
"Mas, ini apa?" Abyaz dengan gemas kesal saat mendapati kartu pasien dari sebuah rumah sakit dimana Damar memeriksakan anak bernama Alva Damaro.
"Itu, cuma mainan." Jawabnya santai dan ia langsung mengambil kartu itu.
"Alva Damaro, siapa mas?"
"Sayang, itu bukan apa-apa. Aku cuma iseng aja."
"Mas Damar, kamu punya anak dari wanita lain?"
"Kamu mau aku begitu?"
"Mas, aku ini lagi tanya serius sama kamu. Mas Damar, jawab aku?!
"Sayang, aku sudah jawab."
"Mas Damar."
Damar duduk di atas tempat tidur dan mengayak rambutnya dengan kesal.
Damar berkata "Udah sebulan ini, kamu nuduh aku begini sama A. Begitu sama B. Masih bla bla dan yang lainnya. Aku ini siapa kamu?"
"Mas, kamu marah sama aku?"
"Iya aku marah sama kamu."
Damar, dari kemarin seharusnya, ia sudah kembali bekerja. Namun, sang istri selalu memintanya di rumah dan masih terus saja mencurigai sang suami.
"Iya, aku punya anak simpanan. Puas kamu sekarang."
"Mas Damar."
Damar semakin kesal, dan ia sudah dalam batas kesabaran. Abyaz yang tampak berdiri, akhirnya juga terduduk di atas tempat tidur dan raut wajah itu sudah berubah muram. Perlahan air bening dari sudut kelopak matanya, tampak mengalir lembut.
Perasaan yang telah bercampur aduk, gelisah, kesal dan sudah dipenuhi pikiran negatif tentang suaminya.
"Mas Damar, kamu tega sama aku."
Abyaz yang menangis tersedu-sedu. Damar yang telah pergi dari rumah, dan entah ingin pergi kemana, tidak ada yang tahu. Para pengawal juga tidak boleh mengikutinya.
Abyaz sudah tampak menangis, dan Damar dengan kesalnya menunduk di atas setiran mobil. Penuh pikiran dan entah apa saja yang ia pikirkan. Sudah sebulan dalam kepenatan, dan hanya menyibukan diri di dalam rumah. Masih ada banyak hal lain yang ia pikirkan. Bukan hanya masalah keuangan, namun dirinya juga manusia biasa yang ingin diperhatikan, bukan dicurigai. Apalagi, kalau mengingat akan istrinya yang memeluk Binar.
"Huh, sabar. Sabar. Susah bener. Aku nggak bisa seperti Papa." Keluhnya.
Damar yang mencoba untuk meredam masalah dalam benaknya. Saat ini, ia ingin pergi sejenak, untuk melepas kepenatan dalam pikiran dan hatinya.
"Aku juga butuh hiburan."
Wwwusss!!
Mobil jeep rubicon, sudah tampak melaju kencang. Melewati barrier gate rumahnya. Seorang pengawal, tetap membututi sang Tuan. Bagaimanapun, mereka bertanggung jawab untuk keselamatan Tuannya.
"Abyaz, aku mencintaimu. Tapi, kamu juga harus mengerti aku." Damar yang melaju dengan kemacetan tinggi dan ia sudah masuk ke jalan tol.
Wweeng!
Tampak menyalip mobil lainnya, dan sangat gesit saat mengendarai mobil itu.
Entah, kemana Damar akan pergi. Saat ini dirinya hanya ingin melepas penat. Ia juga tidak ada arah dan tujuan pasti.
Dari pada nantinya akan ribut, atau bahkan sampai terlepas begitu saja amarahnya, lebih baik dirinya pergi sejenak untuk meredam kekesalannya.
"Percuma aku menjelaskan, kalau Abyaz nggak percaya sama aku."
Benar sekali, susah menjelaskan kepada istri yang lagi sensitif. Apalagi, Abyaz hanya memakai perasaannya dan bukan dengan pikiran yang jernih. Yang ada akan tetap menyalahkan. Abyaz bahkan, tidak merasa bersalah saat menuduh suaminya.
1 jam kemudian
Abyaz yang sudah termenung dalam tangisannya, ia melihat lagi kartu yang tergeletak di atas kasur.
Membaca kartu pasien dan ia kembali membaca, ada nama rumah sakit, yang tidak asing baginya.
"Ini bukannya tempat kerjanya Mas Emran."
"Sebaiknya, aku cari tahu dulu. Tapi, aku nggak enak tanya-tanya sama Mas Emran."
Seperti itulah, ketika rasa senstif mendera dan lebih mementingan perasaan ketimbang pikirannya.
Abyaz tampak menghubungi ponsel suaminya. Sayangnya, tidak aktif.
"Apa aku sudah salah menuduh Mas Damar?"
Abyaz kembali menghubungi ponsel suaminya, sayangnya ponsel itu masih tidak aktif.
"Mas, kamu beneran marah sama aku?"
Pikiran Abyaz kembali gelisah, rasanya sangat tidak nyaman. Berdebar dan tidak mentu. Ada rasa kesal, marah, kecewa dan terluka.
"Terserah."
Bilangnya sih, terserah. Tapi, dalam hati begitu risau akan keadaan sang suami.
Ingin segera mencari kebenaran, tapi ia juga tidak bisa mendengar penjelasan. Begitu susah dimengerti perasaannya saat ini.
"Mas Damar." Abyaz yang kembali menangis dengan rasa kecewa, tapi dirinya begitu ingin bertemu suaminya.
Damar memarkirkan mobilnya di suatu tempat, yang dia sendiri tidak tahu itu di daerah mana.
Perlahan, ia menopangkan kepalanya di atas setiran mobil. Rasanya sangat tidak senang.
"Huh."
Terasa sesak sekali dadanya, ingin sekali segera meluapkannya.
Daashh!
Tiiiinn....
Bel mobilnya telah berbunyi dan sangat lama. Sampai orang di sekitarnya, telah menatap ke mobil itu. Bahkan, ada yang mencurai kalau pengendara mobil itu, sedang dalam keadaan mabuk.
Abyaz kembali menghubungi suaminya.
"Mas Damar."
"Mas Damar dimana?"
"Mas, lagi dimana?
"Jawab aku Mas!"
Damar hanya mendengarkan suara istrinya dan ia hanya terdiam.
"Mas Damar, jawab dong Mas. Jangan bikin aku cemas."
"Mas Damar."
"Mas lagi dimana? Aku akan susul kesana."
Tuttt. tutt.. tuttt
Panggilan itu terputus. Abyaz yang memeluk guling, kembali menangis.
"Abyaz."
Damar yang menundukan kepalanya. Ia yang tampak meredam amarah dan kekesalannya.
"Abyaz. Aku ingin sendiri dulu."
Mobil kembali melaju pergi.
Di tempat yang lain, dan saat ini sudah sore hari. Alvaro yang sengaja pulang lebih awal dan ia ingin menjemput sang istri di kampus.
"Dia siapa?"
Al yang menatap sang istri dari kejauhan dan ia tadi memang ingin mengejutkan istrinya.
"Apa, mungkin Gaby. Ah, kenapa aku jadi terpancing omongannya Mas Damar."
Alvaro yang hendak mengejutkan sang istri, malah dirinya yang jadi terkejut. Tapi, dirinya tidak ingin berprasangka buruk. Dengan manis, ia keluar dari mobil.
Al yang menghubungi nomor ponsel sang istri.
"Hallo, Mas Al."
"Sayang, kamu masih ada kuliah?"
"Mas aku baru aja keluar dari kelas."
"Iya. Aku sudah melihat kamu."
"Mas ke kampusku?"
"Iya. Aku sudah menjemput kamu."
Al bisa melihat raut wajah sang istri yang tersenyum manis. Lantas, Gaby menoleh ke arah mobil sang suami.
Masih memegang ponselnya, Gaby berkata "Maaf Kak, nanti kita bahas lagi tugasnya. Aku sudah dijemput sama suamiku."
Ia hanya tersenyum, Gaby yang hendak melangkahkan kakinya, senior itu malah menarik tangannya.
"Aku nggak punya nomor ponsel kamu."
Saat ini, Alvaro masih menatapnya. Al juga telah merasakan apa yang Damar rasakan saat itu. Kalau Damar, hanya dalam layar dari sebuah kamera cctv. Sedangkan Alvaro, bisa melihat dengan kedua matanya sendiri.
"Nanti, biar Tata yang hubungi Kakak."
"Tapi, kita mengerjakan tugasnya bertiga. Sebaiknya, kamu juga harus datang."
"Iya, lihat besok ya Kak."
"Ya udah."
"Bye."
Gaby hanya merasa tidak nyaman saat seniornya menatap aneh dan Al masih saja melihat ke arah itu. Kedua tangan Al, juga ingin segera menghajarnya.
"Pakai melambaikan tangan lagi. Mas Damar, semoga ucapanmu itu nggak bener."
Setelah itu, Gaby sudah tampak berada dihadapannya.
Gaby yang langsung memeluknya dan berkata "Ye, akhirnya mau jemput aku."
"Kamu senang aku jemput?"
"Iya dong, masa nggak seneng."
Genk kupu-kupu, tampak risau saat melihat dari kejauhan. Ada rasa rindu, namun sudah tidak ada harapan. Jadi, percuma saja kalau mereka mendekat. Yang ada hanya, akan ada hati yang terluka dan kecewa.
"Cantik, kamu udah rela?"
"Bodo amat."
"Ciee yang udah bodo amat, tapi masih lihat-lihat." Elsa semakin suka menggoda Cantika.
"Masa iya, aku kalah sama dia. Bukan level aku. Lagian, masi banyak cowok yang lebih dari Pak Al. Ada, senior kita."
Padahal, cuma mantan murid, eiitz gayanya sudah selangit.
Al mengelus rambut istrinya, lalu berkata "Aku mau ajak kamu belanja."
"Emh, pasti ada sesuatu."
"Aku mumpung nggak lembur. Terus, Arjuna juga lagi sama Mama. Kita, bisa jalan-jalan dulu. Biar kamu makin semangat kuliahnya."
"Iya. Aku mau. Tapi, mobil aku gimana?"
"Titipin sama Ghani."
"Tapi, Ghani sudah pulang."
Gaby melihat Tata, ia berteriak. "Tata."
Tata melambaikan tangannya, lalu ia berlari mendekat "Hallo, Pak Al."
"Hallo Tata."
"Tata, ini kunci mobil aku. Nanti kamu yang bawa."
"Tapi, aku masih takut kalau bawa matic."
"Emh, nanti telephone Ghani. Oke."
"Iya."
"Titip ya. Aku mau jalan dulu sama Ayangku."
"Iya."
Al berkata "Tata, terima kasih."
"Iya Pak Al. Sama-sama."
Sayangnya, Tata bingung. Tata yang sedang menatap kunci mobil Gaby. Sayanganya, ia belum berani mengendarai mobilnya Gaby.
"Aku malas kalau sama Ghani." Ucap Tata. Karena, ia merasa tidak nyaman bila berhadapan dengan Ghani. Pasti, ada saja yang bikin perasaannya nggak enak.
"Huf, biarin aja mobil Gaby diparkiran."
"Sini, biar aku yang nyetirin mobilnya."
"Kakak bisa?"
"Bisa banget."
Tata dengan senyuman manisnya, ia memang menaruh harapan dengan senior ini. Tapi, kalau dijadikan pacar Tata juga malas. Soalnya, banyak peminatnya dari Vania, Cantika dan Yolanda.
"Hiii, ngeri." Batin Tata. Yang antara ingin berduaan di mobil Gaby, tapi takut kena ocehan para makhluk itu.
"Kakak, tolong anterin ke rumah ini. Disana ada namanya Kak Zoe. Oke. Byee"
Ia bingung dengan sikap Tata.
Tata balik lagi, "Thank you, Kakak."
"Iya." Dia jadi menatap Tata yang sudah tampak aneh.
"Hem, aku berasa jadi supir pengganti."
3 jam kemudian.
Di sebuah tempat, Abyaz telah menyusul suaminya.