
Suasana malam resepsi pernikahan. Hotel Meghan adalah tempat acara resepsi pernikahan sahabat Alvaro.
Penikahan Tania dan Andre. Pagi tadi sudah melangsungkan akad nikah, dan malamnya resepsi pernikahan di aula Hotel Meghan.
Dekorasi bernuansa putih kebiruan dengan rangkaian bunga segar.
Sepasang pengantin yang berpakaian gaya eropa. Tania sendiri yang memilih tema acara pesta resepsinya.
Andre sahabat satu kampus dengan Alvaro. Bahkan, Andre mengenal Tania dari Alvaro. Dulunya, Alvaro dan Tania bertemu pertama kali saat ospek dan akhirnya menjalin persahabatan dengan yang lainnya.
Ada 5 orang sahabat dari jurusan teknik, lalu ada 4 orang dari menejemen bisnis dan perkantoran, itu termasuk Tania.
Tania yang sudah memakai gaun ala princess, tampak cantik dan begitu menawan. Lekuk tubuh indahnya, yang sexy dan kulitnya telihat glowing.
"Apa Al sudah datang?" Tanya Tania, kepada salah satu sahabat perempuannya.
"Sepertinya tidak datang. Lagian, mana mungkin dia berani bawa pacarnya. Apalagi muridnya sendiri." Jawabnya.
"Dea, kamu nggak boleh ngomong gitu."
"Kamu masih berharap sama dia?"
"Emh, mana mungkin. Sekarang aku sudah menikah." Jawab Tania.
"Tania"
Dea membatin "Kamu tidak tahu, siapa Al sebenarnya?"
"Ada apa?" Tania yang bercermin dan penata rias merapikan make-up Tania.
Acara sudah berlangsung 1 jam yang lalu. Alvaro tidak kunjung datang juga.
Tania yang ditemani Dea, untuk mempercantik riasannya. Agar semakin bersinar ketika acara dansa nanti.
Dea yang membisikan sesuatu kepada Tania. Soal apa yang sudah dilihatnya. Dea melihat kalau Mamanya Al, adalah seorang Nyonya. Bahkan, pergi ke arisan sosialita.
"Kamu ngarang. Mana mungkin." Ucap Tania setelah diberitahu Dea.
"Suer, aku nggak bohong. Aku ada fotonya. Aku juga sempat ngobrol sama Mamanya Al." Jelas Dea.
Belum sampai Dea menunjukan fotonya, sang mempelai pria datang dan mengajak Tania untuk kembali ke aula.
"Tania pasti menyesal. Jelas-jelas Al pernah suka sama dia. Malah memilih Andre." Dea yang tersenyum. Namun, dia tidak peduli dan kembali ke aula untuk menemui teman-temannya.
Aula pernikahan yang mewah. Seperti berada di negeri dongeng. Gaby dan Al berjalan mesra, keduanya tampak serasi ketika bersama.
"Mas Al, mana pengantinnya?"
"Entah." Al juga masih melihat ke sekitar ruangan itu.
Mereka berdua terlihat sebagai pasangan yang manis. Para tamu yang lainnya juga melihat ke arah mereka berdua.
Seorang teman menatap Al, terlihat Al yang bergandengan tangan dengan gadis cantik.
"Eh, kalian lihat ke kanan deh. Bukannya itu Al." Ucap salah satu teman.
"Iya, sana samperin. Ajak Al kemari."
"Ternyata Al beneran bawa cewek."
"Kemarin, bilangnya masih SMA. Ternyata bokis."
Mereka melihat sosok Gaby seperti gadis dewasa. Apalagi setelah merias wajah. Al saja sampai pangling saat melihat Gaby.
"Udah, jangan dibahas."
"Syukurlah, ternyata sahabat kita memang jantan."
"Ayam kali, jantan."
"Setidaknya, dia udah punya gandengan."
"Iya, sekarang bukan cuma truk. Al juga udah punya gandengan."
Al telah melihat temannya yang sedang berkumpul. Ada yang mengajak pacar, ada pula yang mengajak teman hidupnya.
Acara resepsi pernikahan juga menjadi ajang pertemuan teman alumni, dan mereka datang bersama pasangannya.
"Gaby. Kenalin, mereka sahabatku." Ucap Al.
"Hai, aku Gaby." Gaya bicara Gaby lebih dewasa dan tidak secentil biasanya.
"Hai..."
"Al, kamu kemarin bilang dia masih SMA?" Bisik seorang teman di sebelahnya.
Al hanya mengangguk dengan senyuman tipis.
"Dia calon istriku." Ucap Al dengan santai.
"Widih, seriusan ini?"
"Kamu siap berlayar Al?"
"Kapan acaranya?"
"Ya, tunggu dia lulus dulu." Jawab Al.
"Jadi beneran, kamu masih SMA?" Tanya seorang gadis yang bernama Dea.
"Iya Kak. Aku masih SMA. Aku muridnya Mas Al."
"Jodoh susah ditebak. Dulunya aku pikir sama_" Dea yang tidak melanjutkan perkataannya.
Yang lain hanya tersenyum dan Al juga membalas dengan senyuman.
Gaby berfikir "Apa Pak Al pernah punya kekasih?"
Tidak lama, pengantin sudah tiba dan kembali menemui para tamunya.
Standing party yang mewah. Penyanyi yang merupakan artis terkenal, juga turut memeriahkan acara resepsi malam ini, ia mengajak kedua mempelai untuk bernyanyi.
Tania dan Andre berdiri di antara penyanyi itu. Gaby berbalik badan, melihat kedua mempelai itu.
Gaby merasa tidak nyaman, ia melepas tangannya dan sedikit mundur dari Al.
"Aku harus gimana?" Gaby merasa bingung.
"Apa Kak Andre akan mengenali aku?" Gaby yang gugup dan begitu risau. Menganggap dirinya bodoh, tidak mencari tahu dulu, tentang sahabatnya Al yang menikah itu.
"Pak Al." Gaby menoleh ke wajah Al.
Gaby ingin segera berlari dari aula pernikahan.
Perasaan bersalah, seharusnya dirinya tidak berbohong tentang keluarganya. Seharusnya, dirinya bisa terus terang tentang keluarganya.
Setelah mereka bernyanyi, kedua mempelai itu berdansa. Tania yang cantik dan Andre yang tampan.
Suasana menjadi redup dan lampu sorot telah menerangi kedua mempelai itu.
"Pernikahan yang menakjubkan." Batin Gaby saat melihat suasana sekitar. Al yang mengambilkan minuman. Lantas memberikan kepada Gaby.
"Minumlah." Ucap Al, saat memberikan gelas itu.
"Terima kasih." Balas Gaby.
Al melihat Gaby yang tampak senang, Gaby masih saja menatap ke arah kedua mempelai yang berdansa itu.
"Kamu suka pestanya?" Tanya Al, yang berdiri sebelahan.
"Iya." Gaby yang tersenyum, tangan kanannya memegang flute glass.
"Kamu ingin pernikahan seperti apa?"
"Emh, pernikahan yang tulus dari perasaan cinta."
"Maksud aku, tentang pestanya. Kamu mau resepsi pernikahan yang bagaimana?"
"Aku lebih suka yang sederhana dan memakai kebaya putih." Ucap Gaby sambil tersenyum. Mengingat akan dirinya yang sendirian dan tidak ada orang tua.
"Aku pikir kamu suka pesta yang seperti ini."
"Iya. Aku memang suka acara pesta. Tapi, kalau aku menikah nanti tidak suka resepsinya, aku tidak ada orang tua. Lebih baik, cukup akad nikah saja."
Gaby yang manis saat berkata, Al yang hanya mendengarkan perkataan Gaby barusan.
Acara dansa telah selesai, terdengar tepukan dari para tamu undangan.
Tania tersenyum manis dan sangat bahagia. Al yang mendekat, tampak tampan dengan setelan jas, senada dengan gaun yang dikenakan Gaby.
Al menggandeng tangan Gaby.
"Mas Al, aku mau ke toilet." Ucap Gaby dan melepaskan tangan itu.
Gaby mengerti, saat dirinya akan diajak ke atas pelaminan. Untuk memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai.
Al menoleh ke arah Gaby dan dia hanya menghembuskan nafasnya. Al berjalan bersama para temannya. Acara foto bersama dan Al harus menemui kedua mempelai itu.
"Tania, selamat atas pernikahan kamu."
"Terima kasih Al. Aku pikir kamu tidak akan datang."
"Mana mungkin aku tidak datang, di acara special kalian. Kalian berdua sahabatku."
"Lalu, kamu bersama siapa?" Tanya Tania.
"Emh, sama pacarku."
"Dimana?"
"Dia barusan ke toilet."
"Oke, aku tunggu undanganmu."
"Siap, aku pasti mengundangmu."
Tania tersenyum mendengar hal itu, lalu bergantian ke Andre.
"Selamat Bro." Ucap Al dengan pelukan dan bahagia.
"Terima kasih."
"Aku dari tadi nungguin kamu. Aku udah ketemu yang lain, dari tadi belum ketemu kamu."
"Iya, tadi sempat ada macet."
"Memangnya dari rumah?"
"Iya, aku tidak bisa menginap disini. Soalnya Gaby, besok ada kegiatan di sekolah."
"Gaby?" Andre yang seolah familiar dengan nama itu.
"Iya. Gaby, pacarku. Dia lagi ke toilet."
"Sabtu kemarin, aku juga ke komplek dekat rumahmu. Mengantar Adiknya Bos."
"Emh, kenapa tidak mampir?"
"Udah kemaleman, makanya aku nggak berani mampir."
Setelah itu, mereka berfoto bersama. Para sahabat sudah bergaya dengan tingkah kocaknya dan Al tampak tersenyum manis.
Gaby yang kembali ke aula dan berjalan sendirian. Menatap ke beberapa tamu. Melihat ke seluruh sudut ruang itu, tidak menemukan Al.
"Pak Al, dimana?" Batinnya.
"Gaby." Ada pria yang memegang bahu dan Gaby berbalik badan.
Degh!!
🤗🤗
Para pembaca yang budiman.
Bila selama penulisan ada salah kata dan tanda baca yang kurang tepat, othor minta maaf ya. 🙏