ABYAZ

ABYAZ
Bab. 41. Nenek Kandung Akan Kembali



Malam hari, Arjuna dan Beby yang sudah tampak jalan berdua. Demi menyenangkan perasaan istrinya. Arjuna tetap harus menuruti keinginan istrinya tersayang.


Keduanya tampak bergandengan tangan dan Beby sangat gemas melihat permen kapas. Mereka berdua sudah berada di wahana bermain.


"Aku mau itu."


"Siap, bayi cantikku." Arjuna yang mengerti akan hal itu, Arjuna begitu manis dan Beby masih berdiri di tempat dia menunjuk sebuah permen kapas.


Arjuna yang telah membeli dengan warna kesukaan Beby. Sayangnya, Beby yang tadinya sangat tertarik, berubah sendu, dirinya tidak menyukai permen kapas pilihan Arjuna.


"Sayang, ini."


Bibir cemberut itu, berkata "Aku tidak suka warna ini."


"Bukannya kamu suka warna ini."


"Cinta yang suka, bukan aku."


"Aku sudah salah." Arjuna yang hendak berjalan pergi untuk kembali membeli permen kapas itu, tetapi Beby meraih permen kapas itu.


"Arjuna, aku tidak apa-apa. Lagian, ini sama manisnya."


"Maafkan aku, aku belum bisa mengenal Beby."


"Iya, aku tahu." Beby dengan gemas memegang perman kapas itu di tangan kanannya. Lantas, tangan kiri sudah memegangi lengan tangan Arjuna.


Arjuna tersenyum melihat tingkah Beby yang menggemaskan.


"Kenapa kamu ingin kesini?"


"Hanya ingin saja."


Duduk di sebuah kursi memandangi sebuah istana buatan. Sangat menarik dengan hiasan lampu bagaikan bintang yang berkerlap-kerlip mengelilingi istana itu.


"Kenapa kamu berani menikahi aku?"


"Aku juga tidak tahu."


"Arjuna, pernikahan bagiku sekali seumur hidup."


"Aku tahu."


"Aku tidak akan menyesal. Aku akan berusaha menerima keadaan kita, seperti saat ini."


"Iya, aku mengerti."


"Tapi, aku juga punya rasa cemburu."


"Bagus, kalau kamu bisa cemburu."


"Arjuna, aku serius."


"Aku juga serius."


"Aku juga tidak mengerti, kenapa aku bisa menerima lamaran kamu di hadapan keluarga kita."


Beby sambil menikmati permen kapas yang ada di tangannya. Arjuna juga sedang menatap jauh ke sebuah bangunan yang mirip kastil.


Perlahan Arjuna merangkul bahu Beby, dengan mata tertutup, dia mengecup pipi Beby.


"Aku akan menjaga kamu."


"Benar, kamu harus menjaga istrimu ini dengan baik."


"Beby."


Sang istri ini merasa kalau suaminya memang sedang bucin.


"Geli."


"Geli?"


"Arjuna, sudah dong."


"Oke, sepertinya kita harus berbulan madu."


"Bulan madu?"


"Iya, honeymoon."


"Nanti aku akan memikirkannya."


"Kenapa harus dipikirin lagi. Aku suamimu."


"Arjuna, kamu masih sibuk shuting dan aku harus kembali ke Butik."


Arjuna merasa aneh, padahal mereka berdua ini suami istri. Tetapi masih seperti orang yang PDKT.


"Aku tidak mau, kamu kembali kesana."


"Kenapa? Aku harus kerja. Disana juga menyenangkan. Aku bertemu banyak orang."


Arjuna yang memikirkan kalau cara ini tidak akan berhasil. Merayu Beby tidak mudah, apalagi sampai melarangnya agar berhenti bekerja.


"Beby. Aku mencemaskan kamu."


"Kenapa? Aku bakal dijambret lagi?"


"Kalau lebih dari itu bagaimana?"


"Kamu takut keluarga kita menyalahkan kamu?"


"Iya, aku takut. Kemarin Bunda udah aku melototin aku terus."


"Kamu beneran takut sama Bunda?"


"Iya."


"Sama aku?"


"Tidak."


Di tempat lain, seorang wanita tua tampak mengelus-elus kucing kesayangannya.


"Nyonya"


"Ada apa?"


"Nyonya Benar. Madam Yuzra yang sudah mencelakai cucu anda."


"Dia?"


"Benar Nyonya."


Mengingat akan satu hal, dia seseorang yang hendak mengambil bayi cantik itu dari tangan Gisella, pada akhirnya bayi itu Gisella tukar agar tidak diambil oleh si Nyonya tua ini.


Sebut saja Nyonya Jati. Memang itulah sebagian nama, dari nama panjangnya. Usianya 80an dan tampak berbadan kecil. Tapi, dia seorang pimpinan yang berhati tega.


Dia adalah, Ibu kandung Binar Jati Lingga.


Mengelus-elus kucing hitamnya dan ia menatap bingkai foto besar saat dirinya bersalaman dengan Binar untuk urusan Bisnis.


"Aku akan kembali."


"Baik Nyonya. Saya akan menyiapkan semuanya."


Beranjak dari kursinya dan lekas pergi membuka berankas yang ada di ruangan itu.


Ruangan yang gelap dan ia memang menyukai kegelapan. Tangan kanannya telah memegang sebuah pistol.


"Aku tidak butuh ini."


Lalu, si Nyonya tua kembali mengambil sesuatu yang berupa serbuk dalam sebuah botol kecil.


"Ini?"


Ia mengingat, kalau Yurza hanya sosok biasa. Tidak perlu menghabisinya dengan cara keji.


"Sepertinya, butuh permainan."


Di kediaman Arman, Yuzra menatap bingkai foto keluarga kecilnya dengan perasaan manis.


"Tidak ada lagi pengganggu di rumahku ini, sangat nyaman."


Yuzra yang terlihat lemah lembut dan ia sangat pandai meraih hati suaminya. Meski bisa berbagi dengan madunya. Tapi, Yuzra tidak sebaik itu.


Yuzra yang kalem dan seolah banyak mengalah dihadapan anak-anak serta madunya. Tetapi, tipu muslihat yang Yuzra mainkan begitu manis, sampai tidak ada yang mencurigai dirinya.


Yuzra belum tahu saja, akan ada nenek sihir yang akan segera mendekatinya dan membuat kegelapan dalam rumah mewahnya.


Kembali pada Arjuna dan Beby. Sudah main gendong-gendongan. Keduanya sudah cukup bermain di malam ini.


Arjuna yang menggendongnya sampai ke area parkiran mobil dan Beby tampak nyaman dalam punggung Arjuna.


Saat mereka telah berada di mobil dan Arjuna yang memasang sabuk pengaman Beby.


"Tidak capek. Aku sudah terbiasa kerja 24 jam."


"Benar juga."


"Kenapa?" Arjuna yang memegang kedua pipi Beby dengan gemas.


"Tidak apa-apa. Hanya saja, aku bingung. Kalau nantinya, aku tidak bekerja. Aku harus hidup bagaimana?"


"Kamu tinggal shopping."


"Minat shoppingku sudah berkurang. Aku bukan lagi Cintamu yang bisa menguras isian tasnya."


"Beby."


"Bukannya aku mengingat Cinta. Tapi, ini memang sulit untuk aku lalui. Aku tidak tahu, kenapa aku harus mengalami ini di usiaku yang saat ini."


"Iya, tapi aku lihat. Kamu sudah bisa mengatasi hari-harimu. Seperti di Butik. Kamu sangat pandai melayani tamumu."


"Kamu mengejek aku?"


"Siapa yang mengejek." Arjuna yang perlahan mengemudikan mobilnya.


"Kalau begitu, aku harus kembali ke Butik."


"Baik, aku beri satu kesempatan. Tapi, aku sangat mencemaskan kamu."


"Aku akan baik-baik saja."


"Iya, aku juga akan mencobanya."


"Mencobanya?"


"Iya, mencoba agar tidak cemas selagi saat sibuk bekerja."


Beby dengan semangat yang dia miliki saat ini. Lalu mengecup pipi Arjuna dengan gemasnya.


"Terima kasih."


"Sama-sama."


Selama dalam perjalan, mereka berdua sangat manis. Mendengarkan musik favorite mereka berdua dan Arjuna juga sangat pandai bernyanyi. Arjuna sudah lebih dewasa bila berhadapan dengan Beby. Tidak seperti, ketika ia sedang bersama Cinta Damayaz.


Mengingat masa-masa SMA bersama.


"Cinta, cintaku, cintaku, sayangku."


"Apa? Aku lagi sibuk."


"Gawat."


"Gawat apanya?"


"Bunda tahu, kalau aku bolos. Bunda sudah jalan kesini."


"Tante Gaby datang kemari?"


"Iya."


"Sana, ngumpet di ruang ganti."


"Nggak mau." Tatapan Arjuna yang kenakanakan.


Saat itu, mereka berada di rumah Presdir Damar. Sayangnya, kedua orang tua Cinta saat itu sedang berada di luar negeri. Arjuna yang kala itu mengikuti Cinta dan takut kembali ke rumahnya.


"Aku, harus disini?"


"Emh, kamar mandi jauh lebih baik. Nanti aku bilang, yang ada di kamar mandi itu Starla."


"Aku bisa kedinginan."


"Mau ketahuan?"


"Baiklah. Tapi jangan sampai ketahuan Bunda."


"Ya, lihat nanti."


Benar, tidak lama Bunda Gaby sudah menuju ke kamar itu. Dari rumah, Bunda sudah darting dan segera ingin marah dihadapan putra semata wayangnya.


Mendapat surat panggilan dari sekolah, dan itu bukan surat teguran yang pertama, ini sudah ke tiga kalinya sang Bunda menerima surat dari sekolahnya Arjuna.


"Cinta, kamu melihat Arjuna?"


"Iya Tante Gaby."


"Dimana?"


"Tadi, ada disini. Tapi, Cinta nggak tahu kemana dia pergi."


"Anak itu, bikin aku cepat tua." Desisnya dan Cinta hanya tersenyum.


Bunda Gaby melihat hasil karya Cinta. Sebuah susunan rumah dari kardus dan Cinta memang sibuk menyusun benda kecil untuk interior rumah kardus buatannya itu.


"Kamu memang rajin, tidak seperti adik kamu itu."


"Iya Tante Gaby. Terima kasih."


"Andai saja Arjuna bisa memiliki bakat seperti kamu." Bunda Gaby mengelus rambut Cinta dan yang di kamar mandi mendengar segala pujian dari sang Bunda untuk Cinta.


"Bunda jadi pilih kasih." Batin Arjuna yang tidak senang.


Bunda Gaby menghubungi ponsel Arjuna dan ternyata sudah dimatikan.


"Cinta, kamu lanjutkan tugas sekolahmu. Tante mau pulang dulu."


"Baik Tante."


"Anak yang manis." Bunda Gaby sangat manis memperlakukan Cinta dan tidak seperti kepada putra semata wayangnya. Yang begitu gemas dan suka sekali memarahinya.


Setelah beberapa saat, Arjuna lantas keluar dari kamar mandi.


"Bunda sudah pulang?"


"Sudah."


"Mobilnya sudah pergi?"


"Sudah."



Arjuna yang cemberut dan Cinta yang saat itu sibuk dengan tugasnya. Arjuna hanya melihatnya saja dari tempat tidur.


"Cuma begitu saja, aku juga bisa."


"Kamu bisa?"


"Iya. Itu gampang, tinggal nempel-nempel doang."


"Sini, coba kamu yang nempel-nempel."


"Nggak mau, nanti tanganku kotor sama lem itu. Nanti malam, aku harus shuting."


"Hems, bilang saja nggak bisa."


"Bisa."


Arjuna yang mendekat, bukannya membantu, tapi malah merusaknya.


"Arjuna!!!"


"Sorry."


Dan saat ini, Arjuna yang telah melihat Beby. Sosok yang sama, namun dengan nama yang berbeda. Mereka yang dulu menganggap saudara juga sahabat, tapi sekarang menjadi suami istri.


"Beby, bangun."


Arjuna yang mengelus rambut Beby setelah mereka tiba di rumah Jimmy.


Sudah 1 jam lebih, Beby tidur selama dalam perjalanan pulang.


"Kita sudah sampai?"


"Iya, kita sudah sampai di rumah."


"Biarkan aku tidur lagi."


Arjuna yang tidak sabaran, akhirnya mengangkatnya.