ABYAZ

ABYAZ
Bab. 10. Tinggal Bersama Arjuna



Melihat ruangan kamar tidurnya, jauh dari kesan feminine. Tampak spring bed dengan sprei kantun. Juga ada kamar mandi minimalis.


"Sementara, kamu tidur disini. Besok aku cari tempat yang lebih bagus."


"Tidak apa-apa, aku tidak keberatan tinggal disini." Dia yang tersenyum.


"Tidurlah, aku akan tidur di ruang TV."


"Iya."


Dia berjalan mendekati tempat tidur. Sprei polos warna abu-abu. Spring bed yang empuk. Dia yang tadinya menekan-nekan busa kasurnya, perlahan duduk di atasnya.


Senyuman ceria telah kembali, saat duduk dengan enjot-enjotan. "Emh, sangat empuk."


Arjuna melihat itu, dia juga jadi gemas. Seorang tuan putri telah terdampar di markas khususnya.


"Aku akan mencoba tidur disini." Mengelus sprei itu, dan tercium aroma parfum sprei itu, seperti wangi lavender.


"Aku suka wanginya." Perlahan, dia sudah merebahkan badannya di atas kasur itu. Sambil kedua tangan itu bergerak-gerak, layaknya seekor burung yang akan terbang.


"Apa ini kamar Arjuna?" Batinnya senang. Selama ini, dia tidak tahu. Agensi mana yang telah mengikat kontrak kerja dengan Arjuna.


Rumah ini, memang tempat tinggal sang Manager. Tapi, Arjuna sering tidur di kamar itu selagi suntuk dan tidak ingin kembali ke rumah.


Ruangan ini, layaknya kamar seorang pria. Nuansa kamar yang cenderung redup dengan dinding warna abu-abu tua.


Ada beberapa alat permainan ala laki-laki. Dia juga melihat, sebuah ring basket yang menyatu dengan dinding.


Perlahan, dia memejamkan kedua matanya. Berharap, hari esok akan lebih indah, agar dia tidak menangis lagi.


30 menit kemudian.


Arjuna membuka pintu kamar itu, ia melihat gadis itu sudah terlelap manis. Begitu manis, Arjuna berjalan mendekat dan ia menarik bed cover itu, menyelimutinya dan ia juga masih memandanginya.


"Gadis bodoh. Bagaimana kamu akan melalui hari-harimu?"


Arjuna yang sangat tahu, gadis yang ada dihadapannya ini begitu terjaga. Dari ia bangun tidur, sampai terlelap kembali. Ada dua asisten yang membantunya ketika hendak tidur. Dari merapikan sprei dan kamar tidurnya harus bersih sebelum ia tidur. Meski di siang hari akan berantakan kembali. Lalu, ada sang Mama yang membangunkan setiap pagi subuhnya. Ada sang Papa yang selalu menanti untuk sarapan pagi bersama.


Arjuna yang meneteskan air matanya, "Aku akan ada bersamamu. Tidurlah yang nyenyak."


Arjuna mengecup kening itu, ia bergerak menyamping. Arjuna mengelus rambut itu dan perasaan Arjuna menjadi tenang.


Arjuna lalu keluar dari kamar itu, dan ia tidur di atas sofa yang ada di ruang tengah. Memeluk bantal sofa dan perlahan kedua mata itu juga terpejam, dan ia terlelap dalam ketenangan.


Pagi yang cerah dan telah berada di dapur. Gadis itu melihat ada sebuah kompor listrik, tapi dia tidak bisa menyalakannya.


"Arjuna dimana?" Tadi selesai mandi, ia tidak melihat adanya Arjuna di rumah ini. Kalau subuh tadi, Arjuna yang membangunkan dirinya.


Dia semakin penasaran, isian kulkas juga tampak kosong. Hanya ada air mineral botol dan satu bungkus makanan instan.


"Heii, Hei. Kamu siapa? Main buka-buka kulkas orang."


Jimmy yang menutupi kulkas itu dengan badannya yang gemoy. Perutnya yang buncit, dan kaosnya terlalu pendek. Pusernya sampai terlihat. Gadis itu sampai menutup kedua matanya.


"Hei, kamu siapa? Kenapa kamu bisa masuk rumahku?"


Perlahan ia membuka wajahnya, dan berkata "Haii."


"Hei, aku membentak kamu. Bukan menyapa kamu."


"Oh."


Dia mendekat dan menarik ujung lengan kaos yang dikenakan gadis itu. Jimmy, dengan melotot berkata "Ini? Kenapa kamu bisa pakai kaos Arjuna?"


"Ini, tadi aku."


"Siapa kamu? Berani-beraninya masuk ke rumahku dan pakai kaosnya Arjuna."


Jimmy yang berkacak pinggang, ia tidak terima dan masih saja melotot ke arahnya.


"Ini, itu. Aku cari Arjuna."


Dia berusaha menghindari Jimmy, tapi Jimmy menarik kaos itu lagi, lalu berkata "Jangan-jangan, kamu kekasih Arjuna."


Gadis itu meringis, saat melihat Jimmy bagaikan orang yang sedang kesurupan.


"Oh My God. Oh My God. Kenapa bisa begini? Arjuna? Arjuna, bikin aku gila."


"Arjunaaaa!!!!" Jeritnya dan dia sampai menutup kedua telinganya.


Batin dia pastinya "Gimana bisa, Arjuna kenal sama cacing kepanasan ini? Lebih menakutkan dari para mantan Arjuna."


"Mana Arjuna?"


Dia menggeleng dan takut.


"Jawab aku! Dimana Arjuna?!" Suara jantannya akhirnya keluar juga.


Arjuna menjawab "Aku disini. Lepasin Cin."


Arjuna lupa lagi, hampir saja keceplosan panggil Cinta. Lalu Arjuna berkata "Ini, cintaku. Dia, kekasihku."


Arjuna menarik bibir, senyuman palsu itu, Jimmy bisa melihatnya.


Dia yang ketakutan tapi gemas, sudah berada dibelakang punggung Arjuna.


Jari itu menunjuk ke bahu Arjuna, "Aku,"


Susah sekali dia berkata, Jimmy masih berkacak pinggang seolah menantang gadis itu untuk segera bertarung.


"Jimm, nanti aku jelasin sama kamu. Ini aku beli sarapan. Kamu siapin untuk kita berdua."


Arjuna menggandenga gadis itu pergi, Jimmy tidak terima, ia bertanya "Arjuna, kamu beli sarapan? Dimana? Kamu pakai masker?"


"Kenapa? Aku sedang libur. Ya aku begini saja."


"Wwwaaah, mentang-mentang ada kekasih kamu. Kamu berani melawan aku."


"Jimm," Arjuna yang mengedipkan sebelah mata dengan tengilnya.


Jimmy meletakan bungkusan itu, sampai sang gadis itu kaget di buatnya. Jimmy yang kesal, ia pergi ke kamarnya.


"Dia marah?"


"Biarkan saja. Dia memang begitu."


"Owh, jadi dia itu. Manager yang sering kamu ceritain sama aku."


"Benar. Dia juga yang sering balas pesan kamu."


"Pantas saja. Aku jadi senang bertemu dengan dia."


"Dia ngambek, nanti juga akan keluar sendiri."


"Dia nggak marah sama aku?"


Kedua saling memandang dengan senyuman.


"Dia tidak marah. Cuma cemburu."


"Cemburu? Dia?"


Gadis itu tertawa gemas tapi menutup mulutnya saja. Lalu ia berkata "Sini, aku saja yang siapin sarapannya."


"Tidak. Aku, yang membawamu kesini. Jadi aku yang akan menyiapkannya. Kamu duduk disini." Arjuna yang telah menarik kursi yang ada di meja makan.


"Arjuna."


"Tidak perlu sungkan."


"Terima kasih."


Beberapa menit kemudian. Mereka berdua sarapan. Arjuna yang telah menatap dia. Yang tampak menikmati sarapan paginya.


Tak ada rasa canggung dari keduanya. Hal ini, membuat Arjuna merasa senang. Akhirnya, ia memiliki waktu untuk gadis itu. Sudah lama sekali, setelah keduanya lulus SMA, jarang sekali, ada momen berdua. Mereka yang telah sibuk, dengan kegiatan masing-masing.


"Beb," Rasanya begitu susah memanggil nama barunya.


"Iya," Dia yang menatapnya.


Arjuna berkata "Aku belum terbiasa memanggilmu, dengan nama itu."


"Tidak masalah. Nanti kamu juga akan terbiasa."


"Kamu benar."


"Arjuna, tolong carikan aku pekerjaan."


"Pekerjaan?"


"Iya. Pekerjaan. Apa saja. Yang penting. Aku bisa memulai kehidupan baruku."


Ia yang berusaha untuk tegar, senyuman itu dan suara itu. Tetap sama bagi sang Arjuna. Tapi, dia bisa membaca isi hati gadis itu.


"Kenapa? Kamu butuh sesuatu? Aku bisa memberikannya."


"Arjuna."


"Cinta."


Arjuna yang keceplosan memanggilnya dengan Cinta.


Dia yang hendak menangis lagi, tapi rasa ini memang susah. Sulit untuk memulainya. Sangat sulit bagi seorang Cinta Damayaz.


"Maaf, aku tidak bermaksud buat kamu sedih."


"Tidak apa-apa. Aku akan terbiasa."


Ia yang mengubah rasa itu, untuk kuat dan senyuman itu telah menghiasi wajah cantiknya.


Arjuna yang sebenarnya, enggan untuk bertanya ini dan itu. Tapi, Arjuna sangat penasaran.


"Beby, apa Presdir Arman tidak mau menerima kamu?"


"Bukan begitu."


"Lalu, kenapa kamu tidak tinggal bersama ayah kamu? Aku semalam mengikuti kamu dari rumahnya." Arjuna yang terlalu terus terang.


Dia menatap Arjuna, lalu berkata "Ibuku sudah meninggal. Aku juga bukan anak kandung Presdir Arman."


"Apa??"


"Iya, dari situlah awal test DNA dilakukan. Presdir Arman telah mencurigai ibuku."


"Apa yang terjadi? Lalu?" Arjuna yang hendak bertanya siapa ayah kandungnya, ia jadi tak sampai hati.


"Ibuku meninggal, beliau punya hutang yang sangat banyak. Akhirnya, warisan itu harus menutup semua hutang ibuku semasa hidupnya. Tapi, Zolla sepertinya tidak tahu soal itu."


"Zolla, hanya mengetahui wasiat ibuku, yang tertulis, ia bukan anak kandung ibuku, melainkan anak Presdir Damar. Dia tidak mengetahui soal nilai warisan dan hutang itu. Terus, aku harus menandatangani sebuah perjanjian. Agar aku nantinya tidak menuntut mereka, dan tidak boleh menyandang nama keluarga itu. Karena itulah, aku ingin memulai hidup baru, dengan kerja kerasku."


"Zolla?"


"Maksudku. Cinta."


Arjuna menggeleng, tapi dia senang. Gadis yang ada dihadapannya, sudah mulai terbuka dan mau bercerita kepadanya.


Arjuna tersenyum "Aku akan mendukungmu."


"Benarkah?"


"Menurut Beby?"


"Aaa.. Arjuna." gemasnya.


Beby Ayazma, yang berarti bayi kecilnya Abyaz dan Damar. Gadis itu merangkai kata sendiri dan ia sangat merindukan masa kecilnya.