
Siang yang semakin panas, dan ruang kantor kepala sekolah semakin tidak terhendali saat kepala yayasan datang.
Cantika dengan cepat meminta orang tuanya datang, saat Gaby berkata semua wajib memanggil orang tua mereka dan berlaku sama.
"Duh, gawat." Gaby.
Panggilannya selalu dialihkan, "Darren kemana sih?!"
Gaby sepertinya lupa, kalau dia sudah tidak boleh menghubungi Darren, entah itu masalah sekolah atau masalah pribadinya.
"Pakde juga susah dihubungi." Keluhnya.
Gaby kembali masuk ke ruangan. Kepala sekolah menatapnya tegas.
Cantika, memegangi lengan tangan sang Papa yang duduk di sofa. Pak Al masih duduk di kursi, yang menghadap ke meja kerja kepala sekolah.
Kedua teman Cantika, berdiri dengan percaya diri. Bahwa ada kepala yayasan yang akan membantunya, dan akan terbebas dari hukuman.
Gaby mendekati kepala sekolah dan berkata "Bapak kepala sekolah yang terhormat. Maafkan saya. Wali saya tidak bisa datang."
"Kenapa begitu?" Tanyanya dengan lantang.
"Mereka sibuk." Jawabnya.
Kepala yayasan, menoleh ke arah kepala sekolah. Lalu berkata "Pak Lukman, sudahlah. Yang penting anak saya baik-baik saja."
"Papa, nggak bisa begitu. Lihat ini rambut Cantika. Jadi rontok gara-gara dia."
Papa Cantika berkata "Kamu juga, jangan suka berbuat ulah terus."
"Memangnya kenapa? Ini sekolahan Cantika."
Kepala yayasan menggeleng melihat perilaku anaknya yang arogan. Meski, statusnya saat ini pemimpin yayasan, namun sekolahan ini bukan miliknya.
Gaby berkata "Pak, kalau saya harus dikeluarkan dari sekolahan ini. Saya tidak keberatan Pak."
Mendengar hal itu, Pak Alvaro bangkit dari kursinya dan berkata "Pak Kepala sekolah. Saya walinya Gaby."
Semua menatap aneh ke arah Alvaro. Dari tadi riuh masalah laporan gosip menodai, lanjut geng kupu-kupu yang ribut, dan sekarang Pak Al malah bilang begitu.
Kepala sekolah bertanya "Pak Al, apa maksud anda?"
Pak Alvaro, mendekat ke arah Gaby dan merangkul bahunya "Gaby adalah calon istri saya, dan sayalah walinya Gaby."
Gaby menoleh ke wajah Pak Al. Postur badan Pak Al yang tinggi, membuat leher Gaby pegal. Tapi, dia tidak henti menatap Pak Al.
"What??"
"Calon istri?"
"Yang benar saja. Dia. Nggak mungkin dia calon istrinya Pak Al."
"Apa aku sedang tidur?"
"OMG, Pak Alvaroku. Jangan bilang begitu."
"Mr.Kulkas sepertinya serius. Hatiku terasa remuk."
Batin geng kupu-kupu terasa begitu sakit, setelah mendengar ucapan guru tampannya.
Kepala sekolah menatapnya dan kepala yayasan berkata "Candaan apa ini!"
Kepala sekolah berkata "Pak Al, ini hal serius. Pak Al tidak bisa bermain-main."
"Pak Lukman, saya serius. Saya walinya Gaby. Dia calon istri saya. Keluarganya yang di kota ini, cuma saya. Makanya, tadi Gaby tidak bisa menghubungi saya."
Kepala sekolah, menatap Gaby "Gaby, apa benar yang dikatakan Pak Al barusan?"
"Ii..." Belum sampai lanjut berkata, Pak Al telah merangkulnya lebih erat. Kode ini sangat menyakiti Gaby. Bahunya yang lebih mungil, harus merasakan pelukan otot yang kuat.
"Iya Pak Lukman. Saya calon istrinya Mas Alvaro."
"Mas Alvaro??" Batin Cantika bagaikan tersengat listrik.
"Maaf Pak Lukman dan Pak Deon yang terhormat. Maksud saya Pak Alvaro adalah calon suami saya."
Guubrrraggh!!
Cantika and the genk, merasa pening. Tangan Cantika semakin dingin dan dia berdebar kencang. Rasa cemburu itu begitu kuat. Dadanya semakin sesak untuk bernafas.
"Papa, Cantika mau ke toilet." Ia berlari keluar dan kedua sahabatnya mengikut Cantika. Rasanya begitu mual, dan hendak mengeluarkan isi perutnya.
Baru saja tadi selesai makan siang, kenapa ada fakta yang merusak hati dan pikirannya.
Cantika yang masuk ke ruang toilet dan mengunci pintunya "Hhooeek!!"
"Pak Alvaroku." Dia menangis dan kedua sahabatnya merasakan hal yang sama. Mereka juga patah hati, tapi tidak sehisteris Cantika.
"Cantik, nangisnya jangan kenceng-kenceng, malu sama yang lainnya."
"Biarin, aku nggak peduli."
"Kita masih di sekolahan. Kalau sampai kedengaran yang lain, kita akan malu." Vika mengingatkan dan menggendor pintu itu.
Elsa berkata dengan sendu "Vika, biarkan saja. Hatiku juga remuk redam."
Elsa juga mengangis tersedu-sedu dan tampak bersandar dinding. Vika yang merasa tidak senang, namun dia tidak ingin imeg Cantika pudar.
"Cantik, ayo keluar. Nanti, kamu dikira kalah dari Gaby. Kamu harus bisa jadi nomor satu."
"Cantik, yuk cepetan keluar. Pasti Pak Al sama Gaby cuma pura-pura. Biar Gaby nggak dikeluarin dari sekolahan ini."
"Cantik, kita harus cari buktinya. Kita harus cari informasi soal Gaby."
"Sahabatku, kamu memang yang terbaik."
Tangisan Elsa juga berhenti, mereka ke arah wastafel dan mempercantik diri.
"Mataku nggak boleh kelihatan sembab." Ucap Cantika yang membenahi riasannya.
Flashback On
Di jam makan siang. Pak Al yang sibuk mengelap sepatu Gaby dengan tisue basah.
"Ini tidak berhasil." Ucapnya dan sepatu itu semakin lusuh. Meski noda cokelat itu pudar, namun tidak bisa secerah sedia kala.
"Ya sudah, aku bawa ke cucian sepatu aja. Biar anak bandel itu pakai sandal dulu. Lagian ada-ada saja, cuma begini aja minta tanggung jawab."
"Siapa yang minta tanggung jawab??"
Pak Al menoleh ke Pak Ferdi "Murid kesayanganmu."
"Jadi bener gosip itu?"
"Gosip apaan?"
Pak Ferdi, lalu duduk di kursi tamu ruangan Pak Al. "Duduklah, ada yang mau aku obrolin sebagai sahabat."
Pak Al mengerti, lalu ia meletakan sepatu Gaby di rak sepatu tadi.
Saling menatap dengan santai dan Pak Ferdi nampak tersenyum, ia berkata "Al, kamu sudah jatuh cinta."
"Aku??"
"Sepertinya memang begitu, tapi kamu meragukan perasaan kamu."
Al berkata "Mana mungkin, aku tidak begitu. Aku biasa saja. Aku masih bisa tidur nyenyak, aku masih bisa makan nikmat."
"Hems,, Al, jatuh cinta nggak cuma begitu. Yang aku lihat, kamu suka sama Gaby."
Al tersenyum "Emh, itu. Kenapa? Aku galakin dia, dibilang kejam. Sekarang aku bersihin sepatu dia, dibilang suka. Aku harus bagaimana?"
"Jadi itu tadi, sepatu Gaby? Emm, bagus kalau begitu."
"Jangan salah paham, motorku nggak sengaja cipratin genangan air. Eh, dia langsung nyamperin minta tanggung jawab. Ya udah, dari pada ribet. Aku bawa aja sepatunya."
"Kamu harus tahu satu hal. Gaby itu anak yatim piatu. Dia di kota ini, tinggal sendirian."
Al terdiam, mengingat kejadian malam itu. Saat Gaby di goda cowok dijalanan.
"Kamu tahu dari mana? Jangan suka menggali informasi murid. Nggak baik." Balasnya dan tampak senyuman tipis.
"Tuh, senyum."
"Apasih, perasaan aku salah melulu. Nggak senyum dikenal dingin, galak, nggak ramah. Sekarang senyum, di omongin lagi."
"Kali ini, aku serius. Aku memang dekat sama murid-murid, ya yang giat dimata pelajaranku. Kadang, Gaby pulang akhir masih ngerjain tugas. Terus, aku pernah tanya kenapa pindah sekolah, sebentar lagi mau kelulusan. Dia bilang, ada masalah keluarga, terus dia nggak punya orang tua. Dari pada masalahnya jadi besar, ya udah dia milih pindah rumah dan tinggal sendirian."
"Terus apa untungnya, kamu cerita masalah ini sama aku?" Ujarnya.
Pak Ferdi berdiri, lantas menjawab "Aku sebagai sahabat. Ingin memberikan informasi. Siapa tahu, kelak akan bermanfaat buat kamu atau buat Gaby."
Pak Ferdi menepuk bahu Pak Al, ia berkata "Jangan meragukan perasaan kamu. Bukalah sedikit perasaan kamu. Setidaknya, kamu bisa peduli dengan muridmu dan pengajar lainnya."
Entah kenapa Pak Al seperti itu, dia selalu mengurung dirinya di ruangan itu. Hanya saat makan siang saja pergi ke kantin khusus para pengajar. Setelah itu, ia kembali ke ruangan lagi. Tidak ada tegur sapa dan berbincang dengan rekan lainnya, kecuali setiap ada rapat atau acara tertentu.
Flashback Off
Gaby dan Pak Al, sudah membahas masalah mereka dengan kepala yayasan dan kepala sekolah.
Namun tetap saja, Gaby akan mendapat surat peringatan dari pihak sekolah untuk walinya.
"Pak Al, kenapa tadi bilang begitu??"
"Kasian."
Pak Al, berbisik "Jaga bicaramu, atau semua akan menghakimi kita berdua."
"Apa maksud Bapak?"
"Ssttt" Menoleh sekitarnya, Lalu "Mana ponsel kamu?"
Gaby memberikannya, "Ini".
Al langsung mengetik nomor ponselnya. "Sampai di rumah kamu hubungi aku, nanti aku jelaskan."
"Dasar, guru aneh." Batin Gaby, lalu ia berjalan ke arah kelasnya. Sepanjang berjalan di lorong itu, bergemumam sendiri.
[Aku, Gaby.] sudah diketiknya, tinggal dikirim. Tidak ada kontak tertera nama Alvaro.
Hallo semuanya
Semoga kalian suka tulisan othor.
Untuk visual, othor cuma tampilkan tokoh utama. Itupun juga asal nyomot di pinterest. Kalau visual Alvaro udah pernah up di beberapa bab, soalnya visual dewasanya susah dicari.
Ini hanya haluan othor. Silakan kalian berimajinasi sesuai haluan kalian.🤗
Salam dari Mas Pras 🤗