
Hari Minggu pasien di rumah sakit itu membludak begitu banyak. Pukul tujuh malam Rena baru bisa meninggalkan ruangannya untuk pulang. Keluar dari ruangannya, Rena melangkah dengan lemas menuju loby rumah sakit. Karena di sana suaminya telah menunggu sekitar tiga puluh menit yang lalu.
Di pertengah jalan, ia kembali berpapasan dengan Dokter Ryan. Hal itu membuat Rena kembali teringat pembicaraannya dengan sahabatnya tadi siang di cafe.
"Ehem."
Rena sengaja berdehem sedikit keras demi membuat lelaki itu menoleh.
"Kenapa Re?" tanya Dokter Ryan dengan tatapan menyelidik karena ia melihat gelagat Rena yang tersenyum seperti menahan sesuatu.
"Jangan menatapku seperti itu. Nanti suami bucinmu itu cemburu," sambung Dokter Ryan.
Rena berdecak. "Yang udah punya jodoh gak cerita-cerita ini. Tau-tau udah otw aja."
Eh?
Dokter Ryan kembali menoleh ke arah Rena. Lelaki dengan stelan kemeja navy itu, menatap dirinya dengan bingung. "Siapa Re?"
Rena menghela nafasnya. "Alena."
Satu nama yang mampu membuat Dokter Ryan seketika paham maksud dari perempuan itu. Lelaki itu berdehem pelan. "Oh... Itu masih proses kok, Re."
"Maksudnya?"
"Alena belum tentu menerima aku. Aku memang meminta kesempatan untuk mengambil hatinya. Ya kamu kan tau perasaan dia sesungguhnya untuk siapa. Aku gak salah kan ya minta kesempatan," kata Dokter Ryan.
"Tentu saja tidak. Ayo berjuang lebih keras lagi. Hati Alena itu lembut loh, kalau Dokter lebih keras lagi memupuk dia dengan perhatian kecil. Pasti dia luluh," ujar Rena.
Dokter Ryan tersenyum mengangguk. Kemudian melihat arloji di tangannya. Karena ia sudah berjanji malam ini akan mengajak Alena nonton bioskop. "Aku mau ngajak nonton malam ini," ungkapnya.
Rena tersenyum senang. Ia harap semua niat Dokter Ryan itu berjalan lancar, Alena harus lekas move on dari Miko. "Bagus itu Dokter. Tapi-"
"Apa Re?"
"Jangan gunakan istilah aneh-aneh dengannya ya Pak Dokter. Aku pusing jelasinnya kalau dia bertanya."
Dokter Ryan terkesiap mendengarnya. "Maksudnya gimana, Re?"
"Itu loh jarum suntik ajaib. Dia tadi siang datang menemui ku hanya untuk menanyakan itu."
Dokter Ryan kembali terkejut mendengarnya.
'Ya ampun anak itu benar-benar.'
"Pantas saja lama, ternyata mangkal di sini," celetuk Alby tiba-tiba yang sudah berdiri di sisi Rena.
"Eh Abang," jawab Rena kikuk. Gara-gara bahas Alena ia jadi lupa suaminya sudah menunggu di parkiran sejak tadi.
"Malam Pak Alby?" sapa Dokter Ryan.
"Malam juga Dokter," sahut Alby. Membuat Dokter Ryan heran, tumben orang itu mau menjawab sapaannya. Mungkin sifat cemburuannya itu sudah lenyap, tapi baguslah kalau begitu ia jadi tak perlu di curigai lagi.
"Saya duluan ya Pak.. Re." Dokter Ryan berlalu setelah berpamitan dengan Rena dan suami.
"Semangat Pak Dokter!" teriak Rena heboh sambil mengacungkan kedua tangannya.
Dokter Ryan berbalik tersenyum lalu memberikan balasan melalui jarinya membentuk huruf O, yang artinya oke.
"Senang banget sih kayaknya. Ada apa gerangan," tanya Alby wajahnya bertekuk kesal, kedua tangannya ia masukan ke dalam saku celananya di samping.
Rena menoleh ke arah suaminya lalu tersenyum canggung. "Cemburu?"
Alby menggeleng. "Tidak! Hanya saja Abang curiga, kamu ada misi apa dengannya," sahut Alby mengangkat tangannya mengusap kepala istrinya.
Rena menangkap tangan sang suami, menurunnya lalu menggandengnya. "Ah manisnya suamiku. Sekarang udah gak cemburuan ya. Ternyata kamu sudah besar," celetuk Rena.
Alby berdecak. "Tua, Re. Gak hanya besar kamu kira aku dulu anak-anak."
Rena tergelak, lucu sekali melihat expresi kesal sang suami. "Misi mendekati Alena bang."
Alby mengangguk paham, kemudian menggiring istrinya keluar dari sana.
"Capek ya?" tanya Alby begitu masuk ke dalam mobil, karena Rena langsung menyandarkan punggungnya ke kursi mobil.
"Nanti kita main pijit-pijitan ya," ujar Alby menggoda.
"Enggak!" tolak Rena tegas. Karena ia tau kemana arah pikiran suaminya itu. "Mau tidur kamar Misel lah nanti," sambungnya.
****
Dokter Ryan melajukan mobilnya membelah jalanan padat ibu kota. Sesekali ia akan menoleh ke arah Alena. Perempuan itu hanya terdiam, tapi malam ini Alena tampak cantik dalam balutan dress berwarna kuning. Ia memang sering mendapati perempuan itu menggunakan pakaian berwarna kuning, mungkin itu warna kesukaannya, pikirnya.
"Kamu sudah makan Alena?" tanya Dokter Ryan memecah kesunyian yang sejak tadi tercipta di dalam mobil.
Alena menoleh sekilas ke arahnya. "Belum?"
"Kalau gitu nanti-"
"Maksudnya belum empat kali," jawabnya sambil tergelak.
Dokter Ryan melongo mendengarnya, perempuan itu ternyata suka sekali bercanda. "Gak mau nanya apapun ke aku?" tanya Dokter Ryan.
Alena menggeleng. "Tanya apa ya. Kabar? Kan Pak Dokter baik-baik saja. Ini lagi sama aku."
"Aku belum makan Alena," tukas Dokter Ryan. Rasanya menunggu Alena untuk peka itu adalah hal yang susah.
"Ngomong dong Pak. Aku mana tau, Alena kan bukan peramal," ucapnya tanpa dosa.
"Iya iya," sahut Dokter Ryan sabar.
"Kalau tadi Pak Dokter belum makan, harusnya bilang pas di rumah, nanti aku masakin!"
"Emang kamu bisa masak?"
"Wih ngremehin. Meskipun aku anak tunggal seorang pengusaha, aku bukan anak yang manja ya Pak Dokter. Memasak mah pekerjaan yang kecil," ujar Alena seraya menjentikkan jarinya.
Dokter Ryan merasa heran. Namun, tak urung ia pun tersenyum. "Jadi penasaran masakan kamu!"
"Besok aku masakin Pak dokter deh. Anterin ke rumah sakit ya."
Dokter Ryan mengangguk. "Alena?"
"Iya?"
"Coba ubah panggilan mu ke aku. Jangan Pak Dokter, berasa lagi jalan sama pasien," ujar Dokter Ryan.
"Lho kenapa? Itu kan panggilan spesial, mana bisa diubah gitu aja. Tunggu aja nanti kalau aku ada mood," sahut Alena seraya membuka pintu mobil. Karena keduanya telah di depan mall.
Dokter Ryan menghela nafasnya, nampaknya ia harus banyak sabar lagi. Turun dari mobil ia pun mengikuti langkah kaki Alena. Keduanya langsung menuju ke lantai lima, di mana tempat bioskop berada.
Sementara Alena sibuk membeli cemilan dan minuman, Dokter Ryan membeli tiketnya.
"Alena?"
Panggilan itu membuat Alena menoleh, ia menyentak nafasnya kala Miko sudah berdiri belakangnya.
"Kamu mau nonton?" tanya Miko.
"Iya dong." Alana menjawab dengan cepat seraya menerima kembalian uangnya.
"Dengan siapa? Kamu kan-"
"Sama saya." Dokter Ryan yang baru tiba langsung menimpali, membuat kening Miko mengkerut.
"Anda kan-"
"Kenalkan saya Dokter Ryan. Calon suami Alena." Lelaki itu mengulurkan tangannya memperkenalkan diri.
Miko terkejut. Namun tak urung ia pun membalasnya. "Sudah sejauh itu? Dan kau tidak pernah mengatakan apapun padaku Alena."
Zahira yang berdiri tak jauh dari Miko pun mendengar perkataan Miko. Ia menghela nafasnya. "Aku sudah selesai sayang," ujarnya tiba-tiba yang langsung menggandeng lengan Miko.
"Eh Kak Alena. Mau nonton juga? Wah kebetulan," celetuk Zahira kemudian.
Dokter Ryan yang menyadari perubahan wajah Alena yang kesal, segera menggandeng perempuan itu, dan berlalu masuk ke dalam. Namun, sialnya nasib tidak baik sepertinya sedang berpihak padanya, karena Miko dan Zahira justru duduk tepat di depannya.