ABYAZ

ABYAZ
Seminggu Kemudian



Setelah kejadian itu berlalu. Wajah yang muram dan menatap dirinya dari sebuah cermin.


Menyisir rambut yang sudah tampak pendek sebahu. Setelah sembuh dari sakitnya dan memulai kesehariannya. Ternyata sangat sulit untuk dirinya melupakan kejadian itu.


Teringat pagi itu, Gaby yang berdiri sambil menunduk, dan ia tiba-tiba dibekap beberapa pria tak dikenal. Membuat dirinya begitu takut, dan sampai sekarang ia masih takut berhadapan dengan pria. Bahkan, saat berhadapan dengan suaminya sendiri juga masih terasa aneh.


"Kamu mau sekolah?" Tanya Al, saat melihat istrinya yang sudah memakai seragam sekolah.


"Iya." Jawabnya singkat dan ia masih merapikan rambutnya. Tampak bando kecil warna biru muda. Riasan natural dan memakai pelembab bibir.


Al yang melihat, pagi ini Gaby sudah memulai aktifitasnya. Tidak lagi berdiam di kamar dengan pikirannya yang masih ketakutan dan sampai mengalami gangguan kecemasan.


Al mendekat, namun ia mengingat kata dokter. Harus sabar saat menghadapi istrinya. Butuh waktu untuk memulai membiasakan diri, agar Gaby merasa nyaman saat berhadapan dengan lawan jenisnya.


"Kamu di rumah saja. Nanti tugas sekolah aku bawakan pulang." Ucapnya dan Gaby menatapnya dari cermin.


Sekilas senyuman tipis itu tampak dari cermin. Al juga bisa melihat senyuman istrinya.


"Aku baik-baik saja. Mas Al tidak perlu khawatir." Balasnya dengan manis.


Al yang menatapnya teduh. "Gaby."


Gaby berdiri, ia mendekat perlahan menatap wajah tampan suaminya, berkata "Pak guru, sampai bertemu di sekolah."


"Iya muridku. Sampai bertemu di sekolah."


Senyuman manis dan ia pergi begitu saja. Al juga memaklumi tingkah laku Gaby saat ini. Nantinya, juga akan terbiasa kembali. Kuncinya hanya sabar dan terus menyemangati istrinya tercinta.


Gaby yang beranjak pergi meninggalkan kamarnya dan telah disambut seorang bodyguard perempuan.


Viral menugaskan bodyguard itu untuk menjaga Gaby. Viral juga tahu, kondisi Gaby yang belum memungkinkan untuk menerima bantuan lawan jenisnya. Apalagi sopir laki-laki, kepada suami dan saudaranya saja, Gaby tampak menghindar. Hanya Mama Britney yang bisa di terimanya, saat menemaninya selama berada di rumah.


"Silakan Nona." Ucap bodyguard cantik saat membuka pintu mobilnya.


Bodyguard cantik dengan gaya penampilan yang menawan. Rambutnya yang panjang, selalu diikat seperti ekor kuda. Sosok bodyguard ini, terkenal jago bela diri dan sangat profesional.


Panggil saja dia, Zoe. Meski nama aslinya, Julia Asmara. Namun, karena sikapnya yang memang keras dan tangguh, dia menyebut dirinya dengan Zoe.


"Terima kasih." Balasnya dan ia masuk ke mobil itu. Sang suami hanya menatap dari kejauhan.


Zoe juga salah satu bodyguard Viral. Ia yang tadinya bertugas menjaga markas, setelah beberapa hari lalu meminta ijin untuk berlibur. Malah, Viral menyuruh dirinya agar lekas kembali bekerja.


Meskipun, sama-sama dari bodyguard Mahatma Corporation. Setelah kejadian akhir-akhir ini, para bodyguard Mahatma juga tampak terpecah menjadi dua kubu. Dari kejadian ini, Viral semakin yakin untuk menempati kursi agung mendiang Yuda Mahatma.


"Kak Zoe. Selama di sekolah, Gaby tidak mau dikawal." Ucapnya dengan lembut dan menatap ke arah sopir cantiknya.


"Baik Nona." Balas Zoe dan ia begitu santai saat mengemudikan mobil itu.


Meskipun begitu, Al juga langsung berangkat dan motor gagahnya berada tidak jauh dari mobil itu.


Gaby tidak mempedulikan sekitar, entah apa yang ia pikirkan. Ia mengambil ponsel dari dalam tasnya dan melihat semua jadwal harian, pelajaran hari ini.


"Emh, kenapa jamnya Bu Betty diganti." Gumamnya, saat melihat chat grup kelasnya.


Gaby sebenarnya ingin sekali bertemu Bu Betty, hanya sekedar ingin berbagi cerita. Baginya, sosok Bu Betty sudah seperti teman.


Setibanya di sekolah, perasaan berubah canggung dan tidak nyaman. Seminggu sudah tidak masuk sekolah. Tapi, Gaby berusaha untuk kembali semangat.


"Selamat pagi, Pesonaku." Gumamnya saat menatap papan nama sekolahnya.


Tempat dimana terjalinnya sebuah hubungan dan ia mengingat akan pertama kalinya ke sekolah, perlahan tersenyum tipis.


"Nona, saya akan menunggu disini." Ucap Zoe, setelah Gaby keluar dari mobil.


"Kak Zoe pulang saja. Nanti kalau sudah waktunya pulang sekolah. Gaby akan hubungi Kak Zoe."


Zoe berkata "Maaf Nona. Saya harus bekerja. Bos Viral sudah menempatkan saya disini."


"Tapi ini sekolahan." Balasnya santai.


Gaby melihat ke sekitar. Beberapa murid lain juga tampak melihat ke arahnya.


Zoe menatapnya dan berkata "Nona Gaby tidak perlu cemas. Saya sudah mengurus perijinan saya selama mengawasi Nona disini."


"Ya sudah, terserah kamu saja. Gaby mau ke kelas dulu."


"Baik Nona."


Gaby merasa tidak nyaman bila harus selalu diikuti oleh bodyguard cantik ini.


Berjalan dengan semangat yang ada di pagi ini, masih tampak muram dan ada rasa gelisah.


Gaby yang telah berjalan menuju ruang kelasnya, mendengar ucapan beberapa murid.


"Jadi dia beneran tunangannya Pak Al."


"Masih SMA tapi udah tunangan sama gurunya."


"Iya ya, tapi Pak Al memang keren sih."


"Pastinya dia yang menempel duluan sama Pak Al."


"Bisa jadi begitu."


"Itu, tunangan Pak Al sudah masuk sekolah."


"Emang beneran gosip itu?"


"Bukan lagi gosip, kata teman kelasnya. Semua tugas sekolah yang bawain Pak Al, terus yang mengurus ijinnya juga Pak Al."


"Serius??"


"Iya, aku juga tanya sama Ghani."


Gaby bisa mendengar jelas obrolan itu. Yang biasanya cenderung cuek, berubah menjadi sosok sensitif.


"Ini semua gara-gara Pak Al." Batinnya dan merasa tidak senang akan hal itu.


Gaby berlari ke kelasnya, dan tidak lagi mencari perhatian dari orang sekitarnya. Yang awalnya selalu caper pada teman dengan segala tingkah gemasnya. Saat ini sudah tidak lagi begitu, malahan merasa risih dengan semua ucapan itu.


Kata-kata Darra saat itu telah menusuk hatinya, tersimpan dalam pikiran dan membuat dirinya begitu sensitif.


Dassh!


Setelah dari parkiran motor, Al yang telah berjalan malah bertabrakan dengan istrinya.


Al yang melihat wajah murung istri tercinta, ia bertanya "Gaby, kamu kenapa?"


"Pak Al tidak perlu memperhatikan Gaby." Jawabnya dengan jutek dan ia berjalan pergi begitu saja.


"Apa aku telah berbuat salah? Kenapa Gaby jadi judes begitu?" Batin Al yang bergeming dan masih menatap istrinya yang telah berjalan pergi.


Al yang mengendong tas raselnya, tampak ganteng dengan kemeja biru muda dan celana bahan warna hitam.


"Baik, aku tidak akan memperhatikan kamu selama kita di sekolah." Al yang berfikir saat melihat sekitarnya, ada beberapa murid yang juga menatap ke arahnya dan tampak menggosipkan dirinya dengan murid yang bernama Gaby.


Di sebuah toilet lantai dua, tampak genk kupu-kupu yang merasa kesal akan gosip yang berhembus kencang.


"Cantik, sudah jangan dipikirkan." Vika yang tampak berdiri di samping kirinya.


Cantika menatap cermin dan berkata pelan, dengan tangan meremas tisue. "Gaby, aku tidak akan membiarkan kamu menang."


Elsa yang tadinya menangis, tampak sudah cantik dengan riasan wajahnya, bergeming sendiri "Kulkasku sudah rusak, aku bisa cari yang lain."


Cantika menoleh ke wajah Elsa, berkata "Elsa. Pak Alku bukan barang yang bisa dicari."


Elsa berkata "Cantika, kamu juga harus berfikir. Pak Al bukan piala yang bisa diperebutkan saat kamu kompetisi."


Cantika semakin geram dan ia berlari, meninggalkan dua sahabatnya.


Vika menonyor kepala Elsa, berkata "Elsa, kamu ini."


Vika lantas pergi dan Elsa bingung, ia kembali menatap cermin "Memangnya, apa yang salah dengan perkataanku??"


Gaby yang telah tiba di kelasnya, teman kelasnya tampak menatap ke arahnya.


Degh!


Ada rasa tidak nyaman, saat beberapa wajah serius telah menatap ke arahnya.


"Kenapa mereka menatapku begitu?"


Gaby mencoba untuk mengendalikan perasaannya.


Gaby lantas berjalan ke bangku dan meletakan tasnya di atas meja. Si tomboy mendekat, sebuah flashdisk ia berikan kepada Gaby.


"Ini tugas Mr. Kevin. Kelompok kita sudah membuatnya, tugas kamu presentasi di depan. Oke." Ujarnya dengan tegas.


"Baik."


Si Tomboy melihat wajah Gaby yang tampak muram.


"Kamu masih sakit?" Tanyanya dengan santai.


"Aku sudah sehat." Jawabnya.


"Baguslah! Kamu harus presentasi sebaik mungkin."


Melihat ke sekitarnya dan merasa ada hal tidak nyaman. Ada yang tampak berbisik dan bergunjing tentang dirinya dengan guru olah raganya.


Gaby yang tampak berkaca-kaca dan ia merasa kesal. Ingin sekali berteman, dan memiliki sahabat yang bisa menerima dirinya. Tapi, sepertinya akan sia-sia.


Guru tampannya mendatangi Gaby di ruang kelas itu, dan Gaby yang melihatnya berdegup kencang.


"Semoga tidak menghampiri aku." Lirihnya dalam hati kecilnya.


Sayangnya, Alvaro tetap mendekat dan ia mengeluarkan kotak makan dari dalam tas ranselnya.


"Aku lupa. Mama sudah siapin ini buat kamu."


Jreng-jreeng!


"Mama??" Batin beberapa teman yang mendengar perkataan guru tampannya.