
Seharian bersama teman hidupnya, dan saling menebar romansa cinta.
Kedua orang itu sudah berada di hotel. Tapi, bukan lagi hotel yang semalam. Sore hari mereka check out dan pindah ke hotel yang dekat dengan kantor baru Damar.
Dari hotel itu, mereka bisa menatap ke gedung kantor baru. Abyaz yang sudah melihat dari balkon kamar itu, Damar memeluknya dari belakang.
"Sayang, besok mau ikut aku?"
"Memangnya boleh?"
"Boleh, kamu bisa menemani aku."
"Emh, tapi aku nggak enak sama staff kamu."
"Kenapa nggak enak?"
"Ya rada aneh aja, kalau di Solo kan bisa santai. Di kantor baru kamu, pasti lebih formal. Kamu aja pakai jas terus."
"Ya nggak apa-apa. Disana juga ada ruangan santai. Ada perpustakaan, ada cafetaria, terus ada rooftop juga."
"Emh, kapan-kapan aja."
Baru jam 9 malam, dan mereka berdua memang sangat manis.
Di sebuah balkon dan tidak henti menebar rasa. Terutama sang suami yang satu ini, sangat agresif dan begitu manja.
Damar yang meletakan dagunya di bahu Abyaz. Tangan kanan Abyaz mengelus pipi suaminya.
"Sayang, masuk yuk."
"Kenapa? Disini enak, bisa melihat kota."
"Angin malam nggak bagus, aku juga pingin di elus-elus."
"Kamu capek?"
"Iya, besok aku juga harus kerja."
Akhirnya mereka berdua berpindah ke kamar. Tetap saja, Damar dengan gaya yang begitu manis dan tidak melepas teman hidupnya.
"Kucing manisku."
"Aku suka di elus-elus."
Damar yang meletakan kepalanya di pangkuan sang istri. Di atas ranjang, keduanya saling menggoda. Tangan Damar juga tidak henti menyentuh wajah istrinya.
"Nakal."
"Aku cuma nakalin pemiliknya."
"Iya, kucingku cuma milikku."
Suasana malam yang manis, Damar yang sudah lelah dan dari kemarin selama di luar kota, dia juga kurang istirahat.
"DamDam... Kamu udah bobok."
Abyaz dengan gemas mengecup kening suaminya. Perlahan dia mengangkat kepala suaminya ke atas bantal.
Sudah jam 21.30 WIB, Abyaz mulai beranjak mematikan lampu kamar.
"Emh, aku belum nyalain ponselku."
Dengan cepat mengambil ponsel di tasnya, malahan dari kemarin pagi. Ponselnya sengaja dimatikan.
"Mama sama Papa, juga chat."
Abyaz yang melihat sosmed dan melihat ada berita tentang Presdir muda yang tampan.
"Ini ada berita DamDam." Ucapnya dengan senyuman.
Abyaz yang bersandar tempat tidur, lalu mengelus lagi rambut suaminya.
"Emh, kenapa banyak yang tanya udah nikah apa belum?"
"Uuh, memang nggak ada apa, tulisan sudah beristri."
"Ini berita juga bikin orang kebawa perasaan aja."
Abyaz juga melihat ke sebuah aplikasi, dan banyak yang share video waktu Damar kunjungan kerja.
"Iiiih... Pada nempel-nempel gitu. Pada minta foto. Emangnya suamiku aktor?!"
Abyaz tampak kesal dan menyimpan video itu. Wajah Abyaz begitu garang. Seolah ingin mengatakan sama semua yang ada di tempat itu, dan langsung berkata Damar Setya Ardana suami aku.
"Pada histeris gitu."
"Huuuft... Nyebelin."
"Pantes aja aku nggak diajak."
"Awas aja besok pagi, aku harus minta penjelasan."
Yang tadinya masih gemas dan tampak mengelus rambut suaminya. Setelah Abyaz melihat hal yang tidak dia sukai, akhirnya berhenti mengelus rambut suaminya dan berubah jadi ketus.
"Aaaa... Kucingku genit."
"Awas aja kalu gitu lagi."
Abyaz semakin kesal dan meletakan ponselnya dengan layar dibawah.
"Uuh.. Nyebelin."
Dengan cepat mematikan lampu kamar itu dan mulai memeluk bantal. Sangat kesal dibuatnya. Akhirnya tidur dengan bantalnya dan tidak menghadap ke sang suami manisnya.
Abyaz yang dari tadi menggerutu tapi sang suami mendengarnya.
Sebenarnya sang suami tadi tidak tidur. Hanya sedang mengistirahatkan matanya dan menjadi lebih rileks. Damar membalikan badan dan merangkulkan tangan kanannya ke pinggang sang istri.
"Tangannya nakal."
Abyaz menjauhkan tangan suaminya.
Damar kembali menopangkan tangan itu ke bagian atas, ke lengan Abyaz.
"Iiiihh.. Nyebelin." Abyaz membalikan badannya dan Damar tampak tersenyum.
"DamDam, kamu belum tidur?"
"Belum."
"Kenapa?" Damar perlahan membuka matanya dan tangannya mengelus pipi kiri Abyaz.
"Kemarin di luar kota kenapa ada acara foto-foto?"
"Foto-foto apaan?"
"Itu, di pabrik."
"Iya cuma salaman, mereka pada foto ya aku cuek aja. Mereka cuma pingin kenal pimpinan barunya aja. Ya aku ngecek kerja mesinnya gimana, sama lihat kinerja mereka gimana."
"Ya nggak usah ada foto-foto juga kali."
"La, masak aku harus ditempelin tulisan. Dilarang foto, hemms gitu."
"Terus, kenapa di komentar pada tanya masih bujang nggak? Udah nikah belum? Oppa saranghae. Aduh ganteng banget kayak Lee Min Ho. Udah gitu yang komentar perempuan cantik."
"Memangnya dimana?"
"Ya ada, video di sosmed. Terus pada komentar."
"Okay, besok biar di urus Guru Mao."
Abyaz membalikan badannya lagi, jawaban suaminya kurang memuaskan dirinya.
"Marah?"
Damar yang mendekat dan memeluknya dari belakang.
"Aku sebel."
"Aku suka kamu cemburuan."
Abyaz hanya diam dan Damar semakin erat, menyingkirkan rambut yang sudah menghalanginya.
Mengecup leher cantik istrinya. Dengan lembut mengusarkan bibir lembabnya ke leher itu, bahkan sedikit gigitan manja.
Abyaz hanya diam dan tidak bergerak sedikitpun.
"Sayang, jangan marah."
"Aku juga sama, aku juga cemburuan."
"Tapi tolong, jangan marah sama aku. Kamu bisa tanya sama aku. Aku nggak akan nutupin apapun tentang aku."
"Aku maunya disayang-sayang."
"Aku butuh semangat dari kamu."
Mendengar hal itu, Abyaz mulai berbalik dan menatap suaminya. Bibirnya masih cemberut, tapi perasaannya dia juga tidak ingin menyusahkan suaminya.
Abyaz juga mengerti, suaminya sudah banyak pekerjaan. Bahkan dia harus mengurus semuanya dan banyak hal yang harus dikerjakan.
Abyaz dengan suara pelan berkata "Aku cuma kesal, aku nggak suka melihat mereka begitu. Iya, aku salah. Aku nggak marah sama kamu."
"Nyonya Damar, pasti kamu akan mengerti."
"Belajarlah menerima lingkunganku."
"Belajarlah mengenal dunia kerjaku."
"Aku akan mengajak kamu, kamu nanti bisa kenal sama klien aku. Pasti nanti kamu akan paham, kalau dunia bisnis itu sangat luas."
"Aku tidak hanya bekerja di kantor, aku bisa kemana saja, bertemu klien, relasi dan para pekerja."
"Semuanya tidak mudah buat aku."
"Aku juga masih banyak belajar."
"Jadi aku mohon sama kamu."
"Kasih semangat buat aku."
"Dengan cinta yang hanya kamu berikan untuk aku."
Abyaz yang hanya mendengarkan perkataan Damar.
Perlahan dia mendekat dan mencium dahi suaminya.
"DamDam, aku sayang kamu."
"Aku juga sayang sama kamu."
Damar memeluk sang istri dengan rasa sayang dan Abyaz merasakan perasaan suaminya yang begitu manis.
Damar yang mengecup kening Abyaz, perlahan ke hidungnya dan berlanjut ke bibir manis istrinya.
Kedua bibir yang manis dengan aroma pappermint. Saling menarik lembut dan bersentuhan dengan hasratnya.
Lebih dalam dan permainan ciuman malam ini akan membawa mereka ke ranjang panas.
Damar semakin menarik kepala Abyaz dan tangan Abyaz memegang lengan kekar suaminya.
Perlahan ciuman itu sudah terlepas, Damar dengan garangnya. Melepas kaos dengan cepat dan kembali melakukan ciuman manisnya.
Hasrat pria harus disalurkan, dengan garangnya dan sangat menggairahkan.
Kedua orang yang sedang hangat-hangatnya.
Kembali menarik selimutnya. Menutup sebagian dirinya dan bercinta dengan nikmatnya.
Nikmat bagi keduanya, dan Abyaz tidak lagi berdiam saja. Dia juga agresif dan ternyata bisa memanjakan sang teman hidupnya.
Posisi uwenak ya DamDam. Uwuh.
Skipp!! 😋
Setelah beradu dalam ranjang panasnya, pasangan itu tampak memeluk mesra.
Dalam selimut dan saling bermanja. Tidak henti Damar memberikan kecupan manja, bahkan sudah meninggalkan jejaknya.
🙈🙈🤣🤣ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜©ðŸ˜©ðŸ˜©
Setelah ini, othor updatenya slow yaa teman-teman.
Dunia Bunda ðŸ¤