ABYAZ

ABYAZ
Pilihan Alvaro



Berjalan menelusuri ruang kamar ukuran 3×4. Memandangi foto kelulusan, terlihat sosok tampan memakai jubah wisuda dengan toga.


"Emh, lulusan teknik mesin?" Batin Gaby yang bingung, saat melihat foto wisuda Alvaro.


Kembali berjalan dan mengamati semua yang ada di ruang kamar itu. Tempat tidur yang dibalut sprei abu-abu dan bedcover kotak-kotak warna abu tua.


Ada lemari dua pintu warna hitam dan sebuah meja kayu bercat hitam lengkap dengan kursi kantor warna hitam.


"Rapi juga." Gaby yang tersenyum tipis dan masih mengamati sekeliling kamar tidur itu.


Kamar yang berada di lantai dua, tampak nuansa hitam putih. Dinding warna broken white dan perabotan yang ada di ruang kamar itu terkesan warna gelap.


Sebuah cermin bundar yang tertempel di dinding, terlihat sangat estetik.


"Aku masih kucel." Gaby belum mandi dan hanya membasuh wajah saat ia berwudhu.


Setelah tadi terbangun, Gaby langsung menunaikan ibadah sholat subuh di kamar itu.


Sebelah ruang kamar ada kamar mandi. Gaby kembali membasuh wajahnya, dan terasa lebih segar.


"Pak Al suka fitness."


Terdapat ruang terbuka di sebelah kamar, terlihat ada power squat dan treadmill elektrik.


Gaby membuka tirai warna abu-abu dan melihat ke arah luar, ia berkata "Sudah pagi."


Mentari tampak menyapa di ufuk timur. Gaby dari tadi hanya mondar-mandir mengelilingi ruangan yang ada di lantai dua.


Semalam mati lampu, Gaby tidak bisa memperhatikan ruangan itu. Gaby yang mulai berjalan menuruni anak tangga, dia sudah mencium aroma kopi dan masakan seorang ibu.


"Aku harus gimana?" Gumamnya, dan ada rasa berdebar.


Meski semalam sudah berkenalan dan mendapatkan perhatian lebih dari sang Mama calon mertua.


Gaby sendiri masih bingung, kenapa bisa dirinya patuh sama Alvaro agar menginap di rumahnya.


"Pak Al dimana?" Setelah berada di ruang tengah dan merasa tidak enak hati.


"Gaby, sini nak. Ayo duduk sini." Ucap Britney ketika melihat Gaby, yang masih mematung di dekat tangga.


"Iya Buk." Jawabnya.


Gaby berjalan menuju meja makan, yang berada di ruang tengah, tepatnya di depan dapur.


Gaby masih berdiri dan Britney telah menyiapkan sarapan untuknya.


"Sini, kamu duduk disini." Ucap Britney, menyuruh Gaby agar duduk di tempat yang telah ia siapkan.


Meja makan minimalis warna cokelat muda. Meski Gaby merasa sungkan, tapi dirinya menerima perhatian dari Britney dengan senang hati. Rasanya begitu nyaman dan bisa merasakan kasih sayang dari seorang ibu.


Gaby berkata "Buk, terima kasih. Gaby jadi ngrepotin Ibuk."


Britney tersenyum bahagia saat mendengarnya.


"Minum susunya, terus makan rotinya ya. Al baru mandi. Kamu tidak perlu menunggunya."


"Baik Buk. Ibuk dan Bapak, apa sudah sarapan?"


"Kita sudah sarapan, barusan selesai."


"Sekarang, Bapak dimana?"


"Kalau jam segini, Papanya Al sibuk nyiapin keperluannya Al." Jawab Britney, lalu berkata "Gaby, habisin rotinya. Tante mau ke dapur. Nyiapin bekal kamu."


"Bekal?" Batin Gaby.


Gaby tampak tersenyum manis, dia kembali merasakan kasih sayang seorang ibu.


Meskipun, Gaby masih belum mengerti apa yang saat ini terjadi padanya. Gaby tetap menyukai dan sangat senang atas perlakuan Britney padanya.


Tangan kanan mengayak rambut dengan handuk, dan menatap sebuah cermin.


Berjalan keluar dari kamar mandi, dan gadis belia menatapnya begitu saja.


Deegh!!


Kedua tangan Gaby telah memegang roti tawar berisi selai cokelat. Tapi, dia saat ini melihat bentuk otot dada yang menodai matanya.


Aauuu, dag dig dug.


Bibir imut Gaby yang tersumpal roti tawarnya itu, dan mata cantiknya tak berkedip saat melihat roti sobek ala Alvaro.


Al sendiri tampak santai dan tidak merasa risih, saat ada gadis belia menatapnya.


"Buruan makannya." Ucap Al dan hanya melewati Gaby yang sedang sarapan.


Gaby salah tingkah dan menguyah roti tawarnya dengan secepat mungkin. Gaby juga langsung meminum segelas susu vanila, yang ada di hadapannya.


Semalam Al juga tidur di kamar orang tuanya, di sebuah sofa. Malahan sang Papa semalaman hanya memandangi putra tampannya itu.


Kembali bercermin, menyemprotkan facemist pada wajah tampannya.


Mengeringkan rambut dengan hair dryer dan berlanjut memakai parfum spray ke sekitar roti sobeknya.


Postur tubuh gagah pada seorang pria matang. Al sosok yang dianggap pria sempurna bagi sebagian kaum hawa yang terpikat padanya. Badan dengan tinggi 180 cm dan otot badan terlihat kekar, begitu menawan. Berkulit putih kebulean dengan wajah rupawan.


"Gaby nanti bisa telat." Secepatnya mengambil serum vitamin dan memakainya secara merata di wajahnya.


Mengambil kaos dalam putih, terlihat cepat memakainya. Kedua tangan dengan cepat mengancingkan kemeja pajang warna putih. Pinggang yang terlilit handuk hitam sudah berganti celana jeans panjang warna nude.


Al kembali bercermin, dan memakai pomade pada rambutnya. Berjalan ke arah wastafel yang ada di kamar itu, untuk mencuci tangannya.


Sebenarnya, di kamar sang Mama ada kamar mandi dengan bath-up. Tetapi Al lebih suka mandi di kamar mandi biasa. Mungkin saja mandi pakai gayung lebih segar dan terasa sensasi berbeda.


"Siap berangkat." Al yang bergeming saat keluar dari kamar sang Mama.


Gaby masih bingung, dia hanya duduk di ruang tengah. Al yang menatapnya hanya melewatinya saja.


"Sayang, makan dulu ya."


"Mama, Al minum kopi aja."


"Ya sudah makan roti ya, baru jam segini."


"Nanti Gaby bisa terlambat."


Gaby juga bingung. Dirinya belum mandi dan bersiap untuk ke sekolah. Sudah jam 6, masih berada di rumah sang guru.


"Pak Al sangat beruntung." Batin Gaby, yang melihat kasih sayang itu. Bahkan, selalu dipanggil sayang oleh Mamanya.


Pras melihat Gaby yang hanya diam duduk di ruang tamu. Ia langsung menyalakan televisi dan duduk di sofa ruang tengah.


"Gaby, kamu sudah sarapan?"


"Iya Pak, Gaby sudah sarapan." Jawabnya.


Pras lanjut menonton berita pagi dan Al mendekat, berkata "Papa, Al mau berangkat."


"Iya. Itu motor sama helmnya udah Papa bersihin." Ucap sang Papa.


"Sudah jadi guru, tapi kaya murid SD." Batin Gaby, yang melihat Al ternyata begitu dimanjakan oleh kedua orang tuanya.


"Gaby, ini bekal kamu. Nanti, buat makan di sekolah."


Britney lanjut mengelus rambutnya "Al biar nungguin kamu siap-siap. Kalian bisa berangkat bareng ke sekolah."


Gaby hanya tersenyum.


"Bagaimana bisa, ke sekolah bareng?" Gaby menganggap ini hanya sebuah kesepakatan.


"Al, inget. Jangan ngebut. Kamu harus jagain Gaby." Ucap Britney.


Al yang dipakaikan jaket sporty oleh Papanya.


Bahkan, sepatu sporty warna putih, sudah disiapkan di teras rumah itu.


Al berjalan keluar bersama kedua orang tuanya dan Gaby hanya mengikuti sang guru tampan itu.


"Gaby, apa Al guru yang galak?" Tanya sang Papa.


"Mas Al, guru yang tegas dan keren. Banyak murid dan guru muda yang menyukai Mas Al." Jawab Gaby.


Gaby berdiri di sebelah Al, tampak memegangi tas yang berisi kotak bekalnya.


"Al, kamu suka tebar pesona, seperti Papa kamu?" Tanya Sang Mama.


"Nggak Ma. Bedalah, Papa selalu murah senyum. Al biasa aja. Mama, Gaby itu cemburuan."


"Idih, malah dilemparin ke aku." Batin Gaby, yang selalu susah mencari celah untuk melawan gurunya ini.


"Mama, anak kamu kaku begini saja, banyak peminatnya. Apalagi murah senyum." Ujar sang Papa.


"Berarti dulu Papa begitu?" Sang Mama yang tidak menyerah.


"Ya bukan begitu, maksud Papa. Papa murah senyum karena ramah. Papa juga cuma maunya sama Mama." Sang Papa mulai menggombal mesra dan merangkul bahu istrinya.


Gaby melihat kemesraan itu, tersenyum "Mereka keluarga yang bahagia."


Al selesai memakai sepatunya dan tangan kirinya membawa helm, ia berkata "Papa sama Mama malah ribut sendiri. Meskipun banyak perempuan menyukai Al. Cuma satu pilihan Al."


"Ini." Tangan kirinya merangkul bahu Gaby.