Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Dituntut Untuk Peka



Alby baru selesai melakukan meeting, dan ia keluar dari ruangan meeting berniat untuk kembali ke ruangannya.


Tiba di ruangannya ia duduk, kemudian meraih benda pipih yang sejak tadi ia tinggalkan di atas meja. Saat ia hendak membuka pesan, terdengar pintu ruangannya diketuk oleh seseorang.


"Masuk!" Sahut Alby.


Ceklek!


Pintu terbuka. Milea dengan perut buncitnya yang nampak sudah besar masuk dengan hati-hati.


"Ada apa Milea?" tanya Alby.


Perempuan itu tersenyum, kemudian memberikan amplop berwarna coklat pada Alby.


"Apa ini?" Lanjut Alby kembali bertanya setelah menerima amplop itu.


Mike mengusap perutnya. "Surat pengajuan cuti dong, Pak. Gimana sih, sebagai seorang karyawan yang profesional meskipun aku bisa aja cuti tanpa membuat surat pengajuan, tetap saja itu tidak etis," ujar Milea.


Alby mengangguk. "Memang kapan perkiraan lahiran?"


"Minggu depan! Ini Mas Ardan udah ngoceh terus, minta aku cepat cuti. Katanya ngeliat aku jalan tuh udah kasihan."


"Iya sih! Semoga lancar ya. Nanti kabarin kalau udah lahir. Biar aku sama Rena datang jenguk," sahut Alby.


Milea mengangguk. "Iya. Selama aku cuti, nanti biar Angel aja yang gantiin posisi aku sementara ya. Anak itu bisa dipercaya, dia profesional intinya aku hanya tidak ingin membuat pikiran Rena yang tidak-tidak. Tau sendiri orang hamil gimana?"


Alby mengangguk. "Iya. Kamu atur aja semuanya. Dan masalah Rena, sejauh ini sih masih aman, dia tidak mudah cemburu. Hanya saja suka-"


Brak!!!


"Abang?!"


Alby tak lagi melanjutkan ucapannya, saat pintu ruangannya terbuka dengan kasar. Kemudian Rena masuk dengan wajah yang bertekuk kesal.


"Sayang?" Alby langsung beranjak menghampiri istrinya. Kaget karena tiba-tiba istrinya datang ke kantornya. Namun, Rena menepis tangannya kesal.


"Abang jahat!" selorohnya langsung, wajahnya nampak memerah.


Milea yang merasa suasana ruangan itu mendadak jadi panas pun memilih pamit keluar.


"Jahat kenapa sih sayang?" tanya Alby lembut.


"Pesan aku kenapa gak dibaca," sergahnya seraya melipatkan tangannya di dada.


Alby menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Abang baru selesai meeting sayang. Sebentar, Abang baca dulu," sahut Alby beranjak kembali ke mejanya mengambil ponsel miliknya.


"Telat Abang!" decaknya malas. Rena beranjak duduk ke sofa, melepaskan sepatunya kemudian menaikkan kedua kakinya ke sofa. Perempuan itu memilih duduk berselonjor untuk mengurangi rasa pegal pada kakinya. "Orang aku udah di sini!" sambungnya.


Alby jadi terkekeh sendiri. "Gak apa-apa yang penting kan dibaca. Kamu pernah dengarkan pepatah mengatakan, lebih baik telat daripada tidak sama sekali!" jawab Alby bijak.


Rena melengos kesal. "Gak berlaku buat baca chat aku juga Abang. Ih makin ngeselin aja!"


Tetap saja ujungnya Alby tetap salah. Lelaki itu dengan sabar menghampiri istrinya, setelah sebelumnya membuka jas miliknya, kemudian melipat lengan bajunya. "Kenapa sih istri Abang kok ngomel-ngomel? Perasaan tadi pagi baik-baik saja," tanya Alby heran seraya menatap pergelangan kaki istrinya yang tampak sedikit memerah.


"Aku kesal. Karena ingat penampilan aku sekarang jelek, Abang pasti akan ilfil sama aku."


Alby menghela nafasnya. "Apapun keadaan kamu Abang tetap cinta kok sayang."


"Tuh kan berarti sekarang aku tuh jelek!" pungkas Rena.


Alby jadi gelagapan karena istrinya jadi salah tanggap. "Bukan begitu sayang. Percayalah istri Abang ini tetap cantik. Bahkan saat hamil seperti ini pun kecantikannya semakin bertambah. Abang suka kamu terlihat berisi seperti ini." Alby mencubit gemas pipi istrinya. Kemudian beralih memijat tumit istrinya.


"Enak bang, lanjutin aku sambil tiduran ya," ujarnya seraya merebahkan tubuhnya di sofa panjang itu.


"Ya sayang." Lelaki itu memilih pasrah dari pada kembali membahas soal fisik akhirnya istrinya kembali sensitif lagi. "Ini lagi jam istirahat apa udah pulang sayang?" sambungnya kembali bertanya.


Alby mengangguk. "Ya udah Abang pesenin makan ya. Pasti kamu belum makan. Mau makan apa sayang?"


"Apa aja!" jawab Rena malas kedua matanya bahkan sudah mulai tertutup.


"Gak ada menu apa aja itu gak ada sayang," ucap Alby gemas.


"Ihh maksudnya tuh terserah Abang. Masa gitu aja gak ngerti sih, gak peka sih!" omel Rena.


Alby terperangah mendengarnya. Perasaan akhir-akhir ini ia menjadi orang yang salah terus di mata istrinya. Memilih beranjak lelaki itu mengambil ponselnya untuk memesan makanan melalui OB, karena ia tak mungkin lagi minta tolong pada Milea mengingat betapa susahnya gadis itu berjalan.


Setelah memesan sambil menunggu Alby kembali ke sofa, melanjutkan pijatannya. "Besok Milea udah cuti, sekretaris Abang ganti sayang?" kata Alby mulai bercerita.


Rena langsung membuka kedua matanya, dan beringsut duduk. "Tuh kan... Awas saja kalau Abang cari yang lebih cantik dan seksi dari aku," cetusnya tak terima.


Benar kan apa kata Milea, perasaan Rena itu sensitif, Alby bahkan kadang sampai kesal dibuatnya.


"Mana mungkin begitu sayang. Aku gak cari sekertaris baru kok, cuma digantikan Angel selama Milea cuti. Kamu kan tau Angel kerjanya gimana, profesional kok kaya Milea. Dan lagi Angel kan udah punya tunangan," terang Alby berusaha menjelaskan sedetail mungkin agar Rena percaya dan tak menuduhnya macam-macam.


"Tau! Iya sih mana mungkin Angel mau sama Abang. Soalnya tunangan Angel kan masih muda, tampan lagi," celetuk Rena yang tanpa sadar membuat Alby merasa kesal, dan langsung menghentikan pijatannya.


"Terus maksudnya Abang itu tua gitu? Gak tampan. Pakai muji laki-laki lain lagi di depan suami," sergah Alby kesal.


"Bukan lah bang. Suami Rena tetap yang paling tampan," ralat Rena kemudian ia meringsek mendekati suaminya. Mengusap lengannya, menatapnya dengan tatapan menggoda.


"Gak usah ngerayu!" cetus Alby.


"Dih perasaan aku yang hamil kok jadi Abang yang sensitif sih," ucap Rena heran.


Tok! Tok!


Obrolan keduanya terhenti saat pintu ruangannya diketuk oleh seseorang orang dari luar.


"Masuk!" sahut Alby.


Seorang pegawai OB masuk dengan membawa makanan berisi dua porsi makanan dan minuman.


"Letakkan di sini," pinta Alby menunjuk meja di depannya.


Ob itu menurut meletakkannya di sana.


"Makasih ya."


"Sama-sama, Pak. Saya permisi," pamit OB itu.


Rena menatap makanan yang tersaji di atas meja. Dua porsi ayam saos lada hitam, itu biasanya juga menjadi salah satu makanan favoritnya. Tapi mendadak ia jadi tidak mood.


"Kok ayam sih bang," protes Rena.


"Itukan makanan kesukaan kamu sayang. Tadi juga bukannya kamu bilang terserah Abang ya," ujar Alby.


"Tapi gak Ayam juga bang," protes Rena sesaat membuat kepala Alby menjadi pening. Lagi-lagi kenapa ia menjadi salah.


"Ya terus apa sayang?" tanya Alby sabar padahal dalam hati mungkin udah gregetan. Kenapa laki-laki dituntut untuk peka padahal ia bukan peramal yang bisa tau segala isi hati pasangannya.


"Jadi orang gak peka banget!" celetuk Rena kesal, membuat Alby terperangah tak percaya. Kenapa sih semenjak hamil istrinya itu ngeselin dan nguji kesabarannya banget.


"Ya udah Abang minta maaf. Iya Abang yang salah, terus kamu mau apa sayang? Biar abang pesenin lagi," ujar Alby lembut. Mengalah adalah pilihan terbaik menurutnya saat ini.


"Aku tuh mau gado-gado Abang. Tapi jangan di kasih telor ya," pinta Rena.


"Oke Abang pesenin ya!" Alby beranjak mengambil ponselnya kembali. Namun, Rena buru-buru mencegahnya.


"Abang yang beliin sendiri lah turun ke bawah gak boleh nyuruh OB, emang aku hamil anak OB itu!" sergah Rena.