
Di waktu pagi menjelang siang, sekitar jam 11, Alvaro lekas pulang ke rumah. Karena, sepanjang mengajar dirinya juga tidak fokus. Lalu, ia memilih untuk ijin dan segera pulang.
Perasaannya masih tidak menentu, ada rasa yang belum bisa menerima soal Gaby yang ternyata bagian dari keluarga Mahatma. Ada pula, perasaan yang tidak nyaman sebagai suami, saat sang istri sedang sakit. Meskipun, pernikahan baru hitungan hari. Alvaro telah berniat untuk menjadi suami sekaligus imam yang bertanggung jawab.
"Ma, gimana keadaan Gaby?" Setelah sampai di rumah. Bertemu sang Mama yang sedang menyapu lantai di teras rumahnya.
"Demamnya sudah turun, barusan ke kamar mandi dan bilang mau ganti baju." Ucap sang Mama yang lembut.
"Syukurlah." Alvaro lantas masuk ke dalam dan menuju ke lantai dua.
Gaby yang masih berada di kamar mandi, saat bersamaan Al yang menuju kamarnya.
Degh!
"Mas Al." Gaby yang manis dengan wajah pucat.
Meski demamnya sudah mulai menurun, tapi Gaby masih sakit. Tadi, keringat dingin bercucuran saat ia tidur dan baru saja dirinya berganti baju.
Al mendekat dan langsung mengangkat dalam dekapannya. Kedua wajah yang dekat. Alvaro yang masih memakai jaket dan menggendong tas ranselnya. Ia tersenyum dan membawa istrinya ke kamar.
Tangan Gaby yang memegang handuk kecil, begitu imut. Alvaro menempelkan bibirnya ke pipi Gaby yang menggemaskan itu.
"Cepatlah sembuh."
"Iya."
Alvaro mendudukan Gaby ke atas ranjang, lalu mengambil handuk yang dipegang Gaby itu. Meletakan di atas meja, sekitar tempat tidur.
Alvaro mencium kening istrinya, lanjut berkata "Istirahat ya. Jangan banyak gerak dulu."
"Aku cuma ganti baju." Suara itu begitu lembut, dan terlihat sikap polosnya.
"Ya sudah, aku mau ganti baju dulu. Kamu istirahat. Kalau butuh apa-apa, kamu telephone aku."
Gaby berkata "Iya."
Alvaro lantas pergi dari kamarnya, setelah mengambil baju ganti dari lemari.
"Mas Al." Batin Gaby yang merasa senang, atas perlakuan Alvaro kepadanya.
Gaby meraih ponselnya, yang ada di meja sebelah tempat tidur.
[Gaby, kamu baik-baik saja? Apa Alvaro masih marah sama kamu?]
Pesan itu dari Viral, saat Viral menuju kantor utama Mahatma. Viral masih ingat jelas, kemarin Alvaro begitu dingin. Viral kembali mencemaskan keadaan Gaby, apalagi kalau orang tua Alvaro tahu, tentang Gaby yang ternyata adalah cucunya Yuda Mahatma.
[Kak Viral. Gaby baik-baik saja. Mas Al menjaga Gaby dengan baik. Kakak tidak perlu cemas.]
Kemarin, wajah Alvaro memang dingin. Tatapannya begitu tajam, Gaby juga sudah mengakui dirinya telah berbuat salah. Meski, awalnya sulit untuk menerima kenyataan ini. Hati keras Alvaro perlahan melunak dan menerima pengakuan Gaby dengan hati yang lapang. Mau bagaimanapun, Gaby sudah menjadi istrinya.
[Baguslah, kalau begitu.]
Viral membalas pesannya dan Gaby merasa lebih tenang. Setidaknya, Kakak tertua sudah tahu tentang dirinya. Tinggal mengurus Pakdenya, bila nanti suatu saat mengetahui fakta tentang dirinya yang sudah menikah. Bahkan, dengan Alvaro Putra Prasetya.
Gaby kembali meletakan ponselnya dan ia kembali berbaring. Tubuhnya masih perlu istirahat yang cukup. Gaby yang memeluk guling, begitu manis saat ia tertidur sendirian.
30 menit kemudian, Al kembali ke kamarnya, melihat Gaby yang sudah terlelap. "Gadis bandelku, ternyata menurut juga."
Al mendekat dan duduk menyamping di atas ranjang. Mengecup manis pipi gemoy Gaby.
Melihat ke arah meja dan Alvaro meraih ponsel Gaby yang tampak menyala. Alvaro menatap ke layar pintar itu. Ada sebuah pesan yang baru masuk.
[Gaby, setelah pulang sekolah nanti. Temui aku di taman biasa. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan sama kamu.]
"Darren??"
Setelah mengetahui faktanya, Al yang saat ini menoleh ke Gaby. Masih ingin tahu lebih tentang istrinya.
"Taman biasa?"
Alvaro mengingat akan taman mana yang Gaby suka kunjungi. Depan rumah juga ada taman, tapi bukan taman itu.
Alvaro melihat jam di layar ponsel itu, masih sekitar 2 jam lagi untuk Gaby menemui Darren.
"Darren."
Alvaro yang tidak ingin ada hati yang mengganjal, dia sendiri yang harus menemui Darren dan menanyakan semua tentang Gaby.
"Gaby, aku pergi dulu." Ucap Al dan mengelus rambut istrinya.
Gaby masih tidur nyenyak, entah apa yang dia mimpikan. Bisa jadi mimpi pacaran dengan Al.
Alvaro sudah bersiap dengan jaket kulit hitam. Sang Papa yang melihatnya, dan Mama juga melihat ke arah Alvaro yang menuruni tangga.
"Kamu mau kemana?" Tanya sang Papa.
Dari kemarin, Al sudah memikirkan cincin pernikahannya. Gaby juga tidak menginginkan mahar atau seserahan. Apalagi tentang perhiasan, namun Al ingin memberikan sebuah cincin berlian, agar tersemat dijari manis Gaby.
Mama mendekat dan berkata "Al, apa tidak sebaiknya besok saja kalau Gaby sudah sembuh. Biar Gaby memilih sendiri cincin yang ingin dipakainya."
"Mama tenang saja, Gaby tidak pemilih. Dia juga harus bisa menerima Al apa adanya." Al yang merasa kalau dirinya bukan apa-apa dibanding keluarga Mahatma.
Sang Papa mendekat, memegang bahu Al berkata "Al, kuncinya adalah legowo."
Alvaro yang tadinya merasa tidak nyaman saat melihat pesan Darren, dia merasa ada hal aneh dalam pikiran dan hatinya.
"Iya Pa. Al mengerti."
"Papa, apa tidak sebaiknya. Kita ke rumah Lingga." Britney yang masih merasa tidak nyaman.
Papa Pras berkata "Mama, kita tidak perlu kesana. Gaby, sendiri sudah membuat keputusan. Dia sudah tidak ada wali. Untuk apa kita kesana."
"Tapi, Papa. Kita besanan sama mereka."
"Itu menurut Mama. Tapi menurut Papa. Besan kita, ya Alm. Yusuf."
"Tapi Langit sudah tidak..." Mama Britney tidak melanjutkan perkataannya, saat melihat Gaby yang melangkah menuruni anak tangga.
Alvaro yang sudah memakai jaket, kembali ke tangga dan menggandeng Gaby.
"Mas Al, mau kemana?" Tanya Gaby dan ia memegang erat lengan kiri Al.
"Aku mau ke toko perhiasan."
Gaby tersenyum dan Al mengajaknya untuk duduk di sofa ruang tengah.
Alvaro bertanya "Kamu mau cincin seperti apa?"
Gaby tersenyum berkata "Apa saja yang Mas Al pilihin buat aku. Aku mau."
Mendengar hal itu, Alvaro tersenyum. Saling berpegangan tangan dan membuat Mama Britney senang.
"Gaby, kapan-kapan kita ke rumah Pakde kamu ya? Kita harus menjalin hubungan besan." Ucap Britney.
Gaby menggeleng, "Mama kita tidak perlu kesana. Cukup Kak Viral saja yang mengurus semuanya."
Britney mendengar hal itu langsung terdiam. Papa Pras memegang tangan Britney "Mama yang tenang. Gaby itu sendirian. Kita tidak bersalah saat menikahkan Al sama Gaby. Sudah, jangan dipikirin."
Gaby berkata "Mama, Gaby sudah membuat keputusan. Gaby yang akan bertanggung jawab atas keputusan Gaby, bukan orang lain. Mama, meski mereka kerabat Gaby, tapi mereka bukan lagi wali asuhnya Gaby."
Mama Britney meski sudah memaafkan Gaby, tapi pikirannya kembali ke Lingga yang pernah menjadi walinya Gaby. Menganggap sudah lancang, menikahkan Gaby dan Alvaro tanpa sepengetahuan mereka. Padahal, jelas-jelas sekarang Gaby hidup sendiri tanpa wali asuh. Baik secara dokumen, maupun secara kehidupannya, Gaby juga tinggal sendirian tanpa ditemani wali asuhnya.
"Kalau begitu, kamu telephone Viral dan kita bisa adakan pertemuan keluarga."
"Iya Mama. Nanti Gaby akan bilang sama Kak Viral." Gaby yang masih lemas. Sebenarnya, dia masih ingin tidur. Namun, ada panggilan telephone yang membuatnya terbangun.
"Mas Al, tidak perlu menganggap aku bagian dari keluarga Mahatma."
"Iya."
"Gaby juga orang biasa. Sama seperti Mas Al." Gaby yang menyandarkan kepalanya di dada Alvaro.
Setelah obrolan itu, Alvaro pergi dan Gaby bersama kedua mertuanya.
Gaby memegang tangan Mama mertua, ia berkata "Mama tidak perlu cemas. Hubungan Gaby dengan Pakde dan Budhe baik-baik saja. Hanya saja, Gaby harus tinggal terpisah dari mereka."
"Mama hanya tidak enak hati dengan mereka."
Papa Pras menggeleng, agar istrinya tidak keceplosan tentang masalah lama.
"Pakde dan Budhe baik sama Gaby. Cuma akhir-akhir ini, Gaby sudah banyak merepotkan mereka."
"Terus, Budhemu Limar. Apa dia tahu kamu tinggal disini dan sudah menikah?"
Gaby menggeleng, ia berkata "Budhe Limar sudah banyak pekerjaan kantor. Gaby hanya sesekali menemuinya."
"Jadi, dia tidak tahu sama sekali?"
"Gaby tidak mau merepotkannya."
"Viral yang laki-laki saja banyak pengawalnya, kenapa keponakan perempuan malah tidak dijaga? Sebenarnya ada apa?" Batin Mama Britney.
"Mulai sekarang, kamu tinggal disini saja." Ucap Papa Pras dengan santai.
"Baik Papa." Gaby tersenyum.
Papa Pras mengingat akan masa lalu, ketika Abyaz menjalin hubungan dengan putra keluarga Mahatma. Meski, sudah 12 tahun berlalu, namun dibenak mereka masih teringat jelas, kenangan masa itu.
Britney hanya memikirkan tentang kerabatnya. Semenjak masalah dengan istrinya Binar. Britney merasa dirinya sudah tidak sepadan dengan sepupunya itu. Entah, kenapa pikiran itu selalu ada dalam benaknya, ketika berurusan dengan keluarga Lingga.