
Menerjang hembusan udara malam, motor gagah warna hitam itu melaju dengan kecepatan tinggi.
Pertanyaan itu masih terngiang-ngiang dipikirannya. Pertanyaan yang sulit di jawab ketika ke acara reunian. Akademis okelah cumlaude, namun masalah cinta, Alvaro bisa mendapat minus.
"Al, mana cewek kamu?"
"Al, masih sendirian aja?"
"Al, sekarang anakku sudah bisa lari."
"Al, ayo kapan-kapan bawa calon istri kamu datang."
"Biarlah Al membujang. Lagian aku yang nikah aja, baru setahun udah pisah."
Masih banyak lagi hal-hal yang tidak ingin dia dengar. Namun hal ini sangat sensitif.
Pernikahan bagi seorang Al memang terkesan biasa saja, namun akan sulit menjalani kehidupan seumur hidupnya, bersama orang yang tidak dikenalnya.
Praktek tidak semudah belajar teori. Apalagi pernikahan, yang tujuannya membina rumah tangga seumur hidup bersama pasangannya untuk menuju sakinah, mawaddah dan warrohmah. Pernikahan, menurutnya salah satu ibadah yang harus dilaksanakan.
Al sudah pernah berfikir kalau dia memang harus menikah. Namun, ini belum saatnya.
Yang mengenal puluhan tahun saja, belum tentu berhasil mencapai tujuan pernikahan. Pasti ada saja hal yang diragukan, bahkan perbedaan antara pasangan. Apalagi belum mengenalnya terus menikah. Terkadang yang pacaran saja, tidak bisa mengerti tentang kehidupan pasangannya.
Seperti temannya saat ini, baru menikah setahun sudah berpisah karena ada hal sensitif yang tidak bisa dibenahi, meski mereka telah lama berpacaran. Apalagi, bagi seorang Al yang selalu menjauh terhadap lawan jenis. Sampai-sampai terdengar dari pihak kerabat Mamanya, yang meragukannya dan mengatakan kalau Al penyuka sesama jenis.
Dan hal itu terdengar di telinga Britney dan Pras. Itu sebabnya sang Mama mencarikan jodoh untuk putranya.
Britney hanya seorang ibu, yang tidak ingin melihat anaknya dipandang rendah oleh orang lain. Ibu mana yang tidak terluka hatinya, bila putranya diragukan kejantanannya oleh kerabatnya sendiri.
Apalagi, usia Britney dan Pras sudah semakin tua, sudah waktunya melepas putranya, agar bisa membina rumah tangga sendiri. Mereka-pun sebagai orang tua akan lebih tenang, bila salah satu tanggung jawab mereka sudah terlaksanakan, yaitu menikahkan putranya.
"Ma.." Ucap Al, saat tiba di rumah. Sudah jam 11 malam. Britney yang memakai selendang hijau, tampak duduk di kursi teras rumahnya.
Al merasa bersalah, berkata. "Mama sudah malam. Mama nggak perlu nungguin Al di teras."
Al duduk berlutut di depan Mamanya, memegang tangan sang Mama. Britney dengan senyuman memandangi putranya. Alvaro, meski sudah usia kepala tiga. Tetap saja, dimata indah Britney, Alvaro adalah putra tampannya yang suka bermain bola, berlari-larian dan sering tidur dipelukannya. Bahkan, suka masuk ke sarung sang Papa dimasa balitanya.
"Kamu sudah makan?" Suara sang Mama itu terdengar lembut.
"Sudah Ma." Jawabnya.
"Mama tidak akan lagi memaksa kamu."
"Ma..."
Britney mengelus rambut sang putra, lalu berkata "Selama kamu bahagia, Mama tidak akan memaksa kamu untuk menikah. Mama hanya ingin kamu bahagia."
"Maafin Mama."
Alvaro mencium tangan sang Mama, berkata "Al yang harusnya minta maaf sama Mama. Al yang sudah bersalah. Harusnya Al bisa memahami perasaan Mama. Harusnya Al sudah menikah dan membina rumah tangga."
"Kamu putra Mama. Apapun kamu, kamu tetap putra Mama. Mama hanya ingin kamu seperti Kakak-kakakmu yang sudah bahagia bersama pasangannya."
Hening
"Lekaslah tidur."
Britney hendak bangkit duduknya dan Alvaro masih memegang tangan Mamanya.
"Mama, Al juga ingin menikah. Tapi nanti, biar Al sendiri yang mencari jodohnya Al. Mama nggak usah lagi, cariin jodoh buat Al."
"Iya sayang."
"Al, kamu sudah pulang."
"Papa, sudah malam masih mainan HP."
"Ini tadi ada tausiyah dari Ustadz Amir."
Al menghempaskan badannya ke sofa, sang Mama mengunci pintu pagar rumah.
"Ada apa? Kamu sudah baikan sama Mama?"
"Hemm."
"Al, menikah itu ibadah."
"Pa.. Al mohon, jangan dibahas lagi."
Papa Pras ini, memang usil. Padahal Papa Pras sendiri yang bilang kalau tidak perlu membahas lagi tentang perjodohan. Tapi, kenapa bilang begitu.
"Al, ini ada biro jodoh, kamu mau? Papa juga pengen punya besan Ustadz."
Al bangkit dari sofa, duduk di sebelah sang Papa, lalu berkata "Kenapa nggak dari dulu-dulu aja itu Kak Alishba sama Kak Abyaz dijodohin sama anaknya Pak Ustadz."
Sang Papa kembali sibuk dengan ponselnya. Al menatap wajah Papanya, lalu bertanya "Papa dulu sama Mama nggak pacaran. Terus, kapan cinta kalian bersemi?"
Sang Papa terdiam dan Mama ikut duduk di sofa, lalu berkata "Setelah pulang dari Semarang."
"Habis dari kondangan ke mantan Papa?" Alvaro terkadang masih kekanakan kalau masalah percintaan.
"Emh, seingat Mama ya begitu." Jawabnya, dengan senyuman di wajah yang sudah terlihat garis keriput. Namun wajah itu masih mempesona. Semakin anggun dengan selendang yang selalu ia kenakan. Meski ia tidak berjilbab, Britney selalu memakai kerudung untuk menutupi rambutnya yang sudah tampak memutih itu.
Papa berkata "Cinta itu hanya kata."
Sang Mama tersenyum, dan Al bertanya "Maksud Papa?"
"Al, kamu sudah dewasa. Apa belum pernah jatuh cinta?"
"Papa, Al serius."
"Maksudnya Papamu itu, cinta itu hanya sekedar ucapan, kata-kata, seperti aku cinta kamu."
Hening
Sang Mama lanjut berkata lagi. "Kalau cuma bilang Mama cinta Papa, itu mudah. Tapi, cinta sebuah rasa. Ungkapan rasa itu, memiliki artian yang sangat luas. Rasa cinta dan kasih sayang akan dirasakan kalau kita sudah jatuh cinta. Berdebar, rasa ingin memiliki, bila dekat kita bermanja, bila jauh kita akan rindu, begitu indah untuk diucapkan dan bahagia bila kita merasakan cinta. Ada rasa cemburu, ada tangis haru dan cinta itu juga membuat kita bisa lupa. Kita seperti terhipnotis. Mau makan tak berselera, mau tidurpun susah terpejam. Yang dirasakan, ingin segera bertemu, memeluknya, menciumnya, mengatakan aku cinta kamu."
Al berkata "Cinta itu hanya ungkapan, tapi akan menimbulkan perasaan."
"Memang benar yang kamu katakan barusan. Tadi Papa hanya bercanda. Kamu mau menikah atau tidak, semua terserah kamu."
Al mengangguk, Papa lanjut berkata "Karena menikah, itu sebuah tanggung jawab yang besar. Setelah menikah semua akan berbeda, sebuah lembaran baru akan dibuka, coretan apa yang akan kamu buat dengan pasanganmu, itu adalah tanggung jawab kamu sebagai suami."
"Seorang suami, harus bisa menjadi imam, menjadi kepala rumah tangga, menjadi ayah dan harus bisa membimbing istrinya. Susah atau senang, suamilah pemimpinnya. Ibaratnya, kamu sendiri yang akan membawa pasanganmu seperti mendaki sebuah gunung. Jalan berliku, kanan kiri terlihat jurang, berkabut, binatang buas siap menerkam. Sampai nantinya kamu tiba di atas bersama pasanganmu, bahwa kamu sampai ke tujuanmu." Ucap sang Papa.
Al mulai memahami tentang ini.
"Sudah larut, Papa mau tidur."
Kedua orang tuanya, lantas pergi ke kamar mereka. Al masih memikirkan semua perkataan orang tuanya. Bahkan, sampai saat ini. Alvaro masih bingung, kenapa dia begitu susah untuk jatuh cinta. Pernah ia menyukai gadis kala di kampus, namun karena dia ingin fokus. Ia hanya menganggap kalau itu hanya sebuah halangan.
"Aku harus menikah dulu apa harus jatuh cinta dulu?" Gumamnya. Dia terbaring di sofa.
"Menikah? Pacaran? Jatuh Cinta?" Tertidur.