
Rintik air hujan di malam pertama. Sudah lebih dari jam 11 malam, Gaby masih belum terpejam. Menoleh ke sebelah kanan ada sosok tampan dan menawan, sudah tertidur pulas. Gaby masih bingung saat tidur seranjang berdua.
"Mas Al."
Gaby yang tidak bisa tidur. ia mendapatkan keluarga baik yang menyayanginya. Namun, dia masih sekolah dan 5 bulan lagi akan ada ujian.
"Gimana nanti di sekolah?"
Bayangan itu sudah menghantuinya. Bagaimana kalau nantinya sampai dibully dan akan mendapat sanksi dari sekolah.
"Daddy, Mommy, Gaby sudah menikah."
Suara hatinya terus saja berkata ini dan itu. Pikirannya terbang melayang jauh.
Menarik selimutnya sampai ke atas leher, dan memeluk guling. Yang tadinya tidur menghadap ke langit-langit. Dia tampak memiringkan badannya dan memeluk gulingnya dengan nyaman. Menatap ke sosok tampan yang ada di sebelah kanan.
"Mas Al." Lirihnya dan masih terus menatapnya.
Pak RT yang bertamu baru saja pergi, lantas mereka berdua ke kamar. Setelah beberapa menit di kamar dan tampak berbaring, Al langsung tidur dengan pulasnya dan tanpa berkata apapun.
"Mas Al. Tidurnya udah kayak kebo."
Gaby masih menatap wajah itu, memang tampan dan menawan.
Pak RT tadi dihubungi oleh Papa Pras, malah beliau yang bertandang ke rumah dan akan mengurus semuanya.
Papa Pras memang gercep, kalau soal urusan surat menyurat, perijinan, atau pengurusan kepindahan.
Sudah beberapa kali pindah rumah, banyak orang yang dikenalnya dan semakin erat hubungannya. Bahkan, rata-rata orang yang dikenalnya, masih silaturahmi dan menjalin erat hubungan seperti saudara. Namun, ada beberapa kerabatnya yang menjauh. Bahkan, mereka merasa tidak saling mengenal.
Akan tetapi, Papa Pras dan Mama Britney tetap menjaga silaturahmi mereka, meskipun kerabatnya itu menganggap Papa Pras dan Mama Britney sosok yang biasa dan tidak sepadan dengan mereka.
Gaby yang mencoba untuk memejamkan mata.
Jam terus berjalan dan waktu begitu cepat.
Tetap saja, Gaby tidak bisa tidur. Kembali menatap ke langit-langit.
"Aku nggak bisa tidur."
"Gimana kalau Mas Al tahu, siapa aku sebenarnya?"
"Apakah Mas Al menceraikan aku?"
"Duh, pusing."
"Pakde Lingga, maafin Gaby. Bukan maksud Gaby begitu."
Gaby yang berfikir kalau dirinya tidak bermaksud menutupi jati dirinya, apalagi soal wali dan keluarganya.
Bukan maksudnya tidak mau mengakui Pakdenya, tapi semuanya juga terpaksa dia lakukan untuk tidak membesarkan masalahnya.
Gaby pusing sendiri dan Al memiringkan badannya. Al yang bergerak memeluk gulingnya, namun guling itu sudah diambil Gaby.
Al semakin mendekat dan memeluk Gaby.
"Apa ini?" Lirihnya dan lupa akan statusnya.
"Hem, kamu ngapain disini?" Tanyanya yang sedang mengigau.
Gaby berkata "Mas Al tidur saja ya."
Gaby mengelus rambut Al dengan manis dan gemas. Rasanya, ingin sekali mengayak rambut itu.
"Ini semua gara-gara guru olah raga ini."
"Anak tampan, tidurlah." Ucap Gaby dengan manis.
Antara kesal dan terpesona, Gaby juga bisa melihat ketampanan wajah Alvaro.
"Mas Al memang tampan."
"Tapi aku tidak suka, kalau suamiku jadi rebutan cewek-cewek."
Yang tadinya mengingat akan keluarga dan sekarang malah memikirkan Cantika. Bukan hanya Cantika, di SMA Pesona, banyak yang menyukai dan mengejar guru olah raga ini.
Waktu sudah lewat tengah malam, Gaby masih saja memikirkan hal-hal yang tidak perlu dipikirkan.
"Ah, sudahlah. Yang jelas, aku istrinya Mas Al."
Tangan kirinya menepuk-nepuk lengan tangan Al. Kedua insan itu, tidur saling berhadapan. Mereka begitu manis, sosok Gaby yang masih belia. Tapi pikirannya sudah dewasa. Dia seperti ibu yang menidurkan anaknya, bahkan seperti menyanyikan lagu nina bobo. Akhirnya, Gaby bisa tidur dengan nyenyak.
Al yang terbangun, tersenyum "Gadis bandelku, ternyata memang dewasa."
Sepertinya, Al tadi pura-pura tidur. Al menatap Gaby dengan manis dan memeluknya.
"Aku sudah punya istri."
Pengantin baru ini, akhirnya bisa tidur pulas. Kedua orang tua Alvaro juga sangat bahagia dan bisa tidur dengan nyenyak.
Beberapa jam kemudian, sudah pagi dan bersiap ke sekolah. Gaby yang memakai seragam putih dengan rok kotak-kotak kuning putih, dan memakai dasi senada roknya.
Sepatu putih yang membawa kericuhan, telah dipakainya dan tidak lupa dengan kaos kaki putih.
Rambut panjang dia ikat ekor kuda, tampak poni menutupi dahi.
"Pagi Mas Al."
Gaby yang berada di rumahnya, tadi pagi setelah subuh dia bersepeda dan pulang ke rumahnya. Hanya berpamitan kepada Papa Mama mertua.
Al yang menatapnya dengan tatapan tajam dan Gaby hanya menyengir manis.
Al menggeleng dan berkata "Kenapa tidak bilang sama aku kalau kamu mau pulang."
Gaby berjalan keluar dan mendorong dada kekar itu, "Mas, nanti aku terlambat."
Lantas menutup pintunya dengan rapat dan otomatis pintu rumahnya, sudah terkunci.
Al memegang pinggang langsing itu, dan mengecup kening istrinya.
Gaby merasa bahwa dirinya disayang suami. Kedua tangannya memegang bahu suami. Gaby yang tersenyum manis dan Al yang masih memandangi wajah istrinya.
"Mana ponsel kamu?"
"Buat apa?"
Gaby memberikan ponselnya dan Al dengan cepat merubah nama kontaknya.
"Emh, my love."
"Iya, my love." Al menunjukan nama kontak Gaby yang tertera di ponselnya juga memakai nama My Love.
"Oke." Gaby tersenyum dan ia menyapu lembut kemeja suaminya.
"Ayo kita berangkat."
"Sampai depan ya Mas."
"Kenapa?"
"Mas Al, sebaiknya kita nggak perlu lagi buktiin ini itu ke semua orang. Lebih baik ya begini saja. Lagian Gaby harus ujian dulu. Nah, setelah lulus. Baru deh di umumin kalau kita sudah menikah."
Al menggeleng "Aku tidak suka ide kamu."
"Aku mohon, selama di sekolah aja."
"Ya sudah, lihat gimana nanti."
Gaby tersenyum dan Al kembali mengecup kening sang istri.
Namun, ada seseorang yang memotret mereka. Ada pula, sosok orang yang suka meneropong Pak guru olah raga itu.
"Pak Al dan Gaby??" Batin si peneropong yang suka mengikuti Pak Al.
Mereka berangkat bersama setiap dari rumah, setibanya di gerbang utama komplek dan sudah berada di Jl. Raya Arjuna, Gaby selalu turun dari motor gagah itu dan menunggu angkot yang lewat. Hanya sekali jurusan, angkot itu sudah seperti langganannya. Sang sopir yang sudah paruh baya, sangat sabar dan tidak ugal-ugalan. Gaby selalu menunggu angkot itu dan sampai hafal.
"Pagi Pak Hasan."
"Pagi neng Gaby."
Al sebenarnya juga selalu membututi angkot itu, untuk memastikan kalau Gaby telah sampai di sekolah. Entah, dari mulai kapan Alvaro bertingkah begitu. Mengawasi, menjaga dan tanpa ada yang mengetahui. Begitupun dengan Gaby, dia tidak peduli. Mungkin saja Gaby tahu, namun dia tidak ingin berfikiran aneh dan memang apa adanya. Lagian, setiap orang punya urusannya sendiri-sendiri. Jadi, Gaby tidak mempedulikan hal itu, dia tetap fokus pada dirinya sendiri. Menjadi sosok Gaby yang ceria, centil dan manis manja.
10 menit kemudian,
"Pak Hasan, ini buat bapak."
"Neng Gaby, kembaliannya."
Gaby hanya melambaikan tangannya setelah turun dari angkot dan dia sangat ceria. Gadis biasa dan apa adanya, diusianya yang masih belia. Tampak berjalan memasuki gerbang SMA Pesona.
"Alhamdullilah, pagi-pagi sudah ada rezeki." Ucap sang sopir dan masih ada dua penumpang di angkot itu yang akan pergi ke pasar kota.
Al yang dibelakangnya juga tersenyum, saat melihat tingkah kocak Gaby yang menggemaskan.
"Selamat pagi Bu Betty."
"Pagi Gaby sayang."
Gaby berjalan bersama kawan curcolnya. Meski Bu Betty gurunya, Gaby merasa lebih dekat sebagai kawan.
"Gimana, apa Pak Al marahin kamu?" Bisiknya, karena Bu Betty juga tidak mau ketinggalan info penting soal Pak Al dan Gaby.
Gaby yang memegang tali ranselnya, dia berkata "Ya gitu Bu Betty."
"Kenapa kamu mau punya calon suami yang kejam begitu?"
"Ya nggak tahu, mungkin sudah takdirnya Gaby."
"Ganteng sih iya. Tapi kalau galak dan kaku begitu, Bu Betty mah ogah."
"Emh, emangnya suami Bu Betty orangnya gimana?"
"Suami Bu Betty orangnya sabar, perhatian, bahkan malam mau tidur aja, masih mijitin Bu Betty."
"Owh, gitu. Emang harus ya. Pakai mijitin segala?"
"Kamu masih kecil, kamu belum paham."
"Bener juga, ya udah Gaby ke kelas dulu."
Bu Betty yang menatap Gaby dari belakang "Apa jangan-jangan, Gaby sudah ++ sama Pak Al?? Tapi pantatnya masih biasa saja, tidak seperti yang sudah eheem."
Pak Al yang melewati Bu Betty. "Selamat pagi Bu Betty."
Bu Betty dengan manisnya "Selamat pagi Pak Al."
Bu Betty klepek-klepek, jantungnya berdesar-desir.
"Mimpi apa aku semalam? Sampai Pak Al mau menyapa aku."