ABYAZ

ABYAZ
Kembalinya Sang Cucu Kesayangan



Pagi dengan rasa yang mendebarkan. Baru jam 8 pagi, Abyaz yang menatap mobil suaminya dan perlahan pergi dari hadapannya.


"Sayang, cepatlah pulang." Ucapnya dan bibir unyunya tampak cemberut.


Pras yang melihatnya cukup senang, tadinya sang Papa itu khawatir tentang cinta putrinya. Ternyata cinta putrinya sangat unik. Walaupun mereka berdua selalu berkata teman. Tapi kepedulian keduanya begitu manis.


"Suami kamu akan baik-baik saja."


"Tapi Papa, kalau beneran Damar dijadikan tersangka kasus gelap itu gimana?"


"Para penyidik lebih cermat, mereka akan menemukan siapa pelaku yang sebenarnya." Ucap Pras dan mengelus rambut Abyaz.


"Semoga saja Papa. Abyaz hanya tidak mau, Damar tersandung masalah yang tidak dia perbuat. Dia sudah sakit hati atas keluarganya. Abyaz tidak tega, melihat dia sedih."


"Papa mengerti. Damar sepertinya pria yang tegar. Dia juga bukan orang yang menyimpan luka, dan bukan anak pendendam."


"Iya Papa. Soalnya kata Kak Stella dan Tante Melinda, Damar sangat mirip Ayah Eka."


Pras masih bingung, kenapa putrinya memanggil ibu mertuanya dengan kata Tante. "Sayang, kenapa Tante? Dia ibu mertua kamu."


"Tapi dia bilang begitu Papa. Nanti Abyaz akan ceritain sama Papa."


Mereka yang masih di halaman samping rumah itu, dan Abyaz mengajak sang Papa ke taman belakang rumah.


Taman yang sangat indah dengan berbagai tanaman hias. Abyaz sangat tahu, kalau sang Papa juga hobby merawat tanaman hias.



"Papa gimana, suka lihat bunganya?"


"Ini... Memang dirawat. Beda sama yang punya Papa dirumah."


Di taman itu terdapat ayunan. Itu tempat pacaran Abyaz dan Damar ketika mereka selesai belajar.


Di dekat taman itu juga ada kolam ikan koi dengan gemiricik suara air pancuran.


Abyaz mengajak Papanya duduk di ruang santai yang tidak jauh dari taman itu, jadi mereka masih bisa memandangi tanaman-tanaman hias itu.


Abyaz awalnya hanya bercerita tentang dirinya yang mulai mengenal keluarga Eun Ho. Perlahan Abyaz juga mulai bercerita tentang Damar Putra Mahatma.


Pras juga cukup kaget mendengarnya dan sangat tidak ada dalam benaknya. Bahkan, keluarga Limar juga tidak pernah bercerita tentang Damar Putra Mahatma.


Pras yang selama ini hanya tahu, kalau Damar Putra Mahatma adalah anak adopsi Eyang Dewi. Abyaz dulu juga tidak bercerita kepada keluarganya, awal mula bocah pengamen yang di adopsi.


"Jadi suami kamu masih saudara dengan Damar?"


"Iya Papa. Abyaz juga baru tahu."


Pras mengerti, bagaimana perasaan anak dan menantunya.


Ternyata memang sangat rumit. Tapi Pras, tidak mau ambil pusing masalah ini, dia bisa melihat cinta dari anak dan menantunya sudah cukup baginya.


Karena sang Papa ini masih cemas, dia takut kalau Abyaz tidak bisa menjadi istri yang peduli dan mencintai suaminya, mengingat luka lama anaknya yang begitu menyakitkan.


Di kantor utama Ji-sung


Stella yang lebih dulu tiba di kantor utama Ji-sung.


Berpakaian formal dengan kacamata hitam masih terpakai, berjalan menawan.


"Sesuai alur scenario."


Setibanya di Jakarta, Stella berganti pakaian di butik langganannya.


Dengan wajah yang dingin dan melewati penjagaan. Bahkan terlihat anggota tim penyidik dari hukum dan juga tim audit yang stay di lobby gedung itu.


Stella yang tidak gentar dan sangat percaya diri dengan keadaan saat ini, dia langsung ke lantai 9 di ruangan sang Kakek.


Gedung ini begitu luas dan ada 14 lantai yang dilengkapi fasilitas mewah, bahkan diatap gedung itu, ada heliped bila terjadi urgent, helikopter yang akan mengantar atau menjemput para petinggi perusahaan itu.



"Stella, kamu juga datang."


"Tadi Mama kamu, sekarang kamu."


"Aku sudah siapkan wine untuk kamu."


"Ayo kita rayakan kemenangan kamu."


Di ruangan itu sangat membawa hawa dingin, bukan karena suhu AC. Tapi karena sikap Lee Sung Hoon terhadap Stella Anastasya.


Meja kerjanya, hanya ada botol anggur merah dan itu sangat disukai Stella.


Stella membuka kacamatanya dan meletakan pada meja itu.


Perlahan duduk di depan sang Kakek. Lalu menuang wine itu dengan gaya wanita berkelas. Sorot matanya yang penuh keangkuhan pada dirinya.


Stella yang perlahan mengangkat gelas wine itu, berkata "Bersulang."


Lee Sung Hoon, hanya duduk bersandar dan menatap wajah Stella, lalu berkata "Bersulang."


Keadaan berubah hening, hanya saling menatap dengan rasa percaya diri.


"Sudah semuanya??"


Stella meletakan gelas wine itu dengan anggun. Sedikit senyuman manis tapi bagiakan racun untuk Kakeknya.


"Aku tahu. Kalau Eun Ho. Yang akan duduk di sini." Stella sangat manis tapi mematikan.


"Tapi aku tidak menyangka, seorang keluarga bisa sekejam ini."


"Tidak, aku tidak menuduh Kakek."


Lee Sung Hoon hanya diam, dan menghela nafasnya.


"Kakek, aku tidak akan menyerah sedikitpun." Ucapnya dengan suara pelan tapi begitu menyengat perasaan.


"Kamu masih ingin menghancurkan aku?" Lee Sung Hoon yang masih bersandar dan tampak sorot mata yang tidak menyerah.


"Bukan itu." Stella tersenyum, dan kembali meminum wine itu dengan sangat manis.


"Aku sangat mengenal Eun Ho dan aku tidak tahu keluarga macam apa. Yang bisa menjadikan Eun Ho bagaikan boneka."


"Apa kamu menuduh aku?" Sung Hoon yang sangat tahu akan apa rencana Stella.


"Baik, aku mengakuinya. Aku yang membuat semua ini." Stella dengan senyuman yang memikat.


"Kamu, pantas disebut musuh dalam selimut."


"Aku? Aku cucumu. Eun Ho juga cucumu."


Lee Sung Hoon mulai berdiri, "Silakan lanjutkan rencanamu Stella. Tapi, aku tidak akan menyerah."


"Aku hanya ingin, seorang cucu yang amat Kakek cintai. Melawan Kakeknya sendiri. Kita akan buktikan, siapa yang menang. Eun Ho atau Kakek?"


Stella mulai berdiri dan membungkukan badannya. Kembali menatap Lee Sung Hoon dan senyuman racun Stella sangat mematikan.


Dengan anggun, dia kembali memakai kacamata hitamnya.


Lee Sung Hoon yang tadi berkacak pinggang.


Tampak mengepalkan tangannya dan tangan satunya mencengkeram kursi keagungannya.


"Stella!!"


Stella yang bersedekap sudah melihat kedatangan pria tampan dengan gaya santai tapi begitu menawan, aura sang pemimpin baru tampak menyelimuti dirinya. Berjalan dengan pengawalan yang rapi dan hanya wajah dingin yang dia tampilkan.



"Selamat datang di duniamu! Aku akan ada di sisimu. Sampai aku bisa melihat kehancuran Ji-sung." Gumamnya dan tersenyum manis bagiakan iblis yang ingin segera melenyapkan apa yang sudah menghalangi dirinya.



Flashback On.


Saat pagi tadi Damar yang hendak pergi, ternyata saat keluar dari gerbang jalan rumahnya. Sudah di hadang beberapa para pengawal.


Ada 7 mobil sedan hitam plat B, yang berhenti di depan barrier gate jalan masuk ke rumahnya.



"Mak Lampir keterlaluan." Ucap Damar dengan geram dan sangat tahu apa ulah kakaknya.


Setelah melihat para pengawal itu, dia menghentikan mobilnya. Bagaimana bisa lewat, kalau dihadang mobil yang parkir melintang, bahkan ada 7 mobil.


Dengan perlahan dia melepas seatbelt, dan akhirnya keluar dari mobilnya.


"Tuan,...." Ucap Guru Mao.


"Kalian membuat aku gila."


"Tuan Damar tidak perlu cemas, saya akan disisi Tuan Damar. Apapun yang terjadi. Saya akan mendukung Tuan Damar." Suara tua yang sangat menawan.


Damar tampak menghela nafasnya, sorot matanya tampak tidak senang.


"Kalian!!"


Ingin rasanya hidup bebas dan merasakan kebahagiaan seperti masa remajanya. Tapi kenapa begitu sulit baginya.


Haruskah dia membuat onar seperti waktu remajanya dulu, yang sering memberontak bila ada yang datang ke sekolahnya.


Bahkan teman-temannya semua pasang badan. Akhinya pengawal yang menjemputnya juga menyerah.


"Aku bisa pergi sendiri."


"Tuan Muda... Silakan."


"Guru Mao, aku bisa pergi sendiri." Suara pelan tapi sangat menekan Guru Mao.


Guru Mao menggeleng dan berkata "Kita tidak akan menyerah, kalau Tuan tidak ikut bersama kita. Kita bisa pakai cara lain."


Dengan cepat Guru Mao membuatnya tertidur dan akhirnya Damar tidak bisa berkutik.


"Angkat Tuan kalian." Ucap Guru Mao yang masih memeluk Damar.


Sungguh pagi yang kejam untuk Damar Setya Ardana. Yang akhirnya harus ada di tangan Guru Mao, dan membawanya pergi bersama mereka.


Seorang pengawal membawa mobil Damar dan mereka akhirnya pergi.


Flashback Off.



Jam 10 pagi, di ruang rapat direksi perusahaan Ji-sung.


"Selamat pagi."


"Maaf, saya terlambat." Ucapnya dengan santai dan membungkukan badannya dihadapan dewan direksi dan para petinggi perusahaan itu.