
Di sebuah ruangan Abyaz masih belum sadar. Dia tampak berbaring di sebuah tempat. Ruang kamar dengan nuansa putih dan sangat terkesan modern.
"Mas Damar." Jeritnya dan tampak terengah-engah. Nafasnya tidak beraturan.
Disaat suaminya telah mencari dia. Abyaz yang perlahan sudah bangun dan dia belum mengerti keadaan saat ini.
Melinda yang duduk di sofa, tadi dia sedang membaca koran dan mulai menatap Abyaz yang sudah tampak terduduk di atas tempat tidur.
"Damar?"
"Kamu memanggil putraku?"
"Mas Damar." Air matanya luruh seketika.
Sepertinya Abyaz mengalami mimpi buruk, dan mungkin itu tentang Damar Putra Mahatma, sang kekasih hati.
"Abyaz Ali Wardana."
"Kamu sangat mencintai putraku?"
Melinda yang berdiri mendekat dan memberikan minum untuk Abyaz.
Abyaz yang menerima gelas itu dan tadi rasanya sudah sangat tercekik.
"Kamu mencintai putraku?"
"Tante..."
"Benar, kamu harus memanggil aku Tante."
"Tante, aku dimana?"
"Kamu di rumah Tante."
Abyaz yang masih duduk di atas tempat tidur. Melihat bingkai foto yang begitu besar. Sosok yang ada dalam hatinya.
"Mas Damar."
"Iya, Alm. Damar Putra Mahatma."
Melinda tersenyum dan mengelus rambut Abyaz.
"Gadis manis, kamu merindukan kekasih kamu?"
"Tante?" Kedua tangan Abyaz yang lemah saat memegang gelas. Melinda mengambilnya dan meletakan gelasnya di atas meja. Melinda kembali menatap Abyaz.
"Aku Mama kandung Damar Putra Mahatma."
"Apa maksud Tante?" Abyaz masih tidak ingin terhasut dan dia juga belum sadar sepenuhnya.
Abyaz perlahan mengatur nafasnya, dan Melinda juga bisa melihat dari wajahnya.
"Abyaz... Eun Ho pasti saat ini sudah tahu. Siapa dia sebenarnya."
"Tante??? Tante Mamanya." Abyaz berusaha untuk memperjelas.
"Bukan. Aku bukan Mamanya Eun Ho. Dia anaknya Hanna. Suadara kembarku, yang tinggal di Bogor."
"Bogor?"
"Iya, Hanna meninggal saat melahirkan Eun Ho. Dari situlah. Ayahku menukar anak kita, karena kita melahirkan secara bersamaan."
"Lalu?"
"Putraku yang tinggal di Bogor bersama Suster yang menjaganya di culik lalu di buang, dan setelah aku menemukannya, dia sudah ada di tangan keluarga Mahatma."
"Mas Damar putra Tante."
"Bukannya mereka juga sangat mirip. Adik kandung Stella, Damar Putra Mahatma, bukan Eun Ho. Dari situ aku mulai membenci Eun Ho dan Ayahku. Padahal Ayahku berjanji, akan menjaga putraku dan akan memberikan semua yang ada untuk putraku. Tapi, Tuhan sudah tidak adil. Putraku sudah tiada."
"Ayah Damar?"
"Maksud kamu Eun Ho?"
Abyaz hanya mengangguk, dan setahu Abyaz, Ayah suaminya itu Eka.
"Eka, Eka suami Hanna. Jadi yang dilihat Eun Ho memang foto Ayahnya. Memang itu Foto Hanna dan Eka."
"Dan Mas Damar?"
"Damar, putra Yuda Mahatma."
Abyaz yang tidak mengerti akan rahasia ini. Kenapa begitu sangat menyakitkan. Bahkan dulu, sang kekasih juga sangat berharap bertemu keluarganya.
Makanya, dulu Eyang Dewi melihat bocah pengamen kecil, tampak seperti melihat wajah kecil Yuda Mahatma.
Bukan hanya itu yang membuat Abyaz semakin gelisah. Bagaimanapun Damar Setya Ardana sudah suaminya dan dia ikut merasakan apa yang akan suaminya hadapi, bila tahu hal ini.
Abyaz yang hanya diam, dan air matanya masih saja mengalir.
"Bukannya kamu mencintai putraku?"
Abyaz tidak menjawabnya.
"Aku hanya ingin menjelaskan saja. Putraku sudah tidak membutuhkan cinta dari kamu. Buktinya, kamu sudah lupa dan memulai hubungan yang baru."
Abyaz yang menangis dan semakin tersedu-sedu.
Pintu kamar itu terbuka dan Melinda menolehnya "Suami kamu sudah datang."
"Sayang..." Ucap Damar.
Damar mendekatinya dan memeluknya dengan erat.
"Aku sudah bilang, aku tidak membuatnya terluka."
Melinda berjalan hendak keluar dan berkata lagi "Aku bukan ibu mertua yang kejam. Dia menangis, karena mimpi buruk."
Damar yang memeluknya, sebenarnya sepanjang perjalanan tadi, dia sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Rahasia yang dibuat oleh Kekeknya dan sangat diatur oleh Kakeknya.
"Aku mau pulang."
"Iya, kita pulang."
Abyaz tidak berani menatap ke depan, rasanya tidak sanggup melihat foto sang kekasih yang ada di hadapannya.
Damar yang menoleh, juga bisa melihat. Kalau itu memang foto kekasih Abyaz.
"Sayang, ayo kita pulang." Ucapnya dan mulai mengangkat Abyaz dari tempat itu.
Sang Kakek membuat rekayasa, kalau Hanna itu tidak ada. Bahkan dibuat seolah Melinda yang menikah dengan Eka dan itu demi Eun Ho. Demi sang cucu kesayangan, mendapatkan kasih sayang seorang ibu. Tapi, itu tidak lagi ada, setelah Melinda tahu kalau anak kandungnya hilang.
"Abyaz, kamu harus sering-sering ke rumah mertuamu."
Dengan senyuman manis dan sangat beracun itulah yang Melinda lakukan. Saat Damar yang mengangkat istrinya, tadi melewati Melinda dan Damar juga hanya diam tanpa kata.
"Abyaz..." Giel yang melihat Abyaz cukup pucat dan tampak menangis.
"Kak Giel, kita rumah sakit." Ucap Damar.
Giel yang duduk di kursi kemudi dan mulai melajukan mobilnya.
"Aku mau pulang." Lirih Abyaz.
"Sayang, kamu tadi pasti sudah diberi obat."
"Aku mau pulang."
Damar masih meninggalkan mobilnya di hotel. Tadi Giel yang sudah lebih dulu menunggu di depan lobby, tadi Damar masih melihat cctv hotel dan bertanya pada staff hotel. Ternyata Melinda membawa Abyaz, tanpa ada yang tahu.
"Mas Damar." Ucapnya dan memeluk Damar.
"Emh, aku tahu. Kamu pasti merindukannya."
Abyaz yang masih menangis dan Giel belum tahu apa yang telah terjadi pada adiknya.
Eka dan Hanna menikah, tapi semua orang tahunya Melinda istrinya Eka. Hems, sangat rumit. Karena sang Kakek itu, hanya ingin Eun Ho yang akan menggantikan dia nantinya.
Karena itu, Melinda sangat membenci Ayahnya, dan dia merasa tertipu. Pada akhirnya, dia juga membenci Eun Ho.
Hanna dari kecil sudah tinggal di Bogor, hanya Melinda yang tahu. Karena dia suadara kembarnya. Lee Sung Hoon memang tidak adil, anak cucu saja dibedakan. Termasuk Stella yang selalu dianggap anak haram.
"Mama keterlaluan. Untuk apa Mama begitu? Kenapa tidak melampiaskan saja padaku?! Istriku tidak bersalah."
Giel sudah tiba di parkiran hotel dan bertanya "Dam, kamu yakin mau pulang?"
"Iya Kak Giel."
"Ya sudah. Tolong jaga Abyaz."
"Baik, Kak Giel."
Tidak lama Damar sudah ada di mobilnya dan perasaannya sangat tidak tenang.
"Bahkan Kak Stella tahu ini. Karena ini, Kak Stella menyuruh aku untuk kembali dan melihat apa yang terjadi di masa lalu." Batin Damar yang merasakan sakit dalam hatinya.
Stella yang ada di dalam mobil "Kalian berdua adikku. Aku tidak bisa menjaga adik kandungku. Tapi aku akan menjaga kamu Eun Ho."
"Kakek maafkan aku. Aku harus melakukannya, demi Eun Ho."
Stella hanya ingin membuka rahasia, yang disimpan rapat oleh Kakeknya dan itu memang menyakitkan. Tapi, rahasia itu harus terungkap dengan sendirinya. Tanpa Stella mengatakannya, tapi dia yang menggiring adiknya, untuk melihat sendiri. Apa saja yang telah terjadi. Dia berhak mengetahuinya, walaupun sangat menyakitkan perasaannya.
Sudah satu jam perjalanan, Abyaz tampak tertidur.
"Mas Damar." Abyaz yang memejamkan matanya, tapi masih tampak menginggau.
"Sayang, kamu demam." Damar yang sangat cemas dan melajukan mobil dengan cepat.
"Sabar ya, sebentar lagi sampai di rumah."
Di kantor polisi.
"Bunda.."
"Viral, kamu baik-baik saja? Kamu tidak terluka?"
"Viral baik." Ucapnya dan berdiri, bahkan tampak berputar-putar.
Limar memeluk putra tampannya dan berkata "Kamu bisa jalan."
"Kamu bikin Bunda cemas."
"Viral sehat Bunda."
Aldo yang baru datang langsung menjewer anaknya.
"Aaah... Sakit Yah."
"Aldo, Anak kita sehat malah disakiti."
"Anak kita sudah berani bohong. Perlu dihukum."
Limar tadi berlari lebih dulu dan Aldo masih memarkirkan mobilnya. Limar dan Aldo sangat bahagia, saat tahu anaknya sehat dan bisa berjalan.
Entah, apa tindakan yang anaknya lakukan, Limar tidak peduli, yang jelas dia akan bisa melihat putranya lagi. Walaupun sang putra sementara harus di tahan.
"Kamu mau apa? Motor baru?" Limar yang senang ketika anaknya tidak menolak kedatangannya. Selama di rumah sakit. Viral tidak mau melihat kedua orang tuanya.
"Anak kamu baru sembuh." Ucap Aldo.
"Nggak apa-apa, kalau dia mau motor."
"Kamu nggak takut lagi, kalau Viral terluka."
"Aku lebih takut kalau dia menolak aku."
Limar masih memegangi wajah Viral.
"Bunda, itu tadi Viral pakai motor temen. Nanti Bunda gantiin motornya."
"Iya, yang penting kamu baik-baik saja."
Limar benar-benar sangat bahagia, bahkan dia rela juga ikut di dalam tahanan, asalkan bisa bersama putra tampannya.
Di rumah sakit.
Lingga dan Vava masih menunggu putranya yang menjalani operasi.
"Sudah, jangan menangis terus."
"Gimana nggak nangis, anak kita masih kritis."
"Tuhan akan menjaga anak kita. Lebih baik kamu berdo'a."
"Mas Lingga, aku nangis juga tidak henti berdo'a."
Entah kenapa suami istri ini selalu ribut. Walaupun keadaan begitu cemas. Tapi, Vava tetap saja bawel, dia selalu melawan perkataan sang suami.
Untung saja Lingga suami yang sabar. Lingga tidak pernah menaruh luka bila istrinya sudah kesal dan memarahi dia.
"Sayang, duduklah..."
"Tadi aku nangis disuruh berdo'a, aku gelisah disuruh duduk."
Dokter telah selesai dan sudah ada suster yang keluar dari ruang operasi. Vava berlari lebih dulu mendekati suster.
"Suster, bagaimana anak saya?"
"Anak ibu, sudah selesai di operasi. Tadi kondisinya sempat lemah, tapi berkat mujizat Tuhan, kondisi anak ibu sudah stabil."
Vava langsung bersyukur dan Lingga memeluknya.
"Tuhanku, Yang Maha Kuasa, Binarku yang tampan belum menikah. Tolong beri kesempatan untuk putraku menikah dulu. Jangan ambil nyawa putraku."
Lingga sedih, tapi dalam hatinya dia juga gemas dengan istrinya. Memang itu sebuah harapan, tapi sangat uwu.
"Sayang, besok segera nikahkan saja Binar sama putrinya teman kamu."
"Mas, anak kita masih terbaring lemah. Kamu malah menyuruhnya menikah."
"Tadi kamu bilang gitu."
"Aku belum siap, kalau putraku diambil perempuan lain."
Lingga menggeleng, dan menunggu setengah jam, baru Binar dipindahkan ke ruang inap.