
Setelah malam tiba, di Golden Mansion. Keluarga Lingga telah berkumpul untuk makan malam.
Lingga yang baru tiba sore tadi, dan langsung menuju ke kediamannya. Lingga seminggu lalu ada urusan pekerjaan di luar kota.
Kedua anaknya sudah ada dihadapannya, hanya Darra yang belum menampakan batang hidungnya.
Binar juga tampak sendirian, karena dari kantor langsung ke Golden Mansion, jadi tidak mengajak keluarga kecilnya.
Vava meminta anak-anaknya, untuk menemaninya makan malam. Sudah lebih dari seminggu merasa kesepian tanpa keluarganya.
"Hanya seminggu saja, Mommy merasa sepi. Lalu gimana dengan Gaby yang sudah berbulan-bulan tinggal sendirian?" Vava yang memulai lebih dulu.
Kedua anaknya menatap ke arah Vava. Lingga yang menyeka mulutnya, lantas melihat ke layar ponselnya. Ada sebuah pesan singkat untuknya, sepertinya ini tentang Gaby dan Darra.
Lingga menatap kepada istrinya "Mommy, apa Darra menculik Gaby?"
Ayu, dan Binar berpura-pura tidak tahu kabar itu. Mereka menampakan wajah yang terkaget. Padahal, siang tadi Ayu sudah menceritakan hal itu kepada Binar.
Vava meremas jemarinya, wajahnya terlihat gelisah. Lantas menatap suaminya dengan rasa bersalah "Iya, Darra telah berbuat nekat."
Lingga berkata "Sepertinya, keluarga barunya tidak terima atas perbuatan putri kita."
Ayu jadi berdebar dan ia menatap ke arah Binar "Semoga saja, Darra tidak dipenjara."
Ayu mengingat wajah Al yang begitu emosi dan sangat tidak senang akan perbuatan Darra kepada Gaby.
"Daddy, sebenarnya." Ayu hendak menceritakan masalah itu, namun Binar telah meredamnya.
Binar menggeleng dan ia berkata "Daddy, sebenarnya ini hanya salah paham. Pastinya, Mas Al bisa memahami situasi saat ini."
Vava yang mendengar itu, lalu bertanya "Binar, kamu barusan bilang apa? Mas Al? Ada apa dengan Alvaro?"
Vava semakin gelisah, ia berfikir kalau telah terjadi sesuatu dengan Alvaro. Keponakan yang dia sayang.
"Apa Mommy tidak tahu?" Binar yang mencoba menggali lebih dulu.
Lingga yang duduk bersandar dan hanya melihat situasi rumit di meja makan ini. Lingga juga sudah tahu, siapa keluarga baru Gaby dan tidak masalah akan hal itu. Namun, kalau sampai putrinya dibawa ke ranah hukum. Masalah ini, tidak akan bisa diselesaikan dengan mudahnya, apalagi dengan cara kekeluargaan. Mereka terikat oleh keluarga besar Restu Mahendra, dari pihak istrinya. Tapi, tidak semudah itu bila sudah berkaitan dengan pengacara tersohor yang sudah mengajukan gugatan padanya, atas perbuatan Darra yang menculik gadis belia bernama Gaby.
"Mommy tidak mengerti. Binar, kamu tahu sesuatu? Coba ceritakan sama Mommy."
Binar dengan tersenyum manis, ia menatap ke arah sang Daddy. "Sepertinya, Daddy sudah tahu lebih dulu. Siapa sosok yang menikahi Gaby."
Vava semakin pusing, dan ia tidak ingin berbelit-belit "Daddy, ada apa ini? Apa yang Daddy sembunyikan dari Mommy?"
Ruang makan itu, seketika hening. Hanya saling menatap dan tidak ada penjelasan.
Lingga dengan senyuman tipis, hanya ingin mendengar Binar atau Ayu yang menjelaskan. Jadi, tidak masalah bila harus menunggu lama.
Vava semakin kesal, ia berkata "Binar, jelaskan sama Mommy. Apa yang sebenarnya terjadi??"
Ayu yang duduk bersandar dan ia juga semakin gelisah. Menatap ke arah Binar yang sudah senyam-senyum sendiri.
Binar yang tampak senang, ia berkata "Mommy pasti akan senang, karena Gaby berada di tangan yang tepat. Gaby tidak lagi sendirian, seperti bayangan Mommy, yang merasa kesepian tanpa keluarga."
"Binar, Mommy." Vava yang tidak bisa mengelak, dirinya juga ikut andil saat meminta Gaby pergi dari Golden Mansion.
"Mommy." Binar yang tampak serius.
"Cepat jelaskan sama Mommy!"
"Mommy. Laki-laki yang menikahi Gaby adalah Mas Al."
Perkataan Binar seperti kilatan petir yang menyambar. Debaran jantung semakin tidak terkendali, badan Vava melemas tak bertenaga. Bahkan, untuk duduk saja tampak tidak sanggup.
"Mommy" Ayu meraih sang Mommy.
Vava yang mengatur nafasnya dan Binar segera memberikan minum kepada sang Mommy tersayang.
Setelah meminum air putih dan bisa mengatur tubuhnya, Vava kembali berkata "Apa kalian semua mau membunuh Mommy??"
Lingga hanya menatapnya dan tidak bisa berkata apapun. Lantas mengetik sesuatu pada layar ponselnya.
"Mommy yang tenang." Ucap Ayu yang ada di sisihnya.
Binar kembali duduk, dan Ayu kembali berkata "Ayu juga kaget, waktu Mas Al datang kemari."
"Al datang kemari??" Vava semakin syok dan hanya dirinya yang tidak tahu akan masalah ini.
Ayu dengan polosnya berkata "Mas Al tadi nyariin Darra. Karena pagi tadi, Darra sudah menculik istrinya. Mas Al sangat marah sama Darra."
"Kenapa kalian semua tidak cerita sama Mommy??" Vava yang berdiri dengan rasa kecewa dan air mata itu telah mengalir lembut.
Perasaan tidak nyaman dan gelisah, apalagi ini menyangkut keluarga besarnya. Masalah tahun lalu, sudah membuatnya renggang dengan Birtney dan Evan. Sekarang, ada lagi masalah yang menyangkut keluarga Britney.
"Kalian semua sudah bikin Mommy kecewa!!" Vava lantas pergi meninggalkan ruangan itu, dengan rasa campur aduk. Antara anaknya tersayang dan kerabatnya.
Air mata yang semakin mengalir deras. Usia yang tidak lagi muda dan masalah terus menerus menimpa keluarganya.
Ayu yang menyesal, harusnya tadi sepulang dari kantor bisa menceritakan masalah itu kepada sang Mommy. Entah kenapa, Ayu lebih menurut pada Binar.
Ayu menatap Binar "Ini gara-gara Kak Binar."
Binar yang tampak santai, ia masih lanjut menikmati makan malamnya.
"Ayu, kita tidak bersalah. Yang salah, Daddy."
Lingga menggeleng dan Binar kali ini merasa menang. Sudah lama, ia diam tanpa berbuat ulah, sekalinya begitu sang Mommy menangis dihadapannya.
"Mommy, maaf. Kali ini Binar tidak bisa sabar." Batin Binar dan Ayu masih menatapnya kesal.
Lingga berkata "Binar, kamu saja yang urus masalah Darra. Daddy tidak ingin ikut campur."
Lingga bangkit dari kursinya dan menepuk bahu Binar "Daddy percayakan sama kamu untuk melawan Damar."
Ayu yang tidak mengerti akan perkataan sang Daddy kepada Binar. Ia hanya membatin "Apa rencana Daddy?"
"Akhirnya." Batin Binar.
Di tempat lain, Viral yang mengetahui kabar itu dari Alvaro. Viral benar-benar sudah naik pitan. Masalah lalu sudah membuatnya emosi, dan kali ini Darra sudah semakin nekat. Viral yang akan mendukung Damar dan siap membantu apa yang dibutuhkan.
"Eyang, restuilah cucumu ini." Viral yang menatap foto Yuda Mahatma.
Entah kenapa, Viral semakin yakin untuk meraih posisi kursi itu, demi membantu adik terkecilnya.
"Kalau aku bisa duduk di kursinya Mama. Pasti, Darra tidak lagi berkutik."
Meski Alvaro yang membuat laporan atas tindakan penculikan terhadap istrinya. Namun, Damar yang bertanggung jawab dan memastikan kalau pengacara yang disewanya akan menang di pengadilan nanti.
Darra yang telah kembali bersama Darren, ia tidak tahu menahu akan hal ini. Dengan santai ia duduk di kursi ruang makan dan Darren menemaninya.
"Sudah telat." Ujar Binar dengan senyuman.
Darra bertanya "Mommy sama Daddy kemana?"
Ayu berkata "Mommy sama Daddy di kamar."
Darra melihat jam di ponselnya, ia berkata "Masih sore, tumben Mommy sama Daddy udah tidur."
"Mommy bukan tidur, tapi Mommy sakit gara-gara kamu."
"Aku??" Darra yang melotot ke arah Ayu dan Darren melerainya. Darren memegang tangan Darra dan membuat Darra lebih tenang.
Binar berdiri, ia berkata "Darra, siapkan diri kamu di pengadilan nanti."
Binar berjalan pergi, Darra bertanya "Apa maksud Kak Binar?"
Darren mendengar itu, mendekati Binar dan Darra. "Kak Binar, apa ada masalah soal Darra?"
Binar menepuk pundak Darren, ia berkata "Sebaiknya kamu cari tahu tentang kondisi Gaby saat ini."
Darren berdebar, "Gaby??"
Darra merangkul lengan tangan suaminya, ia berkata "Darren, kamu masih sakit. Jangan banyak berfikir."
Darren menatap ke wajah Darra "Apa yang kamu lakukan? Apa yang perbuat kepada Gaby?"
"Darren, bukan begitu. Aku nggak apa-apain dia."
Ayu datang dan menyela "Darra, tadi Mas Al datang ke rumah kamu. Dia sangat marah. Dia mencari orang yang telah menculik istrinya."
Darra tercengang akan ucapan Ayu padanya dan Darren mendengar hal itu, ia langsung tertunduk lemas.
"Istrinya Mas Al???"
Ayu dengan lembut menjawab "Iya. Mas Al kita, suaminya Gaby."
"Tidak mungkin!" Darra yang berusaha menyangkalnya.
Binar berkata "Keluarga Pakde Pras, sudah melaporkan kamu. Daddy tidak mau ikut campur masalah kamu."
Darra yang tak bertopang, lemas sudah kedua kakinya "Tidak! Mas Al tidak boleh menikahi Gaby."
Darren yang sudah mengetahui hal itu dan ia tidak senang akan perbuatan Darra.
"Kamu tidak perlu cemas. Aku akan menyiapkan pengacara yang hebat untuk kamu."
"Kak Binar." Darra yang memegang tangan Binar, begitu dingin telapak tangan itu. "Semua ini pasti salah. Nggak mungkin Mas Al menikahi Gaby."
Darren mendekat "Apa yang mereka katakan benar."
Darra yang tampak berkaca-kaca, seolah sudah kalah sebelum persidangan.