
Saat ini, sudah jam 21.10. Arjuna yang kelimpungan mencari di sekitar rumah Jimmy. Sayangnya, gadis itu tidak terlihat.
Arjuna semakin panik, ia berdiri di depan jalan rumah itu, tidak berselang lama, ada suara yang memanggilnya.
"Arjuna..." Begitu nyaring suara itu, dan semakin mendekat.
Arjuna yang menoleh ke arahnya.
Hap!
Dia yang berlari, ketika mendekat ke arah Arjuna. Dia langsung memeluknya.
Kedua tangannya yang meraih bahu Arjuna, ia juga tampak berjinjit.
Ia berkata "Arjuna. Akhirnya aku dapat pekerjaan."
Dia melepas pelukannya dan tawanya begitu riang gembira. Ia juga melompat senang dan kembali memeluk Arjuna.
"Yeyeye."
"Aku besok kerja."
"Arjuna, aku dapat pekerjaan."
Kedua wajah itu saling menatap, Arjuna juga bisa merasakan perasaan ceria gadis itu.
"Arjuna, aku senang."
Arjuna memegang kepalanya, "Emh, tapi aku masih curiga. Apa pekerjaan kamu?"
"Ada aja."
"Di kantor?"
Dia menggeleng.
"Di supermarket?"
Dia tersenyum, lalu berkata "Ayo tebak lagi."
Arjuna menggoda, "Di perusahaan?"
"Bukan."
"Di hotel?"
"Bukan itu juga."
"Terus, dimana? Aku sudah nyerah."
"Di butiknya teman aku. Ternyata, temanku SD masih ingat sama aku. Terus, tadi kita ngobrol-ngobrol. Eh, aku di suruh jaga butiknya."
Arjuna yang tidak ingin mematahkan semangatnya, ia berkata "Wah, hebat kamu. Cepet juga dapat kerjaan. Aku aja dari pagi sampai malam. Malah nggak ada yang dapat satupun."
Dia memegang tangan Arjuna, "Arjuna, terima kasih sudah bantuin aku. Mulai besok. Aku akan bekerja dengan giat."
Arjuna mengelus rambutnya, lalu berkata "Emh, aku bakal kesepian lagi."
"Kamu ada Jimmy, aku setiap sore juga sudah pulang."
"Besok aku akan mengantarmu kesana."
"Emmh, jangan. Nanti kamu kena marah sama Jimmy." Dia lalu merangkul lengan Arjuna dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
Setelah di dalam rumah, dia masih gemas dan kembali memeluk Arjuna.
Jimmy berkata "Jangan bikin aib."
"Jimmy, aku cuma memeluk Arjuna. Bukan bikin aib." Beby semakin berani untuk melawan sang manager ini.
Jimmy mendekat "Hati-hati, tahan godaan. Nanti kalau kamu hamil, aku nggak mau tanggung jawab. Arjuna cuma milikku."
Beby berkata "Arjuna lebih dulu kenal sama aku."
"Tapi aku manager dia. Aku yang ngurus dia setiap harinya. Bukan kamu."
"Tapi, Arjuna udah milikku duluan."
"Yee, siapa bilang. Iih, lepasin tangan kamu. Arjuna mahal. Besok dia ada jadwal pemotretan."
"Iih, aku cuma peluk doang. Ini dia masih utuh nggak lecet."
Arjuna melerai dan merangkul keduanya "Aku merasa punya dua bini."
Beby yang manyun cantik langsung bersedekap dan bersandar di dada kanannya. Sedangnya Jimmy, ingin sekali mencakar gadis itu.
"Stop. Aku lelah. Aku mau tidur."
"Arjuna, tidur di kamar aku. Jangan tidur di luar lagi." Jimmy yang ngajaknya.
Sang gadis nggak mau kalah, "Yee, kok gitu. Ya terserah Arjuna mau tidur dimana."
Mata ketemu mata dan mulut ketemu mulut. Arjuna mulai terbiasa dengan mereka berdua.
"Ini tangan kamu. Minggir. Arjuna sama aku."
"No Beby. No. Kalian belum menikah. Belum boleh satu kamar."
"Yee, siapa yang mau ngajak ke kamar. Orang mau di sofa, situ depan TV."
Jimmy tidak mau kalah, "Arjuna tidur. Besok pagi ada pemotretan."
"Bukannya Arjuna libur. Kamu jadi manager, rakus banget ya. Nggak bisa istirahat bentar."
"Iya, ini penting. Untuk acara Dating show."
"Apaan itu, Dating Show?"
"Arjuna, akan mendapatkan pasangan. Untuk acara, tinggal bersama 1 bulan."
"Hah? Tinggal bersama 1 bulan?"
Beby menatap Arjuna, lalu memegang lengan tangannya "Mulai kapan acara itu?? Terus, aku akan sendirian disini?"
"Masih bulan depan."
Jimmy melepaskan lagi tangan Beby, ia berkata "Nggak usah manja. Itu namanya resiko kamu. Salah sendiri, mau pacaran sama aktor. Arjuna, nggak bisa fokus sama kamu terus."
Beby yang manyun, Arjuna mengelus rambutnya "Kamu tenang saja. Jimmy emang kalau ngomong suka begitu."
"Arjuna, aku mau tidur. Kamu juga harus cepetan tidur. Biar besok, muka kamu tetep glowing."
Arjuna mengangguk, perlahan meraih bahu gadis itu, ia berkata "Beby, masih ada waktu sebulan. Aku akan temani kamu."
Dia masih terdiam, lalu berkata "Tapi, selama sebulan itu. Kamu nggak akan pulang, misal sehari saja?"
"Aku sudah terlanjur tanda tangan kontrak itu. Sebelum aku tahu masalah kamu."
"Terus aku gimana?"
"Kamu tetap disini, nungguin sampai aku pulang."
Dia yang mengerti dan menyandarkan kepalanya. Arjuna yang merasa bersalah dan ia tetap ingin menyenangkannya.
"Tidurlah, aku akan menemanimu."
"Kamu tidur di kamar saja. Aku akan tidur disini."
"Tidak boleh. Kamu anak perempuan. Tidak baik tidur di sofa. Ayo, aku temani kamu dulu. Kamu besok harus ke butik."
"Huh. Aku jadi lupa gara-gara Jimmy."
Arjuna yang mengantarnya ke kamar dan meletakan tas Beby di atas meja. Bahkan, Arjuna juga melepas sepatu Beby dan meletakannya di rak susun yang ada di kamar itu.
Beby yang tidur menyamping, sambil memeluk guling. Arjuna yang terus mengelus rambutnya, sambil menyanyikan sebuah lagu.
"Arjuna, tidurlah."
"Setelah kamu tidur. Aku akan tidur."
Beby merasakan tangan Arjuna yang selalu mengelus rambutnya. Perlahan, dirinya terlelap. Arjuna juga telah merasa kantuk dan saat ini sudah jam 10 malam.
Melihat gadis itu sudah pulas, ia berdiri dan mengecup keningnya. Hampir setiap hari, ia melakukannya. Membuat beby tertidur dalam belaiannya dan memberikan kecupan selamat malam.
Sepertinya, Beby merasakan hal itu, tapi dia tidak pernah menanyakan soal itu kepada Arjuna.
Dari kecil, dirinya memang lebih dekat dengan Arjuna. Mungkin, karena mereka berdua hampir seumuran. Usia mereka berdua hanya selisih 1 tahun. Meski di SMA yang sama dan Arjuna lulus lebih dulu.
^^^Tapi, masa-masa itu sangat menyenangkan.^^^
"Cinta, cintaku, cintaku, sayangku."
"Apa lagi?"
Tangan itu sudah merangkul ke bahu gadis belia itu, "Emh, tolongin aku buatin tugasnya Mr. Kevin. Aku siang nanti ada shuting iklan. Ya, mau ya. Kakakku, yang cantik jelita tiada tara."
"Nggak mau."
"Nanti, kalau aku udah dapat duit. Aku beliin tas buat kamu."
"Tas??"
"Iya. Aku tahu, kalau kemarin tas kamu disita lagi sama Budhe."
"Beneran? Kamu mau beliin tas buat aku?"
"Iya. Bener. Makanya, aku mau shuting dulu. Biar dapat duit."
"Gayanya doang, shuting, shuting. Kapan jadi aktor filmnya? Masa shuting iklan terus?"
"Makanya, sekarang lagi giat banget ini."
"Oke, tapi cuma tugas Mr. Kevin kan?!
"Em, sama ini bikin rangkuman. Aku pergi dulu. Byeee. See you, emmuaach. muaach."
"Untung aja adik sendiri, kalau bukan. Kamu aku bikin geprek."
Dia membuka-buka buku itu, tulisannya juga lumayan rapi. Dia sampai, meniru gaya tulisan Arjuna. Agar tidak dikenali oleh sang guru.
Setelah tiga hari
Arjuna membawakan sesuatu, "Cinta, Cintaku, Cintaku."
"Apa? Tumben, pagi-pagi udah datang." Arjuna yang memang menunggunya.
"Ini tasnya. Aku udah beli."
"Tas? Seriusan? Demi apa kamu beneran beliin aku tas itu." Dengan cepat dia membuka dan melihat tas itu. Cinta yang kala itu senang dan memeluk Arjuna. Bahkan, beberapa teman juga melihatnya.
"Gimana? Suka?"
"Iya, suka banget."
"Aku mau ada shuting video klip. Tapi."
"Tapi apa? Kamu butuh bantuan aku?" Dia yang merasa kegirangan.
"Tapi, Bunda nggak kasih ijin. Katanya, aku keseringan bolos."
"Ya, kamu sih."
"Tapi nggak apa-apa."
"Semoga Arjuna menjadi aktor hebat. Aamiin." Cinta yang kala itu berdo'a.
"Aamiin. Aku akan buktikan. Aku akan jadi aktor yang hebat." Dengan gaya tengil dan apa adanya sang Arjuna. Kembali berkata "Cintaku, kamu harus dukung aku."
"Iya, aku dukung kamu. Asalkan satu lagi. Itu, pacar-pacar kamu pada bikin kesal. Aku kemarin ribut sama Jovita gara-gara kamu."
"Itu urusan gampang. Aku ke kelas dulu."
"Oke."
"Arjuna, thank you."
"Yes, baby... Mmuaach."
Hanya gombalan sang Arjuna. Tapi, Cinta sudah terbiasa. Perannya Cinta saat itu, cinta pertama. Arjuna ketika bersama pacar barunya, selalu bilang ada cinta pertamaku.