ABYAZ

ABYAZ
Berani Mesra Di Sekolah



Ujian di hari terakhir, membuat Gaby lebih semangat dan ia hanya fokus pada lembar soal yang ada di hadapannya.


Cantika sekilas menoleh ke wajah ceria Gaby saat ini, ia semakin tidak senang dan tampak kesal.


"Dia, sok manis."


Gaby tidak lagi mempedulikan tentang gunjingan para murid SMA Pesona. Bahkan, Gaby telah berani bermesraan dengan Al dihadapan para murid lain. Pagi tadi Al telah mengantarnya ke sekolah, itu juga atas keinginan Gaby sendiri.


Sayangnya, Cantika tidak bisa melihat moment itu, hanya beberapa murid yang melihatnya dan Al juga segera pergi ke SMA lain, untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang pengajar.


"Apa kehebatan dia, sampai Pak Al bisa tunangan sama dia?"


Bukannya mengerjakan soal ujiannya, Cantika malah fokus ke arah Gaby. Seorang guru pengawas mendekat dan melihat ke lembar ujian Cantika. Masih tampak kosong di lembar jawabnya, dan belum ada yang terisi jawaban. Yang ada hanya sebuah nama murid, nomor peserta ujian dan mata pelajaran soal ujian tersebut.


Sang guru menatap wajah itu, lantas berkata "Cantika."


Wajah gelagapan, dan sontak berkata "Iya Pak guru."


"Cepat kerjakan soal kamu. Waktu terus berjalan."


"Baik Pak." Wajah kemayu dan tampak tersenyum.


Gaby tidak mempedulikan sekitarnya, dan sudah banyak soal yang ia jawab dengan benar. Gaby sangat yakin, ujian di hari terakhir ini akan sukses, tanpa ada gangguan seperti biasanya.


3 hari sudah, sang Mama mertua telah menemaninya di sekolah. Pagi tadi dengan semangat baru, Gaby meminta sang suami untuk mengantarkan ke sekolah.


Sang guru tampan yang menaiki motor gagahnya dan memakai jaket kulit.


Tanpa membuka helm fullface yang ia pakai, sang istri memeluknya dengan cinta. Alvaro juga syok, saat Gaby tidak malu dan malah bermanja di hadapan beberapa murid SMA Pesona.


Halaman utama SMA Pesona juga telah menjadi saksi. Bahwa guru tampan itu, telah berpelukan dengan muridnya, yang bernama Gaby Aurora Putri.


2 jam kemudian


Di SMA dimana tempat Al menjadi pengawas. Beberapa murid telah memperhatikan guru tampan nan mewanan.


Seolah dunia sudah berhenti berputar, tatapan seorang murid yang manis dan mendekati Pak Al di tempat parkiran motor.


"Pak guru boleh saya bertanya."


Guru gagah itu telah bersiap dan akan memakai helmnya. Malah bertanya "Kamu bertanya kepada saya?"


"Iya Pak."


Yang tadinya mau memakai helm, malah ada seorang murid yang menghampiri dirinya.


"Kamu mau tanya apa?"


"Apa Bapak sudah punya pacar?"


Begitu manis wajah dan suaranya. Beberapa murid lain memang menyuruh dirinya untuk bertanya tentang pribadi guru tampan tersebut.


Al berkata "Saya sudah punya istri."


"Owh, ternyata Bapak sudah beristri. Saya kira Bapak masih single."


"Ada lagi yang mau ditanyakan?"


"Tidak ada. Hanya itu saja."


"Ya sudah, saya harus pergi menjemput istri saya."


"Baik, silakan."


Perasaan kecewa dan melihat Pak Al yang menawan ini pergi begitu saja. Beberapa teman mendekat ke arahnya.


Tatapan manis itu, sangat penuh harap. Kalau seandainya guru tampan itu belum menikah, dirinya hendak mengejarnya.


"Gimana? Apa katanya?"


"Dia sudah menikah."


"Ah, nggak mungkin. Orang sepupuku bilang sendiri, kalau Pak Alvaro itu masih single."


"Berarti dia telah membodohi kita, agar tidak bisa mendekatinya."


"Tapi, sepertinya dia berkata jujur."


Mereka hanya menatap ke arah motor melaju pergi meninggalkan sekolahan mereka.


"Ya sayang sekali."


"Sudahlah, kita masih ada urusan lain. Soal cowok ganteng. Masih banyak yang lainnya."


"Benar juga."


Dia sama miripnya dengan sosok Cantika. Tapi, dia lebih pandai dari Cantika. Bahkan, cara bicaranya yang manis membuat seseorang betah dan nyaman ketika bersamanya.


Di SMA Pesona, Gaby menantikan suami tercinta. Tampak duduk ditemani Tata dan Ghani. Kebetulan bodyguard cantiknya telah pergi ke kantor utama Mahatma, jadinya Gaby meminta kedua temannya itu untuk menemaninya.


"Gaby, kamu udah berani mesra di lingkungan sekolah, apa kamu tidak takut sama Bapak kepala yayasan SMA kita ini?"


"Maksud kamu, Papanya Cantika?"


Ghani mengangguk dan ia juga tahu, akan masalah Gaby dengan Cantika waktu itu. Ghani juga telah menjadi saksi, saat sidang sekolah dilakukan secara tertutup. Cantika di dampingi kedua orang tuanya, dan Gaby yang tampak di dampingi Alvaro.


"Aku tidak masalah. Lagian, ujian sudah selesai."


Tata yang berdiri di hadapannya, lalu memegang kedua bahu Gaby, ia berkata "Meskipun begitu, aku senang melihat kalian berdua. Biarin aja, aku akan dukung kalian. Aku malah suka melihat wajah penggoda Pak Al seperti cacing kepanasan."


"Maksud kamu, Cantika?"


Ghani menyela, "Musuhnya Tata bukan Cantika. Tapi Bu Retta."


"Owh,.. kenapa kamu menyimpan dendam sama Bu Retta?"


"Habisnya waktu itu, aku tidak bersalah. Tetap saja, nilaiku di kurangi. Aku dapat nilai merah sampai Mamaku marah sama aku."


Gaby tersenyum, ia bisa melihat sisi lain gadis tomboy ini. Gaby berkata "Iya, kita akan segera meninggalkan SMA ini. Andai saja, aku dulu sudah sekolah disini. Pasti aku lebih mengenal kalian berdua."


"Kalau begitu, kita kuliah di tempat yang sama. Gimana?"


Ghani berkata "Boleh juga. Aku juga belum ada tujuan pasti."


"Kenapa di tunda?" Tata yang penasaran.


"Aku akan menikah. Kalian berdua harus datang ke pesta pernikahanku."


"Wah, seriusan? Kapan?"


"Aku pasti akan datang. Apalagi, ini pernikahan guru tampanku." Tata yang tidak basa basi menyebut guru tampanku di depan Gaby.


"Emh, setelah hari kelulusan. Sekitar dua bulan lagi."


"Aku nggak nyangka. Kalian beneran menikah."


Gaby tersenyum, mengingat akan sore kemarin. Yang meminta kepada sang suami untuk mengadakan resepsi pernikahannya. Sekalian, acara syukuran 4 bulanan dedek utun yang ada dalam kandungannya. Setidaknya, dia akan memakai kebaya putih di hari special itu. Alvaro juga menyetujui keinginan sang istri.


"Pokoknya, kalian berdua harus datang. Nanti undangannya aku sendiri yang akan kirim ke kalian berdua."


"Siap."


Tata berkata "Aku akan siapkan kado special untuk Pak Guru tampanku."


"Ye,, Mas Al punya aku."


"Biarin, lagian dia memang beneran tampan."


"Oke, sekedar memuji. Tidak masalah buat aku."


Tata menggoda senang "Ciiee..."


Ghani bertanya "Gaby, lalu apa Pak Al juga akan mengundang para guru SMA kita?"


"Emh, kalau itu aku tidak tahu. Aku hanya ingin acara sederhana. Tidak ingin mengundang banyak tamu."


"Owh, aku ngerti. Tapi, bagus juga sih. Dari pada nantinya acaranya jadi heboh, apalagi kalau sampai Cantika dan Bu Retta datang ke pernikahan kalian. Aku sudah membayangkan betapa sadisnya mereka berdua."


Ghani menyela "Di tambah Laura pasti lebih seru."


"Aa.. Kalian jangan panasin hatiku lagi. Gara-gara kalian, aku jadi berbuat ulah."


"Hemms, bukannya malah makin mesra."


"Apasih Tata?"


Ghani melihat ke arah pintu gerbang sekolah. Meski suasana sudah tampak sepi. Tapi, masih ada beberapa guru dan beberapa murid yang berada di lingkungan sekolahan ini.


"Itu, Mr. Kulkas udah datang." Ucap Ghani.


"Jangan samakan cintaku dengan kulkas dong." Gaby yang seolah tidak terima. Meski mereka tampak bercanda.


Tata berkata "Iya, tapi aku suka melihat es batu yang mencair. Senyuman Pak Al, bikin aku klepek-klepek."


"Ye, bisa aja deh Tata."


Pak Guru tampan itu hanya memutar motornya dan Gaby mengerti akan kode sang suami tampannya.


"Udah, sana pergi. Kita juga mau pulang."


"Terima kasih udah nemenin aku."


"Gaby, boleh tidak besok kita ke rumah kamu?" Tanya Tata. Karena besok hari libur setelah ujian. Akan bosan bila 3 hari hanya berada di rumah.


"Boleh."


"Nanti kirim alamat rumah kamu."


"Siap."


Gaby lantas pergi berjalan menuju ke arah sang suami. Ghani dan Tata masih menatap Gaby.


"Aku iri sama dia."


"Iri?" Ghani yang menatap ke arah Tata.


"Pacarku nggak pernah mau jemput ke sekolah."


"Berarti pacar kamu emang nggak sayang sama kamu."


Tata menatap kesal ke wajah Ghani "Kok ngomongnya begitu."


"Sana minta jemput. Kalau dia nggak datang, putusin aja." Ghani yang bicara apa adanya dan melangkah pergi.


"Ghani tungguin, aku bareng kamu aja."


Bukannya langsung naik ke motor sang suami, Gaby malah memasang raut wajah yang cemberut.


"Kenapa lama?"


"Sayang, aku harus selesain pekerjaanku dulu."


"Ngeselin."


"Kamu lihat sendiri, itu para guru pengawas juga baru pulang."


"Ya sudah, kali ini aku maafin."


"Sayang, sayang. Iya aku udah telat jemput kamu. Aku minta maaf."


"Udah aku maafin dari tadi."


"Ayo pulang."


"Nggak mau."


"Terus?"


"Aku ingin nonton ke bioskop."


"Siap. Saya akan menemani Nona Gaby."


Gaby tersenyum, "Pulang aja deh."


Al yang gemas. "Oke."