ABYAZ

ABYAZ
Sebuah Perpisahan



Gaby bersiap untuk ke sekolah dan Al masih menunggu di teras depan rumah Gaby.


Melihat ke layar ponsel dan chat dalam sebuah grup alumni. Al yang sudah janji akan menghadiri pernikahan temannya. Dia mengatakan bahwa akan mengajak calon istrinya.


Belum apa-apa, sudah pamer dan ia juga mengatakan kalau jangan sampai terpesona pada calon istrinya yang masih belia.


[Beneran? Murid kamu Al?]


[Al, jangan ngadi-ngadi deh. Beraninya pacarin murid sendiri!]


[Al, murid SMA masih anak-anak, apa nggak ada yang lain?]


[Aku turut senang Al. Nanti aku juga akan mengajak pacarku.]


[Oke brother, sampai ketemu besok di Hotel Meghan.]


[Al, inget. Anak SMA lebih sensitif. Kita pada garang. Nanti dia takut.]


[Santai, sepertinya Al siap membawa dia ke medan pertempuran.]


[Asyik, bukan medan pertempuran. Tapi ke ranjang panas.]


[Wah, gila. Jangan!! Masih bocil.]


[Udah, jangan pada godain Al. Nanti malah nggak jadi bawa pacarnya.]


Al membalas chat itu [Tenang saja, aku besok tetap mengajaknya. Kalian bisa kenalan sendiri sama dia.]


Emoticon memeluk dan mencium telah bertebaran. Mereka memang teman gesrek, hanya saja Al terkadang lebih sensitif saat menjadi bahan obrolan mereka semua.


Selama 20 menit Al menunggu, dan Gaby telah siap berangkat ke sekolah.


"Pak Al, sampai gerbang komplek aja ya. Nanti Gaby bisa naik angkot."


"Oke, terserah kamu."


Gaby masih ingin hidup seperti biasa. Dia juga tidak ingin menjadi bahan omongan di sekolahan.


Masalah di parkiran waktu itu saja sudah menjadi berita panas. Apalagi kalau sampai melihat Gaby yang satu motor dengan guru tertampan di sekolahan itu. Gaby bisa jadi bulan-bulanan para murid SMA Pesona.


"Pak Al.." Gaby yang telah membututi sampai ke motor.


Al memarkirkan motornya di cartpot rumah Gaby. "Iya, ada apa?"


"Tadi Bapak bilang, besok mau ajak Gaby ke acara ke pernikahan."


"Iya, memangnya kenapa? Kamu nggak mau?"


"Dress-codenya warna apa?"


"Emh, nggak di tentuin. Ya lihat besok gimana."


Gaby mengangguk dan ia berfikir akan memakai gaun yang sama di pernikahan Darren kala itu. Gaun yang mahal, udah disiapin dan mau tampil di depan para tamunya Darren. Malah, dia tidak diberi kesempatan.


Mereka berdua berangkat ke sekolah,,


Wusss!


Flashback On


Dua bulan setelah pernikahan Darren dan Darra. Melihat sang suami telah membuka pintu mobil untuk Gaby. Seketika perasaan Darra memanas. Emosinya meluap-luap. Namun, dia tidak melampiaskan emosinya.


Darra hanya ingin bermain cantik. "Aku tidak perlu mengotori tanganku ini."


Darra dengan senyuman liciknya, berjalan mendatangi Gaby.


Gaby yang sedang menikmati santap siangnya, dan Darra berkata "Enak bener ya, pulang sekolah langsung makan."


Gaby tidak ingin menghiraukan Darra. Meskipun, dirinya juga berani melawan ocehan Darra.


Darra mendekat "Heh, jangan begitu lagi."


"Maksudnya?" Ketus Gaby.


"Darren suamiku. Kamu minta jemput yang lain kan juga bisa."


"Bukan Gaby yang minta. Dia sendiri yang ke sekolah." Jawabnya santai.


"Besok-besok, nggak ada lagi bermanja sama Darren."


"Siapa juga yang bermanja. Memang itu tugasnya dia."


"Tugas suamiku???" Darra yang naik pitan.


"Memang tugas dia. Dari sebelum kenal Kak Darra. Darren asistenku."


Darra meraih piring yang berisi makanan Gaby. Melemparkan ke lantai. Pelayan menghampirinya dan menatap saja.


Lalu ada pelayan lain, yang berlari keluar memanggil Darren.


"Kamu disini bukan siapa-siapa. Kamu cuma benalu."


Gaby bangkit dari kursinya dan berkata "Aku memang bukan siapa-siapa. Aku juga tidak mau tinggal disini. Tapi Pakde Lingga, yang mengajak aku tinggal disini."


Darra yang begitu emosi melihat Gaby. Rasanya ingin segera menampar dan memukul Gaby. Tapi, tidak dilakukannya.


Darren datang dan melihat Darra yang terduduk di lantai.


"Aaaa... Sayang tolongin aku."


"Memalukan." Batin Gaby.


"Sayang, Gaby barusan ngedorong aku. Gimana kondisi anak kita?"


"Hissh, padahal aku diem aja."


Ruangan ini ada cctv, bisa jadi Darra memang memanfaatkan situasi dan kondisi.


Sekolah yang lama, Gaby pernah dijebak beberapa temannya dan Darren juga yang menyelesaikan masalah itu.


Darren bukan hanya asisten pribadi Gaby. Karena, setelah kepergian sang Papa. Darren yang bertanggung jawab penuh atas kehidupan Gaby. Selanjutnya, dibawah wewenang sang Pakde, yaitu Lingga Mahatma.


"Darra.. Kamu baik-baik saja?" Darren yang mengangkatnya dan dia juga tahu sosok Gaby seperti apa.


Darren menggeleng di depan Gaby dan sang Budhe datang.


"Sayangnya Mommy, kamu kenapa?" Vava yang berlari memastikan kondisi anak kesayangannya.


"Mommy, Gaby udah dorong Darra."


"Gaby?? Sayang ayo kita ke dokter."


"Nggak mau, Darra takut Mommy."


Meski usia Darra sudah 25 tahun, tapi dia juga sangat kekanakan. Drama queen yang luar biasa. Tapi, Gaby tetap saja masih berdiam diri, tanpa satu kata pembelaan.


Vava berkata "Gaby, sana masuk ke kamar."


"Iya Budhe." Gaby yang baru saja ingin menikmati makan siangnya, malah kena apes, karena ulah Darra.


"Darren jagain istri kamu." Ucap Vava dengan tegas.


Mereka berada di ruang santai dan tidak jauh dari kamar Vava. Darra yang telah dibaringkan di sofa, dan Darren masih memegang tangannya.


Vava begitu mencintai anaknya, dan apapun keinginan anak-anaknya, dia selalu memberikannya.


"Mommy, usir Gaby dari sini." Pinta Darra yang manja.


"Darra,..." Darren yang tidak bisa berkata.


"Mommy, tuh Darren masih aja fokus sama Gaby. Gimana nanti kalau anak aku udah lahir. Pasti lebih mentingin Gaby."


"Iya sayang, nanti Mommy akan nasehatin Gaby."


"Mommy, Gaby itu suka cari muka."


"Iya sayang. Mommy, akan urus semuanya."


Darren berkata "Darra, kalau itu yang kamu mau. Aku akan mengurusnya."


"Tuh kan Mom. Darren gitu terus."


Vava berkata "Sayang, Darren harus selesaikan pekerjaannya dulu. Biarkan Darren mengurus kepindahan Gaby. Besok semuanya pasti beres."


"Mommy janji." Sok manis.


Vava yang binggung, lalu berkata "Iya sayang, Mommy janji. Kamu istirahat dulu ya."


Vava menyuruh Darren membawa Darra ke mansion pribadi mereka berdua, dan tepatnya di sebelah rumah yang ditinggali Gaby saat itu.


Gaby bisa melihat Darren yang tertekan. Sepertinya, dirinya memang harus pergi.


Vava memanggil Gaby. Di sebuah ruang pribadi dan banyak buku di ruangan itu.


"Gaby."


"Iya Budhe."


"Kamu sekarang sudah dewasa. Kamu pasti sudah mengerti kondisi saat ini."


"Iya Budhe. Gaby mengerti."


"Nanti, kalau Pakde kamu tanya. Kamu pasti sudah tahu harus jawab apa."


"Iya."


"Budhe juga sebenarnya tidak tega kalau kamu jauh dari kita. Tapi, kali ini saja, selama Darra mengandung. Budhe mohon sama kamu. Kamu pergi dari sini. Budhe akan menyuruh Binar buat jagain kamu."


"Budhe tidak perlu cemas. Gaby paham. Gaby bisa jaga diri."


Vava yang berkaca-kaca, dan berkata "Nanti malam, kalau Pakde bertemu kamu. Jangan cerita soal masalah di hotel dan soal tadi ya. Kamu paham."


"Iya Budhe. Budhe tidak perlu cemas. Gaby paham."


Vava berdiri dan binggung,


"Lalu, kamu mau tinggal dimana?"


"Apa perlu Budhe carikan apartemen untuk kamu?"


"Rumah?"


"Apa mau tinggal dengan Binar?"


"Gaby ingin ke luar kota. Gaby belum pernah tinggal di luar kota."


"Jangan jauh-jauh, kita juga harus bertemu lagi. Pastinya, Pakdemu tidak akan kasih ijin kalau kamu perginya jauh."


"Iya Budhe. Gaby, akan cari rumah yang tidak jauh dari sini."


"Maafin Budhe."


"Gaby, juga salah. Gaby yang harus minta maaf sama Budhe. Gaby sudah merepotkan Budhe."


"Jaga dirimu."


Vava memeluk Gaby dan ini pilihan yang sulit untuknya. Vava juga ingin menjaga Gaby, namun disisi lain, anaknya tersayang sedang mengandung.


Flashback Off


"Pak Al, terima kasih." Ucap Gaby.


"Hati-hati." Balasnya.