
Satu minggu kemudian. Setelah mereka berdua beradu jotos. Tampak keduanya masih mengenakan piyama pasien. Viral yang telah membawa mereka berdua ke tempat pribadinya. Ada dokter yang telah mengobati.
Malam itu, Damar juga pingsan karena kepalanya terasa pening dan jadi tak sadarkan diri.
Dua orang duduk dan tampak berebut remot televisi.
"Aku yang lebih dulu." Ucap Binar.
"Aku hanya ingin melihat berita saja. Aku tidak ada ponsel."
"Ini, aku ikhlas. Demi Tuhan. Aku rela."
"Apa lagi maksudmu?"
"Maksudnya, aku merelakan remot ini. Silakan menyaksikan berita. Aku akan mandi. Aku sudah tidak betah di tempat ini."
"Aku juga, aku sudah rindu istriku."
Entah, Damar memancing Binar atau tidak, Binar tampak menoleh ke arah Damar yang hendak duduk di sofa.
Binar menggeleng, lalu berkata "Dia memang angkuh."
Damar tidak menghiraukannya, lantas Viral datang dan tampak menggendong bayi tampan.
"Hallo Pakde."
Viral yang menyapa Damar lebih dulu, Binar yang mendengar itu, ia jadi beranjak untuk mendekat ke arah Viral.
"Jagoan Pakde datang. Hallo sayang. Kamu datang kesini jenguk Pakde Damar ya?"
"Mana mungkin, dia masih kecil. Dia suka kalau aku gendong." Binar yang langsung meminta Arjuna dan ia sudah tampak menggendongnya.
Oooweeek!!
Entah, karena takut atau memang tidak suka di gendong Binar. Arjuna langsung menangis kencang. Tatapan Arjuna juga seperti ketakutan.
"Hems, dia takut sama perban itu." Sela Damar dan ia mengambil Arjuna dari tangannya Binar.
"Sayang, jagoan Pakde. Pasti kangen ya sama Pakde Damar."
"Aku juga Pakdenya."
Viral menyela, "Binar, sudah terima saja. Kamu Ommya Arjuna. Bukan Pakdenya. Kamu lebih pilih Abyaz sebagai Kakak, bukan aku."
Binar yang membalasnya "Iya Mas Viral. Mas Viral yang baik hati dan tampan. Aku sudah bosan disini. Aku mau pulang."
"Dokter belum mengijinkan kamu pergi. Kalau Damar, sudah boleh pulang hari ini."
Damar tersenyum, lalu ia berkata "Yes!"
"Kalian, sepertinya sudah akur. Aku jadi lega. Ini ponsel kamu. Segeralah pulang. Abyaz tadi malam pingsan. Makanya, si tampan ini di titipin sama aku."
"Abyaz pingsan?"
Binar berkata "Ini semua gara-gara kamu. Coba kita nggak tinju. Pasti Abyaz tidak sakit."
"Semoga saja, Abyaz sakit karena rindu sama aku." Damar yang masih saja memancing prahara.
Binar berkata "Pastinya, karena masa lalu. Bukan karena kamu. Dia kepikiran setelah bertemu denganku."
Viral melihat mereka yang beradu mulut, dengan segera mengambil Arjuna dari tangan Damar.
"Damar, pergilah. Abyaz sudah menunggu kamu."
Senyuman nakal Damar, lalu ia menepuk bahu Binar "Saudaraku, aku akan beri kesempatan kamu menjenguk istriku. Sebagai saudara, aku tidak keberatan."
Binar menyapu tangan Damar dengan kesal. Ia langsung berlari ke kamar mandi dan Damar juga tidak mau kalah lagi. Sudah seperti kakak beradik yang sedang berkelahi dan berebut kamar mandi.
"Sudah satu minggu, tapi mereka tetap begitu."
Viral lalu beralih ke jagoan tampan ini, "Arjuna sayang, ayo kita jalan-jalan. Biarkan saja, mereka berebut gayung."
Viral yang menggendong gemas bayi tampan ini dan pergi meninggalkan tempat itu bersama para pengawalnya.
"Kamu juga seperti Noah. Nanti, Pakde siapan pengawal khusus buat kamu. Kalau nanti sudah besar. Kamu juga harus akur sama Kakak Noah ya. Jangan seperti mereka."
Viral yang tampak memanjakan bayi tampan ini, ia juga membelikan mainan baru. Dengan senang hati menimangnya dan sampai terlelap dalam dekapannya.
3 *****jam kemudian*****.
"Sayang."
"Damdamku, kamu kenapa? Wajah kamu ini." Abyaz memegang wajah suaminya.
Abyaz yang telah pendapatkan perawatan dari dokter pribadi.
Meski ada sang mertua, mereka belum melihat wajah Damar yang masih ada bekas kebiruan, ada luka dengan sedikit jahitan di area pelipis sebelah kiri.
Damar berkata "Aku tidak apa-apa. Namanya juga lelaki."
"Sayang, kamu berantem sama Binar?"
Damar perlahan menyetuh rambutnya, dan menyelipkan ke belakang telinga. Abyaz masih menatapnya saja.
"Mas Damar."
"Sayang, aku tidak apa-apa."
"Pantas saja satu minggu kamu nggak pulang. Tapi, Vivi bilang kamu ke luar kota, karena urusan penting."
"Benar. Aku memang ada urusan penting."
Abyaz cemberut manis, dan Damar bertanya "Kenapa kamu bisa sakit?"
"Ini semua gara-gara kamu."
"Karena aku?"
Dalam hatinya berkata "Yes, Abyaz sakit karena aku. Bukan karena Binar."
"Iya, karena kamu. Siapa lagi yang bisa membuat aku hamil kalau bukan kamu."
"Sayang?"
Abyaz mengangguk, ia berkata "Iya, aku hamil 3 bulan. Tapi, aku nggak sadar."
"Ini beneran? Aku tidak mimpi?"
"Ya beneran, masa aku bohong."
Abyaz langsung memberikan surat dari dokter yang merawatnya. Setelah ia membaca lembaran itu, Damar langsung memeluknya.
"Sayang, aku bahagia. Aku sangat bahagia."
"Tapi, aku harus bedrest. Aku terlalu banyak kegiatan."
"Aku akan membatalkan tempat liburan kita."
"Iya dibatalin dulu. Kamu harus istirahat. Selama aku libur. Aku akan menjaga kamu."
"Emmh."
Damar kembali memeluknya dan ia mengelus rambut Abyaz.
"Aku akan menjagamu. Aku sudah lama tidak memperhatikan kamu. Aku janji, akan menjagamu dan anak kita."
"Emh, jangan pergi tanpa pamit."
"Iya sayang. Aku salah."
"Apa Binar juga sepertimu?"
Damar berkata "Ya, hanya sedikit terluka."
Abyaz memukul dadanya, "Kamu ini, aku lagi hamil malah memukuli orang. Nanti kalau anak kita jadi pemukul gimana?"
"Sayang, aku cuma seperti latihan tinju biasa."
"Jangan bohong, ini buktinya. Wajah kamu jadi begini."
"Kepala aku juga, Dadaku juga ditinju."
"Udah puas kalian saling meninju?"
"Sayang."
Abyaz lantas memeluk suaminya "Jangan tinggalin aku. Aku kangen sama kamu."
"Aku juga kangen banget sama kamu."
Setelah beberapa jam kemudian.
Di hadapan Papa Pras, kedua lelaki ini bersimpuh. Damar dan Binar, masih menatap wajah teduh itu. Papa Pras tampak terdiam. Setelah menjewer kedua pria tampan ini.
"Pakde. Binar yang salah. Dari awal, memang Binar yang memancing amarah Damar."
"Papa. Damar yang salah, minggu lalu mendatangi Binar dan mengajaknya ke ring tinju."
Keduanya saling mengatakan hal yang benar terjadi. Papa Pras melihat kedua orang ini, mengatakan hal yang jujur.
"Papa. Tapi Damar waktu itu, cuma ingin saja meminjunya. Damar beberapa hari nggak bisa tidur. Karena Binar berpelukan sama Abyaz."
Papa Pras menatap ke arah Damar, lalu Binar berkata "Pakde. Binar memeluk Abyaz, karena memang dari dulu kita begitu. Damar saja yang cemburunya berlebihan."
"Papa. Suami mana yang tidak senang, bila istrinya dipeluk pria lain."
"Tapi aku saudaranya."
"Sekarang kamu sudah memperjelas saudara. Bukan orang pertama." Lanjutnya Damar "Papa lihat sendiri. Kelakuan Binar yang membuat Damar panas dingin."
"Pakde sangat tahu. Mana pernah Binar memakai kekerasan untuk melampiaskan perasaan."
Keduanya kembali debat dan Papa Pras jadi pusing melihat kegaduhan ini. Dalam sebuah ruangan dan tampak di kunci. Di luar, penjagaan begitu ketat oleh pengawal Damar dan juga bodyguard Binar.
Papa Pras berdiri, lalu berkata "Silakan. Beradu lagi sepuas kalian berdua."
"Pakde."
"Papa."
"Silakan. Beradu tintu di hadapan saya. Anggap saja saya ini penonton."
"Papa. Damar yang salah. Iya, Damar akan minta maaf sama Binar."
"Pakde, tampar saja Binar. Binar sudah membuat menantu Pakde terluka."
Papa Pras kembali duduk. Lantas berkata "Silakan mainkan ini. Saya akan menontonnya."
"Catur?"
"Iya."
Damar merasa senang, karena ini juga keahliannya. Binar berkata "Pakde, lebih baik kita mancing saja. Siapa yang dapat ikan lebih dulu. Dia pemenangnya?"
"Pemenang?" Papa Pras akhirnya tahu, poin masalah utamanya.
Binar menghembuskan nafasnya dan Damar dalam hatinya senang.
"Pemenang."
"Kalian pikir. Saya tidak tahu masalah kalian berdua."
"Papa. Binar yang masih mengenang masa lalunya. Abyaz istriku. Aku tidak bisa menerimanya."
"Pakde. Bukan begitu masalahnya."
Tapi, Binar sudah tak bisa berkata lagi.
"Perasaan cinta memang tidak salah. Siapapun, boleh menyatakan perasaannya."
"Papa. Tapi, Abyaz istriku."
Binar merasa mendapat secercah harapan manis.
"Masa lalu itu tidak perlu diungkapkan begitu saja. Tapi, boleh saja menyimpan kenangannya. Tidak masalah."
"Papa."
"Damar. Papa sangat tahu masa lalu Abyaz dan Binar. Kamu tidak perlu mencemaskannya."
"Papa."
"Binar."
"Iya Pakde."
"Kamu saudaranya Abyaz. Sampai kapanpun. Kamu ini Adiknya Abyaz."
"Iya Pakde. Binar tahu."
"Pulanglah ke rumahmu. Kedua orang tua kamu sangat membutuhkan kamu. Lingga sangat ingin, kamu yang menjadi penerusnya. Kamu harus jadi anak yang bisa membanggakan Daddy kamu."
"Iya Pakde. Binar tahu."
"Binar. Mencintai orang itu tidak salah. Yang salah adalah, sikap kamu yang sudah banyak berubah."
"Pakde memang benar. Binar sudah salah melangkah."
Papa Pras berkata "Pakde juga sangat merindukan keponakan Pakde. Sudah lama sekali kamu tidak memijit pundak Pakde."
"Papa."