Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Main Suntikan Ajaib



"Njir, akhirnya bisa rebahan juga!" celetuk Alena saat berada di kamarnya, setelah pesta usai dan ia pun sudah selesai membersihkan diri.


Bertepatan dengan itu Ryan juga baru masuk ke kamar Alena. "Alena, bahasannya please?" tegurnya entah untuk yang ke berapa kali.


"Iya maaf. Aku lupa!" seru Alena seraya mengambil boneka sapi.


Ryan menghela nafasnya melepaskan jas di tubuhnya, kemudian mendudukan dirinya di pinggir ranjang. "Jangan dijadikan kebiasaan sayang?" ujar Ryan, Alena hanya mengangguk.


Lelaki itu memindai inci kamar istrinya yang di dominasi warna kuning, bahkan temboknya juga bergambar pisang. Fokusnya juga tertuju pada lemari kaca besar yang berisi bermacam-macam jenis boneka. Kalau di pikir ini lebih pantas menjadi kamar Crystal dibandingkan Alena yang ternyata sudah gadis.


Maih gadis? Tentu saja karena Ryan belum membuka segelnya. Mengingat itu ia jadi tidak sabar untuk mengajari Alena agar lebih pro.


"Pak Dokter kenapa ketawa?" tanya Alena seraya mengubah posisinya menjadi duduk. Matanya menatap banyaknya tumpukan kado di atas meja, sofa bahkan sampai di lantai.


"Tidak! Hanya saja kamar kamu lucu ya," sahutnya sambil tertawa kecil.


"Ihh ngeledek!" tukas Alena.


Setelah pesta pernikahan Ryan dan Alena memang tidak memutuskan untuk menginap di hotel.


Ryan mengacak rambut istrinya. "Ya udah aku mandi dulu ya?"


"Iya Pak Dokter!"


Ryan beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Alena yang sudah mengenakan piyama pun menjuntaikan kakinya ke lantai, kemudian melangkah ke arah tumpukan kado.


Dengan duduk di lantai, Alena mulai membuka satu persatu kado dari tamu-tamu undangan tadi, dan teman-temannya. Ia menjadi penasaran dari kado Rena, tapi entah di mana ia belum menemukannya.


Ryan keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di pinggangnya. Matanya memicing melihat ranjang istrinya terlihat kosong.


"Kemana dia?" gumamnya pelan.


Srett... Srekk!


Ryan menoleh ke arah sofa begitu mendengar suara sobekan dari sana. Terkejut mendapati istrinya tengah asik membuka satu persatu kado. Lelaki itu mengambil celana yang sudah tersusun rapi di lemari dan memakainya. Kemudian melangkah mendekati istrinya tanpa berniat untuk memakai bajunya.


"Kamu sedang apa?" tanya Dokter Ryan. Dalam hati ia merasa kesal, ini malam pertama malah istrinya asik-asikan buka kado, padahal itu bisa dilakukan besok.


"Ih Pak Dokter ini gimana. Jelas aku tengah membuka kado begini," cibir Alena.


Lelaki itu menghela nafasnya. "Itu kan bisa dilakukan besok Alena. Tidak harus sekarang. Kamu kan tahu ini malam pertama kita," sungut Ryan dengan wajah kesal.


Alena menatap suaminya bingung. "Emang mau ngapain? Cuma tidur kan. Ya udah Pak Dokter tidur duluan aja gak apa-apa. Awas guling pisang aku jangan dilempar!"


Ryan semakin melongo mendengarnya. Ia bahkan sampai berkali-kali menyentak nafasnya. "Terserah kamulah!" Jawabnya kesal.


Lelaki itu memilih merangkak naik ke atas ranjang, menarik selimut setelah sebelumnya mendorong boneka berbentuk pisang yang menjadi guling untuk Alena.


"Ihh tuh kan dibuang! Ngeselin dah Pak Dokter ini!" sungut Alena akhirnya beranjak mengambil guling pisang miliknya seraya membawanya ke atas ranjang.


Bugh! Alena memukul punggung suaminya dengan boneka pisang itu. Membuat lelaki itu menatap ke arah istrinya dengan kesal.


"Apa sih sayang?" tanyanya.


"Apa? Ini kenapa boneka aku dilempar segala. Tidur ya tidur aja sih. Jangan dibuang aku mana bisa tidur kalau tanpa boneka ini," omel Alena.


Alena mengerucutkan bibirnya ke depan, dan merebahkan tubuhnya di sisi suaminya, sambil tetap memeluk bonekanya.


"Capek ya Pak Dokter. Pegal banget punggung aku, lehernya juga, apalagi kakinya mana harus nahan pake hak tinggi begitu tadi," keluh Alena.


"Capek banget ya?" tanya Ryan seraya menopang kepalanya menatap wajah istrinya yang polos tanpa make up, bibirnya mungil, bulu matanya lentik.


Alena mengangguk. "Iya lah."


Ryan tersebut tipis, selintas ide terlintas dalam otaknya. "Mau dipijit gak?" tawarnya.


"Emang bisa?"


"Bisa dong. Jamin, langsung sembuh pegalnya."


"Ya udah aku mau." Alena langsung mengubah posisinya menjadi tengkurap seraya menyibakkan rambutnya ke atas, ia menunjuk lehernya.


Ryan yang memang sudah duduk di sisi Alena sejak tadi pun mulai memijat tengkuk leher istrinya. "Aduh enak Pak Dokter. Terus pak," pintanya.


Pijatan Ryan terus berlangsung ke punggung, dan pinggang istrinya.


"Ihh Pak Dokter kenapa tangannya malah nyusup di balik baju aku gitu sih!" protes Alena kala sang suami menyusupkan tangannya ke bajunya, kemudian mulai memijat tubuh belakangnya.


"Biar lebih berasa sayang. Tau gak baju kamu ini menghalangi aku untuk bergerak. Lebih baik buka aja sih," ujar Ryan.


"Ih mana ada begitu, masa aku gak pake baju di depan Pak Dokter?" sanggah Alena.


"Lho kenapa? Kan aku suami kamu gak masalah dong."


"Iya juga ya!" Alena pun mengubah posisinya menjadi duduk. "Ya udah aku buka baju ya? Pak Dokter tutup mata," sambungnya, membuat Ryan mengangguk dengan cepat, dan berpura-pura menutup kedua matanya.


Setelah menanggalkan pakaian atasnya, Alena kembali berbaring. Ryan kembali memijat punggung istrinya, kemudian meminta istrinya untuk mengubah posisinya menjadi miring.


"Ihh Pak Dokter kok jadi ke perut segala sih. Aku kan butuhnya cuma kaki, punggung, dan leher aja yang pegal!" protes Alena seraya mengubah posisinya menjadi telentang.


Ryan hanya tersenyum mendengarkan ucapan Alena. "Mana bisa begitu. Aku harus adil sama tubuh kamu dong. Seluruh tubuh kamu itu pasti pegal, dan ini butuh sentuhan dan suntikan khusus, jadi udah diam aja nikmati aja ya sayang?"


"Hemm begitu ya Pak Dokter?" tanya Alena polos.


"Hemm ya sayang. Kamu cukup diam diri aja, biar aku yang bekerja oke!" ujar Ryan.


Alena mengangguk polos, mengigit bibir bawahnya kala merasakan suasana hatinya yang mulai tak enak. Otaknya terasa bingung mencerna ucapan suaminya, tapi tubuhnya merespon baik sentuhan sang suami mampu membuatnya melayang, bahkan terasa sangat nyaman. Hingga ia sendiri pun tidak menyadari jika tubuhnya kini sudah tak terbalut sehelai benang pun, begitupun dengan Ryan yang sudah dalam keadaan polos.


"Pak Dokter, mau ngapain?!" tanya Alena seraya mendorong tubuh suaminya yang kini berada di atasnya, namun sama sekali tak berhasil.


"Main suntik-suntikan sayang," ujar Ryan tersenyum teduh, salah satu tangannya membelai wajah istrinya di mana keringat mulai membasahi kening Alena. Perempuan itu terlihat gugup dan bingung.


"Suntikan apa?" tanya Alena polos. Namun, tetap meleguh saat sang suami menyentuh tiap inci tubuhnya.


"Suntikan ajaib!" jawab Ryan seraya melirik tubuh bagian bawahnya yang tampak sudah menegang sempurna. Alena mengikuti arah pandang sang suami, ia terkejut memalingkan wajahnya malu.


"Jadi yang dimaksud Pak Dokter suntikan ajaib itu? Melakukan itu?" pekik Alena tertahan.