Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Aku Cemburu



“Kuenya enak dan imut banget,” kata Miranda, membuat Amira tersenyum.


Saat ini mereka berdua tengah berada di dapur. Miranda menemani ibu mertuanya membuat kue. “Mama ini cocok jadi pembuat kue. Soalnya kuenya itu enak banget. Kenapa gak buka toko kue?” pujinya lagi.


“Kamu bisa aja, Mir. Emang dulu sempat ada keinginan. Tapi setelah menikah semuanya buyar. Papamu tidak mengijinkan Mama bekerja, jadi ya udah diam aja di rumah.”


Miranda sejak tadi memang hanya diam menemani ibu mertuanya itu. Karena ia pun merasa bosan di rumah tidak ada kegiatan apa-apa. Sekarang ia juga mengurangi jadwalnya ke butik, kebanyakan ia percayakan butik pada Eva.


Tiba-tiba ia tersentak mana kala sepasang tangan kekar kini melingkar di pinggangnya.


“Aku cari di rumah kok gak ada. Oh ternyata sedang di sini ya,” bisik Miko. Dengan tangan yang melingkar, lalu mengusap perut buncit istrinya.


Miranda mencoba melepaskan tangan suaminya, karena ia merasa malu pada ibu mertuanya. “Lepas dulu. Kamu gak malu apa dilihat Mama?” tegurnya pada sang suami.


“Biarin aja. Mama dulu juga pernah muda.”


Amira berdecak. “Iya anggap saja dapur ini milik kalian, Mama cuma ngontrak. Anggap aja Mama ini makhluk tak kasat mata,” cibirnya. Percayalah, Amira hanya bercanda, sebetulnya melihat anak dan menantunya itu begitu akur, dan harmonis, ia pun turut merasa sangat bahagia. Diusia Miko yang terbilang masih muda, ia dapat membuktikan tanggung jawabnya seorang suami, apalagi sebentar lagi akan dikaruniai seorang anak. Meskipun ia tahu, terkadang sifat Miko yang manja kekanakan masih suka muncul. Amira tak menyalahkan hal itu, lantaran anak itu memang sudah kehilangan kasih sayang seorang ibu sejak kecil. Belum lagi setelah kehadirannya pun Miko tak kunjung menerimanya.


“Peluk terus. Tempel sana-sini terus,” cibir Clara yang baru saja bergabung ke dapur. Lalu menyomot satu kue yang tersaji di atas meja. “Kalau mau patok-patokan mending pulang deh, Kak. Gak kasihan sama Mama yang lagi LDR?” sambungnya dengan mulut yang penuh dengan kue.


Amira menggelengkan kepalanya, melihat perilaku putrinya, yang makan sama sekali tidak ada manis-manisnya.


“Halahh, bocil tahu apa sih. Masih bau minyak telon aja, negur kakak,” tukas Miko seraya melepaskan tangan yang melingkar di perut istrinya, lalu menarik kursi dan mendudukkan dirinya di sana.


“Bocil-bocil, aku udah gede ya, Kak!” ketusnya sambil kembali mengambil kue dan memakannya. “Ma, kenapa sih namanya harus kue cubit?” protesnya.


“Ya karena diambilnya dengan alat penjepit.”


“Ya udah Mama ganti, pakai yang lain aja ngambilnya, Ma. Biar namanya ganti.”


Miranda dan Miko hanya melongo, sudah tak aneh lagi dengan tingkah Clara.


“Memangnya kenapa dengan kue cubit, sayang?” tanya Amira heran.


“Kan kasihan, Ma. Udah namanya cubit, pas dimakan harus digigit, dikunyah, lalu ditelan pula. Kayaknya dari namanya pas mau diciptakan aja udah menderita gitu tuh kue.”


“Clara!!” teriak Amira kesal. Namun, Clara hanya tertawa seraya berlari dengan membawa satu piring piring berisi kue cubit. “Mama itu kalau gak ada Papa marah-marah terus. Soalnya kurang kasih sayang,” ejek Clara sedikit berteriak.


Miranda dan Miko hanya tertawa mendengarnya. Bagi Miranda tingkah Miko dan Clara itu sebelas dua belas, tengil dan suka menggoda.


Tak lama kemudian Clara justru kembali, berdiri di ambang pintu dapur.


“Kenapa lagi?”


“Anu Ma. Tambahin dong kuenya dong Ma. Clara kan mau makan berdua sama Bang Yanto.”


Miko langsung menoleh mendelik sebal pada adiknya. “Ngapain berdua-duaan sama Yanto!”


“Kakak tuh suudzon aja. Aku itu minta tolong Bang Yanto ngajarin aku PR. Dia kan ahli dalam matematika. Gak kaya kakak ngitung dari angka satu ke sepuluh aja angka enamnya ketinggalan!” ejeknya.


“Kamu tuh jangan suka bentak-bentak Clara, sayang. Sama saudara itu yang akurlah,” tutur Miranda.


“Itu bentuk ke akuranku dengan Clara ya begitu sayang,” bela Miko.


Amira hanya tersenyum simpul, sementara Miranda mendengus, suaminya itu kalau di tegur ada saja alasannya.


“Dahlah, aku mau ke depan.” Miko beranjak dari tempatnya.


“Mau mandi?” tanya Miranda.


Miko menghentikan langkahnya, menoleh ke arah istrinya. “Bukan. Mau ngawasin Clara dan Yanti.”


Miranda menggelengkan kepalanya, saat melihat sang suami yang begitu posesif pada adiknya.


“Biarin aja, Mir. Miko memang sejak dulu begitu. Waktu itu dia belum bisa menerima kehadiran Mama aja, tapi dia sangat menyayangi Clara. Untuk itu Mama tidak pernah melarang kalau Miko bersikap tegas pada adiknya. Clara harusnya merasa beruntung mempunyai kakak yang begitu sayang sama dia.”


Miranda tersenyum, karena ia sendiri tidak pernah merasakan kehangatan sebuah keluarga. Semua kehangatan itu ia dapatkan saat dirinya mengenal Rena. Dulu teman-temannya mendekati dirinya hanya demi meraih sesuatu. Namun, Miranda tak pernah menyesal. Melalui lika-likunya perjalanan hidup itu, kini ia bisa mendapatkan keluarga yang begitu menyayanginya.


Malam hari, Miko masih sibuk berkutat dengan laptop di pangkuannya. Saat tiba-tiba Miranda datang dengan membawa secangkir teh di hadapan suaminya.


“Makasih sayang,” ucapnya.


Miranda mengangguk dan duduk di sisi suaminya. “Hira itu cantik ya,” katanya tiba-tiba. Hal itu membuat Miko menghentikan aktivitasnya sejenak, lalu menatap ke arah istrinya.


“Kamu lebih cantik sayang,” jawab Miko.


Miranda menyentak nafasnya, menatap telapak kakinya yang mulai membengkak, akibat kehamilannya. “Badan aku bengkak. Mana bisa cantik, apalagi aku hobi makan, lemak di tubuhku pasti banyak.”


Miko terdiam, keningnya mengerut mendengar istrinya tiba-tiba membicarakan kondisi fisiknya. Laki-laki itu memilih menunda pekerjaannya, meletakkan laptopnya di atas meja. Kemudian menoleh ke arah istrinya. “Kamu itu sebenarnya kenapa sih sayang? Tiba-tiba kok jadi ngomongin beginian. Kamu kan tahu sayang, bagiku kamu tetaplah yang paling cantik.”


“Aku cemburu,” kata Miranda lirih.


Miko tersentak. Selama beberapa bulan pernikahannya. Baru kali perempuan itu berkata cemburu. Lalu bolehkah Miko merasa bahagia mendengarnya.


“Aku kekanak-kanakan ya? Padahal aku kan udah dewasa, tapi bayangin kamu dekat sama mantan kamu itu. Tiba-tiba aku merasa kesal, apalagi dia lebih cantik dari aku,” sambungnya.


“Enggak sayang!” Miko tersenyum lalu memeluk istrinya. “Makasih ya udah cemburu.”


Miranda justru menganga mendengarnya. Kenapa suaminya justru berterimakasih.


“Kok malah terima kasih. Kamu gak marah?” tanyanya heran.


“Mana bisa aku marah. Aku malah senang, sekian lama baru kali ini aku dengar kamu bilang cemburu.” Miko melepaskan pelukannya. Kemudian, tanpa disangka lelaki itu justru menggendong Miranda membawanya ke ranjang.


“Kamu kan lagi kerja.”


“Tunda dulu. Karena ini jauh lebih penting, pengen jenguk dedek di dalam.”