ABYAZ

ABYAZ
Ruang Kantor Yang Bikin Panas Dalam



Saat ada seseorang yang lebih dewasa dan begitu cantik.


Abyaz cukup memandanginya dengan senyuman manis. Damar masih memegang kedua pipi Abyaz.


"Damar, lepasin pipiku." Suara Abyaz yang begitu pelan dan merasa tidak enak.


"Pacar kamu Dam?" Tanya Stella.


Damar merangkul Abyaz dan berkata "Mmh, teman."


Abyaz tersenyum manis saja dan Stella perlahan mendekati mereka berdua.


"Saya, Stella Anastasya. Kakak Eun Ho."


Abyaz tidak langsung menjabat tangan Stella, malah melihat ke arah Damar.


"Abyaz, kenalan dulu itu sama mak lampir."


Abyaz yang tersenyum, menjulurkan tangannya dan berkata " Saya Abyaz Ali Wardana. Saya istrinya Damar."


"Istri?"


"Heems,..." Damar masih melihat ke arah lain dan seolah tidak ingin bercerita.


Abyaz mencubit lengan tangan Damar dan merasa kesal.


"Abyaz istriku."


"Sudah cukup kenalannya." Ucap Damar tapi tidak menatap Stella.


"Baguslah." Stella yang bersedekap menatap Abyaz.


"Aku Kakak tirinya Eun Ho, kita satu ibu, tapi beda Ayah. Dia, tidak pernah menganggap aku ada. Jadi, aku harap kamu tidak seperti dia."


"Iya Kak Stella." Jawab Abyaz, dengan senyuman manis tapi perasaan Abyaz menjadi canggung.


Stella yang lebih garang dari Abyaz dan Damar pura-pura tidak bersalah.


Stella yang keluar ruangan itu. Abyaz menatapnya dengan keji.


"Kakak??" Abyaz bersedekap.


Damar hanya diam dengan polosnya.


"Kamu punya Kakak, tapi kenapa tidak bilang??!!!" Abyaz yang berdiri tegap dengan kedua tangannya mengepal.


Suara Abyaz yang terdengar kencang, Stella yang masih di balik pintu tampak tersenyum.


"Ternyata Adikku tidak salah pilih." Gumam Stella, lalu dia pergi begitu saja.



Stella Anastasya dengan nama asli Lee Eun He. Tapi semenjak memiliki kartu identitas, dia mengganti namanya dengan nama Stella Anastasya.


Stella yang tadinya mencari adiknya, dan akhirnya malah tidak kembali ke rumah.


Setelah lulus kuliahnya dari luar negeri, dia kembali ke rumah.


Tapi tidak mendapati adiknya, akhirnya dia mencari adiknya dan setelah bertemu, malah menetap di kota orang.


Ternyata Stella juga merasa bebas saat hidup jauh dari keluarganya.


Abyaz yang melotot, mencebik "Kamu!"


"Iya, aku salah." Damar mingkem manis unyu, dan berkata lagi "Sudah, kamu jangan marah lagi."


"Kenapa kamu tidak cerita?!" Ketus Abyaz.


"Untuk apa cerita." Damar dengan suara pelan, saat Abyaz terlihat keji.


"Untung saja kita di kantor. Kalau tidak_"


Damar mendekat dan menatapnya lebih dekat, Abyaz terdiam, tidak meneruskan perkataannya.


Karena kedua wajah mereka sangat dekat, dan hampir tidak ada batasnya.


Damar dengan manis, lalu berucap "Ems, kalau tidak apa?"


Suara itu seakan membuat merinding para wanita yang menyukainya, tapi tidak untuk Abyaz yang masih kesal padanya.


"Kenapa wajahnya semakin mendekat??! Abyaz mulai merem, semakin mingkem.


Kedua tangan Damar sudah memegang pinggang Abyaz, dan posisi ini sangat membuat Abyaz merasa gelisah. Abyaz dengan cepat memalingkan wajahnya.


Damar berbisik "Benar, untung di kantor. Kalau di rumah, aku sudah mencium bibir bawelmu."


"Kamu!! Kamu ngeselin!"


"Istriku begitu bawel." Batin Damar dengan senang.


Damar melepaskan tangannya, dan tangan kanan Abyaz dengan cepat menutup mulut. Tadi di rumah, mata indahnya sudah ternoda, dan sekarang bibir sensualnya juga akan dijarah begitu saja.


"Damar!!"


Ada aura panas yang menghampiri Abyaz, dia mulai menarik rambutnya dan hendak mengikat rambutnya ke atas.


"Leher kamu menggodaku." Ucap Damar dengan manis dan berjalan ke arah meja kerjanya.


Yang tadinya mau menjepit rambutnya, Abyaz tidak jadi dan berjalan ke arah balkon.


"Kenapa kantor ini begitu panas?!" Desisnya saat berada di balkon.


Tangan kanannya masih mengipas ke leher. Memang aura emosi terlihat jelas dari wajah cantiknya, ditambah sang suami sudah beranjak nakal. Hendak menerkam dirinya hidup-hidup.


Damar dengan senang, dan mulai duduk di kursinya. Mengambil laptop yang ada di laci mejanya, lalu meletakan ke meja.


Damar masih tersenyum, dan melihat ke arah Abyaz yang sudah kenapasan.


"Istriku memang garang."


Damar menggeleng tapi tetap tersenyum dan mulai bekerja.


Abyaz yang memandang jauh ke arah jalan, ternyata daerah ini masih area persawahan. Abyaz tersenyum melihat padi yang menghijau, tampak bergoyang saat tertiup angin.


"Sudah lama aku tidak main ke sawah." Gumamnya dengan tersenyum.


Abyaz dulu sebelum pindah ke Solo, setiap mudik lebaran sang Papa selalu mengajak ke Boyolali. Melihat sawah sang Papa. Sawah warisan dari Eyang Heru. Tapi semenjak pindah, malah Abyaz jarang ikut ke Boyolali.


Sang Papa yang sering ke Boyalali sendirian, apalagi sekarang jarak rumahnya ke daerah Simbah Buyut sangat dekat.


"Emms, disini cukup adem." Ucap Abyaz setelah kena semilir angin dan mulai lupa dengan kekesalannya.


"Papa, Mama, Al... Jadi, kangen. Kak Alishba juga masih di rumah, tapi aku malah jauh dari mereka."


Abyaz mengambil ponsel dari dalam tasnya. Bahkan tasnya masih menggantung pada bahunya.


Damar melihat lagi ke arah Abyaz.


"Dia lagi telfon. Pasti kangen sama Papa Mamanya."


Damar sangat tahu kalau Abyaz dekat dengan keluarganya, apalagi sang Papa.


Flashback On.


Saat di rumah setelah acara akad nikah.


Setelah acara akad nikah, di sabtu pagi itu. Keluarga Damar telah pulang lebih dulu.


Damar yang saat itu, menjadi imam sholat dzuhur berjama'ah. Terdengar suara yang begitu merdu dan sangat menggetarkan.


Tidak disangka, pria manis berwajah korea itu sangat fasih melafalkan ayat suci Al-Qur'an.


Pras dengan rasa bangga kagum terhadap kedua menantunya.


Emran juga pernah diminta untuk menjadi imam saat berkunjung ke rumahnya, dan itu sebelum menikah dengan Alishba.


Emran yang asli dari Surabaya, tapi menjadi dokter di Jakarta. Dia juga suami yang baik untuk Alishba.


"Owen, sayang."


"Gantengnya Mbah Pras."


Owen memang tampan, Papanya dokter tampan, Mamanya juga cantik. Gimana anaknya nggak tampan. Pesona Pras juga harus menurun ke anak-cucunya. Masak dirangkap sama Mbah Pras semua.


"Uullluu... Owen. Ayo main bola sama Mbah."


Alvaro yang mendekati mereka "Papa, gitu. Harus gantian dong. Al juga mau ajak Owen. Dari tadi sama Papa terus."


Mbah Pras dan Owen yang bermain diatas karpet, berbagai bola warna warni dan ada mobil-mobilan. Tampak asyik dengan sang cucu tampan.


"Kamu kan tadi pagi udah jagain Owen."


Alvaro mendekati Owen, memegang pipinya Owen. "Iya tadi Owen tidur. Sekarang udah bangun.


"Iya kan sayangnya Om Al." Al merasa gemas.


"Mamma." Ucap Owen dengan gemas. Balita 2 tahun itu lucu sekali dan suara kecilnya sangat menggemaskan.


Owen sangat pendiam, dia banyak gerak dan sangat anteng. Mungkin seperti sang Papa. Soalnya Alishba dulu sangat ceriwis. Kalau Emran juga tidak banyak berkata, tidak seperti Alishba yang bisa bawel.


Abyaz yang sudah berganti baju, juga mendekati Owen.


"Yuk, sama Auntie." Abyaz yang tangannya, memegangi pipi unyunya Owen.


"Abyaz, kamu harus memperhatikan suami kamu. Papa belum lihat dia makan."


"Puasa kali Pa." Balas Abyaz dengan santai.


"Kakak samperin dulu. Tanyain, Mas Damar udah makan apa belum. Gimana sih, punya suami cuekin." Tegur Alvaro yang gemas melihat tingkah Kakaknya.


"Biarin Al. Dia masih ngobrol sama Mas Emran." Balas Abyaz.


Owen diajak pergi Alvaro untuk mencari Mamanya. Owen dari tadi sudah memanggil Mamma. Pras menatap Abyaz dan mengelus rambutnya.


"Kamu harus perhatian sama suami kamu."


"Iya, Papa. Abyaz ngerti."


"Kamu berangkat sore ini?"


"Entahlah, tadi dia bilangnya habis sholat dzuhur. Tapi itu, dia masih ngobrol sama Mas Emran.


"Papa sudah menyerahkan tanggung jawab Papa ini sama Damar. Tapi, kamu jangan semena-mena sama suami kamu. Meskipun, kalian baru saling mengenal."


"Iya Abyaz tahu. Dulu Papa sama Mama gimana?"


"Ya, sama. Papa dan Mama butuh waktu saat pendekatan. Tapi Mama kamu juga sabar. Mama kamu lebih dewasa, cara berfikirnya juga sudah matang. Tanpa Papa suruh, Mama kamu malah ikut ke kost, terus bisa ini itu sendiri."


Abyaz masih bersandar di dada sang Papa, dan masih mendengarkan cerita Papanya.


"Kita saling mengenal, perlahan jadi lebih tahu sifat satu sama lain. Mama kamu sangat hebat, dia tidak mengeluh. Padahal Papa mengajak Mama kamu ke rumah kontrakan tapi Mama kamu tidak keberatan, malah bisa bertetangga dan menyesuaikan dirinya dengan cepat. Terkadang Papa juga bisa marah, tapi Mama kamu tidak melawan."


"Iya Papa, Abyaz ngerti." Mengertinya Abyaz hanya saat dinasehati.


"Papa kalau nasehatin Mama, Mama kamu juga mendengarkan. Tapi kalau Mama kamu ngambek dan diam tanpa berkata, Papa juga pusing."


"Emang Papa, sifat perempuan begitu."


"Iya, dulu kamu kalau ngambek pintu kamar di kunci seharian nggak keluar kamar. Nanti jangan begitu, nggak baik."


"Ya nggak gitu juga kali Pa. Itu jaman SMP jaman SMA, habis itu juga nggak."


"Makanya, nanti kamu harus sabar, dan Papa juga udah ngobrol sama Damar. Dia harus menjaga putri cantiknya Papa."


Abyaz cukup merasa nyaman dengan obrolan ini. Ada perasaan mendalam yang sulit untuk dijelaskan.


"Abyaz akan berusaha jadi istri yang baik." Ucapnya dan Pras tersenyum.


Memang tidak akan mudah bagi seorang gadis seperti Abyaz. Pras memahami keadaan putrinya.


"Papa, nanti Abyaz kangen sama Papa."


"Kamu bisa ke rumah, jalan cuma 15 menit."


"Iya, tapi kalau tiap hari kangen gimana?"


"Papa yang nanti juga main kesana."


Abyaz masih menempel, Damar yang masuk ke ruang tengah melihat sang istri masih nemplok di dada sang Papa.


Damar tersenyum manis dan Pras bertanya "Abyaz, kamu tidak malu sama suami kamu?"


"Buat apa malu. Dia juga harus tahu aku gimana."


Damar lalu duduk di sebelah sang istri dan dia masih tersenyum manis.


Emran datang dan menggoda "Abyaz. Itu ditungguin Damar."


"Biarin, tadi aku juga lama nungguin."


"Damar, ternyata kita ngobrol ada yang nungguin."


"Iya, Mas Emran. Sepertinya, ilmu dari Mas Emran harus Damar praktekin."


Abyaz yang tadinya bersandar dan bertanya "Ilmu apaan? Kalian mau ngerjain aku?"


Emran tersenyum "Bukan ngerjain, calon Papa ya harus belajar."


Abyaz beranjak pergi dan Damar gemas, tapi karena ada Papa mertua, Damar hanya bisa tersenyum gemas.


Emran yang berjalan ke arah dapur juga tersenyum, melihat Abyaz yang tidak henti menggerutu.


"Damar, kamu sudah lihat gimana sikap istri kamu. Terkadang dia masih seperti anak-anak, jadi kamu harus sabar." Ujar Pras kepada Damar.


"Iya Pa. Damar tahu." Jawbnya dan masih melihat ke arah Abyaz yang begitu sikapnya.


"Papa yakin, dia juga bisa menurut sama kamu." Ucap Pras dengan tersenyum.


"Papa tidak perlu cemas, Damar akan menjaga Abyaz dengan baik."


Pras yang tersenyum, tapi dalam hatinya penuh rasa syahdu.


Flashback Off.


Damar mendekati Abyaz yang masih menelfon Papanya.


"Kamu." Abyaz tanpa bersuara dan merasa tidak nyaman.


"Ssstt, aku cuma sebentar." Suara damar yang pelan berbisik ke telinga kirinya. Abyaz yang memegang ponsel disisi kanan. Tapi suaminya memeluknya dari belakang.


Abyaz masih berbincang dalam telfon. Dan dia tidak peduli atas tindakan sang suaminya itu.


Bilangnya hanya sebentar, tapi cukup lama. Bahkan beberapa karyawannya yang ada di halaman gudang, juga melihat bos mudanya yang baru uwu-uwuan.



Kakak-kakak, Adik-adik, dan semua pembaca setia Abyaz, gimana ya. Masih mau lanjutkah? Atau semakin bingung dengan ceritanya. 😌


Maafkan othor gesrek ini ya, kalau ada kata-kata dan kalimat yang kurang tepat. Tadinya, bab ini ada bahasa jawa. Tapi othor rubah, 🤭.


Ada wejangan pakai kalimat jawa. Tapi sudahlah, intinya sang Papa cuma memberikan pengalamannya saat bersama Mamanya Abyaz.


Hemm, begitulah Abyaz yang bikin gemas. Tapi semua sangat menyayangi dia, tapi belum tahu nanti seperti apa keluarga Damar yang di Jakarta.


Othor jadi dag dig dug.


Kalau mau lanjut, othor akan usahakan.


Terima kasih untuk like, komentar dan vote dari kalian semua.


Loppe loppe seabreek 🤗😘