
Hentakan langkah kaki itu sangat cepat. Dengan sekuat tenaga Abyaz berlari, saat dia mendapati Damar yang sedang dipapah oleh seorang wanita.
Perasaan hati dan pikiran sudah tidak normal lagi. Seakan pikiran Abyaz sudah dibakar api dan menjadi geram, ketika dia memanggilnya tapi sudah tidak dihiraukan.
"Cecilia!!!" Teriaknya.
Dassh!!
Sebelum pintu kamar hotel 74G tertutup rapat, Abyaz lebih dulu menendang pintunya dengan kencang.
Ada seorang karyawan hotel yang melihatnya, dan segera memanggil keamanan.
Stella yang ada di ruang Aula, juga tidak melihat Damar dan Abyaz. Bahkan Stella juga bertanya pada para saudara, tidak ada yang melihat mereka.
"Tadi dia bilang mau ke toilet." Ucap salah satu seorang Tante yang ditanya Stella.
Stella dengan cepat menghubungi para pengawalnya, karena Damar dan Abyaz adalah tamu Stella, dan dia yang harus bertanggung jawab atas apapun yang terjadi pada Damar dan Abyaz.
Di sebuah kamar dan masih gelap, Abyaz yang berhasil menendang pintu itu. Sudah berubah kejam, tatapan mata Abyaz bagaikan singa betina yang siap menerkam mangsanya.
Cecilia yang masih memapah Damar, dengan cepat Abyaz menjabak rambutnya, hingga Damar terjatuh di dekatnya.
"Cecilia!!!" Abyaz menamparnya dengan sangat keras.
"Damar, sadarlah." Seraya menepuk dadanya.
Cecilia yang memegangi pipi kirinya, mengambil cangkir yang ada di meja sebelahnya.
Cangkir putih itu hendak dihantamkan ke arah kepala Abyaz. Tapi, Abyaz yang masih berlutut di depan Damar, dengan cepat membalikan badan.
"Dasar wanita jalang!!!" Ucap Abyaz dengan kencang.
"Kamu yang jalang!!" Balas Cecilia.
Abyaz lebih dulu, mencengkeram pergelangan tangan Cecilia dan dia berdiri dengan kekuat tenaga.
Bbuggh!
Abyaz menghajar Cecil dengan kejam.
"Oppa milikku." Ucapnya dengan matanya tampak memerah.
"Kamu masih berani bilang dia milik kamu?!!" Abyaz yang melotot dan sangat berani menekan kedua lengannya.
"Dia memang milikku." Balas Cecilia.
Kaki Abyaz yang memakai sepatu wedges, dengan keras telah menendang high heels yang dikenakan Cecilia.
Abyaz mencebiknya "Ini balasan untuk tadi malam."
"Kamu berani menyakiti aku??" Cecilia yang masih saja bertahan.
Abyaz dengan cepat menduduki Cecilia dan menjambak rambutnya, bahkan berkali-kali Abyaz dengan kejam menamparnya.
"Aku tidak akan tinggal diam!!" Abyaz yang sangat geram, singa yang tidur nyenyak ternyata sudah bangun.
"Oppa milikku." Cecilia juga tampak keji, terlihat dari matanya yang sangat tajam.
"Ciihh!! Aku tidak akan membiarkan kamu menikmati tubuh suamiku."
Abyaz yang emosi semakin geram, tangan kirinya tidak melepaskan rambut Cecilia. Bahkan semakin tangannya menjambak rambut itu dengan kejamnya.
Kedua wajah berhadapan dengan saling memancarkan api, Abyaz yang ada di atas tubuhnya sampai dia tidak bisa lagi membalas Abyaz. Tapi Cecilia masih dengan egonya.
Pintu kamar hotel itu tampak terbuka, walaupun keadaan gelap, Abyaz sama sekali tidak takut.
Plak-Plak... (Dengan sangat keji.)
"Aaahh..."
"Tamparan ini, untuk suamiku." Ucap Abyaz yang masih geram.
"Tolong..." Teriak Cecilia yang sudah merasakan sakitnya.
Suara jeritan Cecilia tidak henti. Lalu ada orang yang datang. Abyaz masih tidak henti memukuli Cecilia.
"Kalau sampai terbukti, kamu yang memberikan racun kepada Damar. Aku tidak akan segan menghabisi kamu."
"Abyaz!!!" Teriak Stella.
Abyaz akhirnya melepaskan rambutnya, dan mulai berdiri. Cecilia yang menangis histeris, sudah tersungkur di lantai dan tidak berdaya. Ada darah pada bibirnya dan rambutnya juga ada yang terlepas.
Stella yang mendengar saat ada security berlari ke kamar itu. Stella segera menuju kamar itu.
Abyaz yang masih ingin menghajar dia, tapi para pengawal dan security sudah tiba.
"Kak Stella, Abyaz sudah menghajar aku." Keluhnya dan masih menangis.
"Kamu memang pantas dihajar." Ucap Abyaz yang masih emosi.
"Kak Stella." Cecilia yang dibantu oleh Stella. Tapi Stella sangat tahu, siapa yang bersalah dalam keadaan ini.
"Cecilia, kamu apakan dia?? Kamu kasih apa untuk suami aku??!" Abyaz dengan jarinya menunjuk ke arah Damar.
Abyaz yang masih memakinya, dan semua yang ada disitu juga melihat Damar yang sudah tidak sadar.
Damar masih tergelatak di lantai. Tadi Cecilia belum sempat menidurkannya ke tempat tidur, karena Abyaz sudah datang.
"Percaya sama aku kak."
"Aku melihat Oppa pingsan. Aku ajak kesini. Biar Oppa istirahat. Tapi orang ini malah memukul aku."
Stella tidak ingin berkata apapun, dan dia juga melihat Damar yang masih tergeletak di samping tempat tidur.
Abyaz yang mendekati Damar, berusaha untuk membangunkannya.
"Damar, bangunlah." Ucapnya dan menyangga kepala Damar.
Air mata Abyaz bukan lagi air mata kepiluan, saat ini emosinya yang menjadikan dia begitu kejam.
"Kak Stella, kalau nanti dia terbukti bersalah. Aku tidak akan memaafkan dia."
"Kak Stella aku juga mau dia masuk penjara. Dia sudah memukuli aku." Ucap Cecilia dengan rasa tidak berdaya.
Abyaz, yang kecilnya penakut. Tapi semenjak SMA dia begitu kejam. Hal seperti ini tidak ada apa-apanya, kalau dirinya memang tidak bersalah, dia tidak takut akan kata penjara.
"Kamu mau laporin aku ke polisi??" Tatapan Abyaz sangat kuat.
"Oke, aku tidak takut."
"Aku tidak percaya mulut manismu."
"Kalau memang tadi kamu menolong suamiku. Pasti kamu akan membawa dia ke aula."
"Tapi apa??! Kenapa harus ke kamar?? Apa ini rasa peduli kamu???!!"
Abyaz yang tidak mau kalah saat beradu argumen, dan semua juga masih melihat ke arah mereka.
"Sudahlah, kamu pulang dulu di antar pengawal." Ucap Stella kepada Cecil, Stella yang tadinya menyangga Cecilia perlahan ada pengawal yang membantu Cecilia berdiri.
"Kakak nggak percaya Cecil?" Dengan wajah sendu bak artis dalam serial ku menangis.
"Nanti saja kita buktikan." Ucap Stella.
Stella tidak ingin membela siapapun, dan nanti dokter yang akan tahu, apa penyebabnya Damar bisa tidak sadar.
"Damar,... Bangunlah." Abyaz masih disisinya.
"Damar... Aku Abyaz." Ucapnya dan masih berusaha untuk membangunkan teman hidupnya.
Stella menyuruh para pengawalnya untuk mengajak Abyaz dan Damar pergi dari hotel ini.
Stella meminta pada security untuk tidak mempermasalahkan situasi ini. Stella juga kembali ke aula, dan seolah tidak ada apa-apa.
Stella hanya bilang kepada Kekeknya, kalau Damar dan Abyaz harus pulang lebih dulu. Tapi sang Kakek sudah mendapat laporan.
"Pulanglah, urus mereka. Aku masih mau disini."
"Kakek, Stella pergi dulu."
Sesuatu yang aneh, dan sangat aneh menurut Stella. Tapi dia tidak ingin berfikir hal lain dalam situasi ini.
"Damar, kamu harus bangun." Ucap Abyaz yang memeluk Damar saat berada di dalam mobil.
Tidak lama mereka tiba di rumah, dan di dalam rumah Cecilia menangis histeris, beberapa pelayan sudah menemani dia.
"Damar, aku mohon. Lekaslah bangun." Abyaz yang tampak sendu dan masih memegang tangannya, mereka di kamar dan di luar pengawal sudah berjaga.
Dokter datang dan Stella tidak lama juga sudah datang. Stella mengajak Abyaz untuk bicara.
"Abyaz, lebih baik pergi dulu."
"Kenapa aku yang harus pergi??"
"Nanti akan aku jelaskan."
"Tidak. Aku tetap akan menemani Damar."
Stella berbisik dan Abyaz cukup saja mendengarkan Stella, air mata bening tampak mengalir lembut dan menoleh ke arah Damar.
"Baik Kak Stella." Ucap Abyaz.
Stella pergi bersama beberapa pengawal. Stella cukup tegang saat memberi arahan kepada semua pengawalnya.
Dokter telah selesai memeriksa Damar, dan Abyaz mengerti akan situasi ini.
Abyaz yang mendekat dan memegang tangan Damar, lalu berkata "Damar, cepatlah bangun. Aku tidak mau kamu sakit."
"Damar, sepertinya aku harus pergi."
"Damar, aku senang kita bertemu dan saling mengenal."
"Damar, aku tidak bisa menemani kamu. Kamu harus segera sadar."
"Aku harus pergi dan kamu harus bangun."
"Terima kasih untuk semuanya."
"Teman hidupku, aku sayang kamu."
Abyaz yang masih memegang tangan Damar dan mulai mendekati wajah Damar, dengan rasa yang ada saat ini. Abyaz mencium kening Damar, bahkan air mata bening itu menetesi pipi Damar.
"Damar, aku harus pergi."