ABYAZ

ABYAZ
Oopsss! Ternyata Hanya Prank



Malam tiba dan sudah jam 10 malam, Damar yang ada di kamarnya tertidur diatas sofa.


Entah kenapa, semasa tinggal dengan Ayahnya, dia selalu merasa bebas. Sering pulang malam, tertidur di sofa dan itu hampir setiap hari, sampai menjadi kebiasaan dirinya.


Abyaz yang masih memikirkan ucapan Melinda, dia tidak bisa tidur.


"Kenapa ada orang seperti mereka."


Batin Abyaz dengan rasa tidak senang. Mengingat sang kekasih orang sangat teratur hidupnya, rajin, sifatnya sangat baik dan begitu sholeh. Menjaga dirinya dan selalu menjaga kesehatannya. Tapi, bagaimana bisa memiliki orang tua seperti Melinda dan Yuda Mahatma.


Abyaz memang tidak mengenal sosok Yuda, tapi Viral terkadang menceritakan kejadian yang menimpa Bundanya, jadi Abyaz sedikit tahu tentang keluarga Mahatma.


"Mas Damar, aku bertemu Ibu kandungmu. Entah kenapa, melihat dirinya aku malah sakit hati."


Abyaz memeluk bantalnya, sarung bantal juga ada inisialnya D dan A.


"Mas Damar, aku tidak sakit karena kita. Tapi aku memikirkanmu, maafkan aku."


Mengingat akan Melinda yang seperti itu, Abyaz hanya gelisah.


Apalagi Melinda berbeda keyakinan dengan Damar Putra Mahatma.


"Kalau dia sayang putranya? Kenapa masih saja seperti itu. Bahkan, tidak ada satupun anaknya yang ikut dia." Abyaz yang menggerutu sendiri.


Memang benar, setiap berpisah dengan pria, anak-anaknya ikut bersama sang kakek. Masih ada anak laki-laki tampan yang membutuhkan kasih sayangnya, tapi dia malah menikah lagi dan tidak peduli.


Sedikit cerita lalu Melinda Yoon


Dulu semasa SMA saat bertemu Yuda. Yuda menganggap dia sudah seperti Limar, karena memang teman Limar. Tapi, dia malah menyalah artikan kasih sayang Yuda untuknya. Mungkin, karena dari kecil dia juga tidak mendapat perhatian sang Ayah.


Akhirnya dari situ dia memiliki Stella dan tinggal di luar negeri, setelah itu kembali dan bertemu Limar Mahatma.


Limar yang sangat tahu, kalau ada yang aneh. Bahkan Melinda minta dipanggil Madam atau Tante, Limar akhirnya membenci dia.


Saat itulah, Melinda semakin meraih hati Yuda. Sampai memiliki putra tampan. Ternyata, nasibnya tidak seperti yang dia harapkan.


Yang tadinya ingin membuat kejutan, setelah nanti putranya dewasa akan mengenalkan kepada Limar, dan akan mengatakan kalau dia memiliki putra dari Yuda.


Tapi, takdir berkata lain. Itulah yang membuat dia semakin membenci keluarga Mahatma.


"Tapi kenapa Kakek juga sangat membedakan anak dan cucunya??"


Abyaz bisa melihat, dari sorot mata sang Kakek Lee Sung Hoon, sangat terlihat jelas, dia hanya menginginkan Lee Eun Ho.


Waktu makan siang bersama, Abyaz merasa kalau Lee Sung Hoon selalu menatap ke arah Eun Ho.


"Aku jadi kangen sama Papa." Ucap Abyaz.


Abyaz mulai memejamkan matanya dan tidur menyamping. Sangat nyaman tidur memeluk bantal.


Dua jam kemudian.


Abyaz yang berlari dan sangat terkaget ketika sang Papa telah menelfonya.


Merapikan tempat tidurnya dan mengikat rambutnya, dengan cepat memakai sandal lantai.


Keluar dari kamarnya dan bergegas untuk menemui sang suami.


Membuka pintu, melihat ruangan tampak sepi.


"Sudah jam 12 malam."


Abyaz mulai menuruni tangga dan ada pelayan yang akan membukakan pintu. Karena dari tadi sudah bel pintu rumah berbunyi.


"Itu yang datang Papa, nanti antar Papa ke ruang tengah, terus kamu panggil aku di kamar Tuan." Abyaz yang tidak ingin, kalau Papanya tahu. Soal dirinya yang tidur di kamar yang terpisah.


"Okay.." Abyaz dengan jarinya mengode dan senyumannya nyengir.


"Baik Nyonya." Ucap pelayan pria.


Abyaz buru-buru pergi ke kamar Damar yang tidak jauh dari ruang tamu.


Membuka pintu dan melihat ke arah tempat tidur.


"Damar..."


"Dia dimana?"


Abyaz yang masuk ke kamar dan mulai melihat teman hidupnya tidur di sofa.


Abyaz mendekatinya dan menaiki Damar, lalu menyentuh wajah suaminya dengan gemas.


"Sayang..." Damar meraih tubuh Abyaz dan memeluknya.


"Bangun."


"Aku ngantuk."


"Papa datang."


Mendengar kata Papa, mata Damar langsung terbuka lebar.


"Papa?"


"Iya, Papa datang."


Abyaz mulai turun dari sofa dan Damar tampak terduduk. Sangat membuatnya kaget. Ini sudah tengah malam, tadi juga nggak ada kabar apapun. Tapi sang Papa mertua sudah datang.


"Aku cuci muka dulu."


Damar yang berjalan, mengayak rambut Abyaz.


"Hemm, udah aku jepit juga. Masih aja diacak-acak."


Abyaz merapikan dirinya dan menatapnya cermin rias.


Dia bahkan tidak cuci muka.


"Biarkan saja! Papa tahunya aku tadi masih tidur dan sangat mengantuk."


"3... 2...1.."


"Pasti itu Papa yang mendatangi aku."


Mengingat kebiasaan Papa yang selalu ingin tahu tentang putri cantiknya. Abyaz lalu mengacak-acak bed covernya, agar terlihat berantakan.


Mendekat ke pintu dan membuka dengan senyuman.


"Nyonya..."


Abyaz jadi berubah gemas, dan berfikir "Kenapa tidak seperti ekspektasiku??"


"Papa dimana?"


"Bapak ada di ruang tengah. Seperti saran Nyonya."


"Benar juga, tadi aku menyuruhnya. Untuk mengantar Papa ke ruang tengah."


Abyaz keluar kamar itu dan menemui Papanya.


Abyaz tersenyum tengil saat melihat Papanya dan Pras berdiri dari sofa, langsung memeluknya.


"Cantiknya Papa."


"Kamu sakit?"


Abyaz yang diam tanpa kata, hanya merasakan kasih sayang Papanya.


Pras memandangi putrinya dan bertanya "Apa kamu masih demam?"


Abyaz menggeleng dan berkata "Nggak Papa. Abyaz baik-baik aja."


Abyaz melihat sekitar dan tidak melihat sang Mama. "Papa, Mama dimana?"


"Mama di rumah, Al nggak mau ditinggal."


"Kenapa Papa malam-malam begini?"


"Papa, tadi jam 7 baru sampai Bandara, langsung ke rumah sakit dan sekarang disini."


"Ke rumah sakit?" Abyaz penasaran dan Pras melihat sorot mata Abyaz yang penasaran.


"Apa Damar belum cerita tentang Binar?" Batin Pras.


Damar yang baru keluar kamar, dan menemui Papa mertua di ruang tengah.


Pras melepaskan pelukannya dan berganti memeluk menantu tampannya.


"Papa, gimana kabarnya?"


"Papa baik."


Abyaz yang masih penasaran, tapi tidak peduli hal itu. Yang penting, sang Papa sudah ada di sampingnya.


Abyaz yang merasa senang, dan memegang lengan kanan sang Papa.


"Papa sama siapa?"


"Papa tadi diantar pengawalnya Lingga."


"Om Lingga? Emm, Papa tadi ke rumah sakit, siapa yang sakit?"


Damar sedikit memalingkan wajahnya dan Pras melihat wajah Damar, memang tampaknya sang menantu menutupi hal itu dan tidak menceritakan kejadian yang dialami Viral dan Binar.


"Damar, kamu tahu? Apa Viral kena tembak?" Abyaz yang tahunya tadi, kalau Glen berusaha menembak Stella, tapi Viral yang menghadang Glen.


"Papa, kenapa Papa juga diam saja?!"


"Papa mau minum dulu, udah dibuatin teh, tapi belum diminum."


Damar tidak berani menatap istrinya dan Abyaz semakin kesal. Seolah, dia sudah dicuekin dan nggak ada yang mau cerita.


Pras meletakan cangkir putih ke atas meja. Lalu memegang tangan Abyaz dan berkata "Binar di rawat, dia yang terkena tembak."


"Binar?"


Pras menatap Abyaz dan berkata "Binar tahu kalau Viral dalam bahaya, dia lalu mengikuti Viral. Dia, merelakan dirinya untuk melindungi Viral."


Abyaz yang tampak gelisah dan bertanya "Terus gimana keadaan Binar?"


"Tadi sore masih kritis, tapi sekarang sudah membaik. Tadi Papa datang, dia baru sadar, dia akan baik-baik saja."


Abyaz menatap teman hidupnya dengan kesal. Damar pura-pura tidak melihat ke arah dia.


"Terus apa Viral juga terluka?"


"Kata Ayahnya Viral. Tadi Viral baik-baik saja. Malah dia menghajar orang yang berusaha menembaknya."


"Jadi Glen dihajar sama Viral??"


"Papa tahu dari Giel, makanya Papa juga langsung kesini. Papa ingin memastikan kalau putri Papa baik-baik saja."


Abyaz bersandar di dada sang Papa dan berkata "Abyaz baik-baik saja. Cuma tadi demam, karena capek aja."


"Iya, putrinya Papa pasti kuat."


Abyaz mulai beranjak dari sofa itu dan menarik tangan Papanya.


"Papa pasti capek. Ayo, aku antar ke kamar Papa."


"Papa tidak capek."


"Emh, Papa harus tidur. Nanti malah sakit. Papa nggak boleh kecapekan."


Abyaz berusaha untuk menutupi apa yang terjadi pada dirinya, dia tidak ingin Papanya tahu, tentang masalah keluarga suaminya.


"Sayang, Kakak kamu sudah cerita sama Papa."


Abyaz menunduk, karena Papanya juga bisa melihat sikap Abyaz, ketika tidak ingin bercerita masalahnya.


Abyaz duduk lagi dan wajahnya berubah kusut.


"Kak Giel yang cerita?"


"Iya,.."


Damar hanya menunduk dan tidak berkata apapun.


"Tapi Papa bangga sama kamu. Papa nggak akan marah, kamu sudah bersikap sebagai istri yang membantu suaminya."


"Papa...." Wajah Abyaz semakin unyu.


"Susah senang, kalian harus bersama. Papa sama Mama, juga akan begitu. Kalau diantara kita ada masalah. Papa juga akan selalu menjaga Mama kamu, begitu juga Mama kamu, akan menjaga Papa."


Papa Pras sangat tahu, apa yang mereka alami saat ini. Tapi dia tidak ingin membahasnya, memingat akan menantunya juga korban dari keluarganya.


"Papa sayang kalian berdua. Papa kesini, cuma ingin melihat keadaan kalian berdua. Tadi Papa juga ketemu kakak kalian. Tapi mereka langsung pulang, katanya besok mau kesini sama Owen."


"Emh, jadi Kak Alishba sama Mas Emran juga ke rumah sakit?"


"Iya, tadi Giel juga yang ngabarin Kakak kamu."


"Kita juga akan pulang ke Solo, tapi nggak tahu kapan." Ucap Abyaz dan bersandar lagi di dada Papanya.


Damar merasakan sang Papa mertua, sangat peduli padanya, dia dari dulu ingin keluarga yang utuh, kasih sayang ibu dan mendapat perhatian dari sang Kakek, bukan hanya sekedar materi.


"Papa, maafin Damar. Sudah membawa Abyaz dalam bahaya." Ucapnya dan masih menunduk.


"Papa tahu, Papa tidak apa-apa. Papa hanya mencemaskan kalian berdua."


Satu jam kemudian


"Emmh, jangan sedih lagi. Papa nggak marah sama kamu."


"Tetap saja, aku merasa tidak berdaya. Aku seharusnya tidak membawa kamu dalam masalah."


"Ya udah, ayo bobok lagi."


Abyaz yang tidur berbantal pada lengan kiri Damar, dan menarik-narik kaos Damar.


Tangan kiri Abyaz bermain di dada suaminya. Memilin kaosnya dan bermain langkah jari.


"Kamu ngapain?"


"Emh, aku mainan."


"Ayo tidur, sudah malam."


"Iya, bobok berdua." Ucap Abyaz dengan gemas.


"Kamu tadi pindah ke atas."


"Lagian kamu juga sukanya tidur di sofa."


"Iya, aku sering tertidur di sofa."


"Nyonya Damar, kamu honeymoon?"


Damar menyamping dan menatap istrinya dan tangan kanannya merapikan rambut Abyaz yang menghalangi wajah cantik istrinya.


"Emh, boleh juga. Kita bulan madu di rumah aja."


"Di rumah??"


"Iya. Lagian di rumah, kita cuma berdua. Nggak ada siapapun."


"Nggak mau jalan kemana gitu??"


"Enggaak. Intinya bulan madu apa?"


Damar gemas mencubit pipinya dan berkata "Sayang sayangan."


"Nah, kalau cuma memadu kasih, ngapain harus jauh-jauh. Mendingan di rumah aja. Hemat, nggak capek, nggak perlu perjalanan yang memakan waktu. Lagian intinya sama aja. Mendingan duitnya buat modal aku."


"Modal apaan?"


Abyaz menarik kaos suaminya dan berkata "Modal ibu, ibu hamil harus ada modal, buat beli ini itu, pingin ini itu, semua butuh duit."


Damar tertawa dan bertanya "Kamu ingin cepat hamil?"


"Ya nggak gitu juga."


"Emh, pengen jadi ibu?"


"Apaan sih?"


"Sayang, sayang, bikin aku makin gemes sama kamu."


"Ya udah, kucing manisku harus nurut."


"Apa aku kurang nurut??"


"Mmhh, harus selalu jadi kucing manis."


Damar tersenyum dan mengecup keningnya.


"Kamu mau??"


Abyaz menggeleng dan berkata "Aku lagi datang bulan."


Damar yang sudah mulai hareudang, nggak tahunya ini hanya prank.


Damar mulai menatap langit-langit dan istrinya merasa suaminya diam.


"Darling, are you okay?"


"Yes, i'm fine."


Abyaz memeluknya dan mencium pipinya.


"Iya, aku nggak apa-apa. Yang penting sama kamu."


"Emmh,"


"Bobok sayang."


"Emmmh..."


"Kalau masih begini, aku makan kamu."


"Emmh.."


"Abyaz! Bobok."