
Masih di hari yang sama, namun di tempat yang berbeda. Ketika Papanya menikmati fasilitas hotel, dan Mamanya menghadiri acara arisan sosialita. Yang di ruangan sekolah, nampak murung.
Dari tadi sibuk dengan pulpen dan kertas di meja, hendak menulis sesuatu. Namun sayangnya, dia tidak tahu apa yang harus di tulisnya.
"Emh.."
Tik tuk tik tuk.
"Huft. Pusing." Alvaro mengayak rambut dan merasa kebingungan.
Tetiba suara pintu diketuk. Ada orang yang datang dan itu adalah rekan kerja yang bernama Ferdinan.
"Ada apa lagi?"
"Eith, jangan begitu."
"Udah nggak usah sok formal. Aku lagi pening."
"Mikiran apa?"
"Mikirin hutang yang belum lunas."
Ferdinan terpingkal "Haish, hutang lagi."
Tok Tok Tok
"Siapa lagi." Batin Al. Dia lagi malas diganggu.
"Permisi Pak Al, Pak Ferdi."
Ferdi berkata, "Eh, Gaby. Tumben, ke ruangan Pak kejam."
Al melotot ke arah Ferdi. Gaby yang nyengar-nyengir sering keceplosan curcol dengan guru matematika ini. Terkadang mengatakan kalau guru olah raganya sudah berlaku kejam padanya. Setiap jam olah raga, pasti Gaby menjadi pusat sasarannya.
"Maaf Pak Al. Apa saya boleh ngobrol berdua dengan Pak Ferdi?"
Al berkata "Kenapa harus ijin saya? Silakan kalau mau bicara berdua, saya tidak keberatan."
Ruangan khusus guru olah raga, yang berukuran minimalis dengan interior modern dan ada jendela yang menghadap ke arah kota.
Di ruang itu ada sebuah ruang ganti dan tampak kecil. Hanya berukuran 2×2. Terdapat gorden abu-abu yang telah menutupi ruangan itu. Lemari dan loker tepat di sebelah meja kerjanya serta komputer dan ruangan ini juga ber-AC.
Gaby, "Emmh.."
Mereka berdua menatap Gaby yang tampak berdiri saja. Hanya senyuman centil dan tatapan mata itu seolah malu bila mengatakan di depan Pak Al.
Ferdi tersenyum, dia mengerti, lalu berkata "Pak Al, bisa anda keluar sebentar."
Al menatap Gaby "Kenapa harus aku yang keluar? Ini ruang kerjaku."
Al berkata, "Udah ngomong aja disini."
"Tapi Pak Al. Ini antara Gaby sama Pak Ferdi." Gaby bersikap sok imut.
"Ni samping gorden nggak ada orang." Al menunjuk ke ruang gantinya.
Ferdi menyela, "Gaby, ada apa? Kamu mau ijin?"
Dari pada berbelit-belit, sang guru satu ini juga peka terhadap setiap muridnya.
Gaby yang terlihat sudah menggendong tas ranselnya dan tampak memegang sweater warna biru muda. Seragam putih abu-abu yang ia kenakan terlihat bagus dan sopan.
"Pak Ferdi, saya mau ijin. Nanti jam siang ada jadwal matematika. Tapi saya, ada urusan keluarga. Jadinya, saya mau minta ijin langsung sama Bapak. Terus..."
Pak Ferdi mengamati Gaby dengan senyumannya, "Terus apa?"
"Terus tangan Gaby juga pegel linu Pak. Ini gara-gara teman Pak Ferdi. Yang suka nyuruh-nyuruh saya. Makanya, tugas kemarin cuma selesai separo aja."
"Teman saya?" Tanya Pak Ferdi, yang sebenarnya sudah memahami tentang apa yang terjadi dengan Gaby setiap jam olah raga.
"Iya benar. Orangnya juga ada disini dan mendengar pembicaraan kita berdua." Semakin memancarkan aura imutnya.
"Siapa juga yang nguping." Sahut Al.
Gaby dan Ferdi menoleh ke Al. Wajah itu tampak memerah, ia menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Ya sudah. Silakan dilanjut ngobrolnya. Saya mau ambil minum." Ucap Al dan ia pergi meninggalkan kursinya.
Gaby seketika menghadang dan Al semakin salah tingkah dibuatnya.
Gaby mengeluarkan kotak kecil warna biru berpita putih, lalu berkata "Ini buat Pak Al. Terima kasih, semalam udah nolongin Gaby."
Gaby langsung berlari terbirit-birit. Sebenarnya, Gaby juga salah tingkah sendiri. Namun, dia harus segera pergi, karena memang ada orang menunggu Gaby di suatu tempat.
Ferdi membuka buku tugas Gaby, lalu berkata "Hemms, sepertinya ada yang suka membantu."
"Apa sih?" Kilah Al, yang seolah tidak ada apa-apa.
"Terima kasih, semalam sudah nolongin Gaby." Logat dan gaya bicara Pak Ferdi menirukan Gaby.
"Bukan apa-apa. Pas aja ketemu dijalan. Dia sendirian, terus digodain cowok."
"Owh! Terus?" Pak Ferdi bukannya kepo, tapi lebih ke usil. Dia selalu begitu, setiap ada perempuan yang mendekati Alvaro.
"Ya udah gitu aja." Jawabnya dan ia meletakan kotak itu di laci meja kerjanya.
Pak Ferdi, lalu berkata "Baiklah, Pak Al. Saya mau ke ruangan saya. Selamat bertugas di jam akhir sekolah."
"Baik Pak Ferdi. Terima kasih atas kunjungannya."
Pak Ferdi keluar dengan sumringah, dia hafal betul kalau Pak Al tidak keluar di jam istirahat siang, pasti ada sesuatu hal yang menganggu pikirannya.
Jadi, dia datang sebagai teman usilnya, bukan sebagai rekan kerja sesama pengajar di sekolahan ini.
"Ada-ada saja." Gumam Al.
Ingin segera melihat isi kotak itu. Pak Al yang menarik laci mejanya, mendoronya lagi. Sepertinya, dia sangat penasaran. Setelah tarik ulur lacinya, hitungan ke 5, dia mengambil kotak itu.
Rasa penasaran ini sudah semakin kronis. Namun, dia belum berani membuka kotak itu dan melihat isinya.
Al yang sudah memegang kotak itu, dan hanya menatapnya saja.
Tiba-tiba, "Pak Al, maaf. Pulpen saya ketinggalan."
Al menutupi kotak itu dengan kertas yang ada di meja. Tapi, Pak Ferdi telah melihatnya lebih dulu, dia sepertinya memang sengaja. Pak Ferdi sudah cukup lama mengenal Pak Al.
Memang, roman-romannya sangat berbeda. Ketika, muridnya yang lain, memberikan hadiah atau surat cinta untuknya, selalu ditolak. Pak Ferdi sangat tahu betul, banyak murid yang terpesona pada guru tampan ini.
"Lanjutkan! Terobos lampu merahnya. Gaspool." Ujar Pak Ferdi yang tidak bisa dimengerti.
Pak Al hanya bisa menggeleng. Melihat teman seperjuangannya, begitu special.
"Pantang menyerah!!" Pak Ferdi mengepalkan tangan kirinya dan menjujung ke atas.
Pak Ferdi sendiri sudah menikah, satu tahun yang lalu. Dia juga akan segera menimang bayi.
Pak Ferdi yang keluar ruangan, begitu senang saat membuat Alvaro kesal. Dia juga pernah, menyomblangkan Alvaro dengan sepupunya, namun Alvaro enggan. Dia di dekati malah pergi. Tapi, Pak Ferdi tetap gencar. Beberapa guru dan murid juga pernah di tawarkan kepada Al. Namun, Al tidak mau dengan pilihan Pak Ferdi itu.
Jurus jitunya sepertinya ampuh, dia menggali informasi dari Gaby sendiri. Gaby dengan polosnya, ceplas ceplos saat ditanya ini dan itu soal guru olah raganya.
"Selamat Al. Akhirnya kamu bisa jatuh cinta." Batinnya yang merasa senang.
Pak Ferdi pernah di pergoki sedang memeluk Al saat tidur di kamar hotel waktu acara kelulusan. Membuat imeg dia anjlok dan parahnya lagi, waktu itu ada guru baru yang ditaksirnya.
Itu semua juga sudah berlalu, dan menjadikan mereka berdua lebih dari sekedar rekan kerja. Mereka sudah seperti saudara. Bisa jadi seperti Pras dan Rendy.
"Apa isinya?"
Alvaro kembali mengamati kotak itu.
"Nanti saja bukanya. Sebaiknya, aku siap-siap di jam terakhir." Lantas pergi dan ia telah menyimpan kotak itu di dalam tas ranselnya.
3 Jam kemudian.
Tiba di hotel berbintang, Gaby berjalan menuju kamar hotel yang sudah di pesan seseorang.
Gaby yang tampak menawan, pintu lift terbuka. Ada beberapa orang di dalamnya. Gaby hanya menunduk sejenak.
Ada kakek tua yang mengamati Gaby yang seperti gadis nakal, "Masih muda."
Gaby merapikan tatanan rambutnya. Tampak memakai dress hitam, dan penampilannya begitu glamours.
Gaby tiba di lantai 11, dan Kakek itu masih saja mengamatinya. Sekilas ia melihat sosok yang dikenalnya.
Gaby tersenyum dan merangkul lengannya. Sang Kakek tua itu, terperanjat "Lingga."
Meski hanya sekilas, saat pria itu dihadapannya. Kakek itu masih dapat melihat jelas. Sosok itu, orang yang dikenal dekat.
Tertutup sudah pintu lift itu, perasaan kakek itu menjadi tidak nyaman.
Yups! Kakek tua itu adalah Prasetya Wardana.