
Pagi dengan rasa bahagia menyelimuti keduanya. Tampak saling menggoda dengan manisnya.
Walaupun hanya saling menatap dan berbincang, tapi keduanya semakin dekat dengan segala perasaan yang ada.
"Kamu Nyonya Damar."
"Aku tahu."
"Kamu masih tidak mau mendukung aku?"
"Bukan begitu maksud aku." Jawab Abyaz yang menunduk dan Damar memegang dagunya.
"Tatap aku."
"Emh,.."
"Aku hanya ingin melihat senyumanmu."
Perlahan Abyaz tampak tersenyum tipis.
"Aku sudah cerita semuanya, aku hanya ingin kamu mendukung aku."
"Akan aku coba." Balasnya.
Damar yang sudah menceritakan semua tentang dirinya dan Ji-sung.
Saat Damar berada dalam penyidikan dan saat dia harus bangkit untuk semua orang yang mempercayakan dirinya. Bukan hanya satu dua orang yang menjadi tanggung jawab dia sebagai pemilik JS, tapi juga menanggung ribuan karyawan yang sudah bekerja keras untuk Ji-sung.
Beberapa hari, pabrik elektronik juga sempat terhenti karena masalah ini. Berapa karyawan juga takut akan ada pengurangan karyawan besar-besar. Setelah tahu, sang pemilik perusahaan itu telah ditahan polisi.
Kala itu Stella yang datang, dan mengatakan. Bukan hanya pemilik saham yang akan merasakan imbasnya, tapi seluruh pekerja dari karyawan pabrik, tambang, pekerja proyek dan beberapa staff kantor cabang.
Mereka akan terkena dampak dari kesalahan Presdir Lee Sung Hoon. Bahkan tidak hanya pabrik elektronik saja. Ada tiga pabrik besar yang ada di luar kota, para pekerja juga melakukan mogok kerja selama beberapa hari terakhir ini.
Nilai saham juga sempat merosot, tapi kemarin sudah tampak membaik dan semua karyawan sudah bekerja kembali.
"Aku bangga sama kamu."
"Makanya itu, aku sangat membutuhkan semangat dari kamu." Ucapnya dan bibir Damar begitu manis. Abyaz juga sangat gemas dibuatnya.
"Iya, aku akan berusaha." Tangan jahil Abyaz juga mencubit bibir manis itu.
Tidak terasa obrolan mereka begitu panjang. Damar masih harus bekerja keras, dan harus menangani semua masalah yang ada.
Aset Lee Sung Hoon yang diluar negeri juga sudah terlacak. Beberapa sudah pindah atas nama Damar. Dan dari situ, Damar menjual beberapa asetnya, untuk mempertahankan seluruh pekerjanya. Dia tidak ingin ada pengurangan karyawan.
"Mandilah, akan aku siapkan pakaian kamu."
Mereka berdua keluar dari kamar Abyaz, dan saling menggenggam tangan.
"Tapi nanti sore pulang cepat ya."
"Kenapa?"
"Ingin saja."
"Aku akan secepatnya pulang."
Kedua orang yang manis dan Abyaz juga sangat gemas dengan teman hidupnya yang manis ini.
Moment manis tidak harus bermadu kasih di dalam kamar, tapi dia saat suami hendak bekerja, itu juga adalah moment yang sangat manis untuk Abyaz.
Sudah jam 7 pagi, Abyaz yang sudah tampil cantik. Tampak merapikan kerah kemeja sang suami dan sangat manis. Lalu dia mengusap jae yang dikenakan suaminya.
"Jangan lupa."
"Iya, aku akan pulang sore."
"Aku juga bisa cemburu."
"Kamu cemburu?"
"Iya. Setiap hari asistenmu akan menatapmu lebih lama."
"Katanya senang, sudah merasa bebas." Damar yang tampak menggodanya dengan manis senyuman dari bibirnya itu, bahkan sangat terlihat sorot mata Damar yang unyu dan menggemaskan.
"Sudah, jangan menggoda aku."
"Aku tidak menggoda."
Kedua orang ini, serasa dunia milik berdua, para pengawal juga sudah tampak bersiap. Tapi mereka berdua, tidak menghiraukannya.
"Ya sudah, pergilah."
"Iya, aku berangkat."
Damar mengecup keningnya, dan Abyaz merasa senang. Tapi, perlahan Damar juga mengecup bibir sensual istrinya dan Abyaz cukup terkejut.
"Ada orang." Ucapnya dengan pelan dan menepuk dada Damar.
Damar menarik pinggang istrinya dan berbisik "Aku tidak sabar untuk segera pulang."
"Jangan nakal."
"Persiapkan untuk unboxing nanti malam."
Mendengar itu, Abyaz jadi merinding. Ada hawa yang tidak biasa menyelimuti dirinya. Perlahan, Damar telah melepas tangannya dan mengedipkan mata kanannya.
Dengan senyuman manis penuh pesona, Damar masih menggoda sang istri, dan dia mulai menaiki mobil sedan BMW yang berplat B.
"Awas aja kalau di kantor juga genit."
"Aku akan mendatangimu."
"Aku juga bisa jadi anggota audit khusus."
"Hufft.., Menyebalkan."
Tapi Abyaz juga merasa senang, dan kembali ke dalam rumah dengan tersenyum manis.
"Nyonya sangat senang."
"Nyonya senang karena Tuan sudah pulang." Sahut pelayan satunya.
"Emh, kalian. Jangan menggodaku." Abyaz yang gemas dan menutup wajahnya.
"Nyonya pengantin baru. Kita akan menyiapkan perlengkapan Nyonya."
"Apa maksud perlengkapan?"
Dua pelayan yang merapikan kamar Abyaz dan menata baju-baju Abyaz. Mereka jadi mengobrol bertiga.
"Nyonya, Tuan sangat tampan. Jangan sampai nanti di kantor digenitin karyawan wanita."
"Lalu aku harus gimana? Kalau di rumah Solo, aku bisa menemani dia, tapi disini aku tidak bisa datang setiap hari dan stay di ruangan dia. Lagian, aku juga tidak memikirkan hal itu."
"Nyonya, kita akan menyiapkan gaun malam yang sexy."
"Betul Nyonya, harus sexy."
"Kalian, aku tidak suka memakai gaun terbuka."
"Kita berdua, nanti akan menyiapkan spa khusus untuk Nyonya, saya akan melulur Nyonya."
Abyaz semakin bingung, dia mulai merinding dan memeluk dirinya sendiri, mengusap-usap kedua lengannya.
"Kalian bikin aku geli."
"Nyonya, ini demi Tuan."
Kedua pelayan itu mengajak Abyaz duduk di tempat tidur, dan mereka berdua menatap Abyaz dengan manis.
"Nyonya, buat malam yang hareudang."
"Apa maksud kamu??!"
"Benar, malam yang panas."
"Tidak."
Abyaz yang tampak menggeleng dan wajahnya cemberut.
"Nyonya, kita berdua sudah pangalaman."
"Aku tidak mau mendengarnya."
"Benar sekali. Nanti malam, Tuan pasti akan merasa puas."
"Hentikan!!"
"Nyonya, kita akan dukung Nyonya."
"Kalian keluar sana."
"Nyonya, Tuan pasti senang."
"Uuuuhh.... Aku tidak mau dengar."
Akhirnya Abyaz yang keluar dari kamar itu, kedua pelayan yang berusia 30 tahun itu, sangat menggoda Abyaz.
Mereka berdua menang sudah berkeluarga, bahkan yang satunya sudah memiliki anak.
Abyaz tersenyum tengil dan menatap cermin yang dia lewati. Masih berada di lantai dua dan mulai melihat lekuk tubuhnya sendiri.
"Sexy?"
"Hemms, apa yang mereka bicarakan tentang aku." Tapi Abyaz tampak cute dan senyum-senyum malu, tapi sangat menggemaskan. Sayangnya, Damar tidak melihatnya.
Waktu berjalan begitu cepatnya dan tidak terasa sore telah tiba.
Abyaz yang tampak dilulur oleh sang pelayan manisnya dan sudah disiapkan air dalam bath up. Bahkan tidak hanya perfume mawar, tampak kelopak mawar putih, pink dan merah mengambang di atas air itu. Terlihat sangat romantis.
"Nyonya silakan."
Pelayan itu pergi, Abyaz yang sangat mempesona dengan kemben putih dan perlahan melepas kembennya, masuk ke dalam bath up, dengan lembut dia mengusap lengan dan lehernya.
Menjatuhkan air dari telapak tangannya, senyuman tipis tapi penuh makna untuk teman hidupnya.
Akankah malam ini adalah malam pertama bagi Abyaz dan Damar.
"Kenapa aku harus menurut sama mereka?"
"Tapi ini sangat romantis, aku suka."
Abyaz yang semasa remajanya, mempunyai kretiria cowok favorite dalam benaknya, pria kekar dan berwajah garang.
Tapi, saat jatuh cinta pada pandangan pertama ternyata pria kalem dan yang sekarang teman hidup untuk seumur hidupnya, malah pria yang sangat manis. Bahkan, wajahnya cute dan tidak seperti pria garang.
"Emh, Damar cute."
"Aku tidak suka nonton drakor. Tapi, kenapa aku dapat suami keturunan Korea."
"Oppa?? Oppa?"
"Rasanya sangat tidak enak memanggil dia begitu."
"Mas?? Aku tidak suka. Mas, bagiku cuma Mas Damar."
"Saranghae Oppa."
"Oppa..., Jagiya... Yeobo!"
"Uuhh... Susah."
Abyaz mulai tersenyum dan berkata "Sayang,... DamDam..."
"Emh, DamDam sayang."
"Kenapa jadi seperti panggil meoew."
Abyaz tidak henti menggerutu, dan tidak lama dia sudah keluar dari kamar mandinya.
Tampak cantik dengan dress warna putih.
"Nyonya sangat cantik."
"Pasti Tuan akan menyukainya."
Sudah sangat bersemangat, dan dia amat menunggu kedatangan sang suami.
"Baru jam 5. Paling nanti jam 7 dia akan pulang." Gumamnya.
Berjalan di halaman depan, tampak dia menanti sang suami.
Sudah terlihat kecantikan senja sore, yang hanya sesaat itu.
"Nyonya, ada telfon untuk Nyonya."
"Dari siapa?"
"Tuan."