenalan dengan sang Kakek, karena Damar juga tidak mengenalkan dirinya.


Damar hanya menganggap kalau dia saat ini adalah tawanan Stella.


Damar masih emosi, Abyaz tadi juga tidak jadi mengatakan siapa yang telah memeluk dirinya.


Abyaz yang ada di tempat tidur dan dia memeluk bantal, tampak tidur yang menyamping. Damar masih terjaga dan mengelus rambut Abyaz.


"Kamu tidak mau cerita soal dia."


"Aku bisa cari tahu sendiri."


Damar mencium kening Abyaz dan mulai tidur di sampingnya.


Pagi tiba, setelah sholat subuh Abyaz kembali berbaring. Damar juga enggan keluar dari kamarnya.


Damar melihat ke layar ponselnya dan tersenyum sinis.


Abyaz yang memeluk erat guling tampak kedinginan "Dam, matikan ACnya rasanya dingin."


Damar bukannya bangkit mematikan AC, tapi malah memeluk Abyaz dan menarik selimutnya.


"Aku beneran dingin. Buruan matikan ACnya."


Damar dengan tesenyum manis mematikan ACnya, dan kembali memeluk teman hidupnya.


"Kenapa kamu diam saja, saat ada pria yang memeluk kamu?"


"Siapa yang diam saja."


"Ini buktinya"


Abyaz lalu melihat ke arah ponsel Damar. Abyaz sangat melihat jelas sebuah rekaman cctv di Hotel.


"Emms, itu karena aku kaget aja."


"Kaget?"


"Iya kaget."


"Aku nggak suka. Jangan lagi kamu memeluk cowok."


"Iya, aku tahu."


"Kamu sangat dekat sama dia?"


"Iya, dia sepupu aku."


"Sepupu??"


"Sudahlah, lagian emang dia begitu."


"Tapi perasaan aku nggak enak."


"Dam..."


Damar tersenyum dan menarik selimutnya sampai ke atas.


Kedua orang itu saling menatap, dalam selimut tebal dan Damar dengan senyuman manis.


Perlahan memegang wajah Abyaz dan berkata "Kamu cuma milikku, aku tidak suka kalau ada yang memeluk kamu."


"Kecuali, mereka itu keluarga kamu." Masih menatap Abyaz dengan senyuman.


"Emh, aku tahu."


"Entah, kenapa aku tidak seperti melihat saudara?? Dia begitu menggebu-gebu."


"Aku akan mengenalkan kamu sama saudara aku yang di Jakarta."


"Iya, aku harus mengenal mereka."


"Dam, apa aku boleh bertemu seseorang??"


"Siapa??"


"Seseorang, nanti kamu harus temani aku."


Damar menelusuri wajah Abyaz dengan jarinya dan berkata "Aku akan menjaga kamu. Aku akan menemani kamu."


"Tapi jangan marah."


"Kalau dia memeluk kamu seperti yang tadi, aku juga bisa marah."


Abyaz mulai menutup matanya dan rasanya masih enggan untuk beranjak dari tempat tidur.


Sebenarnya dia ingin segera kembali ke Solo, agar tidak bisa bertemu dengan siapapun.


Tapi dia sudah terlanjur bertemu Binar. Bahkan ada hal lain yang lebih penting.


Sekitar jam 9 pagi, di sebuah rumah sakit. Duduk di kursi roda dan menatap jauh ke langit. Dia adalah Viral, yang merasa dirinya lemah dan tidak ada semangat untuk hidup.


"Viral." Abyaz tersenyum dan mulai mendekatinya.


Viral hendak pergi, menekan otomatis kursi rodanya dan Abyaz langsung mencegahnya.


"Aku hanya sebentar saja."


Viral menunduk dan tidak ingin Abyaz sang musuh, melihat keterpurukan dirinya. Bahkan hanya duduk di kursi roda dan tidak berdaya.


"Semalam aku bertemu Meta. Aku juga baru tahu keadaan kamu." Abyaz dengan senyuman manis dan mulai terduduk sambil memegang sisi kursi roda itu.


Viral tidak ingin melihat Abyaz dan berkata "Pergilah, aku tidak mau bertemu kamu."


"Heem, aku juga sebenarnya malas untuk bertemu kamu." Balasnya dengan tengil dan ingin memancing emosi Viral. Agar dia bangkit seperti dulu.


Damar setelah melihat dan tahu kondisi tentang Viral sebelum ke ruangan itu, Damar memberikan Abyaz waktu untuk mengobrol berdua saja. Damar juga mengerti situasi ini. Saat Abyaz cerita, kalau Viral yang saat itu kecelakaan bersama sang kekasih hati, dan bahkan Viral juga sangat dekat dengan dia.


"Kamu tidak ingin membalas aku??"


"Aku mau istirahat."


"Iya, kamu harus istirahat. Biar kamu bisa membalas aku. Ems, kamu harus bisa mengejar aku, dan menarik jepit di rambutku."


Viral tidak melihat Abyaz yang dulu, tapi Abyaz yang memberikan perhatian dan ini membuatnya tidak suka.


"Abyaz pergilah, kamu menang. Aku sudah kalah denganmu."


"Nggak ada menang atau kalah. Ayo kita bermain bola dulu dilapangan, kita buktikan. Siapa yang akan menang." Balasnya dengan tengil.


Abyaz memegang tangan Viral dan berkata "Viral, kamu harus semangat. Lihatlah cinta dari orang tua kamu. Aku tahu kamu terluka. Tapi, Tante Limar dan Om Aldo. Mereka semakin tua, mereka juga akan semakin senja, apa kamu tidak ingin melihat mereka bahagia. Kalau kamu seperti ini terus, mereka juga tidak akan sanggup untuk menjalani hari-hari mereka. Aku juga pernah terpuruk, tapi demi Papa dan Mama aku juga harus bangkit. Berikan kesempatan untuk orang tua kamu. Sekali saja, agar kamu tidak menyesal."


Viral yang dari tadi tidak menatap Abyaz juga mulai runtuh, rasanya begitu sedih. Sangat menyedihkan hidup dalam belenggu pikirannya sendiri. Dia seolah menghukum dirinya sendiri. Padahal kata dokter, dia akan bisa berjalan lagi, asalkan mau berlatih dan mengikuti terapi. Tapi Viral sudah patah semangat.


Limar dan Aldo memang tidak menghubungi Pras. Karena mereka juga mengerti, Pras menjauh juga demi anaknya. Mereka juga pindah rumah, bahkan mereka tidak pernah melihat Viral.


Viral masih tinggal di rumah sakit, bahkan setiap hari Viral hanya duduk di kursi roda. Tidak ada hal yang membuat dia bangkit dan tidak ingin bertemu keluarganya.


"Semalam Meta cerita sama aku. Dia sayang sama kamu. Dia juga peduli sama kamu. Kamu sama sekali tidak mau melihat orang-orang yang memberikan perhatian untuk kamu."


Air mata Viral yang luruh dan perlahan membasahi pipinya. Abyaz mengusap air mata Viral dan masih tersenyum.


"Aku pergi dulu, aku tunggu kamu bangkit." Ucapnya dan memeluk Viral.


Damar yang dari kejauhan hanya bisa menahan diri dan bergumam "Kenapa kumbang ada dimana-mana??! Hheeeeh!"


"Aku pergi."


Viral menarik tangannya dan bertanya "Kamu tinggal dimana?"


"Aku di daerah yang jauh dari sini. Maaf, suamiku sudah lama menunggu. Aku harus pergi. Kamu harus semangat."


Viral lalu melepaskan tangannya dan Abyaz yang pergi dengan mengangkat tangannya, dan mengatakan semangat.


Abyaz mulai berlari dan memeluk Damar dari belakang. "Sorry."


Viral melihat Abyaz yang tampak memeluk pria manis, dia berkata "Ternyata Abyaz sudah lupa sama Eyang."


Abyaz lalu berganti membujuk teman hidupnya yang sudah ngambek.


"Emhs, jangan marah."


Damar lalu membalikan badannya dan memberikan kecupan di keningnya.


"Ayo pulang."


"Oke, kita ke rumah Kakakku."


"Benar, kita harus ke rumah Owen."


Abyaz sudah janjian dengan Alishba. Bahkan Alishba sudah mengabari Giel untuk datang ke rumahnya, bila ingin bertemu Abyaz.


Abyaz yang tersenyum tengil dan berjalan dengan senang, menggoyangkan tangannya. Tangan kanan yang ada dalam genggaman Damar.


"Masih marah??"


"Tidak, aku tidak marah."


"Itu apa coba...??"


"Apa? Mana coba tunjuk wajahku. Aku senyum begini."


Abyaz yang sangat tengil menunjuk ke bibirnya dan berkata "Ini tadi cemberut."


"Nggak! Siapa yang cemberut."


Mereka berjalan ke arah parkiran mobil dan seseorang memanggil.


"ABYAZ!"