ABYAZ

ABYAZ
Abyaz Menerima Lamaran Damar



Abyaz merasa bingung, dia tampak duduk bersila di atas sofa dan diam tanpa kata. Matanya hanya menatap pada kantong seserahan.


Sudah jam 10 malam, kedua orang tua dan adiknya juga hanya menatap Abyaz yang dari tadi hanya diam saja.


"Wah, semua barang mewah. Lihat yang ini, isinya sepatu sport wanita. Brand terkenal."


"Pasti harga sepatunya hampir sama harga motorku." Ucap Alvaro, saat memegang sepatu sport wanita warna putih.


Pras yang duduk di sofa lain, hanya memandangi anak gadisnya dan Britney yang duduk di sebelah sang suami juga melakukan hal yang sama.



"Apa Mama dulu juga dapat seperti ini dari Papa?" Tanya Alvaro.


Alvaro berusaha untuk mencairkan suasana di ruang tamu itu.


"Emh, Mama tidak ada hal seperti ini." Jawab Britney.


"Bagaimana Papa bisa kasih Mama kamu seserahan. Papa nikahin Mama kamu juga dadakan." Jawab Pras


"Terus??" Tanya Alvaro lagi.


"Cukup seperangkat alat sholat. Cincin aja beberapa hari baru bisa beli." Jawab Pras dengan tangannya bersandar di atas sofa.


"Kasian Mama." Alvaro tampak menggeleng.


Britney berkata "Benar, nasib Mama kamu tidak semewah kakak kamu."


"Sayang, apa kamu menyesal?"


"Tidak Mas. Kalau aku menyesal. Pasti tidak akan ada anak-anak kita."


"Aku terharu." Pras lalu memegang tangan istrinya.


Britney juga mulai berkata "Al, tapi Mama sering diajak shopping sama Papa kamu."


"Dulu Mama suka parfum, aksesoris, jadi Papa juga romantis. Kadang Mama nggak minta, Papa kamu sudah kasih kejutan di atas meja kantor. Pokoknya, Papa kamu sering kasih hadiah-hadiah."


"Tapi juga tidak beginian, kalau beli tas branded, bisa-bisa kita nggak ada uang buat kebutuhan harian."


"Mama mau tas branded?"


"Mau Pa. Tapi Mama udah nggak ngantor lagi."


"Ya udah, besok kita ke toko emas aja."


"Nggak perlu, kan udah ada Mas Pras."


Alvaro, "Kok jadi Mama sama Papa yang romantis."


"Harus dong Al. Kamu nanti juga harus begini." Ucap Pras dengan tengil.


Alvaro hanya tersenyum mendengarkan perkataan Papanya. Abyaz masih entah apa yang dia pikirkan.


"Al... Makanya nanti kamu harus kerja dulu. Biar bisa beliin istri kamu kayak beginian. Jangan seperti Papa." Ujar Pras dan Britney tersenyum manis memegang pipi suaminya.


"Al, mau kerja dulu, baru nanti menikah. Itupun, Al mau cari yang seperti Mama. Yang terima Papa apa adanya."


"Tapi kalau pria gentlemen yang seperti Damar Setya Ardana. Gimana Ma, siapa yang lebih keren? Papa apa pemuda manisnya Mama??" Tanya Pras dengan tengil.


"Kalau jaman dulu. Paling keren tetap Papa. Kalau jaman sekarang sudah serba canggih. Ya...lebih keren pemuda manisnya Mama."


"Iya, kalau dulu Papa udah kenal Mama duluan, udah lumayan kenal. Kalau tadi itu hitungan jam. Bayangin aja Ma, kenal sebentar datang melamar."


"Kenapa harus dibayangin sih Pa. Ini sudah terbukti." Sela Alvaro.


Britney mengelus rambut Alvaro dan berkata "Tampannya Mama juga sudah dewasa."


"Tapi Al nggak mau pacaran. Nunggu kalau udah 30 tahun. Al baru nikah."


"Jangan ketuaan. Nanti Papa keburu senja." Ucap Pras.


"Kalau Papa senja, gimana Mama?" Britney dengan tersenyum.


Pras merangkul istrinya dan Britney bersandar di dada sang suami.


"Ya udah di kurangi. Jadi 27, sama kayak Mama." Jawab Alvaro.


Suasana kembali diam, lalu Abyaz mulai berkata "Kalian semua nggak usah tanya macam-macam. Nggak usah bilang ini itu."


"Abyaz lapar. Mau makan."


"Iya, kita semua belum makan malam."


"Benar Ma,.. Tadi Mama bilangnya kita mau makan di hotel."


Pras berkata "Ya udah kita makan malam di luar. Bukan di hotel, tapi di depan hotel. Gudegnya pasti udah buka."


"Oke... Abyaz nanti mau pesan ceker mercon." Ucapnya dan yang lain semua tertawa.


Akhirnya mereka pergi ke sebuah warung tenda yang sangat terkenal. Kuliner malam di kota Surakarta memang makyus, cocok untuk Abyaz yang sekarang tidak menjaga berat badannya. Lebih bebas dan merasa senang, dengan dirinya yang sekarang.


Flashback On.


Ini tentang lamaran tadi.


"Assalamu'alaikum..." Suara seorang laki-laki yang baru masuk, kerena pintu tampak terbuka.


"Waalaikumsalam,..." Secara kompak.


Alvaro sedang duduk di teras, setelah Tante Erma membicarakan tentang lamaran Damar untuk Abyaz.


Damar yang masih dilantai atas tidak tahu kalau Omnya sudah datang.


"Saya, Yoga Baswara. Suaminya Erma."


"Saya, Prasetya. Papanya Abyaz."


Pras dan Britney cukup berkenalan.


"Mari silakan duduk." Ucap Pras.


Yoga Baswara sang Om, yang datang membawa semua belanjaan dibantu sopirnya.


Omnya membawakan semua tas-tas kertas dengan logo brand terkenal dan satu kotak kaca berisi perhiasan.


Kantong itu berisi sepatu sport, high heels, tas ransel, ras selempang, jam tangan, parfum, kosmetik, dan pakaian.



Pras dan Britney yang melihat itu jadi bingung. Padahal belum tahu apa yang anaknya dan pemuda itu obrolkan, tapi sang Tante sudah melamar dan Omnya yang datang membawa seperangkat seserahan.


Yang dilantai atas, Damar yang berjalan menuruni tangga dan Abyaz mengerti apa yang Damar katakan.


"Damar..." Panggilnya dan Abyaz mulai memegang tangan kiri Damar.


Damar menoleh, lalu bertanya "Ada apa?"


"Iya, aku mau."


"Hems.. " Damar dengan senyuman manisnya.


"Tapi kita teman."


"Teman?"


Damar mengerti akan perasaan Abyaz, dan mulai menggandeng tangan kanan Abyaz.


Mereka tampak bergandengan, Pras yang sedang mengobrol tampak terpana.


Britney yang hendak ke dapur, untuk membuat minum lagi, hanya tersenyum manis melihat moment special itu.


"Abyaz kenalin. Ini Om Yogi. Suaminya Tante Erma."


Abyaz cukup berkenalan, dan Omnya tampak tersenyum.


"Abyaz, duduk sini dekat Tante."


"Iya Tante."


Yang tadinya memanggil Kak Erma. Abyaz jadi merasa canggung. Ternyata harus memanggilnya Tante. Terasa sangat aneh.


"Damar, minum." Ucap Abyaz, yang mengambilkan minuman di atas meja.


"Terima kasih." Balas Damar dan mulai menerima cangkir itu.


Abyaz cukup resah, tapi apa boleh buat. Demi keluarganya, dan saat ini dialah orang mau menerima keadaannya.


Bahkan tadi Abyaz sudah cerita. Kalau pernah mendapat perawatan dokter psikiater. Pasti akan sulit bagi pria lain yang mau menerimanya.


Riwayat sakitnya itu nyata adanya. Apalagi, kalau sang pria tidak mau menerima Abyaz yang masih mencintai masa lalunya.


Damar Setya Ardana, walaupun dalam keadaan memanfaatkannya, tapi dia cukup menerima apa yang ada dalam diri Abyaz saat ini.


"Sepertinya, dia cukup baik."


Damar setelah meletakan cangkir dan kembali memegang tangan Abyaz.


"Om Prasetya. Sebelumnya saya mohon maaf. Atas sikap dan kelancangan saya."


"Saya tidak bermaksud membuat bingung Om Prasetya."


"Saya serius. Akan menikahi Abyaz secepatnya."


"Saya harap, Om Prasetya merestui dan bersedia menikahkan kami."


Pras yang duduk dan semua yang ada disitu menatap ke arah Abyaz.


Abyaz masih menunduk dan entah apa yang dia rasakan.


Pras sangat mengerti apa yang Abyaz rasakan.


"Nak Damar, sepertinya saya harus bicara tentang Abyaz."


"Om Prasetya, kalau soal Abyaz saya sudah tahu. Saya tidak keberatan soal itu. Asalkan, Abyaz mau menerima kelebihan dan kekurangan saya."


Pras tersenyum dan Britney datang ke ruangan itu. Alvaro yang tadinya di luar, juga ingin tahu tentang kakaknya.


"Kalau soal ini, hanya Abyaz yang bisa menjawabnya. Om dan Tante, tidak bisa memberi jawaban. Kita sebagai orang tua, hanya bisa merestui dan memberi do'a untuk kalian berdua." Ucap Pras yang merasa sendu.


Pras kembali mengingat hal lalu, dan Britney mulai memegang tangan suaminya.


"Abyaz apa kamu menerima Damar Setya Ardana untuk menjadi imam sekaligus suami kamu??"


Abyaz masih menunduk dan Damar memegang tangannya.


"Abyaz, kamu mau menerima lamaran ini??" Tanya Pras sekali lagi dengan jelas.


"Ya Allah, semoga aku tidak salah mengambil keputusan ini."


"Hamba mohon padaMu."


"Bismillahirrahmanirrahim."


"Papa, Mama. Om Yogi, Tante Erma. Abyaz menerima lamaran ini. Abyaz bersedia menjadi istri Damar Setya Ardana."


Mendengar hal itu, Damar langsung mengucap syukur dengan ngadahkan kedua tangannya, lalu membasuhkan ke wajah.


Pras, Britney dan Alvaro juga bersyukur. Tapi Alvaro tidak ingin kejadian lalu terulang kembali. Dalam hatinya, dia berdo'a untuk pernikahan sang Kakak.


Yogi dan Erma sebagai wali dari Damar, mereka juga menceritakan tentang Damar.


Pras dan Britney mengerti hal itu. Mereka juga hanya ingin melihat putrinya bahagia.


Pras juga bisa melihat kesungguhan dari Damar Setya Ardana. Britney lalu memeluk putrinya dengan erat.


"Selamat sayang. Mama hanya bisa mendo'akan untuk kebahagiaan kamu."


Abyaz hanya diam dan tampak matanya yang berair. Tapi Abyaz tetap tersenyum manis dihadapan keluarga calon suaminya.


Flashback Off.


Keluarga Pras yang ada di duduk di atas tikar. Warung gudeg legend yang terkenal. Keluarga kecil Pras tampak bahagia.


"Mama jadi kangen sama cucu Mama."


"Iya, sudah malam."


"Kenapa nggak disuruh pulang aja Ma? Lagian Kak Abyaz mau nikah."


"Al benar, besok Mama mau telfon Kakak kamu. Biar langsung berangkat."


Abyaz hanya menikmati makanannya. Tidak menghiraukan obrolan Mama, Papa dan Adiknya.


"Aku mau ceker mercon lagi."


Pras kembali memesankan makanan kesukaan Abyaz.


Abyaz dan Alvaro seperti Papanya yang suka pedas. Hanya Alishba yang tidak suka pedas seperti Mamanya.


"Sayang, kamu mau nambah opornya?"


"Nggak Ma. Al, udah kenyang." Jawab Al dan tampak memainkan ponselnya.


Alvaro ternyata lebih dulu mengabarkan tentang sang Kakak. Alishba juga sangat bahagia mendengar hal itu.


Alvaro usianya 21, tapi dia pemuda tampan yang sangat polos.


Alvaro yang mengendarai mobil, dan mereka kembali ke rumah. Setelah tiba di rumah. Alvaro menghadang sang Kakak yang hendak masuk kamar.


"Kak Abyaz,"


"Kenapa?"


"Nggak, aku tanya aja."


"Apaan?"


"Kenapa bisa nerima dia?"


"Al, suatu saat nanti kamu juga akan mengerti."


Abyaz masih enggan cerita dan Alvaro sangat tahu gimana hati sang Kakak.


Abyaz masuk ke kamarnya dan Alvaro masih menatap pintu kamar yang mulai tertutup itu.


"Semoga Kakak bahagia."