
Siang itu di tempat yang berbeda, Beby yang sedang menata berbagai gaun rancangan Maharani di sebuah gantungan sesuai warna.
Terlihat wajah yang santai dan ia hanya sibuk bekerja. Semakin hari, dia merasa senang bekerja di butik ini. Meski, ada dua teman kerjanya yang merasa iri padanya dan pernah mengatakan kepadanya kalau suka mencari muka.
"Selamat datang di butik Gloria."
"Selamat siang Tuan dan Nyonya."
Sang tamu ini sudah langsung tertuju kepada sosok Beby Ayazma.
"Papi Binar" Dia yang berpura-pura tidak melihat ke arah kedua tamu ini.
Setelah membuka katalog butik, Madam berkata "Mbak, tolong carikan saya gaun yang ini."
Sang Madam menunjukan gambar dari katalog butik Gloria. Seorang pelayan nan ayu dan tidak kemayu, tampak menatapnya dengan senyuman.
"Baik Nyonya. Tunggu sebentar. Saya akan mencarinya."
"Mami Stella beli gaun buat siapa?" Beby yang memikirkannya, dia juga begitu manja ketika bersama kedua orang tua ini. Dari SMA, dia juga tinggal bersama kedua orang tua ini dan juga Opa Oma di rumah Pondok Indah. Ia pulang ke rumah hanya setiap sabtu minggu, itupun ditemani Arjuna. Makanya, kamarnya yang di rumah nan jauh dari kota ini. Sudah tidak lagi ada kesan feminine. Yang ada coretan tembok penuh warna dari keduanya. Tulisan puisi dan rangkaian kata indah, telah mereka buat di kamar itu.
"Nyonya, ini gaun yang anda inginkan."
Madam Stella melihat gaun yang di jenjeng di depannya dan sang suami tampak duduk dengan tatapan arah pada Beby Ayazma.
"Menurut Papi, ini gimana?"
"Iya bagus."
"Sepertinya ini cocok untuk putri kita."
"Putri?" Beby yang memikirkan, yang dimaksud siapa dirinya apa Cinta Damayaz yang sekarang menjadi menantunya.
Beby yang menoleh dan kedua orang tua itu menatapnya, Beby jadi salah tingkah dibuatnya. Ada rasa berdebar saat ia mengingat kala sang Papa telah mengatakan ada kemungkinan besar, kalau Papi Binar adalah Ayah kandungnya.
Ia mengangguk pelan seraya tersenyum tipis. "Aku jadi deg-degan."
Setelahnya, Sang Madam berjalan ke arah gantungan gaun ditempat Beby berdiri saat ini.
Degh!
"Saya suka ini."
"Silakan Nyonya."
"Warna kesukaan putri saya."
"Putri?" Batin Beby.
"Ini gaun yang indah. Pasti putri saya sangat menyukainya."
"Iya Nyonya. Pasti dia sangat menyukainya."
Sang Madam menoleh ke arahnya dan menatap lebih lekat padanya "Dia juga sangat mirip kamu. Parasnya yang indah, sama seperti kamu. Boleh saya mencobakan ini sama kamu."
"Nyonya, saya hanya pelayan."
"Tidak apa-apa. Saya takut salah mengambil ukuran."
Temannya lalu mendekat dan berkata pelan kepada Beby "Ini biar aku yang lanjutin, kamu bantuin Nyonya tamu."
"Baik." Lalu Beby memberikan gaun yang ia pegang dan langsung menerima gaun dari yang Madam Stella pegang itu.
Beby yang berjalan ke arah ruang ganti khusus para tamu. Ia masih berdebar.
"Papi baik-baik saja?" Setelah kembali duduk di sebuah sofa.
"Dia sama persisnya dengan aku."
"Iya, Papi benar." Kedua orang tua ini, tampak saling memegang tangan.
Rasa sesak dan sangat menusuk dalam dadanya. Putri kandungnya saat ini telah berada di hadapannya.
Setelah berganti pakaian, Beby yang ada di hadapan kedua orang tua ini, tampak cantik dan begitu manis.
Gadis itu dari dulu sangat menyukai warna putih di dalam kehidupannya yang penuh warna. Ceria, manis, feminine, dan nakal.
Benar, dari kedua saudara kembarnya, dia selalu disebut anak nakal. Meskipun, dia anak yang begitu manis. Dunianya yang dulu penuh canda tawa dan suka cita. Setelah dewasa ini, dunianya seakan runtuh dan penuh kegelapan. Makanya, saat resepsi pernikahan itu. Sebenarnya, dirinya yang meminta untuk mengusung pesta malam dengan gaun hitam. Ternyata, itu warna kesukaan Zolla, yang sekarang telah menyandang nama Cinta Damayaz.
"Nyonya, gaun ini sangat cantik."
Madam Stella menatapnya dengan senyuman manisnya.
"Kamu sangat cantik. Sangat mirip dengan putri saya."
Papi Binar yang tampak menyeka air mata, dan langsung menarik senyuman manis untuk seorang putri yang ada dihadapannya.
"Papi, bagaimana? Papi suka?"
"Iya, putri kita sangat cantik. Maksud aku, gaunnya sangat indah. Pasti dia akan menyukainya." Tampak mata yang berkaca-kaca dan tidak kuat untuk terus menatapnya. Yang ada hanya rasa penyesalan dalam hatinya yang terdalam.
Sang istri memegang tangannya, untuk membuatnya tenang. Beby juga bisa melihat kelembutan Madam Stella. Yang sering ia panggil, dengan sebutan Mami.
"Kalau begitu, saya akan berganti dulu."
"Iya, silakan."
Mami Stella dan Papi Stella, masih saja menatap Beby yang berjalan ke ruang ganti. Para pegawai butik, cuma bisa menerka-nerka. Akan apa yang mereka lihat saat ini.
Flashback On
"Sumpah demi Tuhan. Aku tidak menukar mereka. Aku hanya mengetahui kasus itu, lalu aku mengingat tentang Gisella dan Binar. Aku memang yang membuat mereka berada di hotel malam itu. Tapi, bukan aku yang menukar bayi mereka."
Stella yang keji dan menarik rambut Imel dengan tatapan emosi. Meski usianya sudah terbilang tua. Tenaga Stella masih sangat kuat.
"Kamu?"
"Stella, kamu tahu aku seorang ibu. Mana tega aku berbuat hal menyeramkan itu. Aku memang berada di rumah sakit itu, saat aku mengetahui, kalau Gisella sudah melahirkan. Aku kesana untuk memastikan keadaannya. Aku tahu hubungan mereka berdua, dan aku."
"Aku??"
"Aku juga bertemu Gisella, dan aku telah mencemoohnya, dia memang mengakui kalau itu anak Binar. Mereka saling mencintai di belakangku. Aku tidak terima hal itu, aku yang menghancurkan karirnya, aku memang yang membuat gosip itu, untuk menghancurkan Gisella. Tapi, aku tidak tahu kalau dia sudah menikah dengan Presdir Arman. Demi Tuhan Stella, tolong lepaskan aku."
"Aku tidak percaya."
"Kamu bisa tanya sendiri kepada suamimu."
"Imel, kalau kamu terbukti bersalah. Aku tidak segan untuk menghakimmu dengan caraku."
"Terserah, kamu mau melakukan apa padaku. Aku bersumpah, tidak menukar bayi itu. Tapi, aku melihat suamimu berada di rumah sakit itu."
Stella melepaskan Imel yang berada di sebuah sofa. Stella pergi dari ruangan itu. Dengan emosinya yang meledak.
"Siapa orangnya?"
Stella kembali melacak daftar orang yang telah menemani Abyaz saat melahirkan putrinya.
"Papi?"
"Papi??"
Pikiran buruk dan kakinya terasa sudah tak betopang. Sampai seorang suster yang ada di sebelahnya. Tampak membantu Stella untuk duduk di sebuah kursi.
Meski di sidang Zolla dan Cinta. Zolla juga menuntut pihak rumah sakit atas kelalaian mereka. Tapi, sebuah bukti lain ada di dalam pikiran Stella saat ini.
"Tidak mungkin, tidak mungkin Papi yang menukar bayi mereka?"
Rasa sesak dalam dada dan terasa sakit yang mendalam setelah membaca data pengunjung rumah sakit. Mengingat akan pertarungan sengit adiknya dan suaminya dikala tahun itu.
"Apa mungkin, Papi?
Setelah penyelidikan itu, dalam pikiran yang sudah mulai tenang. Stella bertanya kepada suaminya.
Di sebuah kamar dan hanya ada mereka berdua. Duduk di atas tempat tidur dan saling berpegang tangan.
"Papi waktu di rumah sakit?"
"Aku tidak tahu apa-apa,"
"Papi tahu, Gisella juga berada di rumah sakit?"
"Tidak, aku sama sekali tidak tahu. Kalau ada Gisella di rumah sakit itu."
"Aku mengerti."
"Aku tidak tahu, kalau Gisella mengandung anakku."
"Iya, aku tahu."
"Kamu juga melihat aku sebagai saksi di pengadilan. Aku sudah mengatakan semuanya. Apa kamu meragukan aku?"
"Aku hanya terbawa emosi karena Imel."
"Imel?"
"Dia, orang yang mengirim surat itu."
"Imel?"
"Dia yang membuat kalian bermalam di hotel itu."
"Sayang, aku"
"Tidak perlu menjelaskan padaku."
Flashback Off
Kedua orang tua ini, sudah mendapat surat dari rumah sakit, tempat test DNA dilakukan.
"Nyonya, ini gaunnya."
"Tolong bungkus yang rapi, malam ini aku ingin memberikan kepada putriku."
"Baik Nyonya."
"Putriku berulang tahun, kita selalu sibuk bekerja, sampai melupakan hari ulang tahunnya."
"Selamat ulang tahun, untuk putri anda."
"Terima kasih. Semoga dia menyukai gaun ini."
"Putri anda pasti menyukainya."
Kedua orang tua ini, tampak tersenyum. Setelah membayar dua gaun itu, kedua orang tua ini pergi meninggalkan butik Gloria.
Selang beberapa saat. Beby sudah mendapatkan sebuah pesan. Yang mengatakan kalau Papi dan Mami, mengundangnya makan malam di rumah Pondok Indah.
Beby tampak tersenyum, meski ada luka yang pernah menyayat hatinya. Saat ini, dia sangat bersyukur bisa terlahir ke dunia ini dan memiliki keluarga besar yang sangat mencintainya.
"Aku juga sangat merindukan mereka semua."