ABYAZ

ABYAZ
Aku Cinta Kamu



Masih berlanjut dan waktu sudah dini hari. Darren yang berada di kamar hotel. Tampak seperti orang yang linglung, sudah tercium aroma alkohol dan sang istri memapahnya ke tempat tidur.


"Darren, kamu sudah gila!" Desisnya saat menjatuhkan suaminya di atas ranjang yang ada di kamar itu.


Darra yang menatapnya penuh kesal, saat dirinya telah dihubungi seseorang, bahwa Darren berada di club dan sudah mabuk. Bahkan, ada beberapa wanita penggoda yang mendekatinya. Darra bersama pengawalnya mencari di setiap sudut ruangan yang ada di club itu. Entah, sudah berapa gelas ia minum. Yang jelas, Darren sudah tidak sadar saat Darra mendekat dan memeluknya. Hanya terdengar kata yang terucap dari mulutnya, "Bapak, maafkan saya."


"Pasti ini gara-gara Gaby lagi!"


Darra geram dan melepas sepatu suaminya sambil menggerutu. Darra juga menyumpahi gadis belia yang dianggapnya sebagai benalu keluarga dan perusak rumah tangganya.


"Gaby, awas saja kalau kita bertemu lagi!"


"Aku sampai kehilangan janinku juga karena kamu!!"


"Brrengseek!!" Darra yang amat kesal dan meluapkan emosinya.


Padahal, dokter mengatakan kalau janinnya tidak bisa berkembang dan harus dikuret. Tetapi, Darra tetap saja menyalahkan Gaby sebagai penyebabnya. Darra sendiri yang tidak bisa mengendalikan emosinya, dan mengakibatkan kandungannya lemah. Karena itulah, sang Mommy sampai harus meminta Gaby pergi dari Golden Mansion.


Sorot mata yang penuh kebencian akan sosok Gaby. Padahal sepupunya sendiri, tapi Darra begitu membencinya.


"Darren! Ayo bangun!" Darra yang berusaha untuk menyadarkan suaminya.


"Gaby!"


"Gaby???!" Darra semakin emosi.


Darren yang membuka mata dan masih mengigau akan pikirannya, "Gaby."


Darren memegang kedua pipi Darra, dan Darra sangat kesal pada suaminya. Lantas, kedua tangan Darra dengan kuat menghempas tangan suaminya.


"Darren! Ini aku istrimu!!!" Suara yang lantang penuh rasa kecewa.


Darren yang menggelengkan kepala, tangan kiri memegang kepalanya yang masih pusing dan perlahan ia bisa melihat kalau wanita yang ada dihadapannya adalah Darra.


"Ka-mu."


Darren masih tampak linglung dan perlahan ia duduk bersandar di ranjang.


"Iya, ini aku. Darra!" Jawabannya begitu jutek dan ia hendak menangis karena tidak kuat menahan perasaan yang sangat terluka.


"Darra, a-ku." Darren yang berusaha untuk meraih tangan Darra.


"Tidak perlu dijelaskan, aku sudah tahu!" Ucapan Darra begitu kesal dan ia sudah menangis.


Darren masih berusaha untuk sadar, ia sendiri juga bingung. Susah untuk berfikir dan kepalanya begitu sakit. Pandangannya semakin pudar dan bagian dada terasa sesak.


"Darra sayang."


Darren yang berusaha untuk berdiri dan Darra masih sangat kesal, hanya duduk bersedekap dan tampak menangis.


"Aku bisa jelasin." Darren berusaha mengatur badannya, agar tidak sempoyongan. Darren berjalan ke arah kamar mandi dan Darra hanya menatap saja dari sofa.


Langkah lunglai dan tidak bertenaga, Darren yang meraih tembok yang ada di dekatnya, akhirnya jatuh dan tergeletak tidak jauh dari sofa itu.


"Darren!!" Teriak Darra yang berlari ke arah suaminya.


Darren yang terkurap di atas lantai, dan Darra berusaha untuk membalikan badan suaminya.


"Darren, bangun!"


Diantara kesal, kecewa dan benci. Tapi, Darra memeluk suami yang dia cintai. Darra mendekap erat suaminya yang terbaring itu. Air mata Darra terus saja mengalir, sampai menetesi wajah suaminya.


"Darren!" Darra dengan isak tangisnya.


Meskipun, dalam hatinya penuh emosi akan suaminya yang masih saja peduli dengan sosok Gaby. Akan tetapi, Darra sangat mencintai suaminya.


"Mas Al!!" Teriak Gaby saat terbangun dari tidurnya.


Gaby yang terengah-engah, dan tampak berkeringat. Tiba-tiba terbangun dengan teriakan memanggil.


"Gaby, kamu kenapa?" Al yang masih berbaring menyamping dan berusaha untuk bangun dari tidurnya.


Wajah polos itu telah tampak muram dan berkeringat. Al yang berusaha untuk membuka mata dan meraih istrinya dalam dekapannya.


"Gaby sayang."


"Mas Al."


"Kamu sepertinya mimpi buruk."


"Mas Al."


Al yang meraih ponselnya dan ia melihat kalau saat ini pukul 3 dini hari. Al yang masih mendekap istrinya, ia juga masih dalam kantuknya.


"Gaby, tidurlah."


"Mas Al, aku takut."


"Gaby, kamu cuma mimpi. Itu hanya bunga tidur."


"Tapi. Mas Al, perasaan aku jadi nggak enak."


Al melepaskan pelukannya dan berkata "Gaby, kamu itu cuma bermimpi."


"Mas."


"Ayo, tidurlah."


Gaby menatap suaminya, bagaimanapun dirinya sudah tidak lagi berpura-pura. Gaby sudah menjadi seorang istri, dan perasaan itu semakin nyata adanya. Bukan lagi sebuah kesepakatan atau perjanjian, melainkan sebuah ikatan dengan janji suci.


Al yang mengambil tisue dan mengusap keringat istrinya, padahal suhu AC di ruang kamar mereka begitu dingin. Karena mimpi buruk itu, Gaby sampai bercucuran keringat.


Merasakan ketulusan suaminya, Gaby membulatkan bibirnya dan langsung merangkul leher suaminya.


Di atas tempat tidur, gadis belia dengan piyama cokelatnya. Memeluk suaminya dan tampak menangis.


Al yang mengelus punggungnya, ia juga bisa merasakan kegelisahan Gaby saat ini.


"Mas Al. Jangan tinggalin aku." Tangisnya semakin tersedu-sedu. Pikirannya bisa saja masih menggerutu tentang guru olah raganya yang kejam, namun perasaannya tidak bisa berbohong. Semakin hari, Gaby bisa merasakan kasih sayang dan ketulusan Alvaro.


"Memangnya aku mau pergi kemana sampai ninggalin kamu?" Nada suara yang bercanda.


"Mas Al. Aku serius." Rengeknya setelah mendengar candaan Al.


"Sudah, jangan menangis. Nanti kamar kamu jadi danau."


"Mas Al nggak lucu."


"Emangnya, aku nggak lucu?"


Gaby melepaskan tangannya dan mencubit pipi suaminya. "Mas Al ngeselin."


"Aku ngeselin?"


"Aaa.. Mas Al."


"Ya udah, aku pergi saja."


"Jangan!" Tangan Gaby meraih lengan tangan suaminya dengan cepat.


"Aku mau pergi sebentar."


"Aaa... Kan aku bilang jangan pergi." Gaby yang sudah tidak menangis, tapi bibir imut itu tampak cemberut gemas.


"Aku cuma mau ke dapur."


"Ngapain ke dapur?" Gaby melepaskan lengan tangan suaminya.


"Ambil minum." Al menyentil hidung istrinya dengan gemas.


"Aku ikut." Gaby yang tampak manja dan Al mengerti.


"Iya." Al langsung menunduk dan Gaby menarih bahu itu untuk berpegangan.


Gaby yang saat ini telah di gendong punggung, tampak kekanakan. Menyandarkan kepalanya dan berpegang erat.


"Kemanapun Mas Al pergi, aku mau ikut." Ucapnya dengan suara manja.


"Iya. Lagian kita satu sekolah."


Setelah membuka pintu kamar dan mereka berdua tampak menuju ke dapur.


Gaby yang masih dalam gendongannya. "Pokoknya, Mas Al jangan tinggalin aku."


"Iya."


"Mas Al juga nggak boleh dekat-dekat sama Kak Darra."


Al menghentikan langkah kakinya dan ia tampak tersenyum tipis. Namun, ia dengan suara serius bertanya "Memangnya, kenapa dengan Darra?"


"Ya, aku nggak suka."


"Kamu cemburu?"


"Emmh, pokoknya aku nggak mau lihat Mas Al dekat-dekat sama perempuan lain, termasuk Kak Darra."


"Jawab aku."


"Apa?"


"Kamu cemburu?"


"Emmh."


"Kok emh?"


"Iya, iya. Aku cemburu."


Al tersenyum dan kembali berjalan. Ia merasa tenang dan nyaman, saat Gaby ingin bermanja dengannya, apalagi saat tahu kalau Gaby ternyata juga bisa cemburu.


Al yang mendudukan Gaby di sebuah kursi, dan pergi mengambil minum. Gaby terus saja menatap sosok tampan yang begitu perhatian padanya.


"Ternyata begini rasanya." Gaby bisa merasakan ketulusan dari suaminya. Gaby dengan cepat bangkit dari kursinya.


Al yang berdiri di depan dispenser, Gaby memeluknya dari belakang "Mas Al."


"Apa?"


"Aku cinta kamu."


Alvaro semakin senang mendengar ucapan Gaby barusan.


"Mas Al, aku cinta kamu."


Alvaro dengan suara lembut bertanya "Kamu cinta aku?"


"He'em."


Perlahan, Al meletakan gelas yang dari tadi dipegangnya. Ia membalikan badannya dan menatap istrinya.


Kedua tangan Al, memegang pipi istrinya dengan gemas, ia berkata "Aku."


"Aku?"


"Gaby."


"Mas Al."


"Aku."


"Aku?"


Al tersenyum, "Aku, merasakan hal yang sama."


Al lanjut mengecup keningnya dengan perasaan cinta.