
Damar yang duduk di kursi pimpinan hanya tampak terdiam. Tangan kirinya yang ada di atas meja, hanya tampak mengetuk-ketukan jari telunjuknya.
Semua anggota dewan direksi dan pemilik saham sudah tampak berdebat. Ruangan itu yang tadinya sangat dingin, dan tidak ada perdebatan, perlahan saling memojokkan satu sama lainnya.
Stella dan Om Seung Ho saling menatap tajam. Mereka berdua di kubu yang berbeda.
Tante Anggie yang melewati mereka berdua, hanya melihat kedua orang itu saling memancarkan kilat. Tapi dia tidak peduli, lalu dia masuk ke ruang rapat direksi.
Seung Ho putra kedua, dia satu-satunya anak laki-laki Lee Sung Hoon. Dia yang waktu itu bilang semua orang sama saja yang penting bisa hidup dan makan.
"Selamat Stella."
"Om Seung Ho, ini belum apa-apa."
Guru Mao berada di ruangan menemani Damar.
Seung Ho sangat geram, setelah dirinya menjatuhkan Guru Mao dan ternyata Guru Mao kembali lagi. Tampak wajah yang tidak senang, saat tadi dia melihat Guru Mao yang berjalan bersama Damar.
"Om, aku tahu. Siapa yang memimpin proyek utara."
"Emmh, kemana dana triliuan itu sekarang?"
Seung Ho tampak menatap tajam, tangan kirinya sudah mengepal. Dialah yang selalu menurut perkataan Ayahnya. Tapi sesungguhnya, dia adalah orang yang ada dibalik data gelap perusahaan.
Lee Sung Hoon tahu, tapi dia hanya diam dan menutupi kesalahan putranya.
Sung Ho semakin mendekat dan berkata "Stella, sekarang kamu sudah dewasa. Apa kamu ingin bermalam denganku? Agar kamu tahu siapa aku."
"Hems, boleh juga."
"Pasti aku datang." Ucap Stella dan tampak merapikan dasi Seung Ho, lalu Stella menatapnya lagi.
Walaupun ada beberapa pengawal. Tapi obrolan mereka sangat pelan, tidak ada yang mendengarkan pembicaraan mereka berdua.
"Sabtu malam, di The Queen Hotel." Seung Ho dengan senyuman memikat.
"Baiklah, aku juga sudah tidak sabar." Ucap Stella dan dia pergi dengan aura kegelapan yang akan menghancurkan Seung Ho begitu kejam.
Seung Ho pergi dengan senyuman.
Di ruang rapat direksi, tampak tegang dan Damar mulai berdiri.
"Hentikan!" Suara itu tidak kencang, tapi membuat para petinggi itu terdiam.
"Kalian pikir dengan ribut akan memecahkan masalah."
"Kalian tidak perlu cemas. Aku sendiri yang akan menjalani pemeriksaan."
"Tuan Damar." Guru Mao yang berdiri disebelahnya.
Damar menoleh ke arah Guru Mao dan berbisik "Kamu yang sudah membawa aku kesini. Aku sendiri yang akan mengorbankan diriku. Sampai kita memiliki bukti yang jelas."
"Tim penyidik bisa membawa kamu ke penjara. Kamu tidak takut?" Anggie yang duduk tidak jauh dari Damar.
"Kalau aku tidak bersalah. Kenapa aku harus takut."
Guru Mao tersenyum. Walaupun Damar selalu mengelak untuk kembali, dan tidak ingin berada di Ji-sung. Akhirnya dia melihat sang pemimpin baru, yang akan membuat perubahan di Ji-sung.
Sepuluh menit, setelah memutuskan untuk dirinya pergi ke pemeriksaan tim penyidik.
"Rapat selesai, kalian boleh pergi."
Damar yang duduk dengan santai, dan tidak peduli apa bukti bisa menguatkan dirinya atau akan menjatuhkan dirinya. Dia tidak peduli sama sekali.
"Tuan Damar." Ucap Guru Mao, lalu membisikan sesuatu.
Tante Anggie masih ada di ruangan itu, bersama sekretarisnya.
Guru Moa keluar saat Anggie mendekati Damar yang masih duduk dan tampak mengirim pesan untuk istrinya.
[Sayang, tunggu 3 hari. Aku akan segera pulang. 😘]
Mengingat pemeriksaan yang akan menahan dirinya, untuk beberapa waktu.
"Direktur Eun Ho."
"Oopps,...Maaf aku belum terbiasa dengan nama barumu."
Dalam struktur Ji-sung, Damar memang Direktur utama. Di bawah Predir dan ketua dewan direksi.
Damar yang saat ini mengemban tugasnya dan tidak akan tinggal diam, kalau ada yang akan menjatuhkan namanya.
"Terserah Tante Anggie."
"Oops, maaf. Maksud aku Direktur Anggie."
Anggie adalah Direktur personalia dan sangat menawan. Di usianya yang baru 36 tahun, dia memang sangat menarik dan tidak kalah cantik dengan sang Kakak kembarnya.
Direktur keuangan adalah Seung Ho dan dia sudah bersama tim penyidik. Berangkat ke tempat pemeriksaan, untuk menjalani interogasi.
Damar mulai meletakan ponselnya dan menatap Anggie dengan santai, bahkan senyuman Damar begitu memikat.
"Ada yang pernah bilang. Kalau orang bodoh. Bisa berdiri disini, dan itu berkat keberaniannya."
Anggie memegang bahu kanannya dan berkata "Jangan terlalu percaya diri. Kalian berdua masih bocah."
"Bocah lebih nekat dari orang dewasa." Damar yang mendongak ke wajahnya dan dia pergi begitu saja.
Anggie keluar dari ruang rapat dan sekretarisnya mulai mendekat.
Guru Mao yang berdiri di dekat pintu ruangan itu, cukup diam dan hanya tersenyum, saat Anggie menatapnya tajam.
"Semua sangat menyebalkan." Desis Anggie yang berjalan bersama para asistennya.
Guru Mao menundukkan kepala dan tersenyum, saat kepala tim penyidik menjemput Damar, yang masih asyik bermain game di ponselnya.
"Direktur Damar, sudah waktunya saya membawa anda." Dia menatap Damar dengan senyuman, saat melihat Damar yang masih fokus pada ponselnya.
"Bolehkah aku membawa ponsel?" Damar masih duduk dan hanya melihat ke ponselnya.
"Maaf Direktur Damar. Tidak boleh membawa alat apapun dalam pemeriksaan nanti."
"Baiklah, padahal aku hanya bermain game."
Damar mulai berdiri dan tersenyum "Apa disana aku boleh bermain?"
"Silakan Direktur Damar ikut saya." Kepala tim penyidik yang tampan.
Damar yang merasa tidak senang dan menggeleng "Padahal aku hanya ingin bermain game. Kenapa tidak bisa."
Kepala tim penyidik tampak tersenyum saja, mendengar rengekan Damar yang cukup menggemaskan.
Damar yang sudah berdiri dengan senyuman manis, lalu dia keluar dan Guru Mao yang ada di dekat pintu hanya bisa diam.
"Guru Mao, titip ponselku."
"Baik Tuan Damar."
Damar berjalan dengan gayanya, yang apa adanya dan para tim penyidik mendekatinya.
Kepala tim menggelengkan kepalanya, agar mereka menjauh.
"Apa yang akan terjadi?"
"Hanya bermain, seperti keinginan Direktur."
"Kalian sama saja."
"Direktur, apa anda ingin berjalan sendiri? Atau bersama saya?"
"Aku sudah menjadi tahanan kalian, aku akan mengingikuti kalian saja."
"Alangkah baiknya memang begitu."
Mereka berdua masuk ke dalam lift dan hanya mereka berdua. Tidak ada orang lain dalam lift itu.
Damar yang memasukan kedua tangan pada saku celana, dan tidak merasa cemas, dengan apa yang akan terjadi nanti.
"Silakan Direktur." Ucapnya dengan tersenyum saat mengajak Damar ke atap gedung.
"Kalian mau membawa aku kemana? Kenapa kesini?"
"Anda bilang, ingin bermain. Saya akan menyiapkan tempat untuk ada bermain."
"Sepertinya akan menyenangkan."
"Silakan."
Kepala tim penyidik, sangat keterlaluan. Bahkan dia lebih keterlaluan dari Stella.
Tim penyidik menjemput Damar dengan Helikopter mereka.
Kepala tim penyidik ini benar-banar tahu apa yang sudah terjadi pada Ji-sung Grup.
"Direktur Damar, tidak semua orang bisa saya jemput dengan cara ini."
"Kenapa begitu?"
"Anda tidak perlu tahu, silakan naik."
Damar yang sangat enggan dengan cara ini. Tapi dia tidak berdaya. Sebagai tahanan dia harus menurut.
"Mak lampir, awas saja kalau bertemu." Batin Damar saat beranjak pergi dari kantor utama Ji-sung.