
Di siang itu, kedua mata tampan itu terfokuskan pada sosok gadis, yang telah berdiri di tempat yang biasa mereka tuju.
Dia yang mengenakan seragam sekolah dan tampak rambut di kuncir dua. Dari ujung atas sampai ke bawah, sama persisnya. Bahkan, paras tubuh itu, sama sekali tidak jauh berbeda.
Tatanan rambut dan semua aksesoris yang melekat pada tubuh itu. Tas, sepatu, serta kaos kaki itu.
"Arjuna."
Ia juga tampak melakukan hal yang sama. Melambaikan tangan kirinya dan senyuman itu juga begitu mirip.
Ia mendekat dan Arjuna masih saja mematung di tempatnya berdiri.
Masih dengan senyuman itu, dan Arjuna semakin rapuh saat melihatnya.
"Arjuna." Ia kembali memanggil.
"Kamu." Baru kali ini, Arjuna berkata dengan pandangan serius dan nada suaranya begitu tegas.
Dia, yang menatap Arjuna, berkata "Aku, Cinta."
Arjuna menyunggingkan senyuman, tangan kirinya yang berkacak pinggang dan tangan kanannya menunjuk ke arah dia berdiri.
"Kamu, bilang. Kamu Cinta."
Arjuna yang mendekat, dan ia tidak bisa mencerca apa yang telah terjadi. Meski kemarin, orang rumahnya telah bercerita tentang masalah Cinta. Tapi, ini sulit dipercaya.
Saat ini, seorang gadis asing. Sudah tampak berdiri dihadapannya, dia mengenalkan dirinya dengan nama Cinta. Bahkan, semua yang ia kenakan saat ini, semua itu milik Cinta Damayaz. Arjuna sangat mengenali barang-barang milik Cinta.
Seisi kamar dan di ruang ganti Cinta. Arjuna sangat mengenalnya, dan ia sering kali menggoda Cinta. Saat ia hendak membuka lemari bagian dalam. Sampai-sampai, Cinta harus menggigit tangan nakalnya itu. Ya kali, mau lihat bra dan cancut pelangi ala Cinta.
Yang selalu berwarna warni, dari dalam sampai luar, bisa tertebak oleh Arjuna. Saat memakai baju pink putih, bagian dalamnya juga warna yang sama. Arjuna sering kali mengejeknya dan Cinta tidak peduli akan hal itu. Palingan si Cinta, hanya mengadu sama Oma dan Opa, kalau Arjuna sudah nakal.
"Gila." Arjuna yang menatapnya dan ia juga mendengar ucapan Arjuna.
"Aku memang Cinta. Aku Kakak sepupumu."
"Sstth, meski mereka semua mengakui kamu sebagai Cinta. Tapi, tidak mau mengganggapmu sebagai Cinta."
"Arjuna Madaharsa. Mungkin, hari ini kamu bisa berkata begitu sama aku. Tapi, nanti. Kita tidak ada yang tahu."
"Terserah kamu." Suara itu menekan tajam, baru kali ini Arjuna bisa marah saat meladeni gadis. Padahal, biasanya dia suka bermain-main sayang-sayangan.
Arjuna lantas membalikan badannya dan melangkah pergi.
"Maaf soal yang kemarin, aku tidak mengenali sepupu tampanku."
"Persetan dengan omong kosongmu."
Arjuna tetap pergi dan ia tampak senang, "Emh, ternyata pertemuan ini sangat menyenangkan."
Dia yang telah membaca buku harian Cinta. Bahkan, setelah sidang kasus dirinya dengan Cinta. Ia telah memiliki semua yang Cinta miliki.
"Aku tidak butuh uang-uang ini. Tapi, selalu ada uang di dalam tasnya." Gumamnya.
Dia, yang bernama Zolla Armandea, adalah putri kandung Presdir Damar dan Madam Abyaz.
Sosok gadis yang kemarin bertemu Arjuna di kamar Cinta. Setelah pertemuan kemarin, membuatnya senang. Ada hal, yang harus dia mainkan. Layaknya, kedua saudara bertemu.
Tampak tersenyum nakal, dan ia sangat menyukai permainan ini. Setidaknya, ia merasa diterima oleh sang Arjuna.
"Ternyata, aku mempunyai adik sepupu, dan dia Aktor terkenal."
Masih menatap punggung Arjuna dan ia perlahan pergi meninggalkan SMA itu.
SMA Bintang Utama, tempat sekolah Arjuna dan Cinta.
Arjuna yang kembali ke mobil, dan ia sangat tidak senang. Sang manager, telah menunggu Arjuna, ia tampak gemas.
"Arjuna, kamu harusnya bilang. Kalau kamu akan berkencan." Jari-jarinya masih fokus pada ponselnya.
"Aku tidak berkencan."
"Tapi, tadi ada yang memotret kamu. Ini, kalian sudah masuk berita di kabar idola."
"Biarkan saja."
"Kamu serius?"
"Terserah apa yang mereka beritakan."
"Kalau dia memang kekasihmu, aku akan menutup kabar beritamu."
"Terserah kamu saja. Dia memang tidak penting buatku."
"Apa maksud kamu?"
"Tutup saja. Bilang sama pihak idola, kalau dia tadi hanya teman lama. Itu sudah sering terjadi."
"Oke."
Arjuna yang telah memikirkan perasaan Cinta. Kalau sampai, nantinya Zolla mengatakan pada media, kalau dia sepupu Arjuna yang bernama Cinta. Itu akan membuat perasaan Cinta terluka. Bahkan, sampai saat ini. Arjuna belum menemukan keberadaan Cinta.
"Arjuna, ini kesalahan kamu."
"Apa lagi?"
"Kekasihmu, sudah mengkonfirmasi kalau dia cinta pertamamu. Dia yang mengatakan pada media sendiri, saat kamu hendak kemari."
"Ssstth, dia benar-benar gila."
"Jadi, beneran?! Dia cinta pertama kamu?"
"Jimmy, biarkan aku sendiri. Carikan aku tempat yang aman."
"Lalu, ini gimana? Media ingin jawaban darimu."
"Uruslah, terserah kamu."
"Apa aku bilang saja, dia saudara perempuanmu."
"Itu akan jadi masalah lagi."
"Tapi, saudara perempuan lebih baik dari pada menyutujui cinta pertama."
"Jimmy, biarkan aku sendiri."
"Oke, oke, aku akan membiarkanmu sendiri."
Sang manager akhirnya keluar dari mobil itu, Arjuna sendiri yang mengendarai mobil itu. Entah, kemana dirinya akan pergi. Lebih baik pergi dan membiarkan awak media itu membuat berita heboh tentang dirinya.
Zolla tersenyum, ia berkata "Pasti teman SMAku, sudah heboh. Mereka akhirnya tahu, kalau aku cinta pertama Arjuna."
Dia yang manis dan ramah, tapi setelah melalui masa suramnya. Mencari jati diri dan akhirnya ia menemukan posisinya.
"Aku Cinta. Untuk apa aku harus mempedulikan mereka."
Cinta atau Zolla, dirinya sudah meminta nama itu. Tapi, Cinta tidak mau, Cinta menolak keras gugatan itu, dia memilih pergi. Asalkan dia tetap bernama Cinta. Bukan yang lainnya, bisa saja Cinta pergi dengan berganti nama. Tapi, apa yang tidak dimengerti oleh yang lain, dia mengerti, semua nama yang penuh arti Cinta untuknya. Dari semasa kecil hingga dewasa, dia yang dikenal dengan nama Cinta. Bagaimana bisa, ia menyerahkan nama pemberian kedua orang tua, yang sangat dia cintai.
Di sebuah mobil, Arjuna yang mencoba berfikir. Bahkan, ponsel Cinta juga sudah berada di tangan Zolla. Lalu, apa yang bisa membantu Arjuna saat ini.
"Cinta, kamu dimana?"
Di sebuah kota, Cinta yang duduk dan menatap bunga-bunga. Sosok cantik itu, telah berada di tempat jauh, dan sangat jauh dari Arjuna yang sibuk mencari dirinya
"Cinta, kamu sudah lama menunggu."
"Iya."
Cinta tersenyum manis dan ia kembali menatap, sosok tampan nan rupawan. Yang ada dihadapannya, dia juga telah tersenyum.
Postur tubuh yang kekar dan macho. Wajah dan penampilan itu, sangat berkharisma.
"Mas Mirza."
"Cinta, kamu mau makan apa? Kenapa cuma meminum jus?"
"Mas Mirza. Sebaiknya, kita tidak melanjutkan pertunangan kita."
Mirza meletakan kembali daftar menu yang ia pegang, lalu menatap gadis yang ada di hadapannya "Cinta, apa maksud kamu? Kita datang kesini, dan kita akan menikah."
"Aku bukan Cinta."
"Cinta."
Bibir imut itu, dan sorot mata itu telah berubah sendu. Sosok tampan yang ada dihadapannya, lantas mendekat dan ia hendak memeluknya.
"Cinta, jangan pikirkan lagi. Semua telah berlalu. Kita akan jalani hidup baru kita disini."
"Mas Mirza, ini bukan jalan yang terbaik. Aku bukan Cinta."
"Cinta, aku mengenal kamu sebagai Cinta dan kamu tunangan aku."
Cinta yang terdiam dan Mirza memeluknya dengan penuh perasaan.
"Aku tidak peduli, kamu ini siapa. Yang jelas. Aku tetap bersamamu dan akan menjadi pendampingmu." Ucap Mirza.