Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Ya Udah Lanjutkan



"Aduh! Pelan-pelan dong Pak!" Omel Alena kala Dokter Ryan tengah mengobati kakinya.


"Ini juga pelan, masa harus dielus-elus," sahut Dokter Ryan lembut. Setelah membersihkan darahnya, Dokter Ryan yang masih berjongkok dihadapan Alena pun mencoba memijat kaki perempuan itu yang tadi sempat terkilir. Alena menjerit membuat semua orang yang tengah berada di taman kota itu menoleh ke arahnya.


"Makanya jangan suka kabur-kaburan, kan ini akibatnya," omel Dokter Ryan setelah selesai.


Alena mengerucutkan bibirnya ke depan. "Ini tuh gara-gara Pak Dokter. Bukan karena aku kabur ya," tandas Alena tak mau kalah.


Lelaki yang mengenakan kemeja putih itu pun bangkit dan duduk di sisi Alena. "Kenapa aku yang salah sih? Aku tuh gak tau apa-apa Alena."


"Bohong? Nyatanya Pak Dokter itu gak kaget tadi."


Dokter Ryan menghela nafasnya. Lalu memfokuskan tatapannya pada Alena. "Kemarin malam Mama dan Papa memang mengatakan akan mengenalkan aku pada anak sahabatnya. Tapi aku tidak kalau itu kamu Alena, makanya tadi aku sengaja datang yang terakhir. Sama seperti kamu aku berniat untuk tidak datang, tapi entah kenapa tiba-tiba aku merasa gak mau kedua orang tuaku menahan malu. Akhirnya aku nekat untuk datang. Dan kamu Taulah kejadian selanjutnya," ujar Dokter Ryan wajahnya nampak serius.


"Pak Dokter tidak bercanda?" tanya Alena.


Dokter Ryan mengusap wajahnya. Bukankah Alena tau dirinya bukan tipikal lelaki yang suka bercanda, bagaimana mungkin saat sedang seperti ini. Ia di kira bercanda.


"Aku terkejut saat kamu memintaku untuk berpura-pura menjadi kekasihmu tadi, Alena. Saat aku ingin mengatakan tujuanku datang ke restoran tadi, kamu kan terus memotong ucapanku, yang pada akhirnya membuatku menyetujui keinginanmu. Kau tentu ingat janjimu kan akan membalas jasaku tadi. Aku pikir setelah aku menolongmu tadi, aku berniat membawamu juga ke hadapan orang tuaku, dengan cara yang sama seperti yang kamu lakukan."


Alena membuka mulutnya secelah. Tak menyangka jika jalan pikiran Dokter Ryan pun sama. Jika di pikir benar juga yang dikatakan lelaki di sisinya itu. Tadi kan dirinya yang kelewat terus-menerus memotong ucapan Dokter Ryan.


"Terus sekarang kita harus gimana ya Pak Dokter?" keluh Alena seraya menyandarkan punggungnya pada sandaran bangku, matanya menatap ke arah langit di mana bintang bertaburan indah di sana.


"Kamu maunya gimana?" tanya Dokter Ryan balik.


Alena menggeleng. "Tidak tau. Aku bingung."


Dokter Ryan tersenyum tipis. "Ya udah kita lanjutkan saja perjodohan ini."


"Hah?! Apa?!" Pekik Alena sambil bangkit dari tempatnya menatap Dokter Ryan. Tapi sedetik kemudian ia kembali meringis kala masih merasakan nyeri pada kakinya, perempuan itu kembali duduk.


Dokter Ryan menggaruk tengkuknya. Ia bingung harus memulai dari mana. "Kamu tidak setuju ya Alena?" tanya Dokter Ryan.


"Emm aku hanya-"


"Bolehkah aku berkata jujur?" kata Dokter Ryan serius, Alena mengangguk. "Jangan menyela ucapanku lebih dulu Alena," tambahnya kemudian.


Dokter Ryan menarik nafasnya. "Sebelumnya aku merasa terpaksa menerima perjodohan ini, karena aku belum tau kalau perempuan itu kamu. Tapi, karena aku sudah tau perempuan yang dimaksud orang tuaku itu kamu. Jujur, aku senang Alena."


Ungkapan Dokter Ryan membuat Alena terdiam dengan terkejut.


"Kamu tau? Kadang cinta itu datang dengan cara yang terduga. Dan seiring berjalannya waktu, aku mulai merasa nyaman bersama kamu. Jadi bolehkah aku katakan kalau aku mulai mencintaimu Alena?" ujar Dokter Ryan sambil menatap Alena serius.


Alena memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia menunduk dengan perasaan bingung. Ia sibakkan rambut panjangnya yang tersapu angin malam ke samping.


"Alena?" panggil Dokter Ryan hatinya terasa cemas dengan reaksi yang Alena tunjukkan. Apakah cintanya pun akan di tolak sama seperti sebelumnya.


"Aku tidak tau Pak Dokter, harus jawab apa." Alena menggigit bibir bawahnya.


Dokter Ryan tersenyum tipis. "Aku tau kamu pasti bingung. Sementara hatimu masih mencintai lelaki lain kan?"


"Lelaki lain?" Alena sontak menoleh ke arah Dokter Ryan, dan lelaki itu mengangguk.


"Iya? Temanmu yang waktu itu sempat kamu ceritakan pada Rena."


Alena melongo, tak menyangka sampai detik ini lelaki itu bahkan masih mengingatnya.


"Aku sudah ikhlas Pak Dokter. Tidak ada kaitannya dengan dia. Aku hanya-"


"Mungkin aku yang belum mengetahui isi hatimu sebenarnya. Kalau begitu bolehkah aku meminta kesempatan?" tanya Dokter Ryan.


"Kesempatan apa?"


"Kita jalani rencana perjodohan ini. Setidaknya sampai kamu wisuda. Jika sampai saat itu tiba, aku tidak dapat mendapatkan hatimu. Biarkan aku yang berbicara pada kedua orang tua kita, untuk membatalkan perjodohan ini. Aku juga tidak mau membuat kamu terpaksa menerima aku," seru Dokter Ryan. Lelaki itu memberanikan diri mengambil telapak tangan Alena, lalu menggenggamnya. Membuat perempuan itu semakin gugup, bahkan sampai menahan nafasnya.


"Bagaimana?"


Alena tersentak kaget. "Oh iya iya!"


"Iya apa Alena?" seru Dokter Ryan.


"Ya seperti apa yang Pak Dokter bilang tadi," tukas Alena.


"Jadi kamu mau memberi kesempatan padaku?"


Alena mengangguk, membuat Dokter Ryan langsung bangkit dan memeluk Alena dengan erat. "Makasih ya?"


Alena menepuk punggung Dokter Ryan.


"Kenapa?" tanya Dokter begitu melepaskan rengkuhannya.


"Pak Dokter itu jangan peluk aku erat-erat dong!" cebiknya seraya mengatur nafasnya kembali.


"Kenapa emang?"


"Bahaya! Jantung aku jedug-jedug gitu, aku takut lepas Pak Dokter. Aku kan gak mau melakukan operasi," jawab Alena polos membuat Dokter Ryan tergelak lucu melihat expresi perempuan itu. Lelaki itu langsung berdiri dari tempatnya, tangannya mengacak-acak rambut Alena yang memang sejak tadi sudah berantakan.


Dokter Ryan kembali duduk di sisi Alena. Pandangannya mengarah pada kaki polos Alena tanpa alas kaki, karena high heels perempuan itu yang tadi patah sudah terbuang.


"Sebenarnya ya Pak Dokter. Aku tuh gak ada cita-cita ataupun keinginan punya suami apa pacar seorang Dokter," ujar Alena seraya mengeratkan jas lelaki itu yang kini membalut tubuhnya, karena angin malam itu cukup kencang.


"Kenapa?" Dokter Ryan menatap Alena penasaran.


"Tentu saja karena aku tidak mau disuntik!" tukas Alena bibirnya mengerucut ke depan, membuat lelaki di sisinya itu tertawa. Baginya itu adalah alasan konyol.


"Kok tertawa sih? Emangnya lucu ya," decak Alena..


Dokter Ryan menghentikan tawanya, lalu menatap ke Alena. "Kamu tau. Menikah dengan siapapun nanti kamu juga bakalan disuntik!"


"Yang benar?"


Dokter Ryan mengangguk. Membuat wajah Alena menggelap takut.


"Tapi suntikannya beda. Bakal buat kamu nagih!"


"Tidak sakit?" Alena semakin penasaran mendengarnya.


"Sakit pada awalnya saja. Setelahnya bakal buat nagih."


Alena mengerutkan keningnya tampak berfikir. "Suntikan apa yang buat nagih? Kata Rena kaya digigit semut."


"Yaitu suntikan spesial khusus buat kamu nanti. Suntikan ajaib seperti yang kamu bilang tadi."


Alena mengingat ucapannya di mobil tadi, wajahnya langsung berbinar dan penasaran. "Kalau begitu aku mau lihat suntikannya Pak Dokter?"


Kata Alena membuat Dokter Ryan terkejut. 'Ini serius? Anak ini sepolos itu. Astaga! Bagaimana kalau dia ketemu lelaki yang brengsek bisa di manfaatkan. Ya Tuhan! Ini ujian namanya buat aku. Sekarang aku semakin percaya kalau dulu dia selalu dapat peringkat kedua dari belakang. Pas mata pelajaran biologi anak ini pasti tidur, atau bolos'