
Ketiga pegawai butik telah mengikuti mobil Arjuna, yang meninggalkan lokasi shuting di sore hari ini.
"Beby, kamu lihat pedangnya?"
"Ya nggaklah. Meski aku lihat, aku juga sudah lupa."
Arjuna yang mengalihkan perasaan Beby, agar kekasihnya ini bisa tersenyum kembali.
"Waah, kacau dong kalau sampai hasil sunatnya nggak bagus."
"Nanti yang ngerasain dia. Biarkan saja, lagian ulah dia."
"Idih, apaan sih. Malah bahas beginian."
"Beby, Beby, lucu juga kamu ya. Orang, Arjuna lagi sunat, malah pingin lihat."
"Ya, waktu itu aku penasaran. Kenapa Arjuna pakai sarung, terus duduk aja. Aku pikir apaan sunat itu. Aku baru 6 tahun jadinya ya kepo aja."
"6 tahun harusnya udah ngerti. Emangnya abang kamu nggak ada yang sunat?"
"Ya Kakakku sunatnya udah duluan lah. Orang mereka udah gede aku baru lahir."
"Sayangku, sayangku, sayangku, kamu makin cemberut makin cute ya."
"Emh, kenapa bahas ginian. Aku jadi malu."
"Kenapa malu? Dulu kamu penasaran sampai ngejar-ngejar aku. Aku jadinya lari sampai kesakitan."
"Iiih, udah. Jangan dibahas lagi."
Mobilnya telah memasuki jalan tol dan sudah terdengar kumandang adzan maghrib.
"Yah, mereka masuk jalan tol."
"Ya udah, bukan rezeki kita."
"Yuk pulang aja."
"Kita balik ke butik aja. Makanan kita masih disana."
"Bener juga."
Mereka yang berjalan ke arah butik dan Beby tetap bersama sang kekasih.
"Aku jadi tahu tentang masa kecil kalian berdua."
"Ya begitu aja. Arjuna jahil. Makanya aku ikutan nakal gara-gara dia."
"Sayang, kamu nyalahin aku?"
"Emang iya. Semenjak bergaulnya sama kamu, aku jadi usil. Sampai keluargaku bilang, aku anak nakal."
Arjuna merangkul bahunya, "Emh, bayiku tidak nakal. Cuma manja."
"Eh, aku lupa. Mobilku masih ada di depan swalayan."
Jimmy berkata "Biar sopir aja yang mengambilnya."
"Sopir?"
"Iya, aku ada sopir di kantor agensi. Tapi, semenjak ada kamu. Aku jadi nyetir sendiri."
"Kenapa memangnya?"
"Kalau orang luar, susah menutup mulut mereka. Takutnya, jadi masalah."
"Owh, kalian takut. Aku jadi masalah."
Arjuna mencium pipi Beby, "Beby sayangku, tunggu sebentar lagi."
"Aku tidak masalah. Tapi, Papi sudah larang kamu jadi aktor."
"Papi??"
"Papi Binar, Ayah kandungku."
Arjuna yang sangat syok bertanya "Papi Binar??"
"Iya."
"Kamu serius?"
"Iya."
Dada Arjuna jadi berdebar kencang, ada rasa yang tidak bisa diungkapkan.
"Kenapa kamu nggak cerita sama aku?"
"Kamu nggak tanya. Kamu juga nggak ada kabar." Jawabnya begitu sewot.
"Beby, Papi Binar. Papi Binar, Pakde dan Omku sendiri. Papi Kakaknya Bunda dan Adiknya Ayah. Bagaimana bisa aku..."
"Aku tahu. Ini akan sulit untuk hubungan kita. Mungkin aku..."
"Beby, kenapa kamu baru kasih tahu aku. Bunda tadi juga nggak bilang apa-apa. Apa karena itu, Bunda mengurung aku dikamar."
"Mungkin? Mungkin apa? Kamu mau pergi lagi? Kamu mau ninggalin aku?"
"Arjuna, kamu juga harus ngertiin aku."
"Beby, harusnya kamu cerita. Waktu kita di Bali. Kamu sudah tahu?"
"Waktu itu, baru kemungkinan besar dan Mami Stella melakukan test DNA."
"Jadi, waktu kita di Bali kamu udah tahu?"
"Iya. Kamu pergi gitu aja setelah ulang tahun aku. Gimana aku bisa cerita sama kamu."
"Tapi kamu nggak apa-apa? Kamu nangis lagi? Atau kamu sakit?"
"Aku nggak apa-apa. Cuma, aku bingung. Semalam aku ketemu Mas Mirza. Terus aku juga banyak ngobrol sama Cinta."
"Hal sepenting ini, kamu baru cerita sekarang?"
"Kamu nggak tanya."
"Oke, semalam kamu kemana aja?"
"Aku makan malam dan nginep di rumah Oma."
"Terus?"
"Ya udah, makanya Papi nggak suka kamu jadi aktor. Itu saja."
"Aku jadi bingung, tapi Bunda tadi juga nggak cerita apa-apa."
"Aku mau pergi. Papi, Mami, sama aku mau ke luar negeri."
"Kamu serius mau ninggalin aku?"
"Iya."
"Beby, kamu serius mau ninggalin aku?"
"Nggak lama. Tapi aku, tetap putrinya Papa dan Mama. Hanya saja, sementara waktu aku mau tinggal sama Papi dan Mami. Terus, Mama sama Papa yang akan jagain Opa Oma."
"Berapa lama?"
"Entah, bisa satu tahun atau lebih."
"Kamu tega ninggalin aku."
"Kamu juga sibuk shuting, aku nggak ngelarang kamu."
Arjuna terdiam, dan Beby memalingkan wajahnya. Rasanya juga bingung, tapi ini demi Papi dan Mami. Selama ini, dia juga telah dibesarkan oleh kedua orang tua yang dulu dianggapnya orang tua kandungnya. Ternyata, mereka bukan orang tua kandungnya.
"Aku tidak ingin kamu pergi."
"Tapi, aku ingin bersama mereka."
Jimmy hanya mendengarkan obrolan mereka dan ada hal tidak bisa di mengerti olehnya. Tidak lama mereka telah sampai di markas khusus.
Yang di Butik Gloria, setelah sholat maghrib. Mereka tampak duduk dan melihat ponsel Beby yang tergeletak di atas meja.
"Bukannya ini ponsel Beby."
"Benar."
Salah satu temannya, mengambil dan ponsel itu tersentuh olehnya. Ada foto Beby bersama Arjuna.
"Apa ini? Bilangnya nggak suka sama Arjuna."
"Apaan?"
"Lihat ini."
Mereka bertiga, akhirnya melihat ponsel Beby dan sangat terlihat jelas di bagian layar utama. Ada foto yang terpampang jelas, foto Beby dan Arjuna pada saat di hotel Bali.
"Jadi benar, dia kekasih Arjuna?"
"Kekasih?"
"Tadi, aku nggak sengaja mendengar obrolan Arjuna sama Managernya."
"Pasti kamu salah dengar."
"Jadi benar. Dia anak orang kaya."
"Anak orang kaya?"
"Iya, kemarin aku melihat Beby mengendarai mobil sampai ke Pondok Indah."
"Kamu serius?"
"Iya, serius."
"Ini fotonya."
Sang teman merasa tidak nyaman, selama ini menganggap Beby orang biasa. Padahal dia pernah berniat membantunya saat mengganti gaun itu.
"Ya udah, mungkin saja dia ingin cari pengalaman kerja."
"Iya, bisa jadi Bos kita ingin mengawasi kita semua dari mata Beby."
"Aah, Bos kita nggak seperti itu."
Tidak lama ponsel itu berbunyi, dan yang memegang ponsel itu gemetar.
"Eh, ini gimana?"
"Udah biarain aja. Itu HP orang, nggak baik kalau kita yang angkat."
"Tapi kalau Beby yang mencari Hpnya gimana?"
"Itu tertera, Starla."
"Ya bisa jadi, temannya."
"Ini lagi, panggil lagi orangnya."
Berarti penting, angkat aja, dan bilang Hp Beby ketinggalan di Butik.
Mereka mengangkat panggilan itu dan menekan speaker.
"Hallo."
"Sayangku, kenapa lama angkat panggilanku?"
"Maaf, saya bukan Beby."
"Beby?"
"Cinta sayangku, kamu jangan bercanda deh."
"Cinta?"
"Maaf, ini ponsel Beby, tertinggal di Butik."
"Tapi ini benar, nomor sahabatku. Apa dia nganti nomor." Dia yang menggerutu dan tidak tahu menahu tentang sang sahabat.
"Maaf, ini saya temannya Beby. Hp Beby ketinggalan di Butik Gloria."
"Oke, berarti saya salah nomor. Maaf sudah mengganggu, terima kasih."
Starla Zielovia sang sahabat dan dia juga calon istri dari sang Kakak tampan sang Bintang kejora. Bintang Kejora hanya sebutan dari adik nakalnya itu.
Setelah beberapa saat dan Starla lanjut lagi menghubungi nomor itu.
"Hallo."
"Iya, ini saya yang tadi. Ini benar nomor hp sahabat saya. Kalau boleh tahu dimana alamat butiknya. Saya akan mengambil ponselnya."
Mereka bertiga akhirnya memberikan alamat Butik Gloria kepada Starla.
Kebetulan Starla ada di kawasan itu, hanya butuh 30 menit untuk menuju ke tempat itu.
"Apa yang terjadi?! Beby? Siapa Beby?"
Dia yang mengendarai mobil seorang diri, sampai saat ini sang kekasih juga tidak menceritakan kepadanya. Tentang apa yang menimpa sahabatnya dan juga calon adik iparnya.
Starla kelihatannya saja garang dan tomboy, tapi hatinya sangat lembut.
Setelah beberapa saat kemudian, dia sudah berada di Butik Gloria. Ketiga teman pegawai Butik telah bertemu Starla di parkiran Butik Gloria.
"Tolong perlihatkan foto sahabat anda. Kita hanya memastikannya."
"Tunggu sebentar."
Mereka bertiga juga bisa melihat mobil sporty warna merah dan penampilan Starla, sangat berbeda dengan mereka bertiga.
"Ini foto sahabatku. Namanya Cinta."
Mereka bertiga, melihat sendiri bahwa foto itu memang Beby, teman kerja di Butik Gloria.
"Iya benar. Ini ponselnya."
Starla tetiba menyentuh layar ponsel, lalu berkata "Arjuna sama Cinta?? Bereengsek Arjuna."
Mereka juga mendengar itu dan Starla langsung menghubungi Arjuna.
Arjuna telah mengangkat panggilan Starla.
"Arjuna."
"Halo kakak ipar."
"Jangan sok manis."
"Ada apa? Owh, pasti kamu sudah pulang."
"Cinta dimana?"
"Cinta? Kamu tanya aku dimana Cinta."
"Aku tahu kalian bersama."
"Aku tidak bersama Cinta. Tapi aku bersama Beby."
"Starla, Arjuna nyulik aku."
"Beby?? Apa maksud kamu?? Aku di Butik Gloria mereka juga bilang Beby."
"Hah, kamu di butik?"
"Cinta, ini ponsel kamu ada sama aku. Kamu dimana?"
"Aku bukan Cinta. Aku Beby."
"Beby, Beby siapa? Jelaskan sama aku."
"Sayangku, aku nggak bisa menemuimu. Besok aku temui kamu. Pegang aja ponselku."
"Kalian"
Tutt Tutt.
"Arjuna benar-benar bereengsek." Desisnya dan ketiga teman Beby mendengar hal itu.
"Mbak, terima kasih ponselnya. Besok saya akan datang lagi kemari."
"Iya."
"Saya permisi dulu."
Starla yang merasa geram. Kekasihnya juga tidak cerita soal apapun kepadanya.
"Arjuna, kalau sampai sahabatku terluka. Aku pastikan karirmu akan hancur."
Starla yang mengendarai mobilnya dan ia menuju ke suatu tempat.
Tidak berselang lama, sebuah berita gosip sudah mengejutkan para penggemar Arjuna.
Berita dengan tulisan, Aktor tampan yang sedang mengisi acara dating show, telah menculik seorang gadis cantik dari keluarga kaya.
"Arjuna, menculik gadis?"
"Hah, ini seperti foto di hp Beby."
"Mana mungkin Arjuna penculik."
"Waah, gila. Arjuna bener-bener penjahat wanita."
Di rumah Jimmy, dan mereka bertiga masih dalam canda tawa. Tidak melihat kabar apapun dalam berita media ponsel.
"Bentar, aku orang penting. Produser telephone aku."
Jimmy yang mengangkat panggilan itu,
"Apa?? Arjuna menculik gadis?"
"Bos. Itu pasti salah paham. Arjuna sama saya terus."
"Berita utama? Di idola gosip?"
"Sebentar saya cek dulu."
Kedua orang itu menatap Jimmy, saat Jimmy melihat foto Arjuna dengan gadis. Meski wajah gadis itu telah di blur, Jimmy tetap bisa melihatnya. Lalu ia menatap ke arah Arjuna dan Beby yang ada dihadapannya.
"Baik, saya mengerti."