
Rena tengah berdiri di depan jendela kamarnya. Lebih tepatnya kamar dirinya dan sang suami, karena mulai saat ini ia di minta untuk tidur bersamanya. Meski sebelumnya sempat terjadi perdebatan alot, tapi perdebatan itu akhirnya dimenangkan oleh Alby. Rena pasrah, toh ia bisa apa? Cepat atau lambat semua itu pasti akan terjadi.
Pandangan Rena tertuju pada gemercik air di luar. Hujan yang mengguyur bumi sejak tadi sore belum juga reda. Hal itu membuat suasana terasa dingin, sesekali Rena akan mengusapnya lengannya, karena kini ia memang memakai piyama tidur pendek.
Sementara Alby tengah berada di ruang kerjanya, lelaki itu mengatakan tengah banyak kerjaan. Lalu meminta Rena untuk istirahat lebih dulu di kamar. Tapi, sampai di kamar Rena tak dapat memejamkan kedua matanya. Entah kenapa banyak pikiran yang bergelayut di otaknya.
Grepp!!
"Sudah ku katakan untuk segera istirahat. Kenapa kau bandel sekali, malah membuka jendela, sudah tau cuaca sedang dingin seperti ini!"
Rena tersentak saat merasakan kedua lengan kekar kini memeluk pinggangnya. Beruntung Alby langsung bersuara, jika tidak Rena bisa langsung melayangkan pukulan, akibat rasa terkejutnya.
"A-aku tadi belum ngantuk bang," balas Rena gugup. Perempuan itu berusaha melepaskan rengkuhan sang suami, tapi Alby justru semakin mengencangkan rengkuhannya.
"Nanti dulu. Aku merasa nyaman seperti ini," pinta Alby seraya meletakkan kepalanya di pundak sang istri. Membuat jantung Rena berdebar sangat kencang.
"Bang?"
"Kenapa Hem?"
"Jangan begini dong. Lepasin dulu," pinta Rena.
"Sssttt, sebentar saja. Memangnya kenapa sih?" ujar Alby heran.
"Gak kuat bang, akunya."
"Ada apa?" Alby langsung menarik kepalanya, melepaskan rengkuhannya, kemudian memutar tubuh istrinya, hingga kini keduanya saling berhadapan.
"Kenapa Ren?" sekali lagi Alby kembali bertanya.
"Sesak nafas, bang!"
Alby terkejut, "hah? Kamu punya asma. Di mana obatnya, abang ambilin ya."
Rena menggeleng, "bukan!"
"Lalu??"
"Aku ngerasa sesak nafas kalau Abang peluk-peluk, terus jantung aku jadi jedag jedug gitu. Ngeri aku bang takut gak kuat karena harus tahan nafas, aku belum ingin mati bang."
Alby melongo mendengarnya. Apakah istrinya sepolos itu jika menyangkut soal perasaan. Tapi, untuk hal ini Alby sukai. Karena dengan begitu ia dapat mengerti perasaan Rena sesungguhnya. Tentu saja kejujuran Rena itu membuat ia merasa senang.
"Gak akan lah. Abang gak akan biarin kamu mati lebih dulu." Alby kembali menarik Rena ke dalam dekapannya, tapi perempuan itu berusaha menahannya.
"Ihh Abang ma udah aku bilangin juga. Sesak nafas bang. Udahlah Abang menjauh sana, katanya kerjaannya banyak sono selesaikan dulu," ujar Rena.
"Udah selesai, tapi masih ada satu kerjaan lagi yang belum sih."
"Ya udah sana lanjutin, aku akan tidur deh!" seru Rena seraya melepaskan genggaman tangan Alby, perempuan itu berniat untuk berlalu pergi ke ranjang. Namun, Alby kembali menahan tangannya, membuat Rena kembali menoleh.
"Bang katanya-"
"Ya kerjaan aku yang belum selesai kan melanjutkan aktivitas kita tadi pagi yang sempat tertunda," terang Alby cepat.
Glek!
Rena menelan ludahnya gugup, wajahnya merona saat kejadian sedikit panas tadi pagi kembali terlintas.
"Tapi kan-"
"Kenapa kamu belum siap? Atau memang tidak mau," pungkas Alby.
Rena menggeleng menatap raut wajah suaminya dengan harap-harap cemas. "Bukan."
Rena memalingkan mukanya ke arah jendela. "Aku belum ingin hamil bang."
Sontak Alby langsung melepaskan genggaman tangan istrinya, lidahnya kaku tiba-tiba sekelebat rasa kecewa bergelayut dalam dirinya.
"Kenapa? Apa kamu tidak percaya sama aku. Bukankah aku sudah mengatakan aku serius dengan pernikahan ini. Atau justru kamu yang ingin main-main?"
Rena menggeleng, "bukan begitu maksud aku bang." Perempuan itu berbalik menatap wajah sang suami yang terlihat gurat kecewa di sana. "Aku bukan tidak mau bang. Hanya saja aku ingin menundanya lebih dulu, setidaknya sampai aku lulus kuliah," sambungnya kemudian.
Alby berdehem berusaha menetralkan perasaannya, bagaimanapun ia harus mengerti bahwa semua terlalu cepat untuk Rena. Pernikahan itu terjadi bukan karena cinta, melainkan semua demi Misel. Dan sudah bagus Rena mau melangkah bersamanya sampai detik ini. Ya, Alby harus mengerti, memberi kepercayaan padanya.
"Bang? Kok diam aja sih, Abang marah ya sama aku?" seru Rena yang merasa was-was melihat suaminya sejak tadi hanya terdiam.
"Hanya sampai aku lulus bang. Aku akan usahain deh bisa lulus tahun ini," imbuh Rena kemudian. Meski Rena pun masih belum paham dengan perasaannya sendiri, tapi ia pun tahu bahwa pernikahan adalah hal yang sakral, tidak patut untuk dipermainkan. Meski pernikahannya terkesan aneh, tetapi ia pun berusaha pasrah, mungkin memang begitulah jalannya mendapatkan jodoh.
Alby menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman tipis, lalu mengangkat sebelah tangannya untuk menyelipkan beberapa helai rambut yang sempat menutupi wajah Rena.
"Bang-"
"Tidak apa-apa, aku mengerti. Kau bisa lakukan apapun. Tidak masalah kau akan menunda, aku paham keinginanmu."
"Tapi Abang gak-"
"Masih banyak waktu Rena. Tidak apa-apa hitung-hitung ini akan memberikan kita banyak waktu untuk berpacaran," seru Alby yang di akhiri dengan kekehan.
"Makasih ya bang!" Rena menghambur memeluk suaminya. Melingkarkan kedua tangannya di tubuh sang suami. Alby tersenyum tipis, meski sudut hatinya terasa kecewa, setidaknya ini dapat mengubah sikap Rena lebih hangat padanya, ia berjanji akan menggunakan waktu sebaik mungkin, untuk sepenuhnya mengambil hati sang istri.
Alby membalas pelukan sang istri, lalu mendaratkan kecupan singkat di keningnya. Lalu, merenggangkan dekapannya, Rena mengangkat kepalanya menatap sang suami.
"Jadi, sekarang bolehkan?" tanya Alby.
"Boleh apa?" tanya Rena balik dengan bingung.
"Bercocok tanam," jawab Alby.
Rena melepaskan dekapan sang suami, lalu menoleh ke arah jendela yang, terlihat cuaca masih dalam keadaan gerimis.
"Abang gak salah ngajak aku bercocok tanam malam-malam, udah gitu gerimis lagi."
Alby berdecak, kenapa istrinya itu tidak juga peka. Masa iya dia harus langsung mengatakan mengajaknya bercinta, mentang-mentang dokter taunya istilah medis dan biologi.
"Melanjutkan yang tadi pagi Rena. Ya ampun, kamu ini masa iya gak ngerti juga kode aku," sergah Alby kesal.
"Ohh!" Rena beroh ria, tapi detik berikutnya ia terbelalak ketika mengingat kejadian tadi pagi.
"Apa???!!!!"
Suara Rena yang melengking membuat Alby merasa kesal, istrinya itu terlalu lama menunda waktu. Maka dengan cepat ia kembali menarik tangan Rena, memintanya untuk memeluknya, detik berikutnya Alby langsung menyambar bibirnya istrinya, melahapnya hingga habis, me lu mat dan membelit, dengan gerakan halus dan lembut tapi ke arah yang lebih menuntut. Rena berusaha untuk membalas perlakuan sang suami, lalu dengan segera Alby menggiring sang istri ke ranjang, membaringkannya secara pelan-pelan, masih dengan pangutan bibir yang tak lepas.
Kartika hasrat Alby semakin memuncak, ia tengah bersiap membuka kancing baju sang istri.
Tok! Tok!
Suara ketukan pintu terdengar, Rena berusaha untuk menghentikan kegiatan Alby, tapi lelaki itu tak sekalipun melepaskannya.
Tok! Tok! Tok!
"Huhuhu Ayah, Bunda buka pintunya Misel takut. Misel mau tidur sama Ayah dan Bunda."
Suara Misel yang menangis tergugu, terpaksa membuat aktivitas panas keduanya kembali terhenti.
Alby langsung bangkit dari atas tubuh sang istri, dengan raut wajah kesal. "Sono bukain pintu. Aku mau ke kamar mandi dulu!" ujar Alby.