ABYAZ

ABYAZ
Bab. 57. Arjuna Sudah Kembali Pulang



Suasana malam hari di rumah pribadi Beby. Para orang tua, sudah tampak datang berkumpul dan menemani Beby Ayazma.


Perasaan manis bercampur aduk, saat menonton film yang diperankan oleh suaminya.


Saat ini, ada Papa dan Mama duduk di sebelah kanannya. Ada pula Mami dan Papi yang duduk di sebelah kirinya. Lalu, sang mertua ada di sofa yang berbeda.


"Kenapa kalian semua menatap aku begitu?"


Beby yang menyemil keripik apel dan ia memang suka buah apel. Sayangnya, ia kali ini tidak ingin menikmati buah apel. Ingin sesuatu yang renyah, menggoyang lidah, dan sambil menonton film Arjuna Mencari Cinta.


Mama Abyaz yang bertanya lebih dulu. "Sayang, berapa usia kandungan kamu?"


"Baru, 6 minggu." Jawabnya santai dan Mama Abyaz tersenyum bahagia.


"Kamu ingin makan apa?" Tanya Mami Stella, yang sering kali datang ke rumah dan menyiapkan semua makanan untuknya.


Percuma juga, punya rumah pribadi. Meskipun, Beby juga selalu berkunjung ke rumah para orang tua. Namun di setiap harinya, para orang tua itu datang dengan bergantian.


Di malam ini, setelah kemarin sore memberitahu sang Ibu mertua kalau dirinya sedang mengandung. Para orang tua membuat janji, untuk datang ke rumahnya.


"Aku lagi suka makan ini." Ucap Beby dan ia dari tadi asyik dengan dunianya sendiri.


Tampak wajah imut, dan memakai bebydoll berwarna merah muda. Beby yang duduk bersila di atas sofa, sambil memeluk toples bulat yang berisi cemilannya.


"Mulai hari ini, Mama akan menemani kamu." Ucapnya Mama Abyaz dan tampak koper besar di sudut ruangan.


"Mami juga akan sering datang kemari."


Bunda Gaby yang tidak mau kalah, "Bunda akan segera membuatkan filmnya."


Ayah Alvaro tampak bingung dan bertanya "Bunda mau buat film?"


"Iya. Film yang akan diperankan sama Arjuna. Beby, lagi suka melihat putramu yang ada dilayar itu. Nah itu, putra yang kamu banggakan. Beby lagi mengidam itu."


Sang Bunda yang tersenyum. Papa Damar dan Papi Binar saling menatap. Mereka lalu menoleh ke layar besar yang terlihat sosok aktor, yang tidak lain adalah menantu tampan mereka.


Seketika wajah Beby berseri-seri. Mama dan Mami menatapnya. Papa dan Papi juga bisa melihat hal itu. Papa Damar yang usil, meraih remot televisi dan ia mematikan layar LCD itu.


Tak!!


Tatapan bagaikan singa betina yang meraung, Papa Damar yang berpura tidak tahu apa-apa.


"Mama, Papa nakalin aku."


Papa berkata "Papa, cuma salah pencet. Tadi Papa mau pause, tapi malah ilang."


"Tuh, suami Mama. Begitu sama aku." Beby yang tampak mengadu dan sangat tidak terima.


"Papa. Nyalain lagi." Ucap Mama.


Papi Binar meraih remotnya, dan hendak menyalakan lagi filmnya tadi. Beby yang tampak berseri-seri setelah melihat sang suami tampannya.


Papa Damar menggoda. "Itu, kayak begitu Arjuna. Papa nggak suka melihatnya."


"Tapi, putrimu lagi menyukainya."


Tetap menatap layar televisinya dengan senang dan Papi Binar bisa merasakan hal manis di wajah putrinya.


Papi Binar lalu berkata "Papi, yang akan siapkan dana untuk pembuatan filmnya."


"Tumben, Papi dukung Arjuna." Beby yang senyam-senyum.


"Demi kamu. Papi akan memberikan ijin untuk Arjuna kembali syuting."


"Uu, Papi emang yang terbaik."


Suasana kembali adem, saat melihat putri mereka yang tampak ceria.


Sang Ayah bertanya "Bunda serius, dengan ucapan Bunda tadi?"


"Iya, Bunda serius. Demi cucu kita. Bunda tidak keberatan."


"Apa Arjuna sudah setuju?"


"Bunda tidak tahu."



"Aku tidak setuju." Jawaban sang Arjuna, dan mereka semua jadi melihat ke arah Arjuna.


Sang Arjuna yang telah kembali, setelah dua tahun lebih dirinya pergi ke luar negeri. Sosok yang menawan dan tampak seperti biasanya.


Beby yang tersenyum tipis dan tidak beranjak dari sofa.


"Kalian kenapa hanya menatap aku? Apa tidak ada yang merindukan aku?"


Arjuna merasa dikucilkan, dia mencoba merentangkan kedua tangannya, agar segera ada yang memeluknya. Tetap saja, tidak ada satupun dari mereka yang datang mendekat.


Mama berbisik "Papa. Mama tidak jadi menginap."


Papa membalas "Sebaiknya, kita harus cepat pulang."


Mami Stella beranjak dari sofa dan sudah tampak menjijing tasnya, lalu memegang tangan suaminya "Papi, ayo kita pulang."


"Kenapa pulang?"


Kedipan mata Mami Stella, lalu sang Papi berkata "Owh, iya. Kita besok pagi-pagi ada acara penting.


Ayah Alvaro berkata "Bunda, kita harus segera pulang."


Bunda membalas "Iya, Ayah benar. Lebih baik kita pulang."


Semua orang tua itu bersiap pergi, dengan asalannya masing-masing.


Beby jadi berdiri di atas sofa. "Aaaa. Perutku sakit."


"Sayang kamu kenapa?"


Arjuna yang datang mendekat dan langkah kaki para orang tua itu terhenti.


"Mama, Mami, perutku nyeri." Ujarnya dan mereka tahu kalau Beby hanya akting. Agar para orang tua itu, tetap tinggal bersamanya dan tidak lekas pergi begitu saja.


Arjuna yang menggeleng, dan Beby jadi merasa kalau aktingnya memang buruk.


"Kalian semua mau pergi?"


"Sayang. Suami kamu sudah pulang. Mama tidak jadi menemani kamu. Lebih baik, kalau Arjuna yang menemani kamu."


"Mama tega ninggalin aku?"


"Beby. Besok pagi, Mama akan datang lagi."


"Mami sama Papi juga pergi?" Beby yang sudah tampak kekanakan dan masih berdiri di atas sofa.


"Sayang. Papi besok pagi ada urusan penting."


"Mami juga harus temani Papi." Wajah Mami Stella yang tidak bisa berbohong.


Arjuna menatap mereka semua, bahkan sang Bunda juga tidak mau memeluk dirinya.


Semua telah meninggalkan ruangan itu dan Papa Damar menarik koper milik istrinya tercinta. Mereka buru-buru keluar dan tidak ada yang menyapa Arjuna.


"Kenapa mereka semua pergi?"


Beby menjawab "Aku juga tidak tahu."


"Kamu tidak merindukan aku?"


"Masa iya, aku yang harus loncat kesana."


"Jangan loncat. Kamu bisa jalan."


"Apa salahnya jalan 2 langkah."


"Kamu tahu alamat rumah ini?"


"Aku suamimu. Aku pasti tahu."


"Kamu sama saja seperti mereka yang mengawasi aku. Tapi, aku nggak tahu tentang kamu yang di jauh sana."


"Iya, aku juga nggak tahu soal kamu. Tapi, ada saja dari mereka yang kasih tahu aku. Tentang kamu yang begini begitu. Mereka selalu kasih info."


"Ngeselin."


Arjuna dengan senyuman, dan ia merasa senang. Memeluk istrinya dengan gemasnya.


"Aku kangen kamu."


"Janinku, yang kangen kamu."


Arjuna yang masih memeluk Beby. Suasana apa yang mereka berdua rasakan dan para orang tua masih berada di sekitar rumahnya.


Mereka yang ada di depan jalan rumah itu dan tampak pergi bersama. Sepertinya, mereka merencanakan sesuatu.


"Di dalam sini."


"Aku tahu."


"Kamu harus tanggung jawab."


"Iya, makanya aku pulang."


"Aku jadi suka nonton kamu."


Arjuna melihat layar yang berukuran besar dan ada dirinya dalam peran yang menawan.


"Kamu suka?"


"Iya. Sudah seminggu ini, aku jadi suka nonton film kamu. Itu, semua aku beli. Untung saja masih ada yang jual film kamu."


"Kenapa jadi suka aku yang di layar itu?"


"Aku juga nggak tahu."


Beby yang tampak imut dan Arjuna begitu gemas. Melihat penampilan manis istrinya.


Flashback On


Malam itu, di hari ke tiga Beby Ayazma berada di Pulau Sebinar. Sudah malam tapi dia masih berendam. Tidak ada hal yang menakutkan, seperti dalam bayangan.


Rumah itu tampak menawan, dengan pemandangan pantai yang elok rupawan. Meski tidak ada penduduk dan rumah lainnya, disini tidak sunyi.


Deburan ombak, menemani Beby setiap hari. Semilir udara malam dan tidak ada kegelapan. Meski setiap malamnya, hanya bisa menyalakan lilin, tetapi Beby tidak khawatir.


Greet!


Suara pintu yang tampak terdorong, Beby yang sedang berendam, ia tidak mendengar apapun. Lilin aromaterapi menenangkan pikirannya dan ia sudah tampak terpejam.


"Sayang."


Perlahan ia membuka matanya dan terkaget sejadi-jadinya. Sang suami tampannya sudah datang dan tampak nyata dihadapannya.


"Ngapain kamu disini?"


"Aku nyariin kamu."


"Keluar, aku lagi mandi."


"Kamu juga, malam-malam begini malah asyik berendam."


Beby akhirnya keluar dari bathtub dan segera meraih kimono handuknya. Arjuna masih menatapnya. Meski Beby tampak memakai dress minim, tapi paras itu sangat terlihat jelas.


"Sayang."


"Kamu bisa buka pintunya?"


"Ini, kunci dari Nenek."


"Kamu kesana?"


"Aku tidak kesana. Kak Bulan yang kesana."


"Kalian bekerjasama?"


"Aku hanya disuruh mencari kamu."


Beby memukul dada Arjuna, berulang kali dan ia jadi menangis tersedu-sedu.


"Aku minta maaf."


"Terus saja begitu."


"Sayang, maafin aku."


"Kenapa ninggalin aku begitu saja?"


"Aku mana berani mengajak kamu."


Beby yang masih menangis dan Arjuna merasa menyesali perbuatannya. Ia lalu memeluk istrinya dengan sangat erat.


"Aku minta maaf."


"Aku tidak mau memaafkan kamu."


"Aku sangat merindukanmu." Arjuna yang menangis dan Beby jadi terdiam.


Beby masih dalam pelukannya dan merasakan cintanya telah kembali.


"Arjuna, aku juga kangen kamu."


"Kenapa waktu itu kamu tidak mau mengejar aku?"


"Itu, akan sulit untukmu."


"Kamu benar. Aku kangen banget sama kamu."


Arjuna mengecup kening dan seluruh wajah istrinya. Berulang kali mencium dan kembali memeluknya dengan erat.


"Sudah, jangan menangis."


"Aku tidak menangis. Aku hanya ingin mengobati kerinduanku."


"Aku juga sangat merindukanmu."


Arjuna, bertanya "Kamu mau maafin aku?"


"Lihat nanti."


"Baik. Apapun aku akan lakukan."


"Baguslah, kalau kamu mengerti."


"Aku akan menebus waktu kita."


"Kamu harus menebusnya."


"Aku akan melakukannya."