
"Cinta."
Arjuna yang datang dan melihat kedua orang yang sedang berciuman. Desiran hebat membuatnya juga bingung. Apa yang telah menggiringnya untuk datang ke tempat ini. Cinta sudah berada di tangan pria yang tepat dan Cinta tidak akan menderita.
Sayangnya, Cinta dan Mirza tidak tahu menahu akan Arjuna yang telah menatap ke arah mereka berdua.
Arjuna pergi lebih dulu, sebelum Cinta dan Mirza menyadari keberadaannya.
"Hiik."
Suara cegukan Arjuna. Dirinya sering berciuman dengan para wanita. Apalagi saat ia berperan mesra, bahkan ada pula adegan plus-plus dalam scene film yang ia bintangi. Tapi, saat melihat itu tadi. Jantungnya berdetak cepat dan ia sampai cegukan. Ia pergi berlari dan tak ingin terlihat oleh mereka berdua.
Di sebuah ruangan yang cukup jauh dari kamar hotelnya, Arjuna terduduk lemas di atas sofa. Ciuman pagi ala Cinta dan Mirza sudah mengagetkan dirinya.
Bayangan Arjuna masih saja tentang bibir ketemu bibir itu. Sangat syok dibuatnya. Arjuna sang penakluk wanita, malah gugup karena melihat orang yang tampak ciuman. Ia malah memegangi bibirnya sendiri dan sangat kekanakan.
"Kenapa? Kamu melihat adegan cinta?"
Zolla yang mendekat dan langsung duduk di sebelahnya.
"Apalagi? Jangan dekati aku."
"Karena aku cinta pertama kamu. Jadi, aku harus menghantui kamu. Siapa tahu ada awak media yang datang ke tempat ini."
"Apa maumu?"
"Cinta."
"Cinta?"
"Ayolah, aku tahu kamu menyukainya. Tapi, aku tidak menyukai dia. Apa kamu tidak takut. Kalau sampai aku membuat si Cinta kamu itu terluka, bukan hanya gagal menikah, tapi akan ada hari-hari keceriaannya berubah suram."
"Kamu mengancamku?"
"Tidak. Aku hanya mengajak kamu untuk bersama-sama, meraih apa yang kita tuju."
"Aku tidak mengerti apa tujuanmu. Aku tidak mau terlibat masalah denganmu."
Arjuna lantas pergi, Zolla hanya tersenyum gemas.
"Hemm, dia memang sudah cemburu, tapi masih menyangkalnya." ia juga lekas pergi ke kamarnya.
Mereka di hotel yang sama. Arjuna yang tadinya hendak ke kamarnya, tapi di depan pintu kamar Cinta, kedua insan itu malah berciuman mesra dan serasa dunia milik berdua.
"Aku sayang kamu."
"Mas Mirza, jangan bikin aku malu."
Kedua orang ini berjalan beriringan, tangan mereka berdua tampak bergandengan mesra.
Arjuna telah berada di kamarnya dan langsung merebahkan dirinya di atas kasur yang empuk.
"Untuk apa aku peduli dengan Cinta. Dia asyik merajut asmara. Bodohnya aku, kenapa aku harus datang kesini. Untuk apa aku harus peduli dengan Cinta, jelas-jelas dia sama calon suaminya."
Arjuna yang meraih bantal dan ia sangat kekanakan. Bibirnya yang cemberut manja dan merasa ada hal yang hilang.
"Arjuna."
"Arjuna, aku akan mengejarmu. Jangan lari terus. Aku lelah." Saat Cinta yang gemas dan ingin memukulnya.
"Arjuna, awas ya kamu. Aku bilangin sama Tante Gaby."
"Aku tidak menerima tamu. Sana pulang."
"Opa, Arjuna nakalin Cinta. Kukunya Cinta sampai terluka." Rekengan itu, ketika mereka bersama. Arjuna yang sering usil membuat Cinta terkadang jengkel.
Tetapi, kalau mereka lagi akur, mereka sering bolos sekolah barengan. Saling kerjasama membohongi orang tua, agar mereka berdua diberi ijin nonton konser ke luar negeri. Saling membantu ketika Cinta butuh duit untuk shopping, sedangkan Arjuna ingin putus dari para pacar isengnya.
Begitulah saat Cinta bersama Arjuna, ketika dalam suasana hati yang kesal dan ceria bersama. Karena ikut-ikutan Cinta, Arjuna jadinya memanggil Opa dan Oma.
"Cinta sama Mirza memang cocok. Aku tidak perlu cemas lagi. Mirza, pria yang baik, dia tidak akan mungkin menyakiti Cinta."
Mirza dan Cinta yang sedang menikmati sarapan paginya. Mereka tampak manis, terlihat senyuman Cinta.
"Hallo."
Zolla yang datang mendekat dan Cinta berubah rona. Wajah itu terkaget saat melihat kehadiran Zolla. Mata itu, bibir itu, wajah itu. Dia memang Zolla, yang ingin memiliki nama dirinya.
"Aku tidak dapat tempat. Aku ingin bergabung dengan kalian."
Mirza hanya menggangguk, ia tidak bisa mengelaknya. Bahwa, Zolla memang bagian dari keluarga besarnya.
"Apa aku menggangu kalian?"
Cinta menggeleng saja dan Mirza sudah memegang tangan Cinta. Zolla juga bisa melihat hal itu.
Cinta yang sangat susah menempatkan diri di posisi ini. Meskipun begitu, Cinta tidak keberatan. Ia tetap menatap Zolla. Merasa kalau ada saudara baru, yang masuk dalam keluarga besarnya.
"Arjuna, juga ada disini."
"Arjuna?" Cinta yang seakan bertanya dan ia malah menatap ke arah Mirza.
Mirza berkata, "Cinta, Arjuna sudah mencarimu."
"Tadi sewaktu bangun tidur. Arjuna sudah menghubungi aku."
"Owh begitu." Cinta hanya tersenyum, tapi dalam perasaannya berubah aneh.
"Kapan kalian berdua menikah?"
"Minggu depan." Jawab Mirza.
Cinta hanya menatapnya saja, meski merasa suasana ini begitu asing. Cinta tetap ingin membuka hatinya dan tetap berlapang dada.
"Baiklah, aku akan meminta Ayah Arman untuk mengatur jadwalnya."
Cinta yang merasa ada yang sesak dalam hatinya. Benar sekali. Nantinya, Papa Damar tidak bisa menjadi wali nikahnya.
Mata Cinta tampak berkaca-kaca "Iya, beliau harus datang."
Mirza yang mengerti akan hal ini, tampak menatap ke wajah calon istrinya.
"Cinta."
"Mas Mirza. Aku tidak apa-apa."
Zolla dengan tersenyum, ia berkata "Semoga kalian berdua bahagia."
Zolla lantas berdiri dari kursinya, "Aku terasa kenyang. Aku lelah setelah perjalanan jauh. Terima kasih atas mejanya. Aku mau ke kamar."
"Iya." Cinta dengan senyuman, namun ia memang tidak berkenan untuk memberi senyuman padanya.
Setelah Zolla pergi, Mirza mendekat dan memeluk Cinta. Ia juga sempat lupa akan hal ini. Bagaimana mungkin, ia akan menikahi Cinta. Yang jelas-jelas, Cinta bukan putri kandungnya Presdir Damar.
"Mas Mirza."
"Cinta, aku juga lupa akan hal ini."
"Mas Mirza, aku nggak sanggup. Aku nggak bisa."
"Cinta."
Cinta yang kembali menangis, ia segera berlari ke kamarnya. Zolla juga bisa melihat hal itu, karena Cinta telah melewatinya begitu saja.
Cinta yang sangat terluka, "Papa. Cinta harus bagaimana?"
Wajah cantik itu, sudah berlinang air mata. Dia mengusapnya dengan tangan dan masih berlari menuju kamarnya.
Saat itu, Arjuna keluar dari kamarnya. Bertemu di koridor kamar hotel.
"Cinta."
Degh!
"Arjuna."
Cinta langsung memeluk Arjuna dan Arjuna yang bingung saat dipeluk oleh Cinta. Arjuna yang tampak berdiri tegak, dan Cinta memegangi kedua sisi jaket yang dipakainya.
"Arjuna."
Arjuna yang berdebar, ia mengelus rambut Cinta. "Cinta, kamu kenapa?"
Dengan suara yang sesenggukan, lalu Cinta berkata,
"Arjuna aku sedih. Aku bingung. Aku ternyata bukan anak kandung Papa."
"Cinta, kamu harus tenang. Papa kamu, tetap Papa kamu Cinta."
"Arjuna. Bagaimana aku bisa menikah? Aku nggak bisa, aku nggak mau kalau bukan Papa yang menikahkan aku."
"Cinta."
Zolla tersenyum saat melihat itu, dan Mirza yang tadi mengejar calon istrinya juga telah melihat mereka berdua.
"Arjuna, aku nggak mau. Aku nggak mau menikah, kalau bukan Papa yang menikahkan aku. Aku nggak mau."
Suara itu terdengar sendu, air mata itu mengalir lembut. Tangan Arjuna telah mengusap air mata itu, dengan sabar dia membuat Cinta tenang.
"Kalau kamu tidak ingin menikah. Aku akan membawamu pergi bersamaku."
"Arjuna."
"Aku ini saudaramu. Aku akan melindungi kamu. Jangan nangis." Dengan gaya tengilnya perlahan Cinta tenang.
Zolla berkata "Mirza, kamu bisa lihat sendiri. Dia lebih bahagia bersama Arjuna."
Setelah itu, Zolla berjalan pergi dan tak lama ia membuka pintu kamarnya.
Mirza yang membalikan badan, dan Arjuna telah melihatnya.
"Cinta, kamu ke kamar kamu dulu ya. Aku belum makan dari kemarin, aku lapar."
Dengan tangisnya, cinta berkata "Arjuna, kamu bisanya cuma merayu." Cinta menunjuk ke perut Arjuna "Kamu lebih mentingin perut kamu itu, dari pada aku."
"Cinta, cintaku, cintaku, sayangku. Aku cuma sebentar. Tunggu aku di kamar kamu." Arjuna mengedipkan sebelah matanya.