
Sekuat apapun orang berusaha memisahkan, yang namanya jodoh itu pasti akan bertemu. Seperti halnya kisah cinta Soraya dan Galih, setelah berpuluh tahun terpisah, kini keduanya kembali dipersatukan.
"By?"
Alby tersenyum. "Aku mengijinkan ibu kembali dengan Papa. Karena aku tau kebahagiaan ibu juga ada padanya," ujar Alby menyatukan kedua tangan orang tuanya.
Soraya terharu. "Kamu serius?"
"Tentu saja, selama ibu bahagia. Aku pun akan merasa bahagia. Apapun akan ku lakukan selama ini bahagia."
Rena datang memeluk lengan suaminya. "Aku bangga padamu, Bang."
Alby menoleh lalu berbisik. "Hadiahnya nanti malam ya jangan lupa."
"Ayah Bunda bisik-bisik apa?" Misel yang berada di depan keduanya pun protes, membuat semua yang berada di sana tertawa. Rena memukul pelan lengan suaminya. Karena dimanapun dan kapanpun jatah once again itu suaminya tidak pernah lupa, dan selalu menjadi nomor satu.
"Bang, aku kerja dulu ya," ucap Rena.
Alby mengangguk, Rena beralih berpamitan dengan kedua mertuanya.
"Semangat sayang," ujar Alby mengecup kening istrinya kala Rena menyalaminya dengan takzim. Perempuan sampai merona, karena ternyata Alby tak cukup mengecupnya di kening, tapi juga di kedua pipinya.
"Abang ih. Mesum kelewatan, malu ih ada orang tua dan Misel."
"Kebablasan sayang. Remnya blong," jawabnya tanpa dosa.
Rena menggelengkan kepalanya, kemudian berlalu keluar dari ruangan itu.
****
Siang hari tepat di jam makan siang.
[Di mana Re?]
Sebuah notifikasi chat masuk dari Alena untuk Rena. Perempuan itu membacanya.
[Rumah sakit, Le. Ada apa?]
[Pantas aku ke rumahmu ternyata kosong. Hari Minggu kau bekerja? Apakah sudah ada waktu istirahat? Aku ingin bertemu dan mengobrol denganmu, ini sangat penting!]
Rena mengerucutkan keningnya kala membaca chat dari Alena. Sepenting apa sih menangnya.
[Kita ketemu di cafe depan rumah sakit ya?]
[Ok!]
Melepaskan jas kerjanya. Rena keluar dari ruangannya dengan membawa dompet kecil dan ponsel miliknya.
"Re?"
Rena menoleh mendapati suaminya yang memanggil dirinya.
"Abang? Lho belum pulang?" tanya Rena heran, ia kira suaminya itu sudah pulang.
"Iya belum! Makan siang yuk?" ajak Alby.
"Aduh!"
"Kenapa sayang?" tanya Alby heran.
"Ini lho bang. Aku ada janji juga sama Alena mau makan siang bareng. Dia bilang mau curhat, gak tau tentang apa. Tapi... Kalau Abang mau gabung ya udah ayo," sahut Rena.
Alby menganggukkan kepalanya. "Males lah paling ngerumpi. Abang makan nanti aja sekalian pulang."
"Lho? Abang marah? Gabung aja gak apa-apa kok bang."
Alby tersenyum menggeleng. "Gak kok sayang. Tadinya aku kira kamu gak akan ada teman makan, jadi Abang mikir sekalian nunggu. Karena udah ada ya udah Abang sama Misel mau sekalian aja pulang. Lagian Misel kayaknya udah ngantuk."
Rena menghela nafas lega mendengarnya.
"Ya udah Abang balik kamar Papa dulu ya, mau jemput Misel ajak dia pulang," sambung Alby mengusap pipi istrinya.
Rena mengangguk. "Iya bang. Hati-hati ya!"
Rena kembali meneruskan langkahnya menuju cafe di mana telah melakukan janji pada Alena. Di koridor rumah sakit ia tak sengaja berpapasan dengan Dokter Ryan.
"Siang Rena?" sapa lelaki itu sambil mengukir senyum manisnya.
"Siang juga, Dok. Wah senyum terus pasti lagi bahagia ini," ujar Rena.
"Iya dong. Kan senyum itu ibadah, biar dapat pahala, dan juga menambah kesan awet muda," jawab Dokter Ryan membuat Rena cukup tergelak. Seumur ia dekat dengan lelaki itu, baru kali ia mendengar lelaki itu berucap demikian.
"Kamu mau kemana Re?" tanya Dokter Ryan kemudian.
"Mau makan siang Dok, ini ada janji sama-"
"Dokter Ryan ruang operasi sudah siap!" seorang suster datang menyela ucapan Rena.
"Re aku pergi dulu ya," pamit Dokter Ryan wajahnya masih berbinar bahagia.
****
"Lama banget si Re. Perasaan cuma tinggal nyebrang doang," celetuk Alena begitu Rena tiba di cafe. Baginya sahabatnya itu terlalu lama tiba, padahal baru lima belas menit ia menunggu.
"Ya maaf. Banyak kendala tadi saat menuju kemari!" ujar Rena sambil mendudukkan dirinya di bangku samping Alena.
Kemudian, keduanya memanggil pelayan untuk membuatkan menu pesanan mereka. Hingga beberapa saat pelayan itu kembali dengan membawa pesanan mereka.
"Mau cerita apa, Le?" tanya Rena santai namun merasa penasaran.
"Tunggu dulu lah Re. Aku lapar banget ini, dari pagi belum makan." Alena langsung menyantap makanan di depannya.
Rena hanya tertawa kecil melihat sahabatnya itu yang memang hoby makan. Alena makan begitu lahap.
"Re kamu tahukan kalau semalem itu aku bertemu dengan lelaki yang mau dijodohkan denganku?" ujar Alena saat ia sudah mulai santai makannya.
Rena mengangguk, karena sebelumnya Alena memang sempat bercerita tentang hal itu. "Terus kenapa? Gimana? Cakep kan?"
"Masalahnya bukan itu Re," ucap Alena lesu.
"Gimana?"
Kemudian Alena pun menceritakan kejadian semalam, di mulai dari dia yang memaksa Dokter Ryan menjadi pacar pura-puranya, hingga berakhir ternyata lelaki itu yang dijodohkan olehnya.
Rena tak lagi menahan tawanya, kala mendengarkan cerita sahabatnya yang terdengar konyol.
"Malu banget aku, Re. Sumpah! Niat hati nyewa Dokter Ryan itu untuk jadi pacar pura-pura. Lha kok aku malah kaya kemakan jebakan sendiri, aku datang dengan membawa calon suamiku sendiri." Alena menyesap minuman di depannya.
"Kalau jodoh emang gak kemana ya? Kamu ingat kan, dulu aku berniat memperkenalkan kamu dengannya, kamu nolak. Eh malah kamu ketemu dengan dia dengan cara yang unik. Sekarang malah dijodohkan. Alena aku sangat senang mendengarnya. Percayalah Dokter itu orang yang baik, bersamanya kamu pasti akan bahagia," ujar Rena.
Kemudian Alena menceritakan kejadiannya setelahnya, bagaimana ia kabur hingga membuat Dokter Ryan berusaha mengejarnya. Dan sialnya saat ia hendak jual mahal menolak pertolongannya, ia justru tersandung. Ketakutannya semakin bertambah saat Dokter Ryan mengatakan jika tak segera diobati bisa diamputasi.
Rena melongo mendengarnya, namun juga tergelak lucu. Tak menyangka jika sahabatnya itu sepolos itu. Mana mungkin hanya karena tersandung sampai di amputasi. Rena tak menyangka Dokter Ryan sampai punya akal seperti itu demi meluluhkan hati Alena.
"Tapi Re. Aku merasa penasaran, kamu kan Dokter ni ya. Pasti tau kan jenis jarum suntik?" tanya Alena.
Rena mengerucutkan keningnya bingung. "Maksudnya?"
"Itu loh Re. Kamu tau jarum suntik ajaib yang bisa berdiri sendiri gak? Kepo dong aku pengen lihat?" cecar Alena.
Rena melongo semakin tidak mengerti. "Jarum suntik ajaib, apa sih Le? Gak mudeng aku. Coba deh kamu cerita yang jelas."
Alena mengerucutkan bibirnya. Namun, tak urung ia pun menceritakan semuanya pada Rena.
'Ya ampun Dokter Ryan! Kau meracuni otak sahabatku. Istilah apa yang kau gunakan dalam imajinasi liarmu itu,' gumam Rena.
"Ayo dong Re, tunjukkan. Aku sampai gak bisa tidur ini semalem, gara-gara mikirin jarum suntik ajaib. Dokter Ryan aku tanya ngeles mulu, katanya tunggu nikah baru mau dikasih tau," celoteh Alena.
"Oh iya. Memang benar begitu jawabannya. Nanti kamu akan tau kalau sudah menikah, bener kok buat kamu bakal ketagihan," jawab Rena.
"Benar?"
Rena mengangguk. "Iya. Udah jangan di pikirkan. Sekarang fokus aja sama skripsi kamu, biar cepat lulus."
Alena mengangguk lemah, meski merasa penasaran tapi ia harus mengubur dalam-dalam rasa itu.