ABYAZ

ABYAZ
Bab. 33. Teman Kerja Mengintrogasi



Arjuna melihat Beby keluar dari mobil Starla.


Beby dan Starla saling menyemangati. Tampak berpelukan dengan perasaan sayang.


Arjuna berkata "Sahabatmu sudah kembali. Kamu harus bersenang-senang.


Arjuna lantas pergi dengan tenang, dan Starla tidak lama juga pergi meninggalkan parkiran Butik.


Beby masih melambaikan tangannya dan setelah itu kembali masuk ke dalam.


Bos Maharani sedang memilah beberapa gaun, yang terpajang di lemari kaca, Beby yang kembali dan mendekati Maharani.


"Bos, mohon maaf. Saya sudah membuat kekacauan."


"Ayo masuk ke ruanganku."


"Baik Bos."


Di ruangan kerja sang bos cantik ini. Maharani yang duduk santai dan menatap Beby dengan tatapan serius.


"Aku tahu masalah pribadimu. Aku harap kamu tidak membawanya ke dalam pekerjaan kamu."


"Baik Bos."


"Calon suamiku, telah menceritakan tentang kamu. Ya sama, seperti kamu cerita."


"Calon suami?"


"Aku berkarir secepat ini, atas bantuan calon suamiku. Mana bisa berkembang cepat kalau bukan karena dia. Aku baru setahun ini membuka Butik, setelah kuliahku selesai. Berkat calon suamiku, aku bisa meraih impianku."


"Memangnya, siapa calon suaminya Bos?"


"Noah."


"Kak Noah??"


"Iya, dia. Noah. Tapi sebelum aku mendengar cerita darinya. Aku memang tulus membantu kamu. Noah malah menyalahkan aku. Mempekerjakan kamu di Butik ini."


"Kak Noah, tidak suka dengan pekerjaanku?"


"Hanya tidak nyaman. Kamu tuan putri dari JS. Itu maksud Noah."


"Owh, begitu. Saya tidak apa-apa. Saya malah punya pengalaman."


"Iya benar. Aku cuma tidak ingin para pegawai lain. Jadi membicarakan kamu dan kamu membawa masalah keluarga ke dalam butik ini."


"Iya, saya mengerti."


Meski dulu mereka satu kelas di SD, tapi saat SMK, Maharani lulus lebih dulu. Dia memang selalu juara, tapi dari berbagai beasiswa, dia memilih jurusan desainer.


"Ya sudah, kembalilah bekerja. Bilang sama para pegawai yang membahas kamu. Kamu memang tuan putri."


"Tapi saya."


"Dari pada mereka terus-terusan bergosip."


"Baik."


Beby akhirnya keluar dari ruangan itu.


"Bos dan Kak Noah." Perlahan dia jadi tersenyum. Setidaknya dia bercerita pada orang yang tepat.


Beby kembali ke ruangan tempat ia bekerja. Melihat para teman yang bekerja. Sudah ada tamu yang datang. Dua ibu-ibu yang tampak memilih sendiri gaun yang mereka inginkan.


Beby memilih berdiri di samping pintu.


"Selamat datang di Butik Gloria."


Ada lagi tamu yang datang, dan dia ibu muda yang sangat glamour. Para ibu itu mencari gaun sendiri, tanpa meminta pelayan membantunya.


"Tumben, jadi ramai begini." Gumam Beby.


"Mbak saya mau yang ini." Seorang ibu telah mengambil gaunnya dan langsung menuju ke kasir.


Beby mendekat "Nyonya, ingin mencari gaun yang seperti apa?"


"Mbak saya mencari gaun ini. Yang begini, buat arisan." Menunjukan gambar dari ponselnya.


"Baik Nyonya, saya akan mencarikan gaun itu."


Beby langsung mencari-cari gaun itu, tapi tidak ada. Hanya ada yang mirip, dengan gambar yang tadi ditunjukkan padanya.


"Nyonya, ada gaun seperti ini."


"Mewah, santai dan nyaman untuk dikenakan saat sedang arisan."


"Bagus sih, tapi aku suka warna yang seperti ini." Kembali menunjukan dari ponselnya.


Beby kembali mencari-cari gaun dengan warna yang diinginkan tamu tersebut.


"Nyonya, yang ini. Ini modis, bahannya lembut dan tidak panas. Sangat nyaman untuk dikenakan saat arisan."


"Apa ini tidak terlalu muda, untuk saya yang sudah tua?"


"Bisa dicoba dulu. Kalau Nyonya berminat."


"Saya mau pilih sendiri saja."


"Baik Nyonya. Silakan."


Beby merasa heran, biasanya para tamu duduk di sofa dan memilih dari katalog.


Beby lalu kembali ke sisi pintu dan dua temannya juga tampak diam. Ketika para ibu-ibu itu telah mencari gaun dengan sesuka hati mereka.


3 jam kemudian.


Waktunya jam istirahat. Beby yang libur sholat, sudah lebih dulu menikmati makan siangnya. Tadi, sebelum jam makan siang, Beby sudah memesan makanan dari luar.


"Beby, tumben makanmu cepet banget." Seorang teman mendekat.


"Iya aku sudah selesai. Kalian silakan makan."


Beby merapikan bungkus makannya dan beranjak pergi dari meja itu.


"Beby, disini dulu aja. Kita ngobrol-ngobrol."


Beby yang baru membuang sampah, dan ia mengambil minum dari dispenser.


Beby mendekat dan kembali duduk. Tampak memegang gelas bening.


"Nanti aku jadi mengganggu makan siang kalian."


"Tidak apa-apa. Lagian kita juga terbiasa begini."


Kedua teman itu menatapnya, dan mereka masih penasaran dengan Beby.


"Beby, kamu anak orang kaya?"


Beby memandangi kedua wajah teman kerjanya. Beby dengan pelan-pelan berkata "Aku orang biasa. Hanya saja, keluargaku memang keluarga berada."


"Owh, jadi benar."


"Benar?"


"Nggak, bukan begitu. Semalam karena teman kamu itu. Aku jadi punya filing kalau kamu dari keluarga berada."


"Beby, Maaf. Aku kemarin nggak sengaja pegang HP kamu. Terus aku melihat foto kamu sama Arjuna."


Degh!


Sesaat Beby terdiam, dengan perlahan dia tersenyum. Lalu Beby berkata "Emh. Arjuna, dia keluargaku."


"Hah?? Keluarga?"


"Benar, dia keluargaku."


"Wah hebat dong."


"Pantas saja, sahabat kamu semalam telephone, seperti panggil-panggil nama Arjuna. Dia pasti juga kenal dekat sama Arjuna."


"Oh, aku jadi ngerti. Kenapa Arjuna kemarin itu kesini. Terus, dia memilih kamu yang melayaninya."


"Arjuna, memang begitu. Sifatnya kadang menyebalkan."


"Kamu pasti akrab banget sama Arjuna."


"Iya, akrab. Dari kecil. Aku sama Arjuna memang dekat."


"Emh, begitu."


"Eh, beneran dia punya kekasih? Di gosip katanya dia nyulik anak orang kaya?"


"Owh, nggak begitu faktanya. Gosip itu biasa. Arjuna sering terlibat skandal. Tapi, aku jauh lebih mengenal Arjuna."


"Pantas saja, kamu tidak tertarik dengan Arjuna."


Beby menatap kedua teman ini, dan mereka masih penasaran.


"Boleh nggak kapan-kapan kita ketemu Arjuna?"


"Beby, aku masih ingin berfoto dengannya."


"Aku akan tanyakan sama Managernya. Soalnya, aku nggak berani mengajaknya sembarangan."


Beby yang menatap mereka berdua, lalu bertanya, "Ada lagi yang mau kalian tanyakan sama aku?"


"Emh, tidak. Aku cuma penasaran sama kamu. Dari pada aku menduga-duga, makanya aku tanya sama kamu."


"Iya."


Beby lalu keluar dari ruang istirahat itu. Berjalan pergi dengan perasaan bersalah.


"Kenapa aku nggak bilang aja, kalau Arjuna itu suamiku. Stupid."


Kembali bekerja dengan giat dan Beby jauh lebih bersemangat, ketika dia sudah bisa berkata jujur kepada para temannya.


Setidaknya, ini jauh lebih baik daripada menutup rapat tentang dirinya. Dirinya juga ingin berteman, agar pekerjaannya terasa menyenangkan. Setidaknya, bisa bercanda dengan teman kerjanya, dan itu membuat dirinya lebih nyaman saat bekerja.


Sore hari, di sebuah media dan telah menyiarkan secara langsung. Arjuna dan sang Manager membawa kuasa hukum. Mereka telah mengatakan kepada semua para penggemarnya, bahwa dirinya sudah menikah.


Arjuna mengatakan, tentang dirinya yang menculik gadis, itu tidak benar. Dirinya memang tinggal bersama seorang perempuan, tapi hubungan mereka adalah suami istri. Bukan penculikan seperti kabar yang beredar.


Lalu, kuasa hukum Arjuna juga mengatakan kepada para penonton. Siapapun orangnya, yang memotret dan menyebar privasi klien pentingnya ini. Kuasa hukum itu, tidak akan segan membuat laporan resmi dan akan melayangkan surat kepada si penyebar gosip.


"Saya akan mengirim surat cinta kepada penyebar gosip." Ucapan pengacara dan Arjuna juga tampak tersenyum.


"Apakah benar, gadis itu dari keluarga berada?"


"Saya tidak ingin mengganggu privasi istri saya."


Para pegawai butik melihat dari ponsel mereka, kebetulan sore ini begitu sepi.


Starla bersedekap dan menatap Arjuna. Ini ide Starla, karena dia yang menyebar berita itu. Media penyiaran sore ini, telah di atur oleh Starla, karena kakaknya Starla pemilik media ini. Idola gosip, yang selalu mengekspos berita tentang kegiatan para artis dan aktor.


"Terima kasih."


"Kalau sampai sahabatku terluka, aku tidak akan memaafkan kamu."


"Bagus, kamu memang harus begitu."


"Percuma aku menyebarkan berita itu. Kamu malah banjir tawaran."


"Iya, berkat kamu. Aku harus shuting iklan."


"Benar, kamu harus mencari cuan untuk sahabatku."


"Kamu tenang saja, aku suami yang bertanggung jawab."


Starla mengulurkan tangannya dan Arjuna menjabatnya.


"Selamat atas pernikahan kamu."


"Terima kasih."


Kedua orang itu, lalu berjalan pergi dengan terpisah. Starla kembali ke ruang kerja Kakaknya dan Arjuna berjalan pergi meninggalkan gedung media idola gosip.


Para pegawai itu jadi menatap Beby. Mereka hendak bertanya, tapi mereka harus melayani tamu yang baru saja datang.


Setelah jam pulang kerja, Beby yang bersiap dan para temannya mendekat.


"Beby, kamu tahu kalau Arjuna sudah menikah?"


Beby memandangi wajah-wajah itu.


"Beby, jawab dong. Aku sudah penasaran."


"Memangnya ada apa?"


Mereka menunggu jawaban, tapi Beby malah bingung.


"Beby, jawab."